
Rio memeluk Alsya dengan erat ia tak tau gadis kecil dihadapannya harus melewati masa lalu yang seperti itu,ia berjanji pada dirinya ia akan melindungi Alsya seperti keluarga.
"Hiks apakah Bang Rio akan marah pada Alsya hiks seperti mereka?,jika benar Alsya tidak apa - apa, Alsya sudah terbiasa sendiri,dan Alsya tidak akan punya seorang Kakak laki - laki lagi"ucap Alsya sesenggukan.
Alsya melepaskan pelukan Rio karna takut Rio akan melakukan hal yang sama seperti Mama dan Papanya.
"Ini memang salahku,aku membuat Alya mati mengenaskan,seharusnya aku menggantikan pos... ". Rio dengan cepat menghentikan ucapan Alsya dengan cara membungkamnya.
"Cukup Sya ini bukan salah mu,ini semua takdir,kau tidak boleh menyalahkan dirimu,dan tentang mereka,mereka yang salah,kenapa mereka menyalahkan anak kecil yang tak tau apa - apa,dan seharusnya mereka menjauhkanmu dari isiden itu agar kau tak trauma,dan aku tidak marah padamu, aku marah pada diriku sendiri,kenapa aku tidak bertemu denganmu dari dulu agar bisa melindungimu"ucap Rio
Rio memeluk erat Alsya dan mengecup kening Alsya sayang.
"Kau tidak usah menangis lagi,kau sekarang tidak sendirian,masih banyak orang yang sayang kepadamu,jika mereka tidak memperhatikanmu maka aku akan memperhatikanmu sepenuhnya,kau tak perlu mereka,suatu saat mereka lah yang akan membutuhkanmu"ucap Rio,Rio melepaskan pelukannya dan menatap dalam mata Alsya yang jernih dan penuh air mata.
Rio dengan perlahan mengusap air mata Alsya.
"Tolong jangan kau tumpahkan air matamu lagi,air matamu sangat berharga,jangan menangis karena para bajingan itu,mereka tak berhak menumpahkan air matamu yang sangat berharga"ucap Rio mengecup kening Alsya.
Alsya memejamkan matanya,hatinya terasa hangat karena pelaku Rio,ia merasa bahagia masih memeliki orang yang sayang dan selalu di sampingnya.
Alsya membuka matanya dan tersenyum ceria,seolah tidak ada yang terjadi.
"Makasih,berkat Bang Rio pundak ku sedikit ringan,apa kah boleh kapan - kapan aku mampir ke rumah Bang Rio?"ucap Alsya tersenyum.
Rio mengacak - acak rambut Alsya gemas.
"Tentu,bahkan jika kau mau tinggal selamanya di rumah Bang Rio,aku tidak masalah,bahkan Mama dan Papa pasti akan sangat senang"ucap Rio.
Alsya tersenyum bahagia,ia senang punya rumah kedua yang lebih baik,tapi ia juga gak enak karna seperti seorang sampah yang datang tiba - tiba.
Rio yang mengetahui isi pikiran Alsya pun mengelus lembut pipi Alsya.
"Kau jangan pernah menyebut dirimu apapun itu yang bersifat negatif,kau adalah Alsya yang kuat,Alsya yang berguna bagi orang lain,intinya kau adalah seseorang yang sempurna,aku tahu memang tak ada yang sempurna di dunia tapi bagiku kau sempurna"ucap Rio tersenyum.
Hati Alsya tersentuh ia sekali lagi memeluk Rio erat.
"Kau yang terbaik"ucap Alsya.
Mereka menghabiskan waktu dengan keadaan hening,sampai waktu pelajaran berakhir.
"Ayo pulang,akan ku antar"ucap Rio berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantu Alsya berdiri.
Alsya menerima uluran tangan Rio dengan senang hati,mereka berjalan bersama menuju gerbang.
Saat ingin keluar gerbang Alsya disambut Sahabatnya yang panik.
"Ya ampun Alsya kau dari mana,kau dari tadi kami cari tapi tak ketemu"ucap Nabila nerocos tampa melihat seseorang yang berada di samping Alsya.
"Kalian tenang saja,aku tidak apa - apa, tadi aku ke belakang sekolah berbicara dengan Bang Rio"ucap Alsya melirik Rio yang memasang ekspresi datar.
Nabila kaget saat melihat Rio disamping Alsya,ia benar - benar tidak menyadari keberadaan Rio di samping Alsya,karna sangking paniknya takut terjadi sesuatu hal pada Alsya.
"Maaf Kak Rio aku tidak tau jika kau berada disana,karna aku takut Alsya kenapa - kenapa karna kejadian di k... Hmpp".Alsya membungkam mulut Nabila.
Rio menatap Alsya tajam dengan alis terangkat.
"Kejadian?"tanya Rio dingin.
"Gak apa - apa Bang tadi,Alsya gak sengaja menumpahkan kuah bakso di baju Alsya,jadi Alsya ingin ke kamar mandi tuk membersihkannya, eh malah di lorong ketemu Bang Rio,ya kan Nabila?"ucap Alsya melepaskan tangannya dan menatap tajam Nabila.
__ADS_1
Nabila menghirup udara dengan serkah.
"I..iya"ucap Nabila.
"Kau hampir membunuhku tauk"bisik Nabila tapi tak dihiraukan Alsya.
Rio tidak percaya begitu saja,ia meneliti baju Alsya,tetapi tak ada noda sedikitpun,ia tahu jika Alsya berbohong tetapi ia memilih diam saja.
Alsya menatap sahabatnya satu - satu dan memberi kode untuk diam saja.
Saat Alsya menatap Sherly dari kajuhan tampa sengaja ia melihat Rafa menatapnya tajam.
'Kenapa dia menatap diriku seperti itu?,tatapannya membuatku merinding,apa karna kejadian dikantin ia marah sampai sekarang dan menatapku seperti itu? 'ucap Alsya dalam hati.
Karna ketakutan Alsya mengenggam tangan Rio dengan erat.
Rio yang aneh melihat kelakuan Alsya pun mengikuti arah yang dilihat oleh Alsya.
Disana ia melihat seseorang pria yang menatap mereka tajam,ia penasaran dengan hubungan apa antara pria itu dengan Alsya karna saat ia berada disisi Alsya pria itu selalu menatap tak suka, dengan ide jahilnya ia merangkul Alsya,Rio kembali melihat Rafa yang mengepalkan kedua tangannya.
Rio menyembunyikan senyumannya.
"Ayo kita pulang"ucap Rio.
Alsya yang terlalu fokus menatap Rafa pun melonjak kaget dengan tepukan pelan dari Rio.
"Ah.. I...iya "ucap Alsya.
Alsya menatap sahabatnya untuk berpamitan,saat para sahabatnya ingin memanggil Alsya karna ada barang ketinggalan tapi Alsya sudah berada jauh dari mereka.
"Alsya!!!! tunggu sebentar!!"ucap Vian ingin mengejar tapi di cegah oleh Sherly.
"Gak usah dikejar nanti dia pasti datang kembali untuk mengambilnya"ucap Sherly tenang.
"Ya ampun aku lupa sesuatu,aku akan kembali secepatnya"ucap Alsya langsung berlari tampa menunggu ucapan Rio.
Alsya terus berlari sampai di depan sahabatnya.
"Hah.. hah... hah"Alsya mencoba mengatur nafas.
"Benarkan apa yang kubilang"ucap Sherly.
Vian dan Nabila mengangguk bersamaan.
"Nih"ucap Sherly melempar tas di hadapan Alsya.
Dengan gesit Alsya menangkap dengan kedua tangannya.
"Hah... Kenapa kalian tidak memberikanku dari tadi,kan aku tidak usah balik lagi,capek tauk dan haus"ucap Alsya.
"Dih..aku dan Vian sudah memanggilmu dari tadi,tapi kau sudah berjalan jauh"ucap Nabila membela.
Alsya terduduk di batu besar disebelah Sahabatnya.
"Kalian pulanglah dahulu,aku masih ingin mencoba menetralkan nafasku,dan mau istirahat sebentar"ucap Alsya ngos ngosan.
"Baiklah,tapi kusarankan kau jangan terlalu lama disini,nanti Rio menunggumu terlalu lama"ucap Sherly.
Alsya mengangguk dan para sahabatnya pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Hah aku lemah sekali,baru lari begitu saja sudah lelah,padahal dulu aku bisa berlari memutari sekolah ini dengan 5X putaran"gumam Alsya.
"Ah hausnya"ucap Alsya memandang langit.
Tiba - tiba ada sebuah tangan yang memegangi botol air minum menutupi sinar matahari yang menyerpa wajahnya.
Alsya menatap botol itu dan mengambilnya dengan cepat,tampa mengetahui siapa yang menyodorkannya.
"Ah... Leganya aku sudah tidak haus lagi"ucap Alsya berdiri bersiap untuk ke Rio berada, Alsya berhenti sebentar untuk mengucapkan terimakasih.
"Oh ya karna lelahku dan hausku sudah hilang aku akan pergi dahulu,dan terima kasih atas ai...."ucap Alsya terhenti saat melihat siapa yang memberiakan air padanya.
"Kak Rafa?!!"ucap Alsya kaget melihat Rafa berdiri di sebelahnya.
Rafa hanya merespon dengan alis terangkat.
"Apa?"ucap Rafa.
'Bukannya dia tadi bilang,sudah muak melihat wajahku,tapi sekarang?'ucap Alsya dalam hati.
"Sya?"panggil Rafa.
'Apa ia berniat sesuatu padaku,karna tadi kejadian di kantin,padahal aku difitnah menumpahkan kuah pada wanita cinta pertamanya'ucap Alsya dalam hati.
"Sya?!"panggil Rafa sekali lagi.
'Padahal aku tidak melakukannya,apa dia memasukan sesuatu di air yang ia berikan?'ucap Alsya dalam hati dengan wajah ketakutan.
"Sya!"panggil Rafa lagi dengan menaikan nada suaranya.
Alsya kelabakan karna terkejut.
"I..iya, ada apa?"ucap Alsya terkejut.
"Gak"ucap Rafa, sebenarnya ia ingin bertanya apa yang dipikirkan oleh Alsya,tapi entah kenapa ia malu.
"Oh,sekali lagi makasih,seharusnya kau tidak usah memberikan air untukku,bukannya kau sudah muak dengan ku?"ucap Alsya menatap Rafa.
Rafa terkejut dengan ucapan Alsya ia menatap Alsya,tetapi Alsya hanya membuang muka.
Saat Rafa ingin menjawab dari arah belakang Alsya terlihat seseorang berjalan ke arah mereka,dengan sekejap Rafa merasa kesal entah karna apa.
"Ternyata kau disini,kenapa lama sekali?"ucap Rio merangkul Alsya.
Alsya melotot kaget ia menatap Rio yang entah kapan ia datang.
"Kapan Bang Rio datang?"bisik Alsya.
"Baru saja"ucap Rio menatap Rafa dari pucuk kaki sampai pucuk kepala.
'Kenapa tiba - tiba ada aura yang tidak enak?'ucap Alsya dalam hati melihat Rafa dan Rio dengan bergantian.
"Aku kesini karna tas ku ketinggalan"ucap Alsya.
'Sepertinya jika membiarkan mereka seperti ini terlalu lama akan ada kejadian yang tidak terduga'ucap Alsya dalam hati.
"Ehem sebaiknya kita pergi sekarang,pasti mereka menungguku"ucap Alsya menarik tangan Rio.
"Emm aku pulang dahulu Kak"ucap Alsya dan pergi dengan menarik tangan Rio.
__ADS_1
Rafa melihat kepergian Alsya dan Rio dengan tangal mengepal.
'Kenapa aku kesal melihat mereka bersama?'