
Saat ini Avica sedang mengistirahatkan tubuhnya yang lelah diatas sofa ruang keluarga setelah menghabiskan waktunya berbelanja keperluan calon anaknya. Sedangkan Abizar, dia harus pergi ke kantor karena ada meeting dadakan.
Setelah dirasa tubuhnya sudah tidak terlalu lelah, Avica pun pergi ke kamar nya. Dirinya ingin mandi, sebab hari ini dirinya merasa sangat gerah dan tubuh nya butuh disegarkan. Hiri ini dirinya ingin berendam didalam bathtub untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya.
Avica masih teringat perkataan Sely tadi. Dirinya benar-benar takut jika mantan istri suaminya itu akan nekat dan terus berusaha merebut Abizar kembali. Saat merendan tubuhnya, Avica bisa merilekskan pikirannya sejenak.
Saat dirasa sudah cukup merendam tubuhnya, Avica pun beranjak dari bathtub untuk membilas tubuhnya yang masih penuh dengan busa sabun. Setelah bersih Avica menghunakan handuk kimono nya untuk keluar dari kamar mandi dan mencari baju ganti yang longgar supaya nyaman saat dipakai dalam cuaca panas.
Setelah berganti pakaian, Avica pun turun lagi ke bawah. Dia sedang menunggu semua belanjaannya tadi yang akan dikirim oleh pihak toko. Sebab belanjaan Avica sangat banyak, sehingga Abizar tidak mampu membawanya sendiri. Semuanya tidak akan muat jika dimasukkan kedalam mobilnya.
Saat akan menuruni tangga, Avica berpapasan dengan baby sitter Alula yang juga akan menuruni tangga.
"Alula nya udah tidur mbak?" Tanya Avica pada mbak Yuni.
"Sudah, nyonya. Nyonya mau turun?" Tanya balik Mbak Yuni.
"Iya, saya mau turun. Lagi nunggu belanjaan saya tadi." Ujar Avica.
"Kalau gitu mari nyonya saya bantu turun." Ucap Mbak Yuni.
"Boleh Mbak. Makasih ya." Kata Avica.
"Sama-sama Nyonya. Saya kasian lihat nyonya kalau naik turun tangga sendiri." Ujar Mbak Yuni. Lalu menggandeng tangan Avica untuk membantunya menuruni tangga.
"Sekali lagi makasih lo mbak, udah perhatian sama saya juga." Ucap Avica.
"Sudah nyonya tidak perlu berterima kasih." Kata Mbak Yuni. Mereka berjalan bersama untuk menuruni anak tangga satu persatu.
Sesampainya dibawah, Avica pun mendudukkan tubuhnya disofa ruang keluarga. Lalu men-selonjorkan kakinya yang pegal setelah menuruni tangga.
"Mbak, boleh saya minta tolong?" Ucap Avica.
"Minta tolong apa nyonya?" Tanya mbak Yuni.
"Tolong buatkan saya jus jeruk. Sama ambilkan cake saya yang ada dikulkas." Pinta Avica.
"Baik Nyonya. Tunggu sebentar. Saya buatkan jus nya dulu." Kata mbak Yuni.
"Iya mbak. Makasih ya mbak."
__ADS_1
Mbak Yuni pun meninggalkan Avica sendirian diruang keluarga tersebut. Dirinya melangkahkan kakinya menuju dapur untuk membuatkan pesanan majikannya. Setelah jus jeruknya siap mbak Yuni langsung membawanya pada sang majikan beserta cake yang dimintanya.
"Ini Nyonya jus jeruk sama cake nya." Ucap mbak Yuni ketika meletakkan nya diatas meja.
"Iya, mbak. Sekali lagi makasih mbak. Mbak Yuni bisa istirahat dulu mumpung Alulanya masih tidur." Ujar Avica.
"Baik Nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit mbak Yuni.
Setelah kepergian mbak Yuni, Avica pun menikmati jus dan cake yang dimintanya tadi sambil membaca novel online diponselnya. Rasanya Avica tidak pernah bosan jika membaca novel online diponselnya tersebut. Menurut nya itu bisa menjadi hiburan dikala dirinya sedang tidak ada teman seperti saat ini dan dikala dirinya bosan. Avica pernah berpikir ingin ikut menulis novel di aplikasi yang ada di ponselnya tersebut. Tapi belum sempat melakukannya, sebab terkendala oleh keadaan yang sekarang sedang berbadan dua. Dirinya tidak mampu berpikir untuk membuat cerita yang bagus karena Avica sering merasa mengantuk jika sudah memainkan benda pipihnya itu, terkadang dirinya juga sering ketiduran saat membaca novel online diponselnya. Jadi dirinya harus memendam keinginannya itu untuk sementara waktu.
Saat sedang asyik membaca novel, tiba-tiba bel rumahnya berbunyi.
Ting..tong..
Saat akan berdiri bi Imah pun lebih dulu akan menghampiri asal suara tersebut.
"Bi, tolong bukain pintunya ya." Ujar Avica.
"Iya nyonya." Jawab Bi Imah.
Bi Imah pun mengkah kedepan untuk melihat siapa yang datang. Tak lama bi Imah pun kembali kedalam rumah dan menghampiri majikannya.
"Nyonya, didepan ada orang pengantar belanjaan nyonya katanya." Ucap Bi Imah.
Avica pun beranjak dari duduknya. Lalu melangkahkan kakinya untuk menghampiri orang yang telah mengantarkan belanjaannya tadi.
"Dengan Ibu Avica?" Tanya salah satu dari orang yang mengantarkan barang tersebut.
"Iya, saya sendiri." Jawab Avica.
"Ini barang belanjaan anda, tolong tanda tangan untuk bukti jika barangnya sudah diterima."
"Baiklah. Nanti saya minta tolong sekalian angkat dan bawa kedalam ya, Pak." Ujar Avica. Avica menandatangani surat tanda bukti penerima.
"Baik, Bu."
Barang-barang pun mulai diangkat satu persatu. Avica hanya menunjukkan tempatnya saja. Bi Imah dan mbak Yuni pun juga antusias membantu untuk menata barang-barang yang telah Avica beli untuk calon anaknya.
Setelah semua barang belanjaannya sudah diangkat dan dipindahkan ke rumahnya Avica pun menselonjorkan kakinya kembali diatas sofa untuk istirahat sejenak. Hingga tak teranya dirinya pun tertidur diatas sofa.
__ADS_1
"Sayang, bangun." Panggil Abizar mencoba membangunkan sang istri. Abizar khawatir sang istri akan terjatuh dari atas sofa. Entah sudah berapa jam istrinya itu tertidur diatas sofa.
"Hemm.." Sahutan Avica.
"Kalau ma tidur di kamar aja yuk." Ajak Abizar.
"Males pindah mas. Disini aja." Ujar Avica dengan mata masih terpejam.
Mendengar jawaban sang istri, tanpa pikir panjang Abizar pun mengangkat tubuh sang istri untuk ia pindahkan ke kamar mereka.
Setelah menidurkan sang istri diatas ranjang, Abizar pun mulai melepas jas dan sepatunya. Lalu dirinya memilih untuk langsung membersihkan tubuhnya.
Avica yang awalnya masih tertidur pun mulai mengerjapkan matanya saat mendengar gemericik air. Lalu membuka kedua matanya dengan sempurna, Avica tersadar ternyata dirinya sudah berada dikamar. Avica pun masih membaringkan tubuhnya, sebab tubuhnya masih merasa malas untuk bangun.
Tak lama, Abizar pun keluar dari dalam kamar mandi. Dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Saat keluar Abizar melihat istrinya itu sudah membuka matanya tetapi tubuhnya masih berbaring di atas ranjang.
"Sayang, sudah bangun?" Tanya Abizar pada sang istri.
"Iya. Ini jam berapa mas? Aku sudah lapar." Tanya Avica.
"Ini baru jam 5 sore, sayang. Mau makan sekarang?" Tanya Abizar balik.
"Iya, Mas. Mau makan sekarang aja, aku udah nggak kuat nahan laper nya." Kata Avica.
"Tunggu mas ganti baju dulu." Balas Abizar.
Abizar pun mencari baju ganti untuk ia pakai. Setelah berpakaian, Abizar menghampiri sang istri yang masih diatas ranjang, tapi sudah bangun dan sedang duduk ditepi ranjangnya.
"Mau makan apa, hemm?" Tanya Abizar.
"Aku pengen bakmi, Mas." Jawab Avica.
"Yaudah kalau gitu kamu tunggu dirumah, aku yang akan beli bakminya sendiri." Kata Abizar.
"Tapi aku pengen ikut mas." Ujar Avica.
"Kamu dirumah aja sayang. Sebentar lagi magrib, nggak bagus kalau ibu hamil keluar pada saat magrib." Kata Abizar yang tak mengizinkan istrinya ikut dengannya.
"Baiklah kalau begitu, jangan lama-lama mas." Pasrah Avica.
__ADS_1
"Iya, aku usahakan ya. Mas berangkat dulu." Pamit Abizar.
Abizar pun pergi lagi untuk mencari keinginan sang istri. Abizar memang selalu menuruti semua keinginan sang istri selagi itu baik dan tak membahayakan sang istri dan calon anak keduanya. Sebab Abizar tidak ingin istrinya bersedih jika keinginannya tidak terpenuhi.