
Berat bagi arsyila saat pertama kali dia kembali menginjakkan kakinya dikota itu, kenangan yg begitu banyak membuat nya benar-benar enggan untuk kembali ke kota itu ditambah lagi sang Mama yg tidak mau ikut dengannya membuat semangat Arsyila cukup membuatnya menjadi sedih.
Saat dia ingin menyeberangi jalan dia melihat seorang nenek tua yg berjalan begitu lambat dan nampak tertatih dengn cepat Arsyila berlari dan menuntun sang nenek berjalan dengan perlahan.
"Apa nenek masih kuat berjalan?" tanyanya pelan
"Nenek sudah tua nak, untuk berjalan saja rasanya sudah tidak kuat lagi"
"mengapa nenek sendiri? apa tidak ada yg menemani nenek?"
"Mereka sedang bekerja.. Nenek hanya ingin berjalan jalan sebentar tetapi nenek malah tersesat"
"Ya sudah... alamat nenek dimana biar saya carikan taksi ya nek?" tanya Arsyila yg sudah mulai dekat dengan pinggir jalan yang mereka seberangi bersama.
"Terimakasih Nak... sang nenek merasa senang dan menyukai Arsyila, tidak banyak anak muda sekarang yg peduli dengan sekitar, mereka lebih memilih pura-pura tidak tahu dan sibuk memainkan ponselnya dibandingkan membantu orang yang membutuhkan bantuan.
Nenek melihat Arsyila dari kaki sampai keatas kepalanya, dia melihat ada sesuatu yg berbeda dari Arsyila yg terlihat sederhana namun memiliki Aura seorang yg tidak biasa.
Dia cantik dengan kulitnya yg putih halus semakin mendukung dengan bentuk tubuhnya yang tergolong bagus seperti ini.
Setelah Arsyila memanggil-manggil taksi dia membantu Nenek itu naek dan tersenyum " lain kali nenek jangan sendiri lagi kalau ke mana-mana, bahaya"
__ADS_1
"ya.. ya... nenek tahu, terimakasih.. ngomong ngomong nama kamu siapa nak?" Arsyila tersenyum saat mendengar pertanyaan itu
"Syila... Arsyila"
"nama yg cantik" Sahut nenek yg kemudian Taksi yg dia tumpangi mulai berjalan perlahan dengan Arsyila yg tertinggal dibelakang melambaikan tangannya pada nenek yg terus melihatnya di jendela mobil.
Arsyila tidak menyadari sama sekali sejak dia menyeberangi jalan ada sepasang mata yang terus menatap lekat pada dirinya di dalam mobil .. Tatapan penuh kebencian dan kesedihan yang sudah begitu lama tidak dia ungkapkan, namun saat dia melihat Arsyila kebencian yg sudah lama dia pendam kembali meluap lagi.
Dia awalnya tidak berpikir bahwa itu adalah arsyila, namun saat Arsyila yg melewati tepat di depan mobilnya dia mulai yakin kalau itu adalah Arsyila yg tidak lagi dia ingin lihat, karena dirinya takut akan perasaannya yang tiba-tiba saja bisa goyah, dia tahu kelemahan yg dia miliki dulu adalah gadis yg ada di hadapannya saat ini dan dia tidak ingin hal itu terjadi lagi dan melukai perasaan nya, dia terus menatap lekat pada Arsyila, hanya saja Arsyila tidak tahu keberadaan dirinya saat ini.
hanya ketika Arsyila sudah tidak terlihat lagi barulah dia melajukan mobilnya kembali
Hari pertama Arsyila bekerja cukup lancar dia mulai mengenali lingkungan dan para dokter dan juga perawat lainnya.
"Kamu perawat baru bukan?" tanya seorang pria yg mengenakan jas putih, sudah jelas kalau dia adalah dokternya
"iya.. Saya Arsyila dokter" sahutnya sopan
"kamu ikut saya..
"saya?" tunjuk Arsyila pada dirinya sendiri
__ADS_1
"ya kamu... apa saya menanyakan orang lain? " tanya dokter itu, dia terlihat masih muda dan tidak jauh lebih tua dari Arsyila mungkin hanya berbeda beberapa tahun saja darinya namun sikapnya sangat ketos.
"Saya punya pasien yang cukup istimewa dia baru saja masuk ruangan dan dia bukan orang yg mudah, saya ingin kamu menangani dan menjaga dia karena saya tahu dari apa yg saya lihat dari CP kamu, kamu cukup memuaskan dan cakap dalam pekerjaan.
jadi saya berikan tugas ini untuk kamu dan jangan sampai ada orang lain yg melakukannya, oh ya dan ingat ini hari pertama kamu bekerja bukan? Jadi saya harap kamu tidak akan mengecewakan saya" ucap sang dokter
"Baek dokter" Sahut Arsyila cepat
"Bagus... sekarang ayu ikut saya"
"ya... kemudian dia membawa map catatan pasien kamar VVIP itu yg baru sampai di meja Arsyila dan langsung pergi tanpa membaca keterangan pasien terlebih dahulu.
Tok... tok... tok
" masuk" terdengar sahutan dari dalam ruangan dengan cepat dokter muda itu membuka pintu masuk ke dalam ruangan dengan diikuti Arsyila dibelakangnya
"Bagaimana? apa sudah lebih baek?" tanya sang dokter sambil terkekeh melihat keadaan sahabatnya yang duduk lemah diatas ranjang dengan tangan dan kaki yg terbalut perban dan juga ada beberapa luka kecil yg ada diwajahnya.
"ini semua salahmu!! jika kamu tidak memaksaku pergi bagaimana mungkin aku bisa terluka seperti ini!!" kesalnya menatap tajam sang sahabat dia masih tidak menyadari bahwa ada orang lain di antara mereka berdua.
Deggh
__ADS_1
Jantung Arsyila terasa berhenti berdenyut saat dia mendengar suara itu, suara yg sangat dia kenal, suara yg sudah sangat lama tidak dia dengar namun terasa masih hangat di ingatannya, Arsyila yg mulai panik segera merogoh kantung bajunya dan mengambil masker untuk menutupi wajahnya dia takut jika itu benar tebakannya maka Arsyila tidak akan bisa mengampuni dirinya sendiri, dia sangat menyesal telah mengambil keputusan untuk benar-benar kembali ke kota itu.