
Bu Ningrum pun tersenyum melihat suaminya itu minum kopi dengan sangat senang.
setelah itu, pria itu pun pamit untuk bekerja, saat keluar rumah tak sengaja pria itu berpapasan dengan tiga sahabat di depan rumah.
"apa itu..." lirih Kania yang melihat ada asap hitam di atas kepala pria itu.
"sepertinya itu seperti ajian pelet ya," kata Ardi.
"kamu benar, Miss Kun ikut sekolah ya, habis bosen di rumah sepi begitu," kata Miss Kunti yang duduk di boncengan sepeda milik Ardi.
"terserah deh asal jangan ganggu, dan jangan ganjen lagi sama Ardi," kata Shaka
"ciye.... Shaka cemburu kalau miss Kunti Deket sama Ardi," ledek Kania
"diam sekarang ayo pergi," kata Shaka yang mulai menggowes sepeda miliknya.
mereka pun berangkat ke sekolah, dan pak Yanto tak habis pikir bagaimana caranya menjauhkan putranya itu dengan sosok kuntilanak merah itu.
tapi tak mungkin dia menyakiti kuntilanak itu lagi, jadi dia membiarkan saja dan berharap kuntilanak itu melindungi putranya.
Aris sampai di pabrik, dia selalu tampak cuek saat para wanita yang menyapanya.
__ADS_1
bahkan mereka juga heran, kenapa pria seperti Aris ini sangat sulit di dekati dan anehnya hanya mau dekat dengan istrinya yang tua itu.
Aris pun melakukan pekerjaan dengan sangat baik seperti biasa, sedang di rumah Bu Ningrum mengambil arang yang sudah di bakar.
dan meletakkan di sebuah tempat khusus yang biasa di gunakan untuk melakukan ritualnya.
dia memandikan dirinya dengan asap yang berasal dari arang yang sudah di beri wewangian itu.
"niat ingsun ngrampal, jowo sekalir jawab, manut.. manut... manut... kang jabang bayi e Aris," doa itu pundi rapal oleh Bu Ningrum.
Aris di tempat kerja,semakin terbayang akan keindahan dan kecantikan istrinya.
pros itu benar-benar sudah di butakan oleh ajian yang di miliki oleh Bu Ningrum.
sedang di sekolah baru, ketiga sahabat itu sudah mulai masuk kelas.
dan ternyata Cici juga pindah ke sekolah yang sama dengan mereka, meski ini SMA swasta.
tapi reputasi sekolah ini lebih baik, terlebih di banding dengan sekolah lama kerja yang meski bagus tapi memiliki banyak kejadian mesum yang ada di sana.
"baiklah semuanya, sekarang tolong buka halaman tujuh kerjakan sepuluh soal matematika itu, dan segera kumpulkan,jika tidak bisa kalian bisa bertanya pada ibu," kata Bu Weni wali kelas itu.
__ADS_1
Shaka bisa melihat ada bayangan yang terus mengikuti wanita itu, tapi dia tak tau jelas apa itu.
Cici dan Kania saling bekerja sama untuk mengerjakan soal itu, sedang Shaka langsung mengumpulkan kertas miliknya karena dia sudah selesai dalam hitungan menit.
Bu weni melihat pemuda itu sedikit heran, "ada apa Bu?"
"apa ibu mu bernama Winda?" tanya Bu Weni.
"tidak Bu, ibuku bernama Yuli, tapi biasa di panggil ibu Shaka, memang kenapa?" tanya Shaka heran.
"tidak, wajah mu mengingatkan diriku pada seseorang,maaf kamu bisa menunggu di luar atau membantu teman mu," kata Bu Weni dengan sopan.
"aku akan bantu mereka," jawab Shaka.
Weni terus melihat Shaka, bagaimana tidak mata pemuda itu mengingatkan dirinya pada teman masa mudanya yang sudah hilang entah kemana.
"gila nih si otak jenius, bisa selesai dengan sangat cepat, itu otak atau apa," kata Ardi tak percaya melihat dan mendengar apa yang terjadi.
"sudah tutup mulutmu dan mulai mengerjakan soal itu," kata Shaka melotot menatap ketiga sahabatnya itu.
"iya iya jangan melotot gitu, lepas tuh mata, sialan," kesal Ardi.
__ADS_1
Shaka langsung memukul kepala pria temannya itu, dan Cici akhirnya bersama Kania mengumpulkan.