Awas Ada Setan

Awas Ada Setan
senja kala bagian 3


__ADS_3

pak Yanto pun mengerti apa yang harus di lakukan sekarang, sedang Shaka langsung memeluk tubuh baru ibunya itu.


"ibu..." panggilnya dengan sedih.


Nyai Asih pun merasa senang mendapat perlakuan seperti itu satu putra kandungnya yang sudah lama ingin di peluknya.


"tunggu mas, bagaimana sekarang, aku tak terbiasa dengan panggilan nama Yuli," kata Nyai Asih.


"tenang saja Asih, biar aku yang mengaturnya dan besok kita buat acara ganti nama, karena ingin kamu sembuh karena Yuli beberapa bulan ini sedang sakit-sakitan," kata pak Yanto.


"baiklah mas, aku ikut saja," jawab Nyai Asih.


benar saja, keesokan harinya, Shaka mendengar suara cukup berisik di belakang.


ternyata ibunya sedang memasak di bantu pak Yanto, dan semua tumpeng yang di butuhkan sudah selesai di buat.


"Shaka, tolong undang para tetangga, bilang jika ada selamatan ganti nama ibu," kata Yanto.


"iya ayah, tapi Shaka mau cuci muka dulu," jawab pemuda itu.


sedang di rumah Mbah Sarji, pria itu merasakan ada aura yang lain di desanya.

__ADS_1


aura itu sangat kuat tapi juga terasa sangat penuh pengayoman. "sebenarnya ada apa ini?"


dia ingin mencari tau tentang masalah itu tapi tak semudah itu, seperti ada yang menghalanginya.


di rumah pak Yanto, para wanita sudah berkumpul dan melakukan doa untuk kesembuhan Bu Yuli


dan mereka pun merasa senang saat Bu Yuli terlihat sembuh dan sekarang mereka harus memanggilnya Bu Asih.


setelah acara, Shaka sudah selesai cuci piring dan langsung bersiap untuk ke sekolah.


"ke anak Lanang, ini di bawa ya, ibu buatkan nasi kuning untuk semua teman sekolah mu," kata Bu Asih yang tersenyum hangat


"terima kasih Bu, berarti uang saku tak ada?" tanya Shaka tertawa menggoda ibunya itu.


"untuk seminggu kedepan ya," kata Bu asih.


"inggeh Bu, kalau begitu Shaka pamit ya," kata pemuda itu yang siap pergi membawa dua kresek merah.


jadi hari ini di bantu Kania Shaka berangkatlah dengan semua barangnya.


sesampainya di sekolah, Shaka membagikan Nafi kuning buatan ibunya, semua pun merasa jika masakan ibu Shaka sangat enak.

__ADS_1


"wih... tumben masakan ibu mu enak, biasanya kayak ada yang kurang gitu," kata Ardi.


"sudah tinggal makan saja banyak bicara," kesal Shaka.


sedang di rumah Mbah Sarji ada sepasang suami istri mendatangi pria itu untuk meminta tolong.


"ada apa? kalian masih belum ikhlas anak kalian meninggal dunia?" tanya Mbah Sarji


"saya tak bisa ikhlas Mbah, bahkan bagaimana bisa Mbah Sarji bilang putri saya sudah mati, padahal jasadnya saja tidak bisa di temukan, padahal saya ingin Mbah membantu kami menemukan anak kaki," tangis wanita itu


"maafkan Mbah ya neng, bukan maksud Mbah begitu, baiklah Mbah akan bantu, Yono... tolong ambilkan boneka Mbah di kamar khusus," kata Mbah Sarji


"inggeh Mbah," jawab pria itu yang langsung mengambil boneka yang di maksud.


ternyata itu sebuah boneka jalangkung yang terbuat dari bambu dan kepala dari jerami yang di bentuk sedemikian rupa.


"bawa ini, dan saat menjelang Maghrib kalian harus melakukan ritual untuk memanggil putri kalian, agar kalian tau dimana dia berada, apa sanggup?" tanya Mbah Sarji.


"kami sanggup Mbah," jawab keduanya.


"tapi tak semudah itu, karena kalian harus menyediakan sesajen dan darah ayam dan bunga tujuh rupa,"

__ADS_1


"baik Mbah kami mengerti, kalau begitu kami pulang dulu,"


__ADS_2