APAKAH AKU BISA BAHAGIA?

APAKAH AKU BISA BAHAGIA?
KETAKUTAN


__ADS_3

"Tunggu"ucap Vian mencegah Alsya yg akan pergi.


Alsya berbalik badan dan melihat ketiga sahabatnya.


"Ada apa?"ucap Alsya mengangkat salah satu alisnya.


"Hah apa kau tak lelah,mengejar seorang pria sepertinya?"ucap Vian.


"Dan seharusnya seorang pria yg mengejar wanita bukan wanita yg mengejar pria"ucap Nabila meneruskan perkataan Vian.


"Aku suka dengan cara yang berbeda,lagi pula dia tidak pernah bilang,aku harus berhenti bukan?"ucap Alsya.


Ketiga sahabatnya terdiam,Alsya sangat keras kepala,mereka bertiga takut jika Alsya akan terluka lagi,sudah cukup Alsya terluka karna kedua orangtuanya,jangan ada luka lagi yg ada di raga Alsya,walaupun luka yg tidak terlihat.


"Tenang aku tak akan nekat,jika dia memintaku untuk berhenti maka aku akan berhenti,aku tak sebodoh itu,jadi tenanglah,aku tau kalian khawatir pada ku"ucap Alsya tersenyum.


Alsya berbalik badan dan melanjutkan langkahnya ke arah sekumpulan pria yg populer.


"Halo kak Rafa aku kembali"ucap Alsya dan duduk dihadapan Rafa.


Sedangkan Rafa hanya acuh,para sahabatnya saling pandang,mereka tau apa yg akan terjadi hampir setiap hari Alsya datang ke meja mereka hanya untuk menyapa atau berbicara dengan Rafa,jika tidak datang ke meja mereka malah akan merasa aneh.


"Eh Alsya,sudah makan belum?"ucap Rayhan


"Udah kak tadi sama yg lain"ucap Alsya dengan senyuman ceria.


"Oh ya kak Rafa,nanti ada kesibukan gk?,ayo kita ke taman saat sore"ucap Alsya berharap.


"Gk"ucap Rafa.


Alsya menunjukan wajah sedih dan kecewa atas jawaban Rafa,hampir setiap hari ia selalu mengajak untuk ketaman atau tempat lain,tapi selalu ditolak.


"Bagaimana kalo sama kak Dika,kak Rayhan sama Kak Darma?"ucap Darma dengan senyuman manisnya.


"Ah enggak kak,makasih Alsya baru ingat nanti agak sibuk he he he"ucap Alsya cangung menggaruk pipinya.


Alsya melihat es krim yg ada di depan Dika dengan mata berbinar,Dika yg menyadari pun  menyodorkan es krimnya kedepan Alsya.


"Wahh makasih kak Dika"ucap Alsya semangat dan langsung memakan es krim di depannya.


Para lelaki populer itu tersenyum,kecuali Rafa yg hanya memandang Alsya dalam.


Mereka pun mengobrol dan kadang Alsya bertengkar dangan Rayhan karna kesal dengan tingkah koyol Rayhan.


Disisi meja lain para sahabat Alsya melihat interaksi Alsya dan yg lainnya.


"Ya semoga mereka tidak menciptakan luka baru"gumam Sherly yg masih terdengar oleh Vian dan Nabila.


"Ya semoga karna dia sudah memiliki banyak masalah dari kecil,bahkan ia memiliki masalah yg mungkin dia rahasiakan pada kita agar kita tak khawatir dengannya"ucap Nabila menimpali.


"Dia adalah wanita yg kuat,aku jika diposisinya tidak akan kuat seperti dia"ucap Vian.


Mereka bertiga menatap sendu ke arah Alsya yg tertawa lepas karna candaan Rayhan.


Bel berbunyi menandakan waktu pelajaran selelsai.


Alsya dan ketiga sahabatnya membereskan buku - buku dan bersiap untuk pulang.


"Habis ini kau mau kemana?"tanya Vian kepada Alsya.


"Seperti biasa aku mau ke cafe bang Rio"ucap Alsya.


"Knp kamu berkerja disana?,bukannya kau anak orang kaya?"tanya Vian polos.


Nabila dengan cepat menjitak kepala Vian dengan keras sangking kesalnya dengan Vian.


"Au knp kau memukulku lagi,hari ini kau sudah menjitak keningku yg cantik ini dua kali,sakit tauk"ucap Vian mengelus keningnya.


Nabila hanya membuang muka dengan kesal  tampa ingin menjawab pertanyaan Vian.


"Udah - udah jangan bertengkar,aku kerja disana hanya ingin mencoba mencari uang sendiri,lagi pula siapa tau di masa depan aku butuh uang itu"ucap Alsya menjelaskan.

__ADS_1


Mereka mengangguk paham,Sherly menendang batu - batu kecil yg ada di depannya.


Mereka sekarang berada di pinggir lapangan berjalan menuju parkiran dimana kendaraan sahabat Alsya berada.


"Kenapa kau tidak tinggal dirumah kak Rio?,bukannya mereka sudah menawarkan agar kau tinggal dengan mereka,dan lagi pula kau sudah dianggap anak dan adik dikeluarga kak Rio,karna dikeluarga kak Rio hanya memiliki anak 1 dan ingin memiliki anak perempuan "tanya Sherly penasaran.


"Hah.... ya memang,tapi aku tak mau,aku tak mau merepotkan dikeluarga Bang Rio dan menjadi beban bagi keluarga Bang Rio"ucap Alsya.


Sahabatnya Alsya mengangguk paham,apa yg dimaksud oleh Alsya.


"Ayo ku antar ke cafe kak Rio,aku naik mobil,dari pada nanti kau naik kendaraan umum"ucap Nabila.


Alsya mengangguk setuju karna uangnya juga sudah ia habiskan tadi waktu dikantin.


Setelah beberapa menit mereka pun sampai di cafe milik Rio.


"Makasih atas tumpangannya,maaf merepotkanmu"ucap Alsya menutup pintu mobil Nabila.


"Ck,kau ini sama siapa aja,ini aku sahabatmu,apa kau tak menganggapku sahabatmu?,jika kau menganggapku sahabat maka kau tak akan merepotkanku hanya masalah sepele ini"ucap Nabila kesal.


Alsya hanya tersenyum ia bersyukur masih memiliki orang - orang yg sayang dengan dia.


"Yaudah aku masuk dulu bye"ucap Alsya dengan melambaikan tangannya.


Dan dibalas lambaian tangan Nabila yg berada di dalam mobil.


Alsya berdiri tegak menatap cafe tempat kerjanya dengan penuh semangat,ia berjalan masuk dengan langkah tegas.


Pov Alsya


Aku masuk dengan penuh percaya diri,dulu awal aku berkerja disini,mereka selalu menatapku sinis,tetapi saat ini berbeda,karna aku kenal dengan pemilik cafe ini bahkan sangat dekat seperti keluarga dan alasan lainnya,karna mereka yang dulu dipecat karna menggangguku.


Saat aku masuk aku sudah di sambut dengan senyuman hangat para patner kerjaku,aku langsung keruang ganti,untuk bersiap - siap memulai pekerjaanku hari ini.


Setelah bersiap - siap aku langsung pergi ketempat seharusnya aku berada ditempat kerjaku.


Aku ditempat ini sebagai pelayan yang menyatat pesanan,tapi kadang aku juga membantu didapur.


"Ada apa kak?"ucap ku penasaran.


"Kamu dipanggil Bos Rio"jawab teman kerjaku.


Aku mengangguk berdiri dan pamit untuk menemui bang Rio.


Aku berjalan di lorong cafe,melihat kekiri kekanan,menurutku ini seperti bukan cafe,tapi seperti restoran mewah,karna tempat ini sangat besar,dan sangat berbeda sekali dengan cafe - cafe yg pernah aku lihat.


Aku sampai didepan pintu ruang di mana biasanya Bang Rio berada di dalam.


Aku mengetuk pintu perlahan,dan membuka pintu saat ada sautan dari dalam yg menyuruhku masuk.


"Alsya sini duduk di depanku"ucap Bang Rio ketika melihatku sudah berada di dalam.


Aku mengangguk dan berjalan mendekat.


"Kenapa kau berbeda,apa yg kau sembunyikan dariku?"ucap Bang Rio menyelidik.


Aku merending dengan tatapannya yg tajam,aku sudah menganggapnya sebagai kakak laki - laki dan sebaliknya,bahkan aku sudah pernah bertemu dengan keluarganya,saat pertama kali aku bertemu kelurganya aku takut mereka tak menyukaiku,tapi pikiranku salah malah mereka menyambut kedatanganku dengan senyum hangat, aku merasa senang hatiku menghangat, aku membanyangkan jika kedua orang tuaku lah yg menyambutku dengan senyum hangat,mungkin aku akan lebih bahagia lagi.


Pov end


"Hei Sya ada apa,apa orang tuamu melukaimu lagi?"ucap Rio marah dengan menyentuh bahu Alsya yg sedang ngelamun.


Ya selain ketiga sahabatnya yg tau jika dia selalu disiksa kedua orangtuanya,Rio juga mengetahuinya dan keluarga Rio tapi,saat keluarga Rio ingin melaporkan kepolisi,Alsya mencegah dan memohon agar keluarga Rio tidak melaporkan kedua orangtuanya.


Alsya yg kaget pun langsung tersadar atas lamunannya.


"Eh e enggak Bang Rio"ucap Alsya sedikit gugup.


Rio melihat Alsya gugup pun tambah curiga,ia menatap mata Alsya untuk mencari kebenaran,tetapi Alsya terus menghindari tatapan Rio.


"Huhh baiklah jika kau tidak mau memberitahu ku sebenarnya"ucap Rio pasrah.

__ADS_1


Rio berjalan kembali ke sofa dimana tadi ia duduk di ikuti Alsya dari belakang.


Alsya diam saja seperti tidak ada yg ia sembunyikan,padahal di lubuk hatinya yang dalam ia ketakutan,karna di tubuhnya ada beberapa luka yg ditutupinya,luka itu ia dapat karna dapat dari kedua orang tuanya, karna ia tak sengaja memecahkan gelas.


"Emm ada apa Bang Rio manggil Alsya?"ucap Alsya penasaran.


"Gk ada apa - apa hanya ingin ngobrol"ucap Rio santai tapi matanya masih mencari kebenaran.


"Sya"panggil Rio.


"Ya?"ucap Alsya.


"Apa kau beneran gk mau tinggal denganku?"tanya Rio berharap.


Alsya tersenyum lembut.


"Enggak Bang Rio,Alsya masih ingin tinggal dengan orang tua Alsya"ucap Alsya di iringi senyuman manis.


"Baiklah jika begitu mau mu,kalau kau butuh apapun datang ke rumah ya,rumahku selalu terbuka untukmu"ucap Rio tulus dengan tangan  mengusap kepala Alsya.


Alsya mengangguk menujui,jika dia memiliki masalah yg mengharuskan dia pergi mungkin ia akan pergi ke rumah Rio.


Mereka berdua pun lanjut mengobrol dengan menghabiskan waktu,Alsya yg sadar pun panik dan ingin cepat pulang.


"Bang,Alsya pulang dulu ya,ini udah lewat jam pulang Alsya"ucap Alsya panik,tapi ia berusaha terlihat tenang.


Rio mengangkat alis satunya heran melihat Alsya yg tiba - tiba panik.


"Ada apa?"ucap Rio.


"Aku harus pulang"ucap Alsya lirih, ia tak tau apa yg menunggunya dirumah.


Rio terdiam ia merasa akan ada sesuatu yang akan terjadi pada Alsya.


"Baiklah hati - hati,jika ada sesuatu hubungiku"ucap Rio.


"Atau mau kuantar?"lanjut Rio.


Alsya menggelengkan kepala pelan.


"Aku pulang dulu,daahhh"ucap Alsya melambaikan tangan.


Tampa Alsya menyadari lengan bajunya sobek,dan saat itu Rio melihat bekas luka yg belum kering,di saat itu emosi Rio memuncak.


Saat ingin memanggil Alsya,Alsya sudah menutup pintu ruangannya.


Alsya sekarang berada di ruang ganti ia melihat baju kerjanya sobek ia panik,karna sobek kan itu memperlihatkan sebagian lukanya.


'Semoga Bang Rio tak melihatnya'ucap Alsya di dlm hati.


Alsya tak memikirkan baju kerjanya yg sobek,ia dengan cepat keluar dari ruang ganti,dan berlari pulang.


Saat ini Alsya berada di depan pintu rumahnya,entah mengapa hatinya dak dik duk tak keruan.


Alsya menarik nafas dalam - dalam dan menghembuskan perlahan.


"Tenang tak akan terjadi apa - apa"ucap Alsya menyemangati dirinya sendiri.


Alsya pun memegang gagang pintu dengan tangan bergetar ketakutan.


'Ciiittttt'


Decitan pintu yg sangat keras membuat Alsya berkeringat,ia memasukan kepalanya untuk mengintip ke dalam,Alsya melihat rumahnya sepi,dengan nafas lega ia masuk dengan perlahan dan menaiki anak tangga.


Baru setengah perjalanan menaiki tangga,ia mendengar sesuatu dari belakang.


'plok plok plok'


"Bagus yaa,anak sekolah pulang jam seguni,bagus bagus bagus"ucap seseorang di iringi tepukan tangan.


Alsya terdiam terpaku,ia tak berani membalikan badannya,dengan keberanian sedikit ia membalikan badan dan ketakutannya pun terjadi.

__ADS_1


"M m ma mama........


__ADS_2