Baby Sitter Anakku Adalah Jodohku

Baby Sitter Anakku Adalah Jodohku
Bab43


__ADS_3

Pagi hari, entah kenapa Avica merasa perutnya sangat mual, dan terasa ingin memuntahkannya isi perutnya. Tanpa menunggu lama, Avica pun beranjak dari ranjang dan pergi menuju kamar mandi.


"Hueekk..huueekkk..." Avica berusaha mengeluarkan isi perutnya tapi tak kunjung keluar.


"Hueekk.. Kenapa perutku rasanya sangat mual. Padahal aku tidak pernah telat makan. " Ucap Avica saat dirinya masih merasakan perutnya yang mual.


Avica pun mencuci mulutnya saat dirinya tidak berhasil mengeluarkan isi perutnya. Lalu dirinya kembali keluar dari kamar mandi. Baru juga dirinya keluar dari kamar mandi rasa ingin muntah itu pun datang kembali, dan Avica terpaksa harus kembali masuk kekamar mandi.


"Hueekk...huueeekkk.." Avica berhasil mengeluarkan semua isi perutnya, tapi hanya cairan kuning saja yang keluar. Sebab perut Avica belum terisis dengan makanan sama sekali. Sehingga hal itu membuat tubuh Avica merasa sangat lemas seperti tak memiliki tenaga sama sekali.


Sedangkan Abizar yang mendengar suara yang berasal dari kamar mandi pun langsung membuka kedua matanya. Orang pertama yang ia cari adalah Avica, ternyata istrinya itu sudah tidak ada diatas ranjang . Kemudian Abizar beralih menatap pintu kamar mandi, lalu Abizar bangun dan beranjak untuk menghampiri sang istri yang berada didalam kamar mandi.


Tokk..tokk..


"Sayang." Panggil Abizar.


"Iyaa.." Jawab Avica pelan karena sudah tak memiliki tenaga lagi.


Abizar yang mendengar suara Avica sangat lirih pun langsung membuka pintu kamar mandi tersebut. Betapa terkejutnya Abizar saat melihat sang istri yang sedang duduk tak berdaya bersender pada dinding kamar mandi.


"Sayang, kamu kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Abizar khawatir.


"Sepertinya aku masuk angin mas. Kepalaku pusing dan perutku terasa mual dan aku pun muntah-muntah." Jawab Avica lirih.


"Kalau begitu biar aku panggilkan dokter ya untuk periksa kamu." Ujar Abizar.


"Tidak perlu mas. Aku hanya masuk angin biasa kok." Tolak Avica.


"Benarkah?" Tanya Abizar .


"Iya, mas. Lebih baik mas bantu aku berdiri. Aku ingin berbaring sebentar." Ujar Avica meminta tolong pada sang suami.


"Baik, Sini mas bantu." Ujar Abizar. Lalu dirinya mengulur kedua tangannya untuk membantu istrinya berdiri. Lalu saat istrinya sudah berdiri Abizar pun langsung mengangkat tubuh sang istri untuk ia baringkan diatas ranjang.


"Hari ini kamu istirahat saja. Tidak perlu melakukan aktivitas. Aku yang akan memasak untuk sarapan hari ini." Perintah Abizar pada sang istri.


"Tapi mas, jika aku hanya tidur siapa yang akan menjaga Alula?" Tanya Avica.


"Biar bi Imah yang membantu mu menjaga Alula." Ujar Abizar.


"Aku tidak enak mas jika hanya tiduran saja." Kata Avica.


"Sudah jangan membantah." Ujar Abizar.


"Tapi mas-- " Belum selesai Avica mengatakan sesuatu, Avica pun merasa jika perutnya terasa mual kembali. Dengan cepat Avica menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya tersebut lalu beranjak untuk pergi kekamar mandi kembali mengeluarkan isi perutnya.


"Huekk..huueekkk..."


"Sayang, sepertinya kau tidak sedang baik-baik saja. Aku akan memanggil dokter agar memeriksa dirimu." Ucap Abizar . Lalu Abizar mengangkat tubuh Avica kembali untuk ia baringkan diatas ranjang kembali. Setelah itu, dirinya mulai menghubungi dokter pribadinya.

__ADS_1


Tutt..tuuttt...tuutttt....


Sambungan pun terhubung, dan terdengar suara sahutan dari sambungan tersebut.


(Halo, tuan.)


(Halo. Cepat kesini! Aku membutuhkanmu.)


(Baik tuan)


Setelah itu Abizar pun mematikan sabungan telepon nya. Sambil menunggu kedatangan dokter pribadinya, Abizar pun memindahkan putri nya ke kamarnya terlebih dahulu . Supaya nanti tidak mengganggu dokter yang akan memeriksa Avica. Setelah itu Abizar melangkah menuju dapur untuk mencari bi Imah.


"Bi Imah." Panggil Abizar.


"Dimana bi Imah kok tidak ada didapur." Ucap Abizar.


"Bi Imah." Panggil Abizar lagi dengan nada sedikit tinggi.


Bi Imah pun lari tergopoh-gopoh dari belakang.


"Iya tuan. Ada apa?" Tanya Bi Imah.


"Tolong buatkan teh anget untuk istri saya. Tadi habis muntah-muntah." Perintah Abizar.


"Siap, tuan. Kalau boleh saya tahu nyonya kenapa ya, tuan?" Tanya Bi Imah.


"Saya tidak tahu, bi. Katanya hanya masuk angin biasa. Tapi terus saja muntah-muntah." Ujar Abizar.


Mendengar ucapan bi Imah, Abizar langsung berpiki. Apakah benar istrinya itu hamil? Tapi untuk memastikan hal itu Abizar harus menunggu dokter yang ia hubungi tadi datang dan memeriksa istrinya.


"Semoga saja, bi."


Setelah mengatakan itu, Abizar pun kembali ke kamarnya untuk menemani sang istri. Tak lama pintu pun diketuk dari luar.


Tokk..tokk..tokk...


"Masuk.."


Pintu pun dibuka, muncul lah bi Imah dengan tangan membawa nampan yang berisi teh hangat untuk istri tuannya.


"Ini tuan teh untuk nyonya." Ucap Bi Imah.


"Taruh diatas meja saja, bi." Pinta Abizar.


"Baik, tuan." Bi Imah pun meletakkan teh hangat tersebut diatas meja seperti yang diperintah kan majikannya.


"Kalau begitu saya keluar dulu tuan. Nanti kalau butuh sesuatu kasih tahu saya saja." Ujar Bi Imah lalu pamit pada majikannya.


"Iya, Bi. Terima kasih."

__ADS_1


Bi Imah pun pergi dari kamar majikannya untuk melanjutkan pekerjaan nya lagi. Hari ini majikannya sedang tidak enak badan, jadi bi Imah harus menggantikan Avica untuk sementara waktu menjaga Alula.


Tak lama sang dokter pun tiba, Bi Imahangsung mengantar dokter tersebut kekamar Abizar dan Avica. Pintu kamar pun diketuk kembali. Dan Abizar pun mempersilakan nya untuk masuk.


"Selamat pagi Tuan Abizar." Sapa Dokter Dika saat dirinya telah berada dihadapan Abizar.


"Pagi. Tolong periksa istri saya." Ujar Abizar.


"Baik, tuan. Tuan bisa minggir dulu." Ucap Dokter Dika.


"Baiklah.."


Sang dokter mulai memeriksa Avica. "Apakah anda sudah datang bulan dibulan ini, Nyonya?" Tanya sang dokter saat memeriksa denyut nadi Avica.


"Kenapa kau menanyakan hal itu?" Tanya Abizar pada sang dokter.


"Sebentar tuan. Nanti akan saya jelaskan. Bagaimana nyonya?" Ucap Dokter Dika.


"Seingat saya bulan ini saya belum datang bulan dok." Jawab Avica.


"Begitu ya. Menurut saya kemungkinan nyonya saat ini sedang mengandung. Untuk lebih jelas dan akuratnya anda harus mengetes nya terlebih dahulu. Apakah anda memiliki alat untuk mengetes kehamilan atau test pack?" Jelas Dokter Dika.


"Tidak dok." Ujar Avica.


"Tuan Abizar, apakah anda tidak keberatan jika anda membelikan alat tersebut?" Tanya Dokter Dika pada Abizar.


"Tidak dok. Saya akan melakukan apa saja untuk istri saya." Jawab Abizar.


"Wah, anda sangat beruntung nyonya, bisa memiliki suami yang sangat peduli kepada anda." Ujar Dokter Dika. "Kalau begitu tolong anda belikan test pack di apotek. Jika sudah Nyonya bisa mengetesnya, jika nanti muncul dua garis itu tandanya anda sedang positif hamil. Untuk lebih jelasnya anda langsung saja periksa ke dokter kandungan." Kata Dokter Dika.


"Baiklah, Dokter." Jawab Abizar.


"Kalau begitu saya pamit undur diri." Ucap Dokter Dika.


"Baik, dok. Silahkan."


Dokter Dika pun keluar dari kamar dengan diantar oleh bi Imah. Setelah kepergian Dokter Dika, Abizar pun langsung menghampiri sang istri.


"Sayang, aku pergi dulu untuk membeli alat itu. Kamu jangan banyak bergerak dulu. Oke." Pinta Abizar.


"Iya mas."


"Kalau gitu aku pergi dulu. Kalau butuh apa-apa panggil bi Imah."


"Iyaa."


Sebelum pergi Abizar pu mencium kening Avica terlebih dahulu. Barulah dirinya beranjak pergi untuk membeli alat tes kehamilan ke apotek. Saat telah tiba dibawah tangga Abizar berpapasan dengan bi Imah.


"Bi, saya mau pergi dulu. Tolong jaga istri saya sebentar." Ujar Abizar pada Bi Imah.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Abizar melanjutkan langkahnya untuk keluar dari rumah dan menuju mobilnya. Kini dirinya telah mengemudikan mobilnya untuk mencari apotek.


__ADS_2