
Tak terasa kini kandungan Avica sudah memasuki empat bulan, dan hari ini akan diadakan tasyakuran empat bulanan untuk calon anak yang ada dikandungan Avica. Kedua orang tua Avica dan beberapa keluarga nya pun juga hadir dalam acara yang diadakan dikediaman Abizar itu. Selama ini kehidupan mereka terasa tentram tanpa ada gangguan dari mantan istri Abizar, yaitu Sely.
Entah dimana wanita itu menghilang. Semenjak perdebatan terakhir dengan Avica waktu itu yang ingin memaksa untuk masuk dan menemui putrinya Alula. Wanita itu langsung menghilang dan tak menampakkan dirinya lagi, entah karena pekerjaan atau karena sedang menyusun rencana untuk merebun anak dan mantan suaminya kembali.
Kini dikediaman Abizar sudah dipenuhi para tamu yang menghadiri acara empat bulanan kandungan Avica. Diantaranya adalah keluarga dari Abizar dan Avica, para tetangga dan kumpulan anak yatim piatu yang sengaja Avica dan Abizar undang dari salah satu panti asuhan yang biasa keluarga Adinata kasih sumbangan.
Acara pun berjalan dengan lancar. Kini semua tamu telah pulang kecuali keluarga dari Abizar dan Avica. Mereka masih membantu membereskan sisa acara tadi, dan dilanjut dengan berbincang-bincang dan makan bersama.
"Alhamdulillah, acaranya berjalan dengan lancar ya bu Linda." Ucap Bu Sarah pada besan nya.
"Iya, bu. Alhamdulillah lancar." Ujar Bu Linda.
"Avica dimana, Bu?" Tanya Bu Sarah pada Bu Linda.
"Caca saya suruh istirahat dulu, Bu. Kasian dari tadi duduk terus." Ucap Bu Linda.
"Oh, gitu ya. Kalau gitu biar saya antar makanan untuknya dulu ya, Bu. Pasti dari tadi juga belum makan." Ujar Bu Sarah.
"Iya, Bu. Terima kasih sudah perhatian pada putri saya." Ucap Linda.
"Tidak perlu berterima kasih, Bu. Avica itu juga putri saya." Balas Bu Sarah.
"Saya bersyukur Avica bisa mendapatkan keluarga dan suami yang baik dan perhatian padanya. Saya dan ayahnya jadi tenang jika putri kami tinggal dengan kalian." Ucap Bu Linda sangat bersyukur.
"Bu Linda tidak perlu khawatir. Kami akan menjaga dan melindungi Avica dengan baik." Ujar Bu Sarah.
"Terima kasih, Bu." Ucapan terima kasih dari Bu Linda tak ada hentinya.
"Sudah, Bu Linda ini seperti sama siapa saja. Saya mau keatas dulu ngantar makanan untuk putri kita." Pamit Bu Sarah pada besan nya.
__ADS_1
Abizar kini sedang berbincang dengan papanya dan ayah mertuanya. Setelah keluarga nya yang lain semuanya sudah pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan keluarga Avica, mereka pergi kehotel yang sengaja disewa oleh Abizar untuk menginap semua keluarga Avica yang menghadiri acara empat bulanan tadi kecuali ayah dan bunda Avica.
"Nak Abi, apakah putri Ayah menyusahkan mu?" Tanya Pak Agil pada menantunya.
"Tidak, Yah. Ica sama sekali tidak pernah merepotkan Abi. Justru Ica lah yang sudah mengurus dan melayani saya dengan putri saya dengan penuh kasih sayang. Saya bersyukur bisa menikahi putri ayah. Sebab Ica wanita yang kuat dan penyayang." Ujar Abizar pada ayah mertuanya.
"Alhamdulillah jika begitu. Saya titip Caca ya. Tolong jaga putri ayah ya." Kata Pak Agil.
"Pak Agil jangan khawatir bukan hanya Abi, Saya pasti juga akan menjaga putri Pak Agil. Saya dan istri saya sudah menganggapnya seperti putri sendiri." Ujar Pak Adi pada besannya.
"Iya, bener kata Papa. Ayah tidak perlu khawatir. Abi pasti akan menjaga dan melindunginya tanpa disuruh pun. Sebab Abi sangat menyayangi dan mencintai putri ayah itu." Ucap Abizar ikut menimpali.
"Terima kasih, Pak Adi. Terima kasih juga untuk nak Abi." Ucap Pak Agil.
"Tidak perlu berterima kasih, Yah. Kita ini keluarga jadi sudah seharusnya saling menjaga dan melindungi." Balas Abizar.
"Iya Pak Agil, Tidak perlu berterima kasih." Pak Adi menimpali.
"Pak Agil, keluarga tidak memandang seseorang dari kasta, jabatan dan harta. Jadi Pak Agil tak perlu mempermasalahkan hal itu. Bagi kami semuanya sama, entah kaya ataupun miskin." Ujar pak Adi.
"Ayah lebih baik tidah usah memikirkan hal itu. Yang terpenting rumah tangga kami baik-baik saja. Apa lagi sebentar lagi ayah akan memiliki cucu dari kami." Kata Abizar pada sang mertua.
"Iya nak Abi. Kamu benar, Yang terpenting rumah tangga kalian selalu sakinah mawaddah warahmah. Ayah tak sabar menanti kelahiran cucu pertama Ayah." Ujar pak Agil pada menantunya.
"Bi, lebih baik kamu istirahat menyusul istri mu. Siapa tahu Avica membutuhkan dirimu." Ucap Pak Adi pada putranya.
"Iya nak Abi, Kasian nanti kalau Caca menunggumu." Ucap Pak Agil ikut menimpali.
"Ya sudah kalau begitu Abi pamit keatas dulu, Pa, Yah. Papa sama Ayah juga istirahat ya." Pamit Abizar.
__ADS_1
"Iya, Papa juga mau istirahat. Ayo pak Agil kita istirahat dulu, Sudah tua jangan keseringan begadang nanti gampang masuk angin." Ujar Pak Adi bercanda pada besannya.
"Iya pak Agil, anda benar. Buat kita yang sudah tua tidak pantas jika harus begadang. Kalau begitu saya juga akan istirahat." Balas pak Agil.
"Kalau begitu Abi duluan ya Pa, Yah." Pamit Abizar.
"Iya, Bi. Mari pak Agil." Ujar Pak Adi.
"Mari, Pak." Jawab Pak Agil
Abizar pun beranjak dari duduknya, lalu melangkah pergi meninggalkan kedua pria paruh baya itu untuk menyusul istrinya yang ada di kamar. Dan disusul Pak Adi dan Pak Agil yang ikut membubarkan diri meninggalkan ruang tamu untuk istirahat menyusul istri mereka masing-masing.
Abizar saat sampai didapan pintu kamarnya pun mulai membuka pintu kamarnya dengan pelan-pelan agar tidak mengganggu sang istri jika sudah tertidur. Saat memasuki kamar, benar saja sang istri sudah tertidur pulas. Abizar pun menghampiri istrinya lalu duduk berjongkok disamping sang istri kemudian mengamati wajah cantik sang istri meski dalam posisi tidur. Lalu Abizar pun mencium kening sang istri sebelum beranjak kembali untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum tidur. Sebab Abizar merasa tubuhnya sangat lengket setelah acara tadi.
"Cuppp.. Good night sayang." Ujar Abizar meskipun sang istri tak mungkin membalasnya.
Kemudian Abizar pun beranjak memasuki kamar mandi untuk membersihkan tububnya. Tak butuh waktu lama, Abizar pun menyelesaikan kegiatan mandinya. Saat keluar dari kamar mandi sang istri ternyata tengah terduduk sambil menyandarkan tububnya di dinding.
"Sayang, kok bangun?" Tanya Abizar pada Avica.
"Aku laper mas. Makanya aku bangun, soalnya nggak bisa tidur." Jawab Avica.
Abizar pun memakai bajunya terlebih dahulu sebelum menghampiri sang istri kembali.
"Kamu mau makan apa, Hem?" Tanya Abizar.
"Mau makan buah aja mas." Ujar Avica.
"Yaudah kamu tunggu dulu ya. Biar mas ambilkan buahnya." Ujar Abizar. Avica pun menurut lalu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Abizar pun langsung keluar lagi dari kamarnya untuk mengambilkan buah-buahan untuk sang istri tercinta, Sebab istrinya itu merasa perutnya sangat lapar dan tidak akan bisa tidur jika perutnya belum terisi.