Baby Sitter Anakku Adalah Jodohku

Baby Sitter Anakku Adalah Jodohku
Bab46


__ADS_3

Setelah memakan rujak 3 bungkus, Abizar langsung terkapar disofa ruang keluarga dengan ditemani bungkus sisa rujak buah tadi. Avica yang melihat kelakuan sang suami hanya bisa mendengus kesal.


"Katanya mau menjagaku, nyatanya baru makan rujak 3 bungkus aja sudah tak berdaya." Gerutu Avica.


Dengan langkah kesal Avica melangkah pergi mencari Alula ditaman belakang dan meninggalkan Abizar yang sedang tertidur sendirian. Sesampainya di taman Alula pun langsung menyambutnya.


"Mama sudah pulang?" Tanya anak itu.


"Sudah sayang." Ujar Avica.


"Papa mana?" Tanya Alula lagi.


"Papa sedang tidur disofa ruang keluarga, nak." Jawab Avica.


"Mama, aku beneran mau punya dedek bayi ya?" Tanya Alula.


"Iya sayang. Alula senang nggak kalau punya dedek bayi?" Tanya Avica balik.


"Senang sekali, ma. Kan nanti aku bakal punya temen untuk bermain." Jawab anak itu dengan raut wajah bahagia.


Avica tersenyum bahagia, ternyata anak sambungnya itu menerima calon adiknya yang ada didalam perutnya tersebut.


"Bi, Alula nya sudah makan belom?" Tanya Avica pada bi Imah.


"Sudah, nyonya. Tadi sudah saya suapi." Jawab Bi Imah.


"Terima kasih ya bi, sudah mau jaga Alula." Ucap Avica.


"Sama-sama nyonya. Saya senang kok bisa jaga non Alula." Ujar bi Imah.


"Kalau gitu saya tinggal dulu ya, bi. Saya mau makan siang dulu." Pamit Avica.


Avica pun kembali kedepan untuk makan siang. Sebelum itu dirinya membangunkan sang suami terlebih dahulu untuk diajak makan siang sekalian. Sebab tadi saat makan rujak buah Abizar belum makan nasi sama sekali setelah sarapan tadi pagi.


"Mas, bangun dulu." Ujar Avica disamping telinga sang suami.


Abizar hanya menggeliatkan tubuhnya saja. Avica pun berusaha membangunkannya lagi.


"Mas Abi, bangun dulu." Ucap Avica lagi.


"Hemm.." Sahut Abizar.


"Ayo mas bangun dulu. Makan siang dulu." Ajak Avica.

__ADS_1


Abizar pun menggeliatkan tubuhnya. Lalu membuka matanya dan mengumpulkan kesadaran nya terlebih dahulu.


"Ayo mas." Ucap Avica tak sabar.


"Iya sayang." Abizar pun mendudukkan tubuhnya.


"Mas Abi katanya mau jaga Ica, tapi malah tidur dengan nyenyaknya." Ucap Avica dengan bibir cemberut.


Abizar pun tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya. "Maaf sayang. Mas ketiduran. Soalnya tadi kekenyangan jadi ngantuk deh." Ujar Abizar.


"Ya udah kalau gitu sekarang kita makan siang dulu." Ajak Avica.


Setelah makan siang, Avica merasa perutnya mulai mual lagi. Lalu Avica pergi kekamar mandi yang berdekatan dengan dapur untuk memuntahkan lagi semua isi perutnya. Abizar pun mengikuti Avica dari belakang.


"Hueekkk....Huueeekkkk..." Avica pun memuntahkan makanannya tadi. Sedangkan Abizar, dia membantu Avica untuk memijat tengkuknya.


"Sudah mas." Ucap Avica pada Abizar saat dirinya telah mengeluarkan isi perutnya.


"Sudah tidak mual lagi?" Tanya Abizar. Avica pun hanya mengangguk pelan.


"Ya udah kalau gitu kita kekamar saja. Kamu harus banyak istirahat , Sebelum itu minum dulu obat untuk pereda mualnya ya. Setelah itu baru tidur biar lebih enakan." Ucap Abizar pada Avica yang sudah terlihat pucat.


"Iya mas." Jawab Avica pasrah.


Sesampainya dikamar, Abizar membaringkan tubuh lemas sang istri diatas ranjang mereka. Setelah membaringkan Avica, Abizar mengambilkan obat untuk Avica agar bisa meredakan mualnya.


"Sayang, ini obatnya diminum dulu ya." Ujar Abizar pada sang istri.


"Iya mas." Jawab Avica. Lalu Abizar membangunkan Avica sebentar untuk membantunya meminum obat pereda mual.


"Sekarang kamu istirahat dulu ya, Sayang. Mas mau ke ruang kerja dulu. Nanti kalau butuh apa-apa telpon aku. Jadi kamu nggak harus cari aku keruang kerja. " Ujar Abizar.


"Iya mas." Jawab Avica. Saat ini Avica sedang tidak bisa banyak bicara jadi dirinya hanya menjawab seadanya.


Sebelum pergi, Abizar pun menyelimuti tubuh sang istri terlebih dahulu. Baru setelah itu dirinya melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamarnya. Lalu pergi menuju ruang kerjanya untuk meminta laporan pada asisten nya.


Sampai diruang kerja, Abizar pun langsung menelepon Rendy, asisten nya.


(Halo, Ren.)


(Iya, Tuan. Apakah anda baik-baik saja tuan?) Tanya Rendy pada atasannya. Sebab Abizar tidak kekantor dan tidak memberinya kabar.


(Saya baik-baik saja. Untuk beberapa hari saya tidak akan masuk ke kantor. Sebab istri saya sedang tidak enak badan akibat hamil muda. Jadi tolong kamu urus pekerjaan dikantor ya.)

__ADS_1


(Nyonya Avica hamil, tuan?) Tanya Rendy.


(Iya, Istri saya sedang mengandung buah hati kami. Makanya untuk beberapa hari saya tidak akan pergi ke kantor. Sebab istri saya sangat butuh saya saat ini. Jadi saya minta tolong sama kamu supaya meng-handle semua pekerjaan di kantor.) Ujar Abizar.


(Baik tuan.Saya akan meng-handle pekerjaan dikantor. Dan selamat untuk tuan, karena akan tambah anak lagi. Semoga istri dan calon anak anda selalu sehat.) Ucap Rendy.


(Terima kasih, Ren. Karena sudah mendoakan untuk istri dan calon anak saya.)


(Sama-sama tuan.)


(Kalau begitu saya tutup dulu telepon nya. Nanti jangan lupa kirim laporan nya pada saya.)


(Baik, tuan.)


Sambungan telepon pun terputus. Lalu Abizar berganti menyalakan laptop untuk menunggu laporan yang akan dikirim oleh asisten nya.


Abizar kini mulai sibuk dengan pekerjaan nya. Meskipun dirinya tidak masuk kantor tapi Abizar tetap bekerja dirumah. Abizar meminta bantuan pada Rendy untuk mengirim semua berkas-berkas dan email yang harus ia kerjakan. Jadi Abizar bisa tenang, Sebab meskipun dirinya bekerja tetapi dia jugabisa menjaga sang istri yang sedang tak berdaya akibat mual dan muntah yang dialami oleh istrinya.


Derrttt..derrttt..


Ponsel Abizar pun berdering. Ternyata papanya lah yang menghubungi nya.


(Halo, pa.) Ucap Abizar saat panggilan telah terhubung.


(Kamu dirumah, Bi?) Tanya Pak Adi.


(Iya, Pa. Kenapa pa?) Tanya Abizar balik.


(Ini papa ke kantor kamu. Kata Rendy kamu dirumah jaga Avica yang sedang hamil muda. Apa bener yang dikatakan Rendy?) Ujar Pak Adi.


(Iya pa, bener. Avica sedang mengandung cucu kedua papa.) Jawab Abizar.


(Apa kamu sudah memberitahu kabar bahagia ini pada mama kamu?)


(Belum, pa. Rencananya Abi mau kasih suprise untuk mama dan Papa. Karena papa sudah tahu ya sudah nggak jadi kasih suprise) Kata Abizar.


(Baiklah. Jaga istri mu baik-baik jangan sampai terjadi apa-apa dengan mantu dan calon cucu kedua papa.) Ujar Pak Adi.


(Iya pa. Tanpa papa suruh Abizar pasti akan menjaga istri dan calon anak kami pa.)


( Ya sudah kalau bagitu papa tutup telepon nya.)


(Iya pa.)

__ADS_1


Sambungan telepon pun terputus. Dan Abizar memilih untuk melanjutkan pekerjaannya agar cepat terselesaikan hari ini juga.


__ADS_2