Baby Sitter Anakku Adalah Jodohku

Baby Sitter Anakku Adalah Jodohku
Bab45


__ADS_3

"Ada yang mau ditanyakan?" Tanya Dokter Nindy saat pemeriksaan telah selesai.


Dan kini Abizar dan Avica telah duduk didepan Dokter Nindy. Setelah mendengar penjelasan sang dokter yang tidak memperbolehkan Avica merasa kecapekan Abizar ingin bertanya tentang hal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.


"Kegiatan apa saja yang harus dihindari oleh ibu hamil, Dok?" Tanya Abizar.


"Tidak boleh angkat-angkat berat dan melakukan hal yang membuat sang ibu kecapekan. Tidak boleh banyak pikiran. Dan yang paling penting harus menjaga pola makan dan banyak-banyak istirahat." Jelas Sang Dokter.


"Jika melakukan hubungan suami istri seperti berhu5 badan bagaimana dok?" Tanya Abizar lagi.


"Jika masih trimester pertama lebih baik jangan dulu tuan. Tapi jika anda tidak bisa menahannya anda bisa melakukannya secara pelan dan jangan sampai menyakiti sang ibu dan calon anak anda." Dokter Nindy sudah tidak kaget lagi dengan pertanyaan seperti itu. Sebab banyak para suami yang menanyakan hal tersebut. Awalnya Dokter Nindy merasa tidak habis pikir dengan para suami yang tidak bisa menahan hasrat nya sebentar, Padahal hal itu juga demi anak mereka.


"Baiklah, Dokter. Terima kasih."


"Sama-sama tuan. Tapi jika anda akan melakukan hal itu, anda harus mengurangi durasinya, Tuan." Ucap Dokter Nindy. "Dan untuk mual dan muntahnya saya sudah meresepkan obat pereda mual dan vitamin untuk kehamilan. Anda harus menebusnya ke apotek." Ujar Dokter Nindy lagi.


"Baik, dok. Terima kasih. Kalau begitu kami pamit dulu." Pamit Avica pada dokter Nindy.


"Baik, Ibu, tuan. Silahkan."


Abizar dan Avica pun keluar dari ruangan dokter Nindy. Tujuannya kali ini adalah menuju apotek yang berada dirumah sakit tersebut untuk menebus obat dan vitamin untuk Avica. Dan kali ini Abizar harus mengantri untuk menebus obat tersebut, sedangkan Avica dirinya disuruh untuk menunggu Abizar ditaman yang ada didekat apotek tersebut. Saat sedang menunggu Abizar, Avica memilih untuk memainkan ponselnya untuk membaca novel online kesukaannya.


Setelah menunggu cukup lama, Abizar pun akhirnya datang menghampirinya.


"Sayang, ayo kita pulang." Ajak Abizar pada sang istri.


"Mas sudah nebus obatnya?" Tanya Avica.


"Sudah. Yukk."


Avica beranjak dari duduknya, lalu menggandeng tangan sang suami. Kemudian mereka melangkah bersama menuju parkiran untuk mengambil mobilnya. Saat mereka telah memasuki mobil, Abizar pun menyalakan mesinnya lalu melajukan mobil tersebut untuk kembali pulang ke kediamann Abizar.


Didalam mobil, Abizar tidak pernah melepas genggaman tangannya pada tangan Avica. Dirinya sangat merasa bahagia, Abizar tidak sabar ingin memberi kabar bahagia ini pada kedua orang tuanya. Begitupun Avica, perempuan itu tidak menyangka jika dirinya akan menjadi seorang ibu. Dan dirinya juga ingin menyampaikan kabar bahagia ini kepada kedua orang tuanya juga.


"Sayang, apa kamu ingin sesuatu? Mumpung kita lagi diluar." Tanya Abizar pada sang istri.


"Tidak mas. Aku sedang tidak menginginkan sesuatu." Jawab Avica. Dirinya memang sedang tidak menginginkan apa-apa.


"Benarkah?" Tanya Abizar lagi.

__ADS_1


"Iya mas. Nanti jika aku menginginkan sesuatu aku akan bilang Mas Abi." Ujar Avica.


"Baiklah." Abizar kembali fokus pada jalanan yang ada didepan. Saat melewati pedagang rujak entah kenapa dirinya merasa ingin membeli dan makannya.


Abizar langsung menepikan mobilnya, lalu balik arah untuk menghampiri penjual rujak tersebut.


"Ada apa mas? Kok kembali lagi?" Tanya Avica heran dengan suaminya yang tiba-tiba balik arah.


"Aku pengen beli rujak buah, Sayang. Seperti nya seger." Ucap Abizar.


"Kok aneh, biasanya kalau istri hamil yang ngidam istrinya ini kenapa mas Abi yang ngidam." Ujar Avica bingung.


"Aku tidak tahu sayang. Yang jelas aku sangat menginginkan rujak itu." Ucap Abizar lalu menghentikan mobilnya tepat disamping gerobak penjual rujak tersebut.


Sebelum turun Abizar menawari istrinya terlebih dahulu. "Kamu mau nggak?" Tanya Abizar.


"Nggak mas. Mas aja." Jawab Avica.


"Baiklah." Lalu Abizar membuka pintu mobilnya lalu dirinya keluar dan menghampiri penjual rujak buah tersebut.


"Pak, beli rujak buahnya 3 porsi ya." Pesan Abizar pada penjual rujak.


Tiga porsi rujak pun telah siap. Kini tinggal Abizar membayarnya.


"Ini tuan rujaknya." Ucap sang penjual rujak sambil menyodorkan 3 porsi rujak yang telah dibungkus dengan kresek.


"Berapa pak?" Tanya Abizar.


"30 ribu tuan." Jawab penjual rujak.


Abizar pun mengeluarkan uang pecahan seratus ribu rupiah lalu memberikan nya pada penjual rujak buah tersebut.


"Ini pak. Kembaliannya buat bapak aja." Ujar Abizar saat menyodorkan uangnya.


"Ini beneran tuan? " Tanya penjual rujak.


"Iya, pak." Jawab Abizar.


"Alhamdulillah. Kalau begitu terima kasih banyak tuan." Ucap penjual rujak.

__ADS_1


"Sama-sama, Pak. Mari saya duluan." pamit Abizar. Penjual rujak pun mengangguk.


Abizar pun melangkah menuju mobilnya dengan menenteng kresek berisi 3 bungkus rujak buah.


"Sudah mas?" Tanya Avica.


"Sudah, sayang." Jawab Abizar.


"Kok kelihatannya banyak banget. Mas Abi beli berapa?" Tanya Avica lagi.


"Beli 3 bungkus." Ujar Abizar.


"Emang buat siapa aja kok beli sampai 3 bungkus?" Tanya Avica tak henti-henti.


"Ya buat aku lah." Ujar Abizar enteng.


"3 bungkus mau mas Abi makan sendiri? Emang perutnya muat? Awas lo mas kalau sampai sakit perut, yang ada nanti aku yang jagain mas Abi, bukan mas Abi yang jagain Ica." Ujar Abizar mengingatkan.


"Tenang aja sayang. Perutku tahan pedas kok." Ucap Abizar tenang.


"Bener lo ya?" Tanya Avica.


"Iya sayang."


Setelah perbincangan tadi, Abizar pun menyalakan mesin mobilnya kembali, Lalu putar arah lagi dan melanjutkan perjalanannya untuk pulang kerumah.


Mobilpun tiba dikediaman Abizar. Dengan tidak sabarnya Abizar membunyikan klakson agar segera dibukakan pintu gerbangnya oleh satpamnya. Setelah pintu gerbang terbuka sempurna, Abizar melajukan mobilnya kembali untuk masuk kehalaman rumahnya. Dan dengan terburu-buru Abizar keluar dari dalam mobil lalu mengitari mobil untuk membukakan pintu untuk sang istri. Setelah avica keluar dari dalam mobil, Abizar langsung menggendong tubuh istrinya. Meskipun dirinya ingin buru-buru untuk mencicipi rujak yang telah ia beli tadi, tapi Abizar juga tidak melupakan sang istri yang sedang mengandung buah hatinya.


"Mas, kenapa buru-buru sekali jalannya?" Tanya Avica yang heran dengan tingkah sang suami.


"Aku tidak sabar ingin segera memakan rujak ini sayang." Jawab Abizar.


"Ya ampun, Mas. Sampai segitunya." Avica tak habis pikir, hanya karena rujak suaminya itu seperti oranf kelaparan.


"Iya sayang. Kamu duduk disini dulu. Aku mau kedapur ambil minum." Ujar Abizar pada sang istri.


"Iya mas."


Tak lama Abizar pun tiba sambil membawa satu botol besar berisi air mineral. Dengan tidak sabarnya Abizar membuka satu bungkus rujak buah tersebut. Lalu memakannya dengan sangat lahab seperti orang yang tidak makan selama tiga hari. Avica yang melihat tingkah sang suami pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Justru dirinya merasa kenyang sendiri saat melihat suaminya memakan rujak buah.

__ADS_1


__ADS_2