
"Bang Rio?"ucap Alsya.
Ya pasti Rio khawatir dengan keadaan Alsya, bagaimana tidak?,Alsya tidak mengabarinya seminggu lebih.
"Hallo?"ucap Alsya.
"Alsya apa ini kau?, dimana kau sekarang?,aku tau kau pasti dalam masalah, cepat beritau aku"ucap Rio dari sebrang telfon dengan suara bergetar marah bercampur panik.
Alsya terdiam,jika dia bisa berbohong dengan sahabatnya,tapi tidak dengan Rio,entah mengapa Rio sulit untuk dibohongi.
"Bang Rio aku tak apa - apa"ucap Alsya mencoba tenang.
"Aku tak percaya, aku akan kerumahmu sekarang"ucap Rio tegas.
"Bang gk usah,aku tidak ada di rumah"ucap Alsya dengan cepat.
"Kau pikir aku bodoh?, lokasimu sudah ku lacak dan kau berada di rumahmu sekarang"ucap Rio marah dan langsung mematikan telfonnya,ia yakin jika Alsya menyembunyikan sesuatu,apalagi ia bertemu terakhir kalinya saat dia melihat luka Alsya,sebenarnya ia mau melacak Alsya dari pertama Alsya hilang,tetapi tidak bisa karna handphone Alsya mati.
Amarahnya mulai memuncak lagi,karna teringat luka Alsya.
Alsya terdiam membisu ia tak bisa mengelak lagi,ia takut jika Rio benar - benar datang menghampirinya dengan kondisi tubuhnya seperti ini.
Beberapa menit, tiba - tiba bel berbunyj,Alsya pun panik ia tau jika Rio benar - benar ke sini.
Alsya ingin berdiri tetapi badannya tidak bisa bergerak,bahkan jari kakinya pun sulit untuk dia gerakan,hanya satu tangan Alsya yg bisa bergerak.
Dari bawah terdengar suara pintu yg dibuka paksa.
Alsya terdiam,ia hanya bisa menunggu.
Dari bawah terdengar teriakan yg memanggil Alsya.
Alsya mengenal suara itu,itu suara Rio yg sudah ia anggap kakak laki - laki yg selalu ada untuknya.
Rio masuk dengan amarah yg menggebu - gebu,ia membuka paksa pintu,tampa tau apa akibatnya atas perbuatannya.
Mata Rio tertuju darah yg berceceran di tangga,di saat itu ia merasa perasaan campur aduk,Rio berteriak memanggil nama Alsya,ia khawatir terjadi sesuatu yg menimpa Alsya.
"Alsya!!!"teriak Rio.
Rio mencoba mengikuti jejak darah yg berceceran.
Darah itu menuju ke sebuah ruang di pojok sendiri.
Rio mengikuti jejak darah,dengan perasaan campur aduk.
Sekarang Rio berada di depan sebuah pintu,ia melihat jejak darah berada di dalam ruangan yg ada dihadapannya.
Rio menarik nafas dalam dan menghembuskan secara perlahan.
"Semoga tidak seperti yg kubayangkan"ucap Rio berharap.
Rio membuka pintu dihadapannya perlahan.
Matanya melotot tidak percaya apa yg ada di dalamnya yang ternyata sebuah kamar.
Di dalam terlihat sesosok yg menatap kosong ke arah Rio dengan kondisi mengerikan,darah berceceran dimana - mana.
"Alsya!!!!"teriak histeris Rio.
__ADS_1
Ya bayangan ya ada dipikirannya pun terjadi bahkan ini lebih parah dari apa yg ia bayangkan.
Rio berlari ke arah Alsya,yg berpenampilan tak karuan,rambutnya yg sangat berantakan dan kusut,memiliki mata panda yg sangat hitam,masih ada beberapa darah yg menempel,dan satu tangannya yg melepuh mengerikan.
Alsya mendongak menatap Rio,ia tak pernah berpikir jika Rio akan melihatnya seperti ini,air matanya mulai membasahi pipinya yg memerah karna tamparan Mamanya.
"Bang Rio hiks ma maaf Ba Bang Rio hiks ha harus melihat ke keadaan Alsya seperti ini"ucap Alsya menunduk dengan deraian air mata.
Rio memeluk Alsya perlahan,hatinya kacau ia memeluk tubuh rapuh Alsya,amarahnya bertambah memuncak,tapi dia harus menahannya.
"Alsya kenapa kau menghadapi ini sendirian?,kau bisa menghubungi Bang Rio mu ini,kau menganggapku sebagai Abangmu bukan?"ucap Rio halus.
Alsya hanya diam dan terus menangis dan menangis.
Rio yg mendengar tangisan Alsya tidak tahan lagi,hatinya merasa tercabik - cabik.
'Abang seperti apa aku ini?!!,aku tidak bisa melindungi adikku sendiri'ucap Rio dalam hati.
Rio melepaskan pelukannya dan melihat keadaan Alsya yg mengenaskan,ia membuka selimut Alsya dan terlihatlah kaki Alsya yg memerah bengkak mengerikan.
"Ini sudah tidak bisa di maafkan!!!!"teriak marah Rio.
Alsya hanya bisa menunduk dan menangis.
"Aku tidak bisa diam lagi Sya,aku harus melaporkan ke pihak polisi"tegas Rio.
Alsya langsung mendongakan kepala menatap Rio memohon.
"Hiks ja jangan Bang,ja jangan pliss Alsya minta hiks jangan laporkan hiks Ma Mama dan Pa Papa,hiks demi Alsya Bang jangan hiks"ucap Alsya memohon.
Rio tak melihat ke arah Alsya ia tak kuat melihat keadaan Alsya seperti ini.
'Bruk'
Alsya terjatuh dari tempat tidurnya.
Rio berbalik badan dan kaget melihat Alsya yang terjatuh dan menangis.
Rio dengan segera menggendong badan Alsya dan menaruhnya kembali ke tempat tidurnya,saat Rio ingin menjauh,Alsya dengan cepat mencengkram tangan Rio.
"Bang hiks Alsya mohon,hiks ja jangan laporkan hiks Mama dan Papa,Alsya gk hiks te tega melihat mereka ter tersiksa di hiks penjara"ucap Alsya sesenggukan.
Rio membalik badannya menghadap Alsya dengan amarah yg menguap.
"Sya buka matamu,dia bukan orang tuamu,mana ada orang tua yg melukai anaknya sendiri sampai sekarat seperti ini!!!,kalaupun ada mereka adalah orang tua psikopat yang tidak memiliki hati,sadarlah Alsya untuk apa kau mengasihani mereka yang tidak punya hati!!! "teriak marah Rio.
"Bang hiks Alsya yang salah,hiks jika Alsya menyelamatkan dia,mungkin Alsya tidak seperti ini hiks Al Alsya mo mohon Bang hiks"ucap Alsya masih memegang tangan Rio dengan erat.
Rio bingung siapa yg dimaksud Alsya,Dia?,siapa Dia itu?, Rio ingin bertanya tetapi ini bukan waktu yang tepat.
"Huh... Baiklah untuk kali ini aku mendengarkan permintaanmu,tapi ingat jika kau terluka lagi dan semua luka yg kau dapatkan dari orang tuamu,aku tidak mengampuninya lagi"ucap Rio mengalihkan tatapan.
Rio tak tahan dengan tatapan memohon Alsya apa lagi Alsya memohon dengan air mata yang tak terhenti membanjiri pelupuk matanya.
"Hiks terima kasih,Alsya bersyukur memiliki seseorang seperti Bang Rio hiks makasih"ucap Alsya sesenggukan dengan senyuman manis.
Rio menatap Alsya sendu,Alsya seharusnya tak memiliki beban sebesar ini dengan usia 17 tahun,ia seharusnya bersenang - senang layaknya remaja lainnya.
"Baiklah sekarang kau harus ke rumah sakit,menerima perawatan medis,agar kau cepat sembuh oke?"ucao Rio lembut dengan tangan mengelus kepala Alsya lembut.
__ADS_1
Alsya hanya mengangguk setuju,dia juga ingin bertemu ketiga sahabatnya yang sangat ia rindukan.
"Sekarang kau bersiap dulu ya?,tapi apa kau bisa bergerak?"ucap Rio karna ia merasa Alsya tak pernah menggerakan badannya kecuali satu tangannya,saat berbicara dengannya.
Alsya menunduk dan menggeleng pelan,ia takut Rio marah lagi.
"Apa Bang Rio marah pada Alsya?"ucap Alsya pelan
Rio menatap Alsya yg terus menunduk,Rio menghembuskan nafas kasar,bagaimana dia marah dengan Alsya jika ini semua bukan kesalahannya?.
"Bang Rio enggak marah,sekarang Alsya diam saja,Bang Rio akan membantu Alsya"ucap Rio dengan senyuman tulus.
Rio berjalan ke arah meja kaca milik Alsya dan mengambil sisir,Rio kembali berjalan ke arah Alsya dengan membawa sisir.
Dengan perlahan Rio menyisir rambut Alsya yg kusut berantakan.
Setelah selesai Rio mengambil kain dan membasahinya,dengan perlahan mengusap ke wajah Alsya.
"Sudah selesai,sekarang Alsya bertambah cantik"ucap Rio tersenyum.
"Jelas lah Adiknya siapa dulu,Rio gitu lohh"ucap Alsya bangga.
Mereka bertatapan senjenak dan tertawa bersama.
"Bang tolong ambilkan Alsya jaket ya,untuk menutupi tubuh Alsya,agar Alsya tak mengganti baju lagi,itu akan sulit sekali"ucap Alsya cemberut.
"Baiklah,kapan Bang Rio bisa nolak permintaan Alsya yang manis in?i,bahkan jika Alsya minta Bang Rio menunggu ayam jantan bertelur pun,Bang Rio mau"ucap Rio tersenyum.
Alsya membalas senyuman Rio dengan senyuman manis.
Rio berjalan ke arah lemari Alsya,dan mencari jaket.
Rio kembali ke Alsya dan memakaikan Alsya jaket dengan hati - hati.
"Sudah,sekarang yuk Bang Rio gendong"ucap Rio.
Alsya mengangguk,Rio pun mengangkat Alsya dengan hati - hati.
Mereka berdua keluar dari kamar Alsya dengan Alsya yang berada di gendongan Rio.
Alsya melihat darahnya yang mengering, dilantai.
"Emm Bang,tolong turunkan Alsya"ucap Alsya.
Rio menatap Alsya dengan alis terangkat satu.
"Kenapa?"tanya Rio.
"Alsya mau membersihkan darah Alsya dulu,nanti jika terlalu dibiarkan,akan sulit untuk di hilangkan"ucap Alsya.
"Gk usah,nanti akan ada seseorang yang membersihkannya,sekarang kesembuhan Alsya yang utama"ucap Rio.
Rio menuruni anak tangga secara perlahan.
Saat diluar sudah terlihat mobil Rio yang terpakir,dengan cepat Rio memasukan Alsya.
"Alsya tunggu disini sebentar ya?"ucap Rio.
"Bang Rio mau kemana?"tanya Alsya bingung.
__ADS_1
"Ada.......