
Tepat pukul 9 pagi, Alula baru bangun dari tidurnya. Anak itu celingukan mencari sang mama. Matanya mulai berkaca-kaca sebab tak menemukan mamanya. Entah kenapa anak itu menjadi cengeng setelah kejadian kemarin dan lebih manja sehingga tidak ingin jauh-jauh dari Avica.
"Mama.." Panggil Alula.
"Mama dimana? Jangan tinggalkan Alula, ma. hiks..hiks." Ucap Anak itu.
Tiba-tiba pintu kamar pun dibuka dari luar. Muncul lah Avica yang baru saja selesai menyirami tanaman di halaman depan dan belakang yang ada dirumah tersebut. Avica kaget karena tiba-tiba mendengar Alula menangis.
"Ada apa sayang? Kenapa menangis?" Tanya Avica khawatir, lalu menghampiri Alula yang masih diatas ranjang kemudian dirinya juga ikut duduk ditepi ranjang.
"Mama dari mana?" Tanya balik Alula.
"Mama dari taman sayang. Kenapa Alula menangis, nak?" Ucap Avica.
"Aku pikir mama pergi tinggalin Alula sendiri. Mama jangan tinggalin Alula ya." Ujar Alula dengan hidung yang kembang kempis akibat setelah menangis.
"Mama tidak akan meninggalkan Alula kok." Jawab Avica.
"Mama janji?" Ucap Alula sambil menunjukkan jari kelingkingnya.
"Mama janji, sayang." Jawab Avica lalu menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Alula.
"Karena Alula sudah bangun, Alula mandi duku yuk. Biar tubuhnya merasa segar." Ajak Avica pada Alula.
"Baik, ma." Jawab Alula.
"Alula tunggu disini sebentar. Mama Ica siapin air hangatnya dulu ya." Ujar Avica.
"Iya, Ma."
Avica pun masuk ke kamar mandi, lalu mulai menyalakan keran untuk mengisi bathtub dengan air hangat untuk Alula mandi. Setelah dirasa airnya cukup, Avica pun menuangkan sabun yang beraroma strawberry. Setelah itu Avica pun keluar dari kamar mandi untuk menemui Alula .
"Sayang, airnya sudah siap. Yuk buruan mandi. Alula mandi sendiri seperti biasanya kan?" Tanya Avica.
"Tapi mama temani Alula mandi ya." permintaan Alula pada sang mama.
"Iya, mama temani Alula mandi." Jawab Avica.
"Kalau gitu Alula lepas dulu baju sama celananya ya." Ujar Avica pada Alula.
__ADS_1
"Baik, ma."
Dengan ditemani sang mama saat akan mandi, Alula pun mulai menggosok giginya terlebih dahulu, barulah setelah itu Alula memasukkan tububnya kedalam bathtub lalu menggosok tubuhnya secara perlahan. Saat dirasa cukup untuk membersihkan diri Avica pun menghampiri Alula untuk membantunya membilas tubuhnya diatas guyuran shower. Selesai membilas tubuh Alula, Avica melilitkan handuk pada tubuh mungil Alula. Dan mereka pun keluar dari kamar mandi langsung menuju ke kamar Alula untuk memakai baju.
Kini Avica dan Alula sudah berada dimeja makan. Avica akan menyuapi Alula sarapan yang sedikit kesiangan itu.Tadi pagi sebelum sarapan Avica sudah menyisihkan makanan untuk Alula terlebih dahulu. Jadi Avica tidak harus memasak kembali untuk putri sambungnya itu.
Belum selesai menyuapi Alula makan, tiba-tiba pak Usman datang menghampiri Avica diruang makan dengan tergopoh-gopoh.
"Nyonya Ica." Panggil pak Usman dengan ngos-ngosan.
Avica pun menoleh kearah sumber suara yang memanggilnya. "Iya, Pak. Ada apa?" Tanya Avica.
"Itu nyonya, diluar ada non Sely maksa pengen masuk." Ucap pak Usman.
"Biarin aja pak, jangan dibukain gerbangnya. Bilang aja perintah dari mas Abi." Kata Avica.
"Sudah nyonya. Saya sudah bilang kalau ini perintah tuan Abizar." Ujar pak Usman lagi.
"Kalau begitu biar saya saja yang menghampiri kesana. Pak Usman bisa keluar terlebih dahulu." Ucap Avica pada akhirnya.
"Baik nyonya." Pak Usman pun pergi dari hadapan Avica untuk kembali ke pos satpam.
"Bi Imah.." Panggil Avica saat dirinya menghampiri nya didapur.
"Ya, nyonya?"
"Saya titip Alula sebentar, tolong disuapi makan nya dulu ya. Saya mau kedepan sebentar." Pinta Avica.
"Baik nyonya." Jawab bi Imah.
Avica pun menghampiri Alula kembali sebelum pergi kedepan. "Alula disini dulu ya. Makan nya disuapi bi Imah dulu." Kata Avica.
"Mama mau kemana? Alula mau ikut." Tanya anak itu penasaran.
"Mama mau kedepan sebentar, sayang. Nggak akan lama kok. Alula disini aja sama bi Imah nggak usah ikut. Oke?" Ucap Avica.
"Baiklah.." Jawab anak itu meski sedikit terpaksa.
"Ayo non makan lagi, biar bibi suapi." Ujar bi Imah pada Alula. Alula hanya menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Bi, saya kedepan dulu." pamit Avica.
"Baik, nyonya."
Avica pun mulai melangkah berjalan keluar menuju pintu gerbang untuk menemui Sely, selaku ibu kandung Alula. Dari kejauhan sudah terlihat jika Sely masih mencoba memaksa pak Usman untuk membukakan pintu gerbang.
"Cukup mbak!" Ucap Avica saat dirinya menghampiri Sely.
"Kau.. kau sengaja tak mengizinkanku masuk untuk menemui putriku?" Ucap Sely dengan emosinya sambil menunjuk Avica.
"Ini bukan perintahku, tapi perintah mas Abi." Jawab Avica dengan tenang.
"Halah, pasti ini hanya akal-akalan mu saja." Ucap Sely tak percaya.
"Jika mbak Sely tidak percaya bisa tanyakan langsung pada mas Abi!" Pinta Avica.
"Jika memang itu benar pasti itu juga dari bujukanmu." Katanya Sely yang masih menuduh Avica.
"Terserah apa kata mbak Sely. Yang jelas mas Abi tidak mengizinkan mbak Sely jika bukan Izin dari mas Abi. Paham!" Ucap Avica yang sedikit terpancing emosi.
"Dasar wanita murahan. Pasti kau yang menggoda Abizar sehingga dia mau menikahimu." Ucap Sely menghina Avica.
"Mbak bilang saya murahan? Lebih murah mana saya dengan mbak?" Tanya Avica tenang. "Mbak Sely bahkan rela meninggalkan anak dan suami demi kepentingannya sendiri." Ucap Avica lagi.
"Lancangnya kau menghinaku. Atas dasar apa kau membandingkan diriku dengan dirimu? Sudah jelas jika diriku lebih dari segalanya. Sedangkan kau? Kau hanya wanita murahan yang dikasihani oleh Abizar beserta keluarganya. Kau sama sekali tak pantas bersanding dengan Abizar ku." Ucap Sely dengan entengnya menghina Avica tanpa ada bukti nyata.
Hal itu membuat hati Avica bergemuruh. "Cukup mbak. Mbak tidak sepantasnya menghinaku. Lebih baik mbak berkaca terlebih dahulu sebelum menghina orang lain. Jika mbak Sely tidak memiliki kaca apa perlu aku membelikannya?" Balas Avica dengan beraninya.
"Jangan mentang-mentang mbak Sely model terkenal bisa merendahkan saya yang hanya wanita biasa. Saya tidak akan takut dan menyerah begitu saja. Saya akan tetap mempertahankan rumah tangga saya bagaimanapun caranya." Ucap Avica lagi mencoba menyadarkan Sely jika wanita itu tidak bisa masuk kembali kedalam kehidupan Abizar dan Alula.
"Apa katamu? Dasar wanita tidak tahu malu." Jawab Sely dengan geram.
"Sudahlah mbak, lebih baik mbak Sely pergi sebelum mas Abi pulang dan mengusirmu." Ucap Avica tegas.
"Awas saja kau. Aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan kembali lagi dan memberimu pelajaran." Ujar Sely tak terima.
"Terserah mbak Sely saja." Ucap Avica lalu pergi meninggalkan Sely didepan pintu gerbang yang masih terkunci dengan emosi yang meluap.
Avica berjalan menuju rumah sambil menetralkan emosinya terlebih dahulu. Dia tidak ingin Alula bertanya ketika mengetahui jika diri nya sedang tidak baik-baik saja. Sebenarnya Avica merasa sangat sakit hati dengan ucapan Sely tadi. Tapi dia tidak ingin menunjukan kesedihannya pada siapa pun terutama Abizar dan Alula.
__ADS_1