Awas Ada Setan

Awas Ada Setan
perkemahan bag.2


__ADS_3

mereka bertujuh pulang untuk memberikan surat izin pada orang tua, baru jika di izinkan mereka akan berkumpul di rumah Cici.


pasalnya mereka harus mulai melihat semua perlengkapan untuk kemah, jika tidak itu bisa bahaya nantinya.


tak butuh waktu lama, ternyata semua kelompok Shaka di izinkan oleh orang tua mereka.


"jadi sekarang kita berangkat," kata Kania.


"tunggu si Edi, tadi katanya mau bawa motor, terus ini Shaka mana?" jawab Ardi.


"sepertinya bisa Langi membantu bude deh, tunggu sebentar lagi," kata Kania.


bebar saja tak lama pemuda itu keluar dengan mengenakan setelan baju yang sangat santai.


yaitu kaos oblong yang di padukan dengan sandal dan celana pendek berwarna cream.


"kalian nunggu lama, maaf aku habis ganti ibu bikin ayam Ingkung," kata Shaka


"tak masalah kok, lahan Edi juga belum datang, lah... tuh bocah datang juga akhirnya," kata Ardi yang melihat sosok temannya itu.


"maaf aku habis menunggu sepeda motornya, sekarang berangkat?" kata Edi.


"iya yuk, kebetulan aku juga sudah dapat uang dari ayah untuk beli camilan buat di kemah," jaa Shaka.


"le... kalau pulang jangan lupa beli semangka ya, ingat jangan malam-malam pulangnya," kata Bu Yuli yang keluar.


"iya Bu, siap pokoknya...." kata Shaka yang melambaikan tangan pada ibunya itu.


Shaka naik ke motor Edi, sedang Kania berboncengan dengan Ardi, dan segera menuju ke rumah Cici.


mereka bingung dengan alamat yang di berikan Cici, pasalnya itu adalah perumahan mewah di kota itu.


"maaf permisi pak satpam,ini bener alamat sini?" tanya Shaka menunjukkan alamat itu.


"iya mas, nanti cari rumah di ujung rumah paling gede ya," kata satpam itu dengan ramah.


"terima kasih pak, kalau begitu kami pamit ya," kata mereka berempat.


mereka pun menuju ke rumah Cici, ternyata benar itu rumah paling gede di perumahan itu.


mereka menekan bel, ternyata ada seorang bapak-bapak yang keluar untuk membukakan pintu.


"temen non Cici ya, Monggo masuk," ajak pria itu.


mereka pun masuk dan masih tak percaya jika Cici punya keluarga sekaya itu.


"anu den, temennya yang dua sudah di dalam, Monggo masuk," ajak pria itu.


mereka pun masuk dan di sambut oleh Cici, "akhirnya kalain sampai, jadi kesasar tidak?"


"tidak kok, jadi mana peralatannya, biar aku cek lagi," kata Shaka.

__ADS_1


"itu, sudah di keluarin dan kalian bisa bawa dua tas besar itu," kata Cici.


"sudah deh, kita jadi jongos nih, bagaimana tidak bawa barang segini banyaknya," kesal Ardi.


"tenang kalian tak perlu bawa makanan, nanti makanan aku, Livi dan Rena yang akan menanggungnya, bagaimana?" tawar Cici.


"wih... sepertinya kalian berdua juga anak orang berada ya? tapi kenapa pura-pura miskin," tanya Edi heran.


"karena kami tak mau mereka menjadikan kami teman karena kekayaan kami bukan karena tulus." jawab Livi.


"sudah, sekarang kalian harus bawa jaket, dating tangan dan kaos kaki itu penting, ingat bawa baju tebal karena meski ini gunung yang terlihat tak tinggi bagaimana pun itu bukit yang cukup membuat kalian kedinginan, dan pastikan obat-obatan lengkap, dan Ardi, Edi kita harus siap kapan pun bagian pekerja kasar," kata Shaka.


"pasti bos, asal makanan banyak semua mah aman," kata Edi.


"aku masih beli sedikit, itu apa kurang," kata Rena menunjuk meja ruang tengah rumah Cici.


"mampus, dia borong satu isi minimarketnya, ya kali kita bawa semua itu ke tempat kemah," kata Ardi.


"kita sortir saja, yang pasti tak usah bawa beras, kita masih muda, lagi pula beras di sediakan oleh sekolah," kata Shaka.


"oke gan, mati gass kan," kata Ardi yang mulai memilah semua yang bisa di bawa.


dan Cici serta Kania di minta untuk merebus telur ayam, karena itu bisa jadi bahan aman saat matang.


di banding saat mentah yang resiko besar bisa pecah, dan juga tak lupa mereka membawa banyak mie instan siapa tau jika lapar mendadak.


setelah semua barang siap dan masuk kedalam carrer, mereka pun berpisah karena hati mulai senja dan Shaka masih punya tugas.


jadi mereka harus datang semua, Shaka pun pulang dan ternyata Kania dan Ardi juga di minta beli buah juga.


"eh bentar, bang sate tiga puluh ya, sama lontong lima, aku tinggal beli buah semangka dulu ya," pamit Shaka.


"iya mas, Alhamdulillah," kata penjual sate yang dari tadi nampak sepi itu.


ternyata pak Yanto meminta Shaka membeli lauk tambahan, yaitu sate Lina puluh tusuk ayam dan kambing juga lima puluh tusuk.


alhasil penjual sate itu sangat senang dan dengan semangat membuatkan pesanan Shaka.


"bang yang tiga puluh di pisah ya," kata Shaka.


"siap mas, ya Allah saya tak sangka rezeki itu datang dengan sendirinya, saat sate saya sepi karena fitnah, mas beli sampai di borong," kata Abang penjual sate sambil nangis.


"fitnah apa, kalau saya mah mending beli di mas, orang jualan jujur, sedang yang di sono ada pocong yang bantuin niup," kata Shaka yang membuat penjual kaget.


"mas jangan bercanda deh," kata penjual sate itu.


"bukan bercanda bang, kami bertiga itu punya mata bauin dan bisa melihat hal itu, jika mas tak percaya, bang penjual buah sini," panggil Ardi.


dia dengan iseng memegang tangan penjual buah itu, "Ono opo mas?" bingung penjual buah itu.


"lihat di penjual sate ujung sana, mas lihat apa!?" tanya Ardi.

__ADS_1


"Allahuakbar... astaghfirullah hal adzhim... pocong cok, akeh men..." kaget pria itu ketakutan.


"lain kali mas, kalau di beri orang sesuatu jangan di simpen kan jadi mas yang kena," kata Kania mengambil sebuah bungkusan di atas rombong penjual sate itu.


dia langsung membakar bungkusan itu sambil berdoa, dan benar saja tiba-tiba terjadi kobaran api di penjual sate di ujung.


"sudah jangan kaget, sedekah dan terus berdoa pada Tuhan, insyaallah dagangan Abang pasti ramai,jadi semuanya berapa," kata Shaka.


"semuanya jadi seratus delapan puluh ribu mas," kata penjual itu.


Shaka memberikan uang dua ratus ribu, "simpan mas untuk mas-nya, oh ya lain kali kalau di beri apapun jangan di terima,"


keempat pemuda itu pun pergi, dan sesampainya di rumah mereka sudah di tunggu.


Shaka memberikan pesanan sang ayah, begitu pun dua temannya.


saat akan mandi, Shaka menaruh sate di kamarnya dan memanggil Miss kunti agar makan sate pesanannya tadi.


setelah selesai mandi, Shaka, Kania dan Ardi bergabung untuk ikut acara doa bersama.


mereka sebisa mungkin membantu semua masyarakat yang membutuhkan karena teror hantu seperti ini sering terjadi.


bahkan dalam acara sedekah desa dan doa bersama untuk ketenangan seluruh warga.


sedang di tempat lain,Mbah Sarji lagi-lagi harus kecewa karena salah sate pengikutnya mengalami hal yang di luar nalar.


karena ada yang bisa menghancurkan semua mantra penutup rezeki dan membuat pengikutnya yang memiliki penglaris sate pocong terluka parah.


"sialan... dukun mana yang bisa melawan ku, berani-beraninya dia mengusik ku!!" marah pria sepuh itu tak terima.


acara doa selesai, dan semua warga makan bersama,begitupun dengan Aris, yang kebetulan berdekatan dengan Shaka.


dan genderuwo yang selalu mengikuti pemuda itu menyeret sosok wanita yang selama ini menutup mata Aris dari wanita lain.


dan tanpa sepengetahuan Aris, pak Yanto memberikan air yang sudah di doakan dan itu adalah ramuan khusus yang di gunakan untuk menawar semua ajian pemikat yang sudah di minum oleh Aris.


benar saja baru juga minum, Aris merasa jika perutnya tiba-tiba mual, dia pun berlari menjauh, pak Yanto dan Shaka bangkit.


"ambilkan air putih yang di campur garam le," perintah pria itu.


"siap ayah," jawab Shaka.


oak Yanto membaca beberapa mantra dan menepuk punggung pria itu hingga muntah semua darah kotor dan gumpalan rambut.


dan itu membuat semua orang kampung kaget, kenapa Aris terkena santet tau warga kampung.


sedang di tempat lain Miss Kunti menyeringai dan menghirup habis kekuatan dari Bu Ningrum yang selama ini mengikuti Aris.


"tak ku sangka nenek peyot ini kekuatannya besar juga, tapi sekarang aku makin kuat," kata Miss Kunti yang kini berubah menjadi wanita cantik dengan kebaya merah.


yang dulu sering di panggil, "Nyai Asih," panggil sosok genderuwo yang langsung menunduk memberi hormat.

__ADS_1


dia tersenyum, dan tak mengira jika sosoknya begitu ayu dan sakti mandraguna.


__ADS_2