
pukul 18.30 Abizar tiba dirumah dengan membawa 5 bungkus bakmi pesanan sang istri. Abizar sengaja membeli banyak, sebab dirinya juga akan membaginya pada pegawainya dirumah.
Abizar langsung menuju meja makan. Ternyata disana sudah ada istri dan putrinya yang sedang menunggu kedatangannya.
"Mas, dapet nggak bakmi nya?" Tanya Avica saat melihat Abizar menghampiri nya sambil membawa bungkusan di tangannya.
"Dapet sayang. Ini mas beli 5 bungkus. Nanti yang 3 bungkus dikasih pak Usman, bi Imah sama mbak Yuni." Ujar Abizar sambil mengeluarkan 2 bungkus bakmi.
"Ya udah sini sisanya biar aku kasih bi Imah sama mbak Yuni. Pak Usman udah kamu kasih kan mas?" tanya Avica.
"Sudah tadi diluar." Jawab Abizar.
Avica pun mengambil 2 bungkus bakmi yang akan ia berikan pada bi Imah dan mbak Yuni. Avica melangkahkan kakinya menuju dapur, karena biasanya saat waktu makan kedua pegawainya itu pasti sedang makan di dapur.
Sedangkan dimeja makan Alula merasa penasaran dengan makanan yang diinginkan ibu sambungnya itu. Sebab Alula belum pernah memakannya.
"Alula mau itu ya pa." Ujar Alula sambil menunjuk bungkusan yang berisi bakmi.
"Iya sayang. Tunggu mama dulu ya." Kata Abizar.
"Oke, pa."
Didapur Avica melihat bi Imah dan mbak Yuni sedang duduk didepan meja makan yang ada didapur.
"Bi, Mbak ini ada bakmi dimakan ya." Ucap Avica sambil meletakkan dua bungkus bakmi diatas meja.
"Oh, iya nyonya. Terima kasih untuk bakmi nya." Jawab bi Imah.
"Iya nyonya. Saya juga terima kasih untuk bakmi nya." Mbak Yuni menimpali.
"Sama-sama, Bi, mbak. Kalau gitu saya kedepan dulu ya." Pamit Avica.
"Baik nyonya." jawab Bi Imah dan mbak Yuni.
Avica pun telah kembali dari dapur. Kini dirinya sudah duduk didepan meja makan untuk segera memakan bakmi pesanannya tadi. Alula pun sama, anak itu juga sudah tidak sabar untuk memakan bakmi yang ada diatas meja.
"Alula bakmi nya mau banyak atau sedikit?" Tanya Avica.
__ADS_1
"Sedikit dulu, Ma. Nanti kalau kurang nambah lagi. Boleh kan?" Ucap Alula.
"Boleh kok sayang. Mau ditambah nasi nggak?" Tanya Avica lagi. Avica pun mengambil sedikit bakmi lalu ditaruhlah diatas piring yang ada didepan sang putri sambung.
"Nggak, Ma. Ini aja." Jawab Alula.
"Baiklah, kalau gitu buruan dimakan." Ujar Avica.
Lalu Avica memakan satu bungkus bakmi dengan ditambah sedikit nasi. Abizar yang melihat porsi makanan sang istri pun hanya geleng-geleng kepala. Istrinya itu memang sedang banyak makan saat hamil. Bahkan baru saja beberapa menit selesai makan biasanya sang istri akan merasa lapar lagi. Sehingga membuat badan sang istri terlihat berisi. Tapi Abizar tak mempermasalahkannya, Abizar sadar istrinya seperti itu juga karena dirinya.
"Kamu nggak makan mas?" Tanya Avica pada sang suami yang hanya melihatnya makan.
"Melihatmu makan perutku sudah terasa kenyang sayang." Ujar Abizar.
"Mas nggak mau bakmi nya?" Tanya Avica lagi.
"Nggak, buat kamu atau Alula aja nanti kalau kurang. Mas makan cah kangkung sama ayam goreng aja." Ujar Abizar.
"Ya udah kalau nggak mau. Kita makan berdua aja ya nak." Ucap Avica pada Alula.
"Iya sayang. Nambah aja, kalau mau dihabisin juga nggak apa-apa." Ujar Avica sambil menyodorkan sebungkus bakmi yang sudah dimakan sedikit oleh Alula.
"Nggak apa-apa ma kalau Lula habisin?" Tanya Alula memastikan.
"Nggak apa-apa sayang. Dihabiskan aja biar kenyang." Ucap Avica.
Avica dan Alula pun menikmati bakmi yang dibeli Abizar tadi. Mereka memakan dengan lahapnya. Abizar yang melihatnya pun hanya bisa tersenyum.
Selesai makan Alula merasa kekenyangan dan mulai menguap karena mengantuk. "Hoaammm.."
"Alula udah ngantuk?" Tanya Avica. Alula hanya mengangguk untuk memberikan jawaban pada sang mama.
"Kekenyangan terus ngantuk ya." Kekeh Avica. "Ya udah kalau gitu Lula gosok gigi dulu gih. Terus sekalian cuci kaki cuci tangan. Habis itu langsung tidur." Perintah Avica pada Alula.
"Iya, Ma." Alula menjawabnya dengan lemas.
"Mbak Yuni!" Panggil Avica pada baby sitter putri sambungnya.
__ADS_1
Mbak Yuni yang mendengar namanya dipanggil oleh majikannya pun langsung berlari kecil untuk menghampiri majikannya.
"Iya Nyonya? Ada apa?" Tanya mbak Yuni.
"Tolong antar Alula ke kamar ya. Temani Alula sampai tidur ya mbak. Oh ya, sebelum tidur seperti biasa dibantu untuk gosok gigi sama cuci kaki dan tangannya." Perintah Avica pada baby sitter Alula.
"Baik nyonya." Jawab Mbak Yuni. "Mari, Non." Mbak Yuni pun menggandeng tangan Alula dan mengajaknya ke kamar. Anak majikannya itu benar-benar sudah mengantuk, sebab matanya sudah terlihat mulai menyipit dan sering menguap.
Sesampainya di kamar Alula, seperti yang diperintahkan majikannya tadi mbak Yuni mengajak nona muda kecilnya itu untuk gosok gigi di kamar mandi terlebih dahulu, baru setelah itu mencuci tangan dan kakinya. Selesai dengan kegiatannya sebelum tidur, Alula tak sabar ingin segera membaringkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya.
"Non Lula mau dibacain cerita dulu nggak sama mbak?" Tanya mbak Yuni pada nona muda kecilnya.
Alula mengangguk. Mbak Yuni pun mulai membacakan cerita yang ada dibuku yang telah dipersiapkan didalam kamar Alula.
Diruang keluarga, Avica masih menunggu sang suami yang masih berada diruang kerjanya untuk mengecek beberapa e-mail yang masuk. Sebenarnya Avica juga sudah merasa mengantuk, tapi sang suami tak mengizinkan dirinya untuk menaiki tangga sendiri. Padahal dirinya sudah terbiasa naik turun tangga sendiri jika tidak ada seseorang di dekatnya. Mungkin Abizar merasa khawatir dan takut jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi dengan keadaan sang istri sedang hamil besar itu.
Abizar sempat ingin memasang lift agar istrinya itu tidak capek naik turun tangga. Tapi sang istri menolaknya dengan alasan biar itung-itung olahraga supaya nanti jika lahiran bisa gampang dan bisa lahiran normal.
Saat dirinya akan beranjak dari sofa, Avica melihat mbak Yuni sudah turun darj kamar Alula.
"Lulanya udah tidur mbak?" Tanya Avica.
"Sudah nyonya." Jawab Mbak Yuni.
"Saya boleh minta tolong mbak, tolong antarkan saya keatas. Nanti kalau saya naik sendiri mas Abi bisa marah soalnya." Kata Avica.
"Bisa nyonya." Ucap mbak Yuni. "Nyonya beruntung ya punya suami seperti tuan Abi. Yang perhatian dan penyayang pada istri dan anaknya." Ucap mbak Yuni lagi.
"Alhamdulillah, mbak. Karena jodoh sudah ada yang mengatur." Jawab Avica. "Mbak Yuni jangan pesimis ya meskipun harus menjadi single parent. Saya yakin anak-anak mbak pasti bangga memiliki ibu seperti mbak Yuni yang bisa berperan seperti ayahnya karena sudah bantung tulang mencari nafkah untuk mereka." Ujar Avica memberi semangat.
"Iya Nyonya. Saya akan berusaha untuk membahagiakan anak-anak saya meskipun tidak ada ayahnya. Terima kasih nyonya sudah memberi semangat untuk menjalani peran saya sebagai ibu sekaligus ayah untuk anak-anak saya." Balas mbak Yuni tersenyum haru.
"Sama-sama mbak. Kita sama-sama perempuan jadu harus saling mendoakan dan mendukung yang terbaik. Jika butuh apa-apa jangan sungkan untuk mengatakan kepada saya dan suami saya. Siapa tahu kami bisa membantunya." Ujar Avica.
"Terima kasih nyonya, sudah perhatian pada saya." Balas mbak Yuni.
"Tidak perlu terima kasih mbak. Semua yang ada disini sudah saya anggap seperti keluarga."
__ADS_1