
Di sebuah ruangan rumah sakit terlihat Alsya berbaring lemah tidak berdaya,ia sendirian berada di ruangannya dengan wajah pucat tampa ditemani satu orang pun.
Beberapa menit pintu ruangan Alsya terbuka,Rio masuk dengan membawa beberapa buah,Rio selalu datang membawa buah atau yang lain walau Alsya belum siuman dari komanya.
Ya ternyata setelah Alsya di pindah di ruang rawat inap,Alsya dinyatakan koma,disaat itu hati Rio semakin hancur,ia benar - benar merasa gagal menjadi seorang kakak laki - laki satu - satunya untuk Alsya.
"Alsya kau masih belum siuman ya?,kapan kau akan bangun?,sudah 2 minggu kau tertidur,seindah itukah alam bawah sadarmu sampai kau tidak mau bangun? "ucap Rio dengan tangan mengelus rambut Alsya.
Rio terdiam melamun memikirkan disaat Alsya tertawa lepas seperti tidak memiliki beban dipundaknya, padahal ia sedang memiliki masalah yang sangat rumit.
Tampa Rio sadari jari Alsya bergerak,Alsya dengan perlahan mengerjapkan matanya.
Alsya melihat tangannya yang digenggam oleh seseorang,Alsya menoleh ke samping melihat Rio yang menatap kosong.
Alsya mencoba memanggil nama Rio tetapi tenggorokannya terasa sangat kering.
Alsya menggerakan tangannya yang digenggam Rio,agar Rio sadar dari lamunannya.
Rio kaget ketika tangan yang ia pegang bergerak secara perlahan.
"Alsya kau sudah bangun!!!!,syukurlah"ucap Rio tersenyum lembut.
Alsya membalas senyuman Rio.
"A..... ai.....air"ucap Alsya.
Rio pun dengan cepat meraih gelas yang berada di sampingnya dan membantu Alsya untuk minum.
"Makasih"ucap Alsya.
"Bagaimana sekarang keadaanmu apa lebih baik?"tanya Rio.
Alsya mengangguk dan melihat dengan teliti tangan dan kakinya yang di perban,kepalanya pun tak lepas dari perban,ia mencoba menggerakan kakinya perlahan,dan ia berhasil menggerakan kakinya lagi,air mata bahagia pun terjun dan membasahi pipi.
"Alsya sudah bisa menggerakan kaki lagi Bang,Alsya pasti bisa berjalan lagi bukan?, Alsya gak lumpuh Bang,Alsya bahagia sekali"ucap Alsya menangis bahagia.
Rio mengusap air mata Alsya perlahan.
"Kau tak lumpuh Alsya,kau masih bisa berjalan tapi kau harus di dampingi,karna mungkin kau akan sedikit kesusahan berjalan kau sudah sebulan lebih tidak berjalan beberapa minggu kau koma,dan sebelum koma kau tidak bisa berjalan bukan?"ucap Rio merasa sedih mengingat ia menemukan Alsya di kamar.
Alsya mengerti apa yang Rio maksud,Alsya memegang tangan Rio lembut.
"Tidak apa - apa Alsya kan kuat,yang penting Alsya masih hidup dan Alsya masih bisa berjalan seperti dulu"ucap Alsya tersenyum hangat.
Rio membalas senyuman Alsya dan mengelus rambut Alsya lembut.
"Ehemm maaf ni mengganggu,tapi kelihatannya pasien saya sudah siuman dan harus segera diperiksa"ucap Arka menekan kata 'pasien saya'.
Rio langsung berubah ekpresi dari tersenyum menjadi datar tampa ekspresi ketika mendengar suara seserorang yang ia kenal.
Alsya refleks melihat ke arah pintu,di sana terlihat seorang Dokter tampan yang berselenden dengan senyuman manis.
Arka masuk dengan senyuman andalannya.
__ADS_1
"Hai bagaimana keadaanmu kau sudah lebih baik bukan?"ucap Arka.
"Iya aku seperti lahir semula Dokter tampan"ucap Alsya menatap Arka dengan mata berbinar.
Arka tertawa lepas ketika mendengar panggilan yang diberikan Alsya untuknya.
"Kau jangan memanggilnya begitu,apa sekarang matamu sakit?, wajah seperti itu kau bilang tampan"ucap Rio memeriksa mata Alsya.
"Rio bilang saja kau iri kan dengan ketampananku?"ucap Arka bangga.
"Untuk apa aku iri denganmu?,wajah monyet lebih bagus dari pada wajahmu"ucap Rio ketus.
"Halah... bilang saja kau iri bukan"ucap Arka memainkan alisnya.
Alsya mengernyit heran melihat keakraban Rio dan Dokter di depannya dimana Dokter dihadapannya selalu menggoda Rio.
"Kalian saling kenal?"ucap Alsya refleks memiringkan kepala bingung.
Arka menatap Alsya kagum.
"Adik lu cantik juga"ucap Arka masih menatap Alsya,sedangkn Alsya masih menatap mereka bingung.
'Duk'
Rio menonjok pipi Arka pelan, walaupun pelan Arka masih merasakan sakit.
"Kau...awas jika kau melakukan yang tidak - tidak pada adikku"ancam Rio.
Arka menusap pipinya,dia menggeleng cepat.
"Ya sebenarnya Bang Rio tidak mau mengenal dia tapi sudah takdir,sedangkan kenapa Bang Rio mukul dia?,karna wajah dia membuat tangan Bang Rio gatal untuk memukulnya"
"Gatal?"ucap Alsya masih bingung.
"Udah - udah sekarang saya priksa dulu"ucap Arka mendekati Alsya.
"Sekarang keadaanmu lebih baik dari pertama kali aku bertemu denganmu,oh ya namamu siapa?"tanya Arka tersenyum manis.
"Alsya"ucap ketus Rio.
Alsya hanya diam melihat keduanya,ia tau kalau Rio menjaganya dari Arka dan Rio sangat posesif dengannya, Alsya tersenyum lembut melihat interaksi antara keduanya yang sedang adu mulut.
"Dokter apa aku bisa coba berjalan sekarang?"ucap Alsya menatap Arka.
"Tidak"ucap singkat Arka,Alsya yang mendengar pun menunduk sedih.
"Tidak,sebelum kau mengisi perutmu"lanjut Arka,sebenarnya Arka merasa ada yang aneh pada dirinya,ketika bertemu pertama kali dengan Alsya.
"Yaudah aku akan mengambilkan makanan"ucap Arka beranjak pergi.
"Tunggu, gw aja lo tunggu di sini gw juga mau ke kamar mandi"ucap Rio dan neranjak pergi meninggalkan Alsya dan Arka berduaan.
Keadaan pun hening Alsya memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, apa orang tuanya sudah pulang dan melihat ia tidak berada dirumah?,apakah sahabatnya kangen padanya?, dan banyak lagi yang Alsya pikirkan. Sedangkan Arka membaca buku - buku di atas meja dan sesekali melirik Alsya.
__ADS_1
"Apa Alsya akan lama Dok sembuhnya?"ucap Alsya menatap Arka.
"Alsya gk lama kok,yang penting Alsya selalu minum obat dan jangan lupa makan,jika soal berjalan itu masalah kecil, aku bisa bantu Alsya saat Rio tidak ada untuk membantu Alsya"ucap Arka lembut, ia tau semua tentang cerita Alsya sebenarnya, Rio sudah memberitau atas paksaannya, jika ia tidak memaksa mungkin Rio tidak akan menceritakan tentang lika - liku kehidupan Alsya.
Alsya terdiam ia tiba - tiba kepikiran tentang ingin menelfon sahabatnya.
Alsya melihat kesana - kesini mencari handphonenya.
"Alsya cari apa?"tanya Arka ketika melihat Alsya seperti kebingungan.
"Handphonen"ucap Alsya.
Arka berdiri dan membantu mencari Handphone Alsya.
"Mungkin dibawa Rio"ucap Arka.
Alsya mengangguk setuju.
Arka duduk kembali di sofa yang ada diruangan Alsya dan tampa sengaja tangannya menyentuh sesuatu.
"Apa ini handphonemu?"ucap Arka dengan menyerahkan handphonen yang ia temukan ketutup jaket Rio yang berada di sofa.
"Ah iya makasih Dokter tampan"ucap Alsya
"Jangan panggil Dokter tampan, panggil saja Arka atau Dokter Arka"ucap Arka.
"Tapi aku sukanya panggil Dokter tampan,bolehkan?"ucap Alsya menatap Arka.
"Boleh - boleh saja"ucap Arka tersenyum hangat.
Alsya ikut tersenyum,Alsya mengecek handphonya, ia melihat ratusan bahkan ribuan chat dari sahabatnya dan dari orang lain,tapi ia bingung kenapa batre handphonenya tidak habis.
'Mungkin Bang Rio mengisi daya handphonenku'ucap Alsya di dalam hati.
Saat Alsya ingin menelfon sahabatnya,pintu dibuka dari luar dan memperlihatkan Rio membawa nampan.
Alsya meletakan kembali handphonenya di atas meja yg didekatnya.
"Sya Bang Rio pergi dulu ya?, tiba - tiba Bang Rio ada sesuatu perkerjaan yg harus diurus,nanti kalau sudah selesai Bang Rio segera kembali"ucap Rio mencium pucuk kepala Alsya dan pergi tampa menunggu jawaban dari Alsya.
"Sepertinya pekerjaan yang dimaksud Bang Rio sangatlah penting,sampai Bang Rio buru - buru seperti itu"gumam Alsya.
Arka mendekati Alsya dengan tangan membawa nampan yang tadi di letakan di atas meja oleh Rio.
"Sini makan dulu, setelah makan minum obat dan setelah itu tidur,setelah bangun tidur kita mencoba berjalan oke?"ucap Arka
Alsya mengangguk dan mengambil makanan yang ada di tangan Arka tetapi Arka menghalangi dan mengucapkan.
"Tidak,biar aku yang menyuapimu, lihat tangan kananmu di perban jadi kau tidak bisa makan"ucap Arka menyodorkan sendok ke arah mulut Alsya.
Alsya tidak membantah sedikitpun,setelah selesai makan Alsya meminum obat dan bersiap tidur dibantu Arka.
"Sekarang kau tidur nanti jika kau butuh sesuatu pencet tombol disampingmu,nanti aku datang atau suster dan dokter lain yang akan datang oke?"ucap Arja diangguki Alsya.
__ADS_1
Arka pun keluar dari ruangan Alsya,sedangkan Alsya menatap ke atas,dan lama kelamaan menjadi mengantuk karna efek samping obat yang tadi Alsya minum dan Alsya pun tertidur pulas.