ARSYILA ABiZAR

ARSYILA ABiZAR
Kenangan pahit


__ADS_3

Arsyila duduk diatas ranjang nya sambil melihat keluar jendela dia teringat dimana wajah Papa dan kakaknya yg terasa masih sangat segar di ingatannya.


Kenangan pahit itu terasa sangat menyakitkan dalam benaknya dimana tahun itu menjadi tahun kehancuran keluarga dalam hidupnya dimana sang Mama hampir kehilangan akal sehatnya karena kehilangan dua orang yang sangat dia cintai dalam kecelakaan maut yg dialami sang suami dan putra sulungnya dan tidak ada yg tahu bagaimana Arsyila begitu terguncang nya saat dia diputuskan oleh kekasihnya tanpa mau mendengarkan penjelasannya bertepatan dimana keluarganya benar-benar hancur, yg Arsyila tahu saat itu adalah dunianya terasa runtuh.


Arsyila bahkan tidak pernah membiarkan satupun foto keluarganya terpajang dirumah mereka sekarang karna Arsyila tahu jika Mama Naura melihat foto itu dia hanya akan terus menangis sepanjang hari.


"Pa... Papa apa kabar? kakak Rasya juga bagaimana kabarnya?.. Apa kakak tahu Arsyila sangat merindukan kakak dan juga Papa.


Arsyila merindukan pelukan kalian pa... Arsyila terisak pelan mentap langit gelap malam hari yg nampak gerimis, bayangan Hari-hari yang pernah berwarna tidak lagi ada dalam hidup nya, Arsyila merasa selama beberapa tahun terakhir dia hanya hidup dengan menggunakan topeng palsu yg selalu tersenyum dan tertawa, namun saat berada di dalam kamarnya Arsyila akan menjadi murung dan menangis di sepanjang malamnya hingga membuatnya mengidap Emsomnia berkepanjangan sampai sekarang dan tidak ada yg tahu itu.


Tok tok tok


" Syila... ?" terdengar ketukan pintu dari luar kamar Arsyila


"ya mah? masuk saja pintunya nggak dikunci''


Setelah mendengar suara putri nya yg sepertinya masih belum tidur Mama Naura segera membuka pintu masuk ke dalam kamar


" kamu belum tidur?"


"Belum... kenapa? Mama belum mengantuk?"


"Belum... sahut Mama Naura hingga keduanya tertawa bersama

__ADS_1


" Sayang... apa Mama boleh ngomong sama kamu?" tanya Mama Naura Hati-hati


"kenapa Mama Minta izin dulu? kalau Mama mau ngomong ya ngomong aja, nggak usah kaya geni mah" kekeh Arsyila


"Mama kan takut kamu nggak suka Mama nanyain masalah pribadi kamu sayang"


"iih... memangnya sejak kapan Syila rahasia rahasia an sama Mama, perasaan Syila nggak pernah nyembunyiin Apa-apa sama Mama "


"Ada"


"memang nya yg mana mah?" Syila sendiri merasa bingung apa yg belum dia cerita kan dengan sang Mama


"Abe..


Dada Arsyila terasa berdenyut sakit saat dia mendengar nama itu lagi, di saat seperti ini mengapa sang Mama menanyakan tentang ini pikir Arsyila, Arsyila langsung memalingkan wajahnya kesamping untuk menutupi kegugupan yg dia rasakan.


" Mama ingat waktu itu kamu punya teman yg namanya Abe bukan? Apa Mama boleh bicara sama dia?"


Arsyila terperangah tidak percaya dengan apa yg dikatakan sang Mama, apa beliau sedang bercanda? Arsyila pikir mungkin Abe untuk melihat wajahnya saja mungkin dia tidak akan pernah mau apa lagi sampai dia memanggilnya.


"untuk apa mah?" Arsyila masih menyimpan segala kegundahan dalam hatinya


"ya buat minta jagain kamu lah!! nanti kalau kamu dijakarta siapa yg bakalan ngurusin kamu sayang"

__ADS_1


"___"


"Ma Syila bisa jaga diri Syila kok!!"


"mana bisa... kamu itu anak gadis, kalau kamu nya kenapa-kenapa disana gimana? siapa yang bakalan jaga kamu"


"eehh... tunggu tunggu... maksudnya Mama ngomong gitu apa? memangnya Mama nggak ikut Syila gitu?"


"buat apa juga Mama ikut? Mama sih ogah.. Mama udah betah tinggal disini"


"___"


Sekali lagi Arsyila dibuat terdiam dengan ucapan sang Mama "mana bisa gitu mah masa kita hidup terpisah? nggak ah kalau gitu Syila berhenti aja!"


"nggak boleh.. !! pokoknya kamu harus pergi ayu mana nomor temen kamu itu biar Mama panggil sendiri saja!"


Arsyila mendesah pelan dan mulai membuka suaranya lagi "Ma sejak kita pindah Arsyila udah nggak punya kontak teman teman Arsyila lagi dan apa Mama lupa saat itu ponsel arsyila sudah Arsyila jual buat... Arsyila menghentikan perkataan nya saat menyadari bahwa dia hampir melewati batas yg seharusnya tidak dia ungkit lagi.


" Mama nggak Papa sayang... Mama Naura mengusap lembut pundak Arsyila dia tahu bahwa putri nya tidak ingin membuatnya bersedih lagi


"Maafkan Syila mah... Syila masih belum bisa buat Mama bahagia seperti yang orang lain lakukan untuk orang tua lainnya" Arsyila memeluk sang Mama dengan sangat erat


"ini lebih dari cukup sayang... kamu sungguh sudah dari kata cukup buat Mama bahagia" Mama Naura juga membalas pelukan putri nya sambil tersenyum, seperti inilah putrinya yg selalu kuat dan tegar.

__ADS_1


Setelah berpikir panjang akhirnya Arsyila memutuskan untuk mengambil tugasnya dia tidak ingin Mama Naura berpikir dia masih tenggelam dalam kesedihan di masa lalu karena selalu menolak untuk pergi ke kota Jakarta lagi.


__ADS_2