Awas Ada Setan

Awas Ada Setan
tangisan malam hari


__ADS_3

Kehidupan sekolah ketiganya terlihat sangat biasa saja, setelah kejadian Yuli dan pak Abdul.


Mereka tetap berteman dengan yang lain seperti tak terjadi apa-apa, "Shaka tolong terima cintaku!"kata seorang gadis yang terlihat dari bet yang dikenakan adalah anak jelas satu.


Gadis itu mengulurkan coklat dari tangannya, "aku tak beli coklat, buang saja aku tak menyukainya," jawab Shaka.


"Ya Tuhan, dia itu mengajak mu pacaran," kata Ardi yang menertawakan temannya itu


"Memang kamu sepintar apa berani menyatakan perasaan mu,karena aku menyukai gadis yang punya intelektual yang luar biasa, dan yang penting harus spesial, jadi kamu tak masuk kriteria," kata Shaka dengan dingin.


Gadis muda itu langsung menangis dan meninggalkan ruang kelas dua yang memang di lantai dua.


Bagi seluruh teman kelas pemuda itu, pemandangan yang barusan itu sudah biasa, karena Shaka terkenal judes pada semua murid eanura kecuali Kania.


"Shaka, kenapa tak coba untuk pacaran, toh kita sudah dewasa ini," tanya Kania yang duduk di sebrang bangku pria itu.


"Gak minat, sudah geng ayo ke kantin," ajak Shaka pada teman-teman prianya.


Kania hanya melongo di buatnya, bagaimana bisa pria itu begitu dingin dan datar seperti tembok.


Di sebuah kebun yang cukup sepi, terlihat beberapa pemuda sedang tertawa bersama.


Mereka merasa senang sudah membereskan sesuatu, dan meninggalkan tempat itu begitu saja.


Jam sekolah berakhir pukul satu siang, dan terlihat cuaca sangat panas.


"Kita pulang lewat kebun pisang yuk, siapa tau ada yang sedang panen, lumayan bisa minta es teh," ajak Ardi.


"Boleh tuh,siapa tau di kasih makan juga," saut Kania.


"Orang gila dan Maruk bersatu," gumam Shaka mengekor kedua sahabatnya itu.


Selama perjalanan melewati persawahan dan beberapa kebun warga.


Mereka memilih bertelanjang kaki karena takut sepatu basah, tapi saat di perkebunan salak milik pakde dari Ardi.


Mereka memilih memutar karena bisa wasallam jika kaki mereka menginjak duri di kebun itu.


Jadi lebih aman mereka memilih lewat tanah kosong yang terkenal angker.


Tapi karena masih siang,mereka pikir jika di kebun itu tak akan ada masalah, tapi sayangnya mereka keliru.


Baru juga masuk kebun angker itu, mereka malah di sambut di kuntilanak Hakau yang beberapa bulan lalu mengejar Ardi.


"Sayang cintaku..." suara sayup terdengar lirih,dan aroma melati bercampur anyir tercium.

__ADS_1


"Halah mampus aku ..." kata Ardi yang melihat sosok tengah tersenyum di atas pohon nangka.


"Ha-ha-ha miss Kunti galau disini rupanya,ngapain di sana, turun gih," panggil Kania.


"Kalian ah nyebelin," kesal Ardi.


"Kenapa sih, setidaknya kamu kan juga punya fans," ledek Shaka.


"Mulut mu minta di sambelin ya, bukan kuntilanak begini yang aku maksud, tapi wanita beneran ah,bukan makhluk astral begini..." kesal Ardi berteriak.


Tapi saat dia ingin kato, kuntilanak itu malah sudah memeluknya duluan.


"Aduh si ganteng ku,aku kangen..." kata kuntilanak itu yang membuat Shaka serta Kania ngabrut menertawakan Ardi.


"Sudah ih,belum muhrim main peluk-peluk, ini juga masih siang," kesal Ardi berusaha lepas dari sosok kuntilanak itu.


"Oh masih siang,berarti kalau malem boleh ya," kata kuntilanak itu.


"Wong edan,Moh .." kata Ardi.


Kuntilanak itu pun nampak sedih karena Ardi menolaknya, "aduh Miss Kunti yang sabar ya,maklum Ardi itu kalau bicara suka gitu, padahal apa yang di ucapkan itu lain di mulut lain di hati loh," kata Kania


"Beneran?" tanya kuntilanak itu semangat.


Shaka merasa jika Aura di tempat mereka saat ini berbeda, "Miss Kun, apa ada yang melakukan pesugihan di sini,siapa tau minta uang ke om Wowo apa tuyul gitu?"


"Tidak ada, si tuyul kan sudah di bawa manusia kemarin lusa,dan wowo sibuk godain janda di desa sebelah, itulah kenapa aku sendiri, Kania boleh ikut pulang ya," mohon sosok kuntilanak itu.


"Yah jangan dong Miss Kun,di rumah ku ada adikku yang masih bayi,bisa Sawan nanti," jawab Kania.


"Yayang Ardi boleh ikut?" mohon kuntilanak itu.


"Moh,bisa di perkosa aku kalau sedang tidur, idih...." kata Ardi yang sudah merinding membayangkan apa yang terjadi.


"Ikut aku saja,di samping rumah ada pohon mangga besar, lumayan bisa bantuin jaga rumah, ayo Miss Kun," kata Shaka yang kini mulai berjalan melewati kebun angker itu.


Saat akan keluar dari kebun itu, mereka melihat ada sosok yang biasanya di tua-kan di desa.


Miss Kun langsung masuk kedalam pena yang di bawa Shaka di dalam tas milik pemuda itu.


"Loh Mbah Sarji Kenapa disini? mau ritual manggil siapa?" tanya Ardi yang langsung di tempeleng oleh Shaka.


"Yang sopan bicara dengan orang tua," kesal pria itu.


"Idih aku kan cuma tanya," kata Ardi tak terima

__ADS_1


"Hanya melihat-lihat saja, kalian sedang apa disini, kenapa pulang malah lewat jalan ini, tidak naik angkot," tegur pria sepuh itu.


"Ya maklum Mbah, uang saku habis, kami pulang dulu permisi," kata Kania yang langsung menarik dua temannya itu.


Tapi saat Shaka melewati pria itu, Mbah Sarji merasakan sesuatu pada pemuda itu.


"Tunggu dulu, kalian tak melihat sosok kuntilanak yang ada di pohon nangka di tengah kebun itu?" tanya Mbah Sarji.


"Mboten Mbah, sudah ya kami mau pulang karena sudah kelaparan," kata Ardi yang kini mendorong kedua temannya.


Karena dia tau jika Mbah Sarji ini bisa di bilang sesepuh desa yang buka praktek perdukunan di rumahnya.


Bisa berabe jika pria tua itu tau kuntilanak yang di carinya ikut mereka pulang.


Beruntung pria itu tak sadar jika kuntilanak itu ada di tas Shaka, saat sampai rumah masing-masing.


Mereka langsung bersih-bersih dan tak lupa belajar setelah makan.


Para berandal desa itu sangat meresahkan, karena ketiga orang itu merasa berkuasa karena memiliki orang-orang berpengaruh sebagai tameng jika melakukan kesalahan.


Mbah Sarji merasa aneh, karena niatnya ingin menjadikan sosok kuntilanak itu sebagai istrinya gagal.


Karena kuntilanak itu sudah menghilang tak tau pergi kemana, padahal dia sudah berpuasa dan tirakat agar bisa melaksanakan keinginannya.


Malam pun datang, Kania, Shaka dan Ardi sedang duduk di pinggir jalan sambil menunggu pedagang bakso lewat.


Saat motor ayah dari Kania datang, "lagi apa nih, kok nampaknya serius amat," tanya pak Sukri.


"Lagi nunggu bakso mang Encep, dari tadi belum lewat, padahal biasanya setelah isya udah nongol," kata Kania.


"Dasar kalian ini, mungkin libur orangnya, sudah masuk rumah sana, nanti di gondol kalong Wewe baru tau rasa loh," kata pak Sukri menggoda ketiga remaja itu.


"Maaf ya yah, kita mah temenan sama kalong Wewe,sama genderuwo juga, sudah bestie terutama sama si Ardi tuh," kata Kania menepuk punggung pemuda itu.


"Apaan, aku mah ogah, itu mah teman kalian," kata Ardi


"Temen kita kan kamu, jadi kamu genderuwo dong," kata Shaka yang memancing gelak tawa.


"Wong stress," kesal Ardi


Sedang sosok kuntilanak yang ada di pohon mangga di rumah Shaka, terus memperhatikan pria yang sedang membaca buku itu.


Entahlah dia merasa ada hubungan spesial saja, dan pria itu sepertinya sangat menarik baginya.


Dan dia tak suka saat ibu dari Shaka mengantarkan air minum pada pria itu.

__ADS_1


__ADS_2