Baby Sitter Anakku Adalah Jodohku

Baby Sitter Anakku Adalah Jodohku
Bab41


__ADS_3

"Bagaimana Alula, apa masih rewel?" Tanya Abizar pada Avica saat mereka telah menyelesaikan makan siangnya dan berpindah diruang keluarga.


"Alhamdulillah, hari ini Alula sudah mau bermain dan tidak rewek lagi, mas." Jawab Avica.


"Baguslah kalau begitu." Ujar Abizar "Apa tadi Sely kesini lagi?" Tanya Abizar lagi.


"Iya. Tadi sekitar jam setengah 10 mbak Sely kesini lagi." Jawab Avica.


"Apakah dia memaksa untuk masuk lagi?"


"Iya. Dia memaksa pak Usman untuk membukakan pintu gerbangnya. Tapi pak Usman tidak menghiraukan nya. Sampai-sampai pak Usman tidak bisa menghadapinya lagi, jadi aku harus menghadapinya juga." Jelas Avica.


"Apakah dia menyakiti mu?" Tanya Abizar sedikit khawatir.


Mendengar pertanyaan Abizar barusan, Avica terdiam sejenak. Jika mengingat apa yang dilakukan Sely tadi jelas menyakiti perasaan Avica. Tapi Avica tidak ingin mengatakan hal itu pada suaminya. Dirinya tidak ingin masalahnya akan bertambah.


"Tidak mas." Ucap Avica bohong.


"Apa kamu tidak berbohong? Aku tahu betul bagaimana Sely. Dia tidak akan semudah itu untuk menyerah jika ingin mendapatkan sesuatu. Wanita itu akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya meskipun harus menyakiti orang lain." Ucap Abizar yang tak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh sang istri.


"Tidak, Mas. Aku mengatakan yang sebenarnya." Jelas Avica.


"Baiklah." Abizar sebenarnya tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan sang istri. Dirinya akan mencari tahu sendiri apa saja yang telah dilakukan Sely pada istrinya saat memaksa ingin masuk kedalam rumahnya.


"Mas Abi tidak kembali kekantor?" Tanya Avica.


"Tidak. Mas sengaja menyelesaiakan pekerjaan hari ini dengan cepat. Supaya bisa pulang lebih awal." Ujar Abizar.


"Ohh, begitu ya."


"Bos kan bebas. Mau pulang cepat atau tidak mau masuk kerja atau tidak , tidak akan ada yang memarahinya." Ucap Abizar dengan bangganya.


"Iya aku tahu. Tapi jadi seorang bos juga harus memberikan contoh yang baik juga kan mas." Balas Avica.

__ADS_1


"Iya mas tahu. Ini juga tidak setiap hari. Ini karena aku pengen tahu kondisi Alula jadi aku memilih pulang lebih awal." Ujar Abizar.


"Mas Abi tidak perlu khawatir dengan Alula. Kan ada aku." Ucap Avica.


"Iya, mas tahu. Tapi mas tak tega dengan kamu, kemarin seharian kamu sudah menjaga Alula . Pasti kamu sangat lelah." Kata Abizar.


"Mas, kan semalam aku sudah bilang, kalau itu sudah tugas aku." Jelas Avica.


"Mas tau, Ca. Jadi biar hari ini mas bantu kamu jaga Alula. Jadi kamu istirahat dulu." Ujar Abizar.


"Tidak perlu mas. Lebih baik mas balik ke kantor lagi. " Tolak Avica dengan halus.


"Kamu mengusirku?" kata Abizar.


"Tidak mas. Untuk apa aku mengusir mas Abi, ini kan rumah mas Abi sendiri." Ucap Avica.


"Rumahku, rumahmu juga sayang." Ucap Abizar.


Setelah berbincang-bincang dengan Abizar diruang keluarga tadi, kini Avica telah berada didalam kamar Alula untuk menidurkan anak tersebut. Avica berbaring disamping Alula dengan tangan yang terus mengusap-usap kepala anak itu supaya segera tertidur. Tak terasa Avica pun merasakan kantuk telah menyerangnya, hingga tanpa sadar dirinya ikut tertidur di samping putri sambungnya itu.


"Pak Usman.." Panggil Abizar sambil sedikit mengguncang tubuh pak Usman.


Pak Usman yang merasa tubuhnya terasa ada yang mengguncangnya langsung terbangun dari tidurnya. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul pak Usman mencoba menoleh kesamping. Ketika melihat majikannya ada disamping pak Usman secara reflek langsung berdiri.


"Tuan Abi. Ada apa tuan?" Tanya pak Usman saat kesadarannya benar-benar telah terkumpul.


"Aa yang ingin saya tanyakan pada pak Usman." Ucap Abizar.


"Silahkan, tuan mau tanya apa." Ujar pak Usman.


"Tadi saat saya telah pergi ke kantor apakah Sely datang lagi, pak?" Tanya Abizar.


"Iya, tuan. Non Sely tadi kesini lagi. Dan memaksa saya untuk membuka pintu gerbang nya. Tapi saya tidak membukanya, tuan." Jelas Pak Usman.

__ADS_1


"Apakah istri saya menemuinya?"


"Iya, tuan. Nyonya Ica terpaksa menemuinya saat saya mengatakan jika non Sely tidak mau pergi."


"Lalu apa saja yang dikatan Sely kepada Avica?" Abizar terus saja memberikan pertanyaan pada Pak Usman.


"Saya sempat dengar, non Sely mengatakan pada Nyonya Avica jika nyonya itu maaf, wanita murahan. Tapi nyonya hebat tuan, soalnya nyonya berani membalikkan kata-kata non Sely barusan." Dengan takut-takut pak Usman mengatakan hal tersebut.


Saat mendengar istrinya dikatakan murahan oleh orang lain, Abizar merasa sangat emosi. Tapi tiba-tiba hatinya merasa tenang jika ternyata istrinya itu tidak lemah dan bisa menghadapi Sely.


"Beraninya dia mengatakan hal seperti itu pada istriku. Awas saja aku akan memberimu pelajaran." Gumam Abizar dalam hati.


"Apakah wanita tadi juga melakukan kekerasan fisik?" Tanya Abizar lagi.


"Tidak tuan. Justru nyonya langsung mengusirnya tuan." Jelas Pak Usman.


"Baikalah kalau begitu pak. Maaf sudah mengganggu istirahat bapak." Ucap Abizar yang sebenarnya merasa bersalah telah mengganggu waktu istirahat pegawai nya.


"Tidak apa-apa, tuan." Ucap Pak Usman.


"Kalau begitu saya masuk dulu pak, sebelum istri saya mencari saya. Silahkan dilanjut istirahat nya." Pamit Abizar.


"Baik, tuan."


Abizar pun melangkah pergi menjauh dari pos satpam tersebut. Dirinya melangkah memasuki kediamannya, lalu mencari sang istri yang sedang berada dikamar sang putri. Saat Abizar telah tiba tepat di depan kamar Alula, dirinya pun langsung membuka kamar tersebut .


"Sayang.." Panggil Abizar pada sanv istri. Karena tak ada sahutan Abizar pun menghampiri sang istri yang tertidur disamping putrinya.


"Tidur ternyata. Pantesan dipanggil nggak nyahut." Gumam Abizar. "Pasti capek banget." Ucapnya lagi.


"Lebih baik aku ke ruang kerja saja." Ujar Abizar. Sebelum pergi Abizar membenarkan selimut pada tubuh sang istri dan putrinya. Setelah itu barulah Abizar melangkah pergi dari kamar sang putri untuk menuju ruang kerjanya..


Abizar teringat dengan apa yang dikatakan oleh pak Usman tadi. Dirinya tak habis pikir dengan istrinya itu, kenapa harus menyembunyikan hal tersebut pada dirinya. Apakah sang istri tidak ingin dirinya mengetahuinya?. Entahlah yang jelas Abizar salut pada istri kecilnya itu. Abizar pikir Avica akan takut pada Sely, tapi ternyata pikiran nya salah. Justru Avica berani menghadapi wanita tak tahu diri tersebut. Bagaimana tidak, Abizar menjulukinya wanita tak tahu diri sebab wanita itu tidak pernah bersyukur dengan apa yang dimilikinya sebelumnya. Saat sudah memiliki suami dan keluarga yang mapan dan penuh kasih sayang wanita itu masih kurang mensyukuri nya dan lebih memilih untuk mengejar cita-cita nya.

__ADS_1


Kini saat Abizar telah mendapat kan istri yang lebih baik dari dirinya dan bisa melengkapi keluarganya, wanita itu kembali dan ingin masuk kembali kedalam kehidupan Abizar. Tapi Abizar tak segampang itu untuk luluh kembali padanya, Sebab hati Abizar telah diisi dengan nama Avica dan kehidupan Abizar semakin berwarna semenjak ia menjadikan Avica sebagai istrinya.


__ADS_2