Baby Sitter Anakku Adalah Jodohku

Baby Sitter Anakku Adalah Jodohku
Bab44


__ADS_3

Saat ini Abizar mondar-mandir didepan pintu kamar mandi. Menunggu sang istri yang sedang berada dikamar mandi untuk memastikan sesuatu. Saat akan mengetuk pintu karena tak sabaran ternyata pintu telah dibuka dari dalam oleh Avica.


Dengan raut wajah yang masih pucat Avica menghampiri sang suami yang telah menunggunya itu.


"Bagaimana sayang?" Tanya Abizar tak sabaran.


"Maaf ya, mas." Ujar Avica dengan nada sedih.


"Tidak apa-apa sayang jika hasilnya negatif. Kita nanti akan berusaha lagi. Oke." Ucap Abizar menenangkan sang istri.


"Tapi aku minta maaf mas, karena kamu akan punya anak lagi." Kata Avica membuat suaminya tak menyangka.


"Benarkah?" Tanya Abizar. Avica mengangguk meyakinkan sang suami lalu memperlihatkan hasik test pack yang ada di tangannya.


"Alhamdulillah. Terima kasih sayang. Akhirnya aku akan memiliki anak lagi dan Alula akan memikiki adik. Pasti Alula akan seneng jika tahu tentang kehamilan mu." Ujar Abizar yang terlihat jelas sangat bahagia hingga memberikan banyak kecupan.


"Hari ini kamu langsung aku antar priksa. Biar pasti hasilnya. Aku akan meminta bantuan dokter Dika untuk membuat janji dulu pada dokter kandungannya." Ucap Abizar.


"Mas Abi tidak ke kantor?." Tanya Avica.


"Tidak. Hari ini aku akan cuti dulu untuk beberapa hari." Ucap Abizar.


"kenapa harus cuti mas? aku tidak apa-apa kok." Ujar Avica.


"Karena aku ingin menjagamu sayang." Kata Abizar.


"Kan sudah ada bi Imah yang menemaniku mas." Ucap Avica.


"Hanya beberapa hari saja sayang. Nanti aku juga akan cari baby sitter baru untuk menjaga Alula." Kata Abizar.


"Aku kan masih bisa jaga Alula mas." Ujar Avica.


"Tapi aku tidak ingin kamu kecapekan sayang. Jadi kamu harus nurut. Ini demi kamu dan calon anak kita." Ujar Abizar.


"Baiklah, terserah mas Abi saja." Ucap Avica pasrah.


"Oke. Sekarang kita siap-siap dulu. Kamu duduk disini dulu biar aku siapkan airnya untuk kamu mandi." Kata Abizar.


"Baiklah."


Abizar melangmahkan kakinya menuju kamar mandi. Kali ini bergantian dirinya lah yang akan mengurus sang istri. Kini Abizar sedang menyiapkan air untuk istrinya. Abizar mengisi air hangat kedalam bathtub lalu mencampurnya dengan sabun aroma strawberry. Saat airnya telah siap barulah Abizar menghampiri sang istri yang sedang menunggunya.

__ADS_1


"Sayang, airnya sudah siap. Yuk mandi." Ujar Abizar.


"Iya mas." Jawab Avica


"Kamu tunggu disitu. Jangan berjalan sendiri." kata Abizar.


"Kenapa mas?" Tanya Avica .


"Aku akan menggendong mu." Jawab Abizar.


"Tidak perlu mas. Aku bisa jalan sendiri." Tolak Avica.


"Jangan membantah!" Ujar Abizar.


"Tapi mas-- Aaaaa." Avica kaget karena Abizar langsung mengangkat tubuhnya.


"Mas turunin aku." Ucap Avica.


"Tidak akan." Tolak Abizar.


Akhirnya Avica pun pasrah dan tak banyak gerak saat digendong sang suami. Tiba di kamar mandi Abizar mendudukan Avica di atas closed terlebih dahulu.


"Mau aku mandikan apa mandi sendiri?" Tanya Abizar menggoda sang istri.


"Itu tidak akan terjadi , Sayang. Untuk hari ini aku tidak akan melakukannya. Jadi kamu bebas." Ujar Abizar. "Jadi sebelum aku berubah pikiran cepatlah mandi. Aku akan keluar, nanti jika sudah panggil aku." Ucap Abizar lagi.


"Iya mas." Jawab sang Istri.


Saat ini Abizar dan Avica telah bersiap untuk pergi kerumah sakit. Mereka akan memastikan apakah benar jika Avica positif hamil. Mereka hanya pergi berdua saja tanpa adanya Alula. Alula dirumah dijaga oleh bi Imah. Awalnya anak itu ingin ikut kedua orang tuanya itu, tapi setelah diberi pengertian anak itu pun menurut untuk tinggal dirumah.


"Mama sama papa mau kemana?" Tanya Alula pada kedua orang tuanya.


"Papa mau ngantar mama kerumah sakit. Alula dirumah aja sama Bi Imah ya." Ujar Abizar.


"Tidak mau. Alula pengen ikut, pa." Ucap Alula.


"Jangan sayang. Alula tidak boleh ikut. Disana banyak orang sakit jadi Alula tidak boleh ikut. Sebab Alula masih anak-anak." Jelas Avica. "Alula dirumah saja, oke?" Ucap Avica kembali.


"Papa sama mama nggak akan lama kok. Alula pengen punya adik nggak?" Tanya Abizar pada sang putri.


Anak itu mengangguk. "Pengen, pa. Alula pengen punya adik. Biar Alula ada temannya bermain." Ujar Alula.

__ADS_1


"Kalau begitu Alula dirumah aja ya. Mama sama papa mau lihat diperut mama sudah ada adik bayinya atau belum. Setelah itu papa sama mama akan langsung pulang." Ucap Abizar .


"Apakah Alula akan punya adik, Ma, Pa?" Tanya Alula sambil menatap wajah sang mama dan papa.


"Iya sayang. Semoga saja keinginan Alula terwujud. Jadi Alula harus janji mau nurut apa kata papa sama mama, oke?" Kata Abizar.


"Baik pa, Alula janji. Alula akan nurut sama papa dan mama." Jawab anak itu.


"Anak pintar. Kalau begitu papa sama mama pergi dulu ya. Alula di rumah dengan bi Imah." Ucap Abizar. Alula pun mengangguk kan kepalanya.


"Bi, kami titip Alula ya. Kami akan pergi kerumah sakit dulu." Ucap Avica pada bi Imah.


"Baik, nyonya." Jawab Bi Imah.


Abizar dan Avica kini sedang menunggu gilirannya untuk masuk. Perasaan Avica sungguh sangat berdebar, sebab ini adalah hal pertama untuknya. Abizar pun merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan oleh sang istri meskipun ini bukan pertama lagi untuknya.


"Atas nama Ibu Avica." Panggil seorang perawat wanita.


"Saya sus." Jawab Avica.


"Silahkan masuk, Bu!" ucap perawat tersebut mempersilahkan Avica untuk masuk.


"Baik." Avica pun beranjak dari tempat duduknya dan disusul oleh Abizar untuk memasuki ruangan.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan, Nyonya?" Tanya Dokter Nindy.


"Jadi gini dok, tadi pagi saya sempat mual dan muntah. Lalu pada saat saya diperiksa oleh dokter pribadi keluarga kami saya dianjurkan untuk test pack sebab saya telat datang bulan. Dan hasilnya muncul dua garis." Jelas Avica pada sang dokter.


"Baiklah, Kalau begitu silahkan anda berbaring saya akan memeriksa nya." Pinta sang Dokter.


Avica menuruti apa yang dikatakan dokter Nindy. Dirinya berbaring diatas ranjang rumah sakit.


"Baik, Ibu. Boleh disingkap bajunya sedikit dibagian perut?" Tanya dokter Nindy.


"Baik, Dok."


"Saya mulai periksanya ya, Bu." Ucap Sang Dokter.


Dokter Nindy mulai menuangkan sebuah jel yang biasa digunakan untuk USG atau melakukan pemeriksaan pada bagian perut untuk mengetahui kehamilan.


"Ibu bisa lihat dilayar, ini adalah kantung janin. Bisa dipastikan jika anda benar-benar positif hamil. Usia kandungan ibu baru memasuki 6 minggu. Diusia kandungan saat ini ibu butuh banyak istirahat tidak boleh setres dan kecapekan." Jelas Dokter Nindy.

__ADS_1


"Baik, Dok."


Avica tak menyangka, ternyata kini didalam perutnya ada malaikat kecil yang harus dirinya jaga. Ini adalah hasil buah cintanya dengan Abizar. Dirinya merasa sangat bahagia begitupun Abizar, dirinya berkali-kali lipat bahagia sebab dirinya akan memiliki anak lagi dengan wanita yang ia cintai.


__ADS_2