Awas Ada Setan

Awas Ada Setan
perkemahan bag.4


__ADS_3

Kania mengerti kenapa Shaka memperingatkan dirinya seperti itu, mereka pun terus lanjut hingga sampai di tempat kemah yang ternyata sebuah Padang rumput yang cukup luas.


tapi bagi Shaka, Kania dan Ardi ini sangat tidak nyaman, karena di tempat itu penuh dengan hawa yang gelap.


"pak, haruskah kita kemah di sini, sebaiknya kita kemah di bawa saja," kata Kania yang melihat berbagai bentuk mata sedang mengawasi rombongan mereka.


"tenang saja, tempat ini aman, sudah Shaka kamu dan grup mu buat tenda di sebelah timur sana, pak Jhoni akan ada di tenda di samping kalian bersama kelompok dia yang semuanya pria," kata pak Arif.


"baik pak," jawab Shaka yang langsung mengandeng Kania.


Shaka sudah di beritahu oleh sang ayah untuk menaburi garam sebelum membangun tenda.


pasalnya garam itu sebagai pelindung mereka, Shaka, Edi dan Ardi sibuk membuat tenda berjajar karena mereka mengunakan dua tenda.


begitupun dengan yang lain, juga tengah sibuk membangun tenda masing-masing.


tak butuh waktu lama, tenda mereka sudah berdiri dengan kokoh, dan tak lupa pelindung agar aman saat hujan.


"pak untuk makan malam bagaimana?" tanya salah satu siswa.


"para guru sedang rombongan datang ke sini membawa nasi bungkus, dan besok pagi kalian bisa masak sendiri, mengerti," kata pak Jhoni.


"apa, wah... gila nih ya kali kami para pria di suruh masak," protes para murid.


"tenang nanti ada para guru yang membantu," jawab pak Arif.


kelompok dari Shaka sudah sibuk membuat teh karena suasana menjelang Magrib tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin.

__ADS_1


bahkan tiupan angin pun rasanya berbeda, itulah kenapa dia meminta teman-temannya tetap berdekatan, jika tidak, takutnya mereka akan mengalami hal yang tak di inginkan.


Rena dan Livi begitu senang saat bisa minum teh susu buatan Ardi yang begitu nikmat.


"wah gila sih, murid pindahan ini begitu kaya sepertinya, lihatlah mereka bisa membuat teh di saat kita semua menunggu guru lain untuk makan," kata Lutfi.


"jika kamu mau, silahkan tak usah ngebacot," kesal Edi.


"cih .. kau sudah jadi jongosnya jadi kamu berani melawan ku," tantang Lutfi.


"hentikan, ini tempat asing, tolong jangan bertengkar, kalian bisa minta aku buat banyak, aku akan membuatkan lagi jika kurang," kata Shaka melerai perdebatan itu.


akhirnya mereka semua minum teh, beruntung api unggun sudah di buat jadi tak perlu menghabiskan gas milik mereka.


benar saja cukup malam gitu yang lain baru datang, dan beruntung Shaka membuat teh susu jadi mereka bisa menahan lapar sedikit lebih lama.


mereka semua langsung menerima nasi bungkus itu, berhubung sudah lapar dan dingin.


karena tempat api unggun itu terbuat dari tembikar besar, jadi bukan tanah.


"ah ... sepertinya kita salah membakar sampah makan itu," gumam Ardi yang melihat sesuatu di atas pohon.


"sudah abaikan saja, kita aman,"kata Shaka.


setelah makan, mereka pun mengelilingi api unggun sesuai dengan grup.


dan mendengarkan cerita dari para guru, "malam ini bapak ingin berceritakan tentang batu tumbal," kata pak Arif.

__ADS_1


"keberatan pak bisa cerita yang lain," kata Shaka mengangkat tangan protes.


"memang kenapa sih,kamu itu penakut ya,dasar pria lemah," ejek yang lain.


"mereka mau mati," kesal Ardi.


"sudah tenangkan dirimu," kata Shaka.


"maaf tapi ini sesuai permintaan dari kepala sekolah," tiba-tiba perasaan shaka tak enak.


Shaka ingat jika dia di berikan sebuah doa oleh ayahnya, dan harus di putar saat mereka merasa terancam.


"kalian semua sekarang gunakan headset di satu telinga, dengarkan voice note yang aku kirimkan pada kalian, dan ingat perhatikan dengan baik apa yang di ceritakan pak Arif, mengerti," kata Shaka.


"kami mengerti," jawab keenamnya.


mereka mulai mendengarkan lantunan doa,dan mendengarkan setiap cerita pak Arif.


"dulu, di tempat ini adalah tempat pemujaan untuk Tuhan yang di anut oleh warga di sekitar hutan di sini.


ratusan gadis perawan di tumbalkan, hingga akhirnya seorang pria beragama kuat dan istrinya menghancurkan tempat itu.


bahkan darah yang mengenang di tempat itu bisa tiba-tiba muncul dan para arwah menunjukkan dirinya.


mereka tak jahat, mereka hanya ingin menolong saat ada yang ingin berbuat jahat, itulah kenapa kalian tak di izinkan untuk bertindak dengan seenaknya dan songgong di tempat ini," kata pak Arif


"kamu lupa satu cerita bung, jangan pernah membuang benda dan najis sembarangan, terutama yang mens, mengerti," kata pak Jhoni.

__ADS_1


"baik kami mengerti," jawab semua murid


"pak Arif menyembunyikan sesuatu, yaitu waktu penumbalan para gadis perawan itu adalah bulan purnama di tanggal lima belas penanggalan Jawa kuno,dan itu jatuh ada besok, apa yang sedang di rencanakan oleh mereka," gumam Shaka yang mengejutkan grupnya yang langsung nampak pucat.


__ADS_2