
Alsya masuk ke dalam rumah dan melihat sekeliling,ia merasa rindu dengan suasana rumahnya,walau ia memiliki memori buruk di rumah ini.
"Aku rindu dengan rumah ini"ucap Alsya tersenyum tipis.
Rumah ini yang menyaksikan kesedihan Alsya,ketakutan Alsya dan siksaan - siksaan yang diterima Alsya.
Alsya menaiki anak tangga dan melihat ke bawah yang sudah bersih berkilau tidak ada sececer darah sedikitpun.
Alsya membuka kamarnya dan melihat kamarnya yang sangat bersih dan rapi.
Alsya berjalan ke arah kasur dan merebahkan tubuhnya.
"Hah sangat nyaman,besok aku akan memberikan kejutan kepada sahabatku,ahh aku tidak sabar"ucap Aslya tersenyum semangat.
Alsya terus membanyangkan reaksi - reaksi sahabatnya yang akan bertemu dengannya lagi setelah berbulan - bulan lamanya.
Alsya perlahan - lahan menutup mata dengan senyum menghiasi wajahnya dan tertidur pulas.
Pagi hari yang cerah dimana Alsya akan bersekolah lagi dan memiliki rencana untuk memberi kejutan pada para sahabatnya.
Sinar matahari masuk melalui celah - celah jendela,Alsya membuka mata dengan perlahan bangun dari tidurnya.
"Selamat pagi"ucap Alsya tersenyum semangat.
Alsya berjalan ke arah jendela,tangannya membuka gorden jendela dan melihat keindahan yang ada di luar, Alsya membuka jendela untuk menghirup udara segar di pagi hari.
Setelah puas menatap keindahan dan menghirup udara segar Alsya bergegas mandi untuk mengawali hari.
Setelah keluar dari kamar mandi Alsya bergegas bersiap dan dengan cepat keluar menuruni anak tangga.
Alsya berhenti di depan pintu sejenak sebelum berangkat ke sekolah.
"Apakah aku bisa merubah takdirku?"gumam Alsya melihat sekeliling rumahnya.
Alsya menarik nafas dalam sebelum ia menutup pintu rumahnya.
Alsya berbalik badan dan terkaget melihat Arka dibelakangnya dengan senyuman manis.
"Eh Dokter?"kaget Alsya.
Arka hanya tersenyum lembut menatap gemas Alsya yang kaget.
"Iya maaf mengkagetkan mu"ucap Arka tersenyum.
"Ahh gak apa - apa,emm Dokter ngapain kesini?, dan bagaimana Dokter tau rumah Alsya?"tanya Alsya heran.
"Aku kesini untuk menjemput kamu sekolah,sebenarnya Rio yang memberitau alamatmu,dan aku disuruh mengantarkan Adik tercintanya ke sekolah"ucap Arka berjalan ke arah mobil dan diikuti Alsya.
"Seharusnya Dokter tidak usah melakukan semua ini,Alsya bisa naik kendaraan umum"ucap Alsya tak enak hati.
"Bisa gak aku minta sesuatu?"ucap Arka dengan fokus mengendarai mobil.
"Ya"ucap Alsya.
"Jangan panggil Dokter jika berada di luar tempat kerjaku, panggil saja Kak Arka"ucap Arka.
"Baiklah Kak Arka"ucap Alsya.
"Bagus anak pintar"ucap Arka tersenyum puas.
__ADS_1
"Dan kau tidak merepotkanku,karna jalan kita satu arah"lanjut Arka.
Alsya mengangguk mengerti ia menatap jendela melihat kesibukan orang - orang yang berlalu lalang.
"Sya"panggil Arka.
"Ya?"ucap Alsya menatap Arka yang ternyata juga menatapnya.
Arka menatap mata Alsya yang berwarna hitam seperti lubang hitam yang sangat dalam,Arka seperti terhisap ke dalam mata Alsya.
"Kak?,apa Kak Arka gak apa - apa?, ada yang sakit?"ucap Alsya panik memegang kening Arka untuk mengecek panas tidaknya.
"Gak panas,apa Kak Arka pusing?"ucap Alsya masih panik melihat Arka yang terus menatapnya.
Alsya memegang pipi Arka lembut.
Arka reflek tersadar dan melihat Alsya yang menatapnya khawatir dengan tangan yang memegang pipinya.
"Kak Arka kenapa?"tanya Alsya.
"Ahh enggak apa - apa hanya pusing sedikit, tapi sekarang udah mendingan"ucap Arka memegang tangan Alsya dipipinya.
"Apa perlu kita berhenti dulu?"ucap Alsya khawatir.
"Gak usah,kau sudah menyembuhkanku dengan tanganmu"ucap Arka melepaskan tangan Alsya perlahan.
"Tanganku?"ucap Alsya.
Tetapi Arka terus diam melanjutkan perjalanan tampa ada obrolan sedikitpun.
"Sudah sampai"ucap Arka memperhentikan mobilnya di depan gerbang.
Alsya turun dan berjalan ke arah pintu sebelah dimana Arka langsung menurunkan kaca mobilnya.
"Kak Arka makasih atas tumpangannya, dan Kak Arka juga harus beristirahat jangan memaksa jika Kak Arka capek atau kurang enak badan, Dokter juga manusia yang bisa sakit"ucap Alsya menasihati Arka.
"Siap bu guru"ucap Arka dengan tangan menghormat seperti upacara.
"Ha ha ha,baiklah nak Arka saya masuk dulu ya,ha ha ha"ucap Alsya dengan tertawa terbahak - bahak.
Mereka berdua masih menjadi pusat para siswa dan siswi yang masih berada di depan gerbang maupun di dalam.
"Sana masuk sebelum bel,nanti kau akan terlambat"ucap Arka mengacak rambut Alsya gemas.
"Ihh Kak Arka berantakan kan,yaudah Alsya masuk dulu bye"ucap Alsya melambaikan tangannya dan dibalas Arka dengan senyuman khasnya.
Alsya masih berdiri menunggu mobil Arka berjalan menjauh.
Setelah mobil Arka tak terlihat lagi Alsya berbalik dan melihat orang - orang yang menatapnya.
"Ada apa?,apa kalian tidak pernah melihat bidadari cantik turun dari mobil?"ucap Alsya dengan pdnya.
Semua orang yang masih berada di sana mendengus dan pergi begitu saja.
"Dihh kenapa mereka semua?"ucap Alsya heran.
Alsya melangkah ke gerbang dengan semangat tampa Alsya sadari ada sepasang yang menatapnya misterius.
Alsya melewati lorong demi lorong melihat aktivitas - aktivitas orang - orang yang berada di lingkungan sekolah,ada yang bermain basket,voli,dan tidak lupa gibah dan banyak lagi.
__ADS_1
Alsya melanjutkan berjalan di lorong - lorong sekolah menuju jelasnya, ia melihat kesana - kesini,karna tidak memperhatikan jalan,tampa sengaja Alsya menabrak seseorang.
'Bruk'
"Au.."ucap Alsya kesakitan.
Alsya menatap seorang wanita yang ia tabrak yang sedang mengambil buku - buku yang berserakan karnanya.
Alsya berdiri dan membantu wanita di depannya mengambil buku - buku.
"Maaf ya aku gak sengaja"ucap Alsya menyerahkan buku yang ia pungut dari lantai.
"Ahh enggak apa - apa kok, aku juga salah"ucap wanita di depan Alsya.
"Emm sepertinya aku tidak pernah bertemu denganmu"ucap Alsya menatap wanita di depannya dari atas sampai bawah.
"Emm aku murid baru beberapa hari yang lalu"ucap wanita tersebut dengan senyuman manis.
"Ooo kalau begitu,perkenalkan namaku Alsya Shifa Rembulan panggil saja Alsya"ucap Alsya tersenyum hangat.
"Aku Laila Belen, panggil saja Laila"ucap wanita tersebut yang ternyata memiliki nama Laila Belen.
"Salam kenal Laila,kalau begitu aku pergi dulu ya bye"ucap Alsya dan melangkah pergi meninggalkan Laila yang menatap punggung Alsya dengan senyuman menyeringai.
Alsya berjalan dengan santai menelusuri lorong - lorong kelas,tiba - tiba ada seseorang yang memeluknya erat.
"Alsya!!!!"teriak seseorang.
Alsya yang tau siapa itu pun membalikan badannya dan melihat ketiga sahabatnya yang seperti ingin menangis,bahkan Vian dan Nabila sudah merintihkan air mata.
"Kami kangen,kenapa kau tidak menghubungi kami?,kau jahat sekali"ucap Vian.
"Maaf aku hanya ingin memberi kejutan,dan mari kita ke tempat yang sepi"ajak Alsya merasa tidak nyaman karna mereka menjadi pusat perhatian karna teriakan para sahabat Alsya.
Mereka bertiga mengangguk dan pergi ke taman belakang sekolah dan duduk di bangku yang ada.
"Kau tau kami tadi diberitau kalau kau sekolah lagi dan diantar oleh seorang pria tampan"ucap Nabila sesekali mengusap air mata yang terus menetes.
"Dan kami tidak percaya tapi bukan hanya satu orang saja tapi beberapa orang juga bilang kau kembali sekolah diantar pria tampan berjas Dokter,dan kami menjadi sedikit percaya dan mencoba mencarimu di sekeliling sekolah ini"ucap Sherly tidak berani menatap Alsya, karna Sherly sudah meneteskan air matanya,ia malu jika para sahabatnya mengetahui jika ia menangis.
"Ya kami kira itu Kak Rio, tapi Kak Rio bukan Dokter,dan mereka mengfoto dirimu dan pria itu"ucap Vian menunjukan foto yang ia maksud.
Alsya hanya diam ia memandang para sahabatnya.
"Ya dia bukan Bang Rio,dia Kak Arka"ucap Alsya.
"Dan aku terharu kalian menangis hanya karna aku tidak memberi kalian kabar,dan aku merasa bahagia melihat kalian sesanyang ini pada diriku"ucap Alsya menunduk.
Sherly menatap Alsya,ia berjalan mendekat dan memeluk Alsya di ikuti yang lain.
"Kau sudah kami anggap saudara bukan kau saja tapi yang lain juga, kita sudah empat tahun lebih bersahabatan,kita selalu bersama apapun yang terjadi"ucap Sherly.
"Benar jika salah satu dari kalian sedih aku juga sedih,jadi jangan anggap dirimu sendirian di dunia ini,masih ada kami yang selalu mendukungmu apapun yang kau lakukan"ucap Vian.
"Aku sebelum menemukan kalian,aku tidak percaya dengan kata sahabat,tapi setelah mengenal kalian aku sekarang percaya,kalau sahabat memang sulit di dapatkan,sekali dapat itu bukan sahabat sungguhan, dan sekarang aku menemukan tiga sahabat sekaligus,yang bisa membuka mataku"ucap Nabila.
"Apakah kalian akan selalu mempercayaiku selamanya?"ucap Alsya melepaskan pelukan mereka.
"Ya kami akan mempercayaimu selamanya"ucap mereka bertiga.
__ADS_1
Mereka pun berpelukan lagi menghabiskan waktu sampai bel berbunyi masuk memulai pelajaran.