
"Tuan." Panggil seorang perawat.
"Iya, bagaimana istri saya sus?" Tanya Abizar.
"Istri anda memanggil tuan. Silahkan tuan masuk untuk menemani istri anda." Ujar sang perawat.
"Baiklah kalau begitu saya akan masuk." Kata Abizar.
Tanpa menunggu lama, Abizar pun memasuki ruang bersalin untuk menghampiri sang istri yang sedang bertaruh nyawa demi melahirkan buah cintanya bersama Avica.
Saat memasuki ruangan tersebut Abizar melihat istrinya berbaring diatas brankar dengan wajah pucat akibat menahan sakitnya kontraksi.
"Sayang.." Panggil Abizar saat menghampiri sang istri.
"Mas.." Balas Avica.
"Bagaimana kata dokter sayang?" Tanya Abizar.
"Dokter bilang baru pembukaan dua. Dan untuk melahirkan secara normal harus menunggu pembukaan lengkap dulu, yaitu 10." Jawab Avica.
"Kamu harus kuat ya, demi anak kita. Demi buah hati kita. Kamu wanita kuat sayang. Aku yakin kamu bisa melewati ini." Ujar Abizar memberi semangat pada istrinya.
"Aku akan berusaha mas. Demi anak kita aku akan berkorban." Ujar Avica.
"Aku sudah mengabari ayah dan bunda sayang. Mereka akan kesini. Mama sama papa juga sudah mas kasih tahu. Sebentar lagi pasti sudah sampai." Ucap Abizar. Avica hanya mengangguk untuk menanggapi ucapan sang suami.
"Ssttt.." Desis Avica tangannya mencengkram kuat tangan sang suami saat rasa sakit menyerangnya lagi.
"Sabar ya sayang. Kamu pasti kuat." Ujar Abizar sambil mengelus perut Avica.
"Tapi ini rasanya seperti mau keluar mas." kata Avica.
"Tenang dulu, biar aku panggilkan dokternya." Ucap Abizar.
"Dokter.." Panggil Abizar.
"Iya Pak. Apa Ibu Avica sudah merasa ingin buang air besar?" Tanya dokter Nindy.
"Sepertinya begitu dok, istri saya bilang katanya rasanya seperti ingin keluar." Ujar Abizar.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu biar cek dulu pembukaannya." Dokter Nindy pun berjalan menghampiri Avica yang sedang berbaring diatas brankar untuk melakukan pemeriksaan.
"Pembukaannya sudah lengkap. Sus, tolong persiapkan semuanya." Ujar dokter Nindy.
"Baik dok." Beberapa perawat menyiapkan alat-alat yang akan digunakan untuk membantu persalinan Avica.
Abizar yang mendengar jika sang istri sudah siap akan melahirkan pun terus saja menyemangati istrinya yang akan berjuang melahirkan anaknya.
Dokter Nindy memberi arahan pada Avica untuk mengejan. "Tarik nafasnya bu lalu hembuskan. Ayo bu sedikit lagi."
Avica berusaha sekuat mungkin untuk mengejan. Dirinya tidak ingin menyerah, ini demi anaknya, buah hatinya bersama Abizar. Avica terus mengikuti arahan sang dokter hingga akhirnya tangisan bayi itu pecah didalam ruang bersalin tersebut.
"Oeekkk...ooeekkk..ooeeekkk.."
"Alhamdulillah, Selamat ya Pak Bu bayinya laki-laki." Ujar sang dokter. Lalu menyerahkan bayi itu pada perawat supaya dibersihkan terlebih dahulu.
"Selamat sayang kamu berhasil melahirkan putra kita. Terima kasih sudah mau berjuang untuk ku dan untuk anak-anak kita. Aku mencintaimu." Ucap Abizar dengan rasa bahagia.
"Aku juga mencintaimu mas. Terima kasih juga sudah menemaniku berjuang." Balas Avica.
"Pak, silahkan anda mengadzani bayinya terlebih dahulu." Ujar perawat yang membawa bayinya.
"Baiklah." Abizar pun menerima bayi mungilnya yang baru saja istrinya lahirkan itu.
"Sayang, lihatlah putra kita. Dia sangat tampan. Wajahnya sangat mirip denganmu." Ucap Abizar saat memperlihatkan bayi nya pada sang istri.
"Kamu benar mas bayi kita sangat tampan. Hidungnya juga mirip seperti papanya." Balas Avica.
"Bu, silahkan anda mencoba untuk menyusuinya." Ujar sang perawat.
"Baik sus, saya akan mencobanya." Jawab Avica.
"Baiklah kalau begitu kami keluar dulu, jika butuh sesuatu bisa panggil kami." Pamit salah satu perawat itu.
"Baik sus." Jawab Avica.
"Sayang, aku akan memanggil mama dulu. Biar bisa bantu kamu untuk menyusui putra kita." Ujar Abizar.
"Baik mas. Aku juga belum begitu paham bagaimana cara menyusui dengan benar." Ucap Avica.
__ADS_1
Abizar keluar dari ruang tersebut untuk menghampiri orang tuanya.
"Abi.." Panggil bu Sarah saat Abizar keluar dari ruang bersalin itu.
"Mama." Balas Abizar lalu memeluk sang mama.
"Bagaimana anak dan istri mu, Bu?" Tanya bu Sarah saat membalas pelukan sang putra.
"Mereka baik-baik saja ma. Istri ku selamat dan putraku terlahir dengan sangat sehat." Ujar Abizar.
"Selamat nak, mama ikut bahagia." Ucap bu Sarah.
"Nak Abi, apa boleh kami melihatnya?" Tanya Bu Linda yang dari tadi hanya mendengar percakapan antara Abizar dan bu Sarah sambil terus mengucap syukur.
"Bunda, boleh bun. Bunda sama mama masuk saja. Bantu Ica untuk menyusui." Jawab Abizar yang baru menyadari keberadaan mertuanya.
"Baiklah kalau begitu, Bunda akan masuk. Mari bu Sarah kita masuk. Saya tidak sabar ingin melihat cucu kita." Ajak bu Linda pada bu Sarah dengan antusias.
Bu Linda dan bu Sarah pun masuk ke dalam ruang bersalin tersebut untuk melihat kondisi Avica dan bayinya.
"Caca." Panggil bu Linda pada putri nya yang baru saja melahirkan.
"Bunda." Sahut Avica. Bu Linda menghampiri Avica lalu memeluknya.
"Bunda, Caca sudah merasakan bagaimana rasanya berjuang bertaruh nyawa untuk melahirkan seorang anak. Maafkan Caca jika pernah melukai hati bunda." Ujar Avica disela-sela tangisnya. Dirinya telah merasakan bagaimana perjuangan seorang ibu, dan itu pasti juga dirasakan ibundanya dulu. Bu Sarah yang melihat pemandangan di depannya itu pun juga merasa terharu.
"Nak, tanpa meminta pun bunda pasti akan memaafkan kesalahan Caca. Sekarang kamu sudah menjadi ibu jadi kamu harus bisa mendidik anak-anak mu dengan baik." Balas Bu Linda.
Lalu Avica melepaskan pelukannya pada bu Linda dan beralih memeluk ibu mertuanya.
"Mama, maaf jika Caca punya salah sama mama. " Ucap Avica.
"Tidak perlu minta maaf sayang. Kamu tidak pernah punya salah sama mama. Sudah jangan menangis kasihan putramu jika kamu menangis. Nanti asinya akan susah untuk keluar." Ujar bu Sarah menenangkan menantunya. Avica pun mengangguk lalu menghapus air matanya.
"Sekarang coba kamu susui anakmu, biar mama sama bundamu yang bantu." Ucap bu Sarah.
"Pertama-tama tenangkan dulu pikiranmu biar asinya bisa keluar." Ujar bu Linda menimpali.
Saat dirasa pikirannya telah tenang kembali, Avica mencoba untuk menyusui bayinya. Awal-awal memang sedikit susah. Namun dengan ketelatenan Avica akhirnya bayi mungil itu berhasil menghisap asinya.
__ADS_1
Avica merasa terharu, sebab ini baru pertama kali dirinya rasakan menjadi seorang ibu yang sesungguhnya. Dan ini pengalaman pertamanya menyusui bayinya sendiri yang baru saja dirinya lahirkan.
Kini Avica dan bayinya telah dipindah ke ruang VVIP. Tak salah jika Abizar menempatkan istri dan anaknya ketempat itu karena Abizar adalah orang terpandang dan kaya raya. Jadi Abizar ingin anak dan istrinya bisa istirahat dengan nyaman dan tenang.