
Avica memilih tidur lebih dulu tanpa menunggu sang suami yang masih sibuk di ruang kerjanya. Matanya sudah sangat mengantuk dan sudah tidak bisa menahannya lagi. Baru beberapa menit dirinya memejamkan mata Avica sudah terlelap dalam tidurnya.
Abizar yang baru menyelesaikan pekerjaan nya pun memilih untuk langsung memasuki kamarnya. Abizar perpikir jika sang istri pasti sudah tertidur. Saat membuka pintu kamar dugaannya benar, sang istri sudah tertidur dengan pulas nya.
Abizar yang merasa tubuhnya sudah sangat lelah pun memilih langsung menuju kamar mandi untuk buang air kecil lalu sikat gigi dan mencuci kaki serta tangannya. Setelah Itu Abizar pun keluar dari dalam kamar mandi kemudian mencari baju ganti untuk dirinya tidur.
Setelah berganti baju, Abizar menuju ranjang untuk membaringkan tubuhnya, sebelum tidur Abizar mengecup kening sang istri terlebih dahulu.
"Cuupp. Selamat malam sayang. Semoga mimpi indah." Gumam Abizar. Avica pun tak terganggu sedikit pun dengan kecupan yang diberikan sang suami.
Jam 5 pagi Avica sudah terbangun dari tidurnya. Tumben sekali semalam dirinya tidak mengganggu tidur sang suami untuk membelikannya makanan. Mungkin karena sebelum tidur dirinya sudah sangat kenyang.
Avica beranjak dari ranjangnya, lalu menuju kamar mandi untuk buang air kecil dan mandi sekalian. Karena tubuhnya merasa sangat gerah meski pun dirinya tidur juga menggunakan AC. Itu lah yang dirasakan Avica saat hamil, selalu merasa gerah meski diruangan ber-AC. Selesai mandi Avica berganti pakaian yang longgar yaitu daster. Jika sedang di rumah Avica sering memakai daster. Sebab menurutnya itu lebih nyaman, dan sang suami tak mempermasalahkan nya jika sang istri memakai daster, yang terpenting nyaman untuk sang istri.
Saat ini Avica sedang memasak untuk sarapan keluarga nya. Semenjak kehamilannya memasuki trimester ke 2 Avica sudah tidak mengalami mual dan muntah lagi. Jadi dirinya mulai melakukan tugasnya memasak untuk keluarga kecilnya. Avica pun juga sudah mulai nafsu makan hingga saat ini.
Selesai memasak Avica menyajikan masakannya dimeja makan lalu setelah itu membangunkan sang suami dan membantu suaminya bersiap untuk ke kantor. Sedangkan untuk urusan Alula sang anak sambung kini sudah menjadi tugas mbak Yuni.
Dengan pelan Avica menaiki anak tangga satu-persatu. Saat membuka pintu kamar ternyata sang suami sudah bangun dan sedang duduk ditepi ranjang untuk mengumpulkan kesadarannya.
"Mas.." Panggil Avica pada Abizar.
Abizar menoleh, "Good morning sayang.." Kata Abizar.
"Good morning mas. Mas Abi mau mandi sekarang?" Tanya Avica.
"Iya. Tapi kamu nggak usah siapin air nya. Biar mas sendiri. Kamu siapin baju buat mas aja." Ujar Abizar.
"Oh, gitu. Ya udah kalo gitu mas mandi aku siapin bajunya dulu." Balas Avica.
"Morning kiss dulu dong." Ucap Abizar.
"Nggak mau, nanti aja habis mandi." Ucap Avica sambil tersenyum.
"Ya udah, mas mandi nanti setelah mandi mas tagih." Kata Abizar.
__ADS_1
"Iya mas. Buruan mandi keburu siang." Perintah Avica.
Abizar pun beranjak menuju kamar mandi, sedangkan Avica dia langsung menyiapkan pakaian untuk dikenakan suaminya ke kantor. Mulai dari boxer, kemeja celana, jas dan dasi. Tak lupa Avica juga menyiapkan sepatu untuk suaminya dan membersihkannya terlebih dahulu sebelum dipakai sang suami.
Abizar telah bersiap untuk pergi ke kantor, hanya tinggal sarapan bersama anak dan istrinya saja. Abizar pun merangkul pundak sang istri saat akan menuruni anak tangga menuju ruang makan untuk sarapan. Sesampainya di meja makan ternyata sudah ada sang putri yang duduk menunggu dirinya dan sang istri dengan ditemani oleh baby sitternya.
"Tuan, Nyonya saya pamit ke belakang dulu." Ucap Mbak Yuni saat kedua majikannya telah tiba untuk sarapan.
"Iya mbak." Jawab Avica.
Mbak Yuni memang tidak melayani Alula saat makan. Sebab Avica ingin dirinya sendiri yang melayani keluarga sendiri. Avica mengambil kan makanan untuk suaminya terlebih dahulu lalu untuk Alula dan terakhir barulah dirinya. Mereka mulai menikmati sarapan mereka masing-masing.
"Bagaimana belanjaannya kemarin?" Tanya Abizar pada sang istri.
"Udah dikirim. Semua ada dikamar calon bayi kita mas." Jawab Avica.
"Kamu yakin semua sudah lengkap?" Tanya Abizar lagi.
"Aku nggak tahu kurang apa nggak nya. Nanti kalau ada yang kurang kita beli lagi mas." Ujar Avica.
"Coba tebak dedek nya laki-laki apa perempuan? Alula maunya laki-laki apa perempuan?" Tanya balik Avica.
"Pengennya perempuan, Ma. Biar ada temannya main bonekah." Jawab Alula.
"Kalau dedeknya laki-laki nggak mau?" Tanya Avica lagi.
"Mau... Tapi nggak bisa diajak main boneka." Ujar Alula.
"Ya nggak apa-apa sayang. Jika nanti adek bayinya laki-laki atau perempuan Alula harus tetep sayang sama adeknya ya." Ucap Avica menasehati anak sambungnya.
"Iya mama. Alula pasti akan tetap sayang sama adek bayinya. Nggak masalah kok kalau dedek bayinya laki-laki atau perempuan." Kata anak itu.
"Anak pintar." Kata Abizar.
Mereka kini telah menyelesaikan sarapannya. Abizar sudah bersiap akan berpamitan untuk pergi ke kantor pada anaknya dan istrinya.
__ADS_1
"Alula, papa berangkat ke kantor dulu ya. Jaga mama sama dedek bayinya. Oke!" Pamit Abizar pada sang putri.
"Iya, papa. Alula pasti akan jaga mama sama dedek bayinya." Balas Alula.
"Mama nganter papa kedepan dulu ya sayang." Ucap Avica.
"Iya, Ma."
Avica beranjak dari duduknya lalu menghampiri sang suami untuk menggandeng lengan sang suami.
"Kamu dirumah jangan capek-capek ya. Jangan sering-sering naik turun tangga. Kalau butuh apa-apa minta bantuan bi Imah atau mbak Yuni ya." Ucap Abizar mengingatkan sang istri.
"Iya, mas. Mas Abi nggak perlu khawatir, aku akan ingat kata-kata mas Abi." balas Avica.
"Baiklah kalau gitu mas berangkat dulu ya. Kalau ada apa-apa hubungi mas." Pamit Abizar. Lalu tangannya mengelus-elus perut sang istri "Anak papa jangan nakal ya diperut mama. Papa mau kerja dulu ya." Ujarnya lagi.
"Iya Papa." Ucap Avica meniru suara anak kecil.
"Mas Abi Hati-hati dijalan." Ujar Avica lagi.
"Iya sayang."
Abizar pun menumpangi mobilnya. Lalu secara perlahan Abizar melajukannya untuk meninggalkan pekarangan rumahnya. Saat Abizar sudah meninggalkan halaman rumahnya, Avica pun kembali masuk ke dalam rumah. Baru saja akan menutup pintu, ternyata ada mobil dari sang mertua memasuki pekarangan rumah tersebut. Saat mobil berhenti, keluar lah Bu Sarah lalu menghampiri menantunya yang menunggunya di teras rumah.
"Mama.."
"Hai sayang." Menantu dan mertua itu oun saling berpelukan untuk melepas rindu.
"Suamimu udah berangkat ke kantor?" Tanya Bu Sarah pada menantunya.
"Sudah, ma. Baru saja." Jawab Avica.
"Ohh, Mama kira izin nggak masuk lagi." Ucap bu Sarah. Bukan tanpa alasan bu Sarah berkata seperti itu, sebab putranya itu sering tidak masuk kerja semenjak istrinya hamil. Alasannya ingin menjaga Avica. Padahal dirinya lah yang tidak bisa jauh dari istrinya.
"Nggak ma. Yuk ma kita masuk dulu." Ajak Avica.
__ADS_1