
Pagi harinya, kini kedua orang tua Abizar dan Avica telah duduk dimeja makan untuk sarapan bersama. Ditambah Alula, cucu mereka berada ditengah-tengah mereka, sedangkan Abizar dan Avica pun belum berada diantara mereka. Mereka masih setia menunggu Abizar dan Avica yang tak kunjung datang untuk sarapan bersama . Mereka pun memakluminya.
Tak lama yang ditunggu pun tiba, Abizar dan Avica baru saja menghampiri orang tua mereka.
"Maaf ya semuanya sudah menunggu lama." Ujar Abizar.
"Iya tidak apa-apa, Bi." Ucap Bu Sarah.
"Apakah kamu baik-baik saja, Ca?" Tanya bu Sarah pada Avica.
"Seperti biasa, Ma. Avica habis muntah-muntah." Ujar Abizar mewakili sang istri. Avica hanya mengangguk.
Bu Sarah pun menghampiri sang menantu yang masih berdiri disamping Abizar dengan wajah yang pucat.
"Ya udah kalau gitu. Sinu duduk kita sarapan bersama. Biar perutmu tidak kosong agar tububmu tidak lemas." Ajak Bu Sarah.
"Baik, Ma." Avica pun mengikuti Bu Sarah yang menuntunnya berjalan menuju meja makan dan tempat duduk.
"Ca, kalau nggak nafsu makan nasi, makan buah aja ya." Ucap Bu Linda saat sang anak sudah duduk sampingnya.
"Iya, Bun. Caca mau buah aja." Ujar Avica.
"Biar Bunda kupasin ya." Kata Bu Linda.
"Boleh, Bun. Aku mau buah apel aja ya, Bun." Balas Avica.
Bu Linda memilih mengupas buah apel terlebih dahulu untuk putri nya, dari pada mengisi perutnya. Karena menurut Bu Linda sang putri lebih penting saat ini agar perutnya terisi supaya tubuhnya tidak semakin lemas setelah muntah-muntah tadi. Selesai mengupas buah apel, lalu Bu Linda memotong-motongnya sekaligus, agar Avica tinggal memakannya.
"Ini nak buah apelnya." Ucap Linda sambil menyodorkan buah apel pada sang putri.
"Terima kasih, Bun." Avica menerima nya lalu langsung saja memakannya.
Barulah Bu Linda mengisi piringnya untuk mengisi perutnya yang sudah terasa kosong. Sedangkan yang lainnya sudah lebih dulu menyantap makanannya.
Selesai sarapan orang tua Avica pun berpamitan akan kembali ke kampung. Karena orang tua Avica tidak bisa meninggalkalkan sang adik yang tinggal dirumah terlalu lama. Sebab Adiknya harus melakukan ujian sekolah sehingga tidak bisa ikut kekota. Sang adik Fakhri terpaksa harus tinggal sementara dengan pamannya yang ada di kampung selama ditinggal orang tuanya.
__ADS_1
"Ca, Bunda pamit dulu ya. Jaga kandungan kamu baik-baik. Jangan terlalu capek, harus banyak istirahat. Maaf bunda nggak bisa dampingi kamu selama hamil. Tapi bunda akan selalu mendoakan semoga kamu dan calon cucu bunda sehat ." Ucap Bu Linda pada sang putri saat berpamitan. Avica pun mencium punggung tangan sang bunda lalu memeluknya.
"Iya Bunda. Yang penting bunda selalu mendoakan kami." Jawab Avica.
"Itu pasti, Nak." Ujar Bu Linda.
"Nak Abi, Bunda pamit ya. Bunda titip Caca, kamu harus sabar ngadepin sikap Caca ya. Maklumin sikap dan sifatnya karena faktor hamil." Pamit Bu Linda pada menantunya.
"Iya, Bun. Abi akan selalu menjaga Ica. Bunda sama Ayah tenang saja." Balas Abizar. Lalu menyalami dan mencium punggung tangan ibu mertuanya.
"Ayah juga pamit sama Nak Abi, seperti yang Bundamu katakan kami titip Caca ya." Ujar Pak Agil dan Abizar pun langsung mencium punggung tangannya.
"Iya Ayah." Jawab Abizar.
"Caca, Ayah pamit ya. Jaga diri dan jaga calon cucu Ayah." Ucap Pak Agil pada sang putri.
"Iya Ayah. Ayah sama Bunda hati-hati ya. Nanti kalau sudah sampai jangan lupa kabari Caca." Jawab Avica.
"Iya Nak." Ucap Pak Agil.
" Alula harus jaga dedek bayi yang ada didalam perut mama ya." Ucap Pak Agil menimpali.
"Iya Nenek. Nenek sama kakek tenang saja Lula pasti akan menjaga dedek bayi. Nenek sama kakek hati-hati dijalan ya." Jawab gadis kecil itu.
"Iya Alula sayang, anak pintar." Ujar Bu Linda.
Yang terakhir Pak Agil dan Bu Linda pun berpamitan pada besannya.
"Pak Adi, Bu Sarah kami pamit dulu ya. Terima kasih atas jamuannya." Ucap pak Agil pada besannya.
"Iya Pak, Pak Agil tidak perlu berterima kasih. Itu sudah sepantasnya kami menjamu Pak Agil dan Bu Linda selama disini. Ini juga rumah putra putri Bapak dan ibu. Karena Abi ini juga putra kalian." Jawab Bu Sarah.
"Iya Pak Agil apa yang dikatakan oleh istri saya itu benar. " Ucap Pak Adi menimpali.
"Baiklah kalau begitu kami pamit dulu." Ucap Bu Linda.
__ADS_1
"Mari, Silahkan."
Pak Agil dan Bu Linda pun mulai berjalan menghampiri sebuah mini bus yang akan mengantarnya dan beberapa keluarga nya yang sudah menunggunya dihotel untuk pukang kampung. Kendaraan itu telah Abizar siapkan khusus untuk keluarga sang istri.
Setelah kepergian Pak Agil dan Bu Linda, Pak Adi dan Bu Sarah pun juga berpamitan pada anak dan menantunya.
"Ca, Mama juga pamit ya. Jangan terlalu capek ya." Pamit Bu Sarah pada menantunya.
"Mama kenapa buru-buru?" Tanya Avica.
"Papa kan harus kekantor juga. Lain kali mama akan main kesini lagi." Jawab Bu Sarah.
"Baiklah, Ma." Avica pun mencium punggung tangan mama mertuanya.
Pak Adi pun bergantian untuk berpamitan pada menantunya. "Papa pamit ya. Soalnya Papa harus kekantor habis ini." Ucap Pak Adi.
"Iya, Pa. Hati-hati nyetir mobilnya ya Pa." Jawab Avica. Lalu mencium juga punggung tangan papa mertuanya.
"Opa sama Oma mau pulang juga?" Tanya Alula sang cucu.
"Iya sayang. Nanti oma sama opa akan main kesini lagi." Ucap Bu Sarah.
"Bi, Mama sama papa pamit dulu. Kamu harus jaga istri dan calon anakmu. Jangan membuatnya setres. Jangan biarkan istri mu terlalu capek mengurus Alula sendirian. Kalau bisa cari baby sitter lagi." Ucap Bu Sarah pada sang putra.
"Iya, Ma. Mama tenang aja. Abi udah sempet nyari baby sitter lagi. Tapi belum ada yang cocok." Balas Abizar.
"Mau mama bantu cari baby sitter nya? Soalnya kasian kalau Avica harus jaga Alula sendirian." Ujar Bu Sarah.
"Nggak apa-apa, Ma. Kan ada Bi Imah juga yang bantu Caca jaga Alula. Mama nggak usah khawatir, Caca nggak akan capek-capek kok." Ucap Avica meyakinkan mertuanya.
"Apa yang dikatakan mama benar sayang, kita harus segera cari Baby sitter." Ucap Abizar. " Mama boleh kalau mau bantu cariin baby sitter nya." Ucapnya lagi.
"Baiklah. Nanti mama akan coba cari." Ujar Bu Sarah.
"Ya udah Papa sama Mama pulang dulu." Pamit Pak Adi pada anak dan menantunya.
__ADS_1
Pak Adi pun melajukan mobilnya keluar dari pintu gerbang milik Abizar untuk mengantar sang istri pulang terlebih dahulu. Baru setelah itu Pak Adi akan langsung pergi ke kantornya.