
"Kemarin jadi beli perlengkapan bayi nya?" Tanya Bu Sarah pada menantunya.
"Jadi ma. Nanti coba mama lihat ada yang kurang apa nggak." Ujar Avica.
"Iya nanti mama akan melihatnya." Kata bu Sarah.
Saat ini menantu dan mertua itu sedang berbincang diruang keluarga sambil menikmati beberapa cemilan yang dan minuman yang disajikan diatas meja. Di tempat itu juga ada mbak Yuni yang sedang menemani Alula bermain.
"Yun, gimana kerja disini? Betah?" Tanya Bu Sarah pada mbak Yuni.
"Alhamdulillah betah nyonya. Apalagi nyonya Avica sama tuan Abizar baik sama saya. Non Alula juga tidak nakal jadi saya sangat betah. Saya bersyukur bisa bekerja disini jadi saya sudah tidak khawatir untuk membiayai anak-anak saya." Ujar mbak Yuni penuh rasa syukur.
"Syukurlah kalau kamu betah." Ucap bu Sarah.
"Mbak sesama manusia kan emang harus saling membantu. Mbak Yuni butuh pekerjaan dan kami butuh pekerja untuk mengasuh anak kami jadi kita sama-sama membutuhkan mbak. Dan sudah sewajarnya majikan baik sama pegawainya jika pegawainya melakukan pekerjaannya dengan baik." Ucap Avica.
"Iya nyonya, saya berterima kasih pada kalian semua. Karena kalian saya bisa mendapatkan pekerjaan." Kata mbak Yuni.
"Mbak Yuni sudah saya katakan tidak perlu berterima kasih." Ujar Avica.
Tak terasa hari pun telah siang. Seperti biasa Abizar pasti pulang untuk makan siang bersama keluarga kecilnya. Bu Sarah juga masih berada dikediaman sang putra.
"Mama.." Panggil Abizar saat melihat sang mama sedang berada diruang keluarga.
"Abi, mau makan siang dirumah?" Tanya bu Sarah.
"Iya ma, kan biasanya juga makan siang dirumah." Jawab Abizar.
"Mama kapan sampai?" tanya Abizar balik.
"Mama udah dari pagi disini. Sengaja kesini pagi-pagi karena kangen sama mantu dan cucu mama." Ujar bu Sarah.
"Nggak kangen sama Abi?" Tanya Abizar.
"Nggak." Jawab bu Sarah enteng.
"Ckk.."
"Mas Abi udah pulang." Ucap Avica lalu menghampiri suaminya untuk menyalami dan mencium tangan suaminya.
__ADS_1
"Iya sayang. Mas udah laper banget soalnya." Ucap Abizar.
"Udah laper apa karena nggak bisa jauh sama istri?" Ledek bu Sarah.
"Dua-duanya ma." Jawab Abizar cengengesan.
"Ya udah kalau gitu yuk ma, mas kita makan siang dulu. Makanannya sudah siap semua soalnya." Ajak Avica pada ibu mertua dan suaminya.
"Yuk, mama juga udah laper. Kangen juga sama masakan mantu mama ini." Kata bu Sarah.
"Mama bisa aja." Ujar Avica.
Mereka bertiga pun melangkah menuju meja makan untuk sarapan bersama. Disana sudah ada Alula yang juga baru saja duduk di kursi depan meja makan.
"Mama mau aku ambilin makanannya?" Tanya Avica menawari ibu mertuanya.
"Tidak perlu. Biar mama ambil sendiri saja." Jawab Bu Sarah.
"Oh, ya udah kalau begitu ma. Silahkan mama ambil makanannya, maaf ya ma Caca cuma masak ini aja." Ujar Avica sedikit tak enak pada ibu mertua nya.
"Tidak apa-apa, Ca." Ujar bu Sarah.
Bu Sarah pun mengisi piringnya dengan makanan yang sudah tersaji diatas meja. Setelah itu barulah Avica mengambikan makanan untuk suami dan anaknya, kemudian barulah dirinya. Mereka pun mulai memakannya.
"Iya dong oma. Lula kan udah besar sebentar lagi anak jadi kakak untuk dedek bayi yang ada diperut mama." Ucap anak itu.
"Dedek bayinya nanti laki-laki apa perempuan?" Tanya bu Sarah pada cucunya.
"Lula belum tahu oma." Jawab Alula.
"Oh, gitu ya. Kalau gitu tunggu dedek bayinya keluar dulu ya, nanti baru tahu dedek bayinya laki-laki apa perempuan." Ujar bu Sarah.
"Iya oma. Lula sudah tidak sabar ingin ketemu sama dedek bayinya." Kata Alula.
"Sabar dulu ya sayang. Tinggal beberapa bulan lagi dedek bayinya keluar." Ujar Avica menimpali.
"Masih lama ya ma?" Tanya Alula.
"Tidak kok sayang, sabar dulu ya." Jawab Avica.
__ADS_1
"Oke ma. Lula akan sabar nunggu dedek bayinya keluar kok." Ujar Alula dengan semangat.
Makan siang pun selesai. Dan Abizar telah kembali lagi ke kantor. Sedangkan bu Sarah, beliau masih dirumah sang putra. Bu Sarah berencana ingin menginap dirumah Abizar tersebut. Sebab jarang-jarang bu Sarah menginap di kediaman sang putra.
"Mama mau telepon papa dulu ya. Mau bilang kalau mama mau nginap disini. Siapa tahu papa juga mau ikut menginap disini." Ujar bu Sarah pada sang menantu.
"Iya ma. Mama juga jarang lo nginap disini." Balas Avica.
Tuuttt..tuuutttt...
(Halo, Ma.) Jawab pak Adi diseberang sana.
(Halo, pa. Pa, mama mau bilang sama papa kalau mama mau nginap dirumah Abi.) Ujar bu Sarah pada sang suami.
(Oh, ya udah ma. Nggak apa-apa. Nanti papa nyusul kesitu. Papa juga mau menginap dirumah Abi. Sudah rindu aku sama cucu kita.) Jawab pak Adi.
(Ya udah kalau gitu nanti papa langsung kesini aja.)
(Iya ma.)
(Mama tutup dulu telepon nya pa.) Pamit bu Sarah.
(Baiklah.)
Sambungan telepon pun terputus. Bu Sarah memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.
"Mama udah selesai telepon papa nya. Yuk kalau mau lihat-lihat perlengkapan baby nya." Ucap bu Sarah.
"Ayoo, ma. Kita pergi kekamar calon bayi Caca." Ajak Avica.
Mantu dan mertua itupun berjalan beriringan untuk menuju kamar yang dimaksud oleh Avica. Avica ingin memperlihatkan perlengkapan bayi yang kemarin dirinya beli dengan sang suami kepada mertuanya. Hal itu dilakukan Avica agar mertunya tahu ada yang kurang tidak dengan semua barang yang telah Avica beli kemarin.
Avica pun membuka sebuah kamar yang berada disamping kanan kamarnya bersama sang suami. Yaitu kamar untuk calon anaknya, calon buah hatinya bersama sang suami Abizar. Sedangkan kamar yang di tempati oleh putri sambungnya Alula ada disebelah kamarnya.
"Ayo ma, masuk." Ajak Avica.
Bu Sarah pun masum ke kamar tersebut mengikuti sang menantu untuk melihat-lihat semua perlengkapan bayi yang telah menantu dan putranya beli kemarin.
Bu Sarah mengamati satu persatu agar bisa mengetahui sudah cukup atau belum perlengkapan yang menantunya beli itu.
__ADS_1
"Ini sudah lumayan lengkap, Ca. Nggak perlu beli-beli lagi. Nanti aja kalau udah lahir kalau ada yang kurang baru beli." Ujar bu Sarah pada menantunya.
"Oh, gitu ya ma. Ya udah deh kalau gitu. Caca merasa sudah tenang. Tinggal mempersiapkan kebutuhan yang akan dibawa ke rumah sakit ketika akan melahirkan." Kata Avica. Memang masih kurang tiga bulanan Avica akan melahirkan. Tapi mempersiapkan semuanya dari awal itu lebih baik karena untuk berjaga-jaga. Jadi jika nanti sewaktu-waktu Avica akan melahirkan semua barang yang akan dibutuhkan sudah siap.