Baby Sitter Anakku Adalah Jodohku

Baby Sitter Anakku Adalah Jodohku
Bab64


__ADS_3

Hari ini Sely membuat janji dengan Avica untuk bertemu saat menjemput Alula di sekolahnya. Avica pun telah meminta izin pada suaminya jika akan bertemu dengan Sely. Dan Abizar pun mengizinkannya.


"Mas, nanti siang aku mau ketemu mbak Sely di sekolahan nya Alula." Ujar Avica pada suaminya.


"Iya. Hati-hati kalau diluar ya." Pesan Abizar pada sang istri tercinta. Karena Abizar tak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk pada istri dan anak-anak nya.


"Makasih mas." Ucap Avica.


"Makasih untuk apa?" Tanya Abizar.


"Karena sudah izinin aku ketemu dengan mbak Sely." Kata Avica.


"Emangnya ada apa kok tumben ngajak ketemu?" Tanya Abizar penasaran.


"Katanya cuma pengen ketemu dan makan bareng." Ucap Avica.


"Oh, gitu." Kata Abizar.


"Emang kenapa sih mas? Masih ragu sama mbak Sely ya?" Tanya Avica menebak isi pikiran sang suami.


"Iya. Siapa tahu dia punya rencana jahat sama kamu dan anak-anak." Ucap Abizar was-was.


"Jangan terlalu berpikir negatif dulu mas. Itu nggak baik loh. Aku yakin kok kalau mbak Sely udah benar-benar berubah." Ujar Avica meyakinkan sang suami.


"Kan wajar kalau aku khawatir. Sebab dia pernah jahat sama kamu." Kata Abizar.


"Mas Abi tenang aja. Tidak akan terjadi hal buruk kok." Ucap Avica.


"Baiklah. Yang terpenting kamu harus bisa jaga diri dan anak-anak." Kata Abizar mengingatkan sang istri.


"Iya mas." Jawab Avica. "Oh ya, nanti mas Abi makan siang di kantor dulu aja ya." Ucap Avica lagi.


"Iya sayang." Jawab Abizar.


Abizar pun memberikan izin sang istri untuk keluar dengan mantan istrinya dulu. Sebab Abizar berpikir tidak ada salahnya istrinya itu jalan-jalan dan bersenang-senang di luar dengan Sely. Siapa tahu Sely benar-benar sudah berubah dan bisa menjadi teman untuk Avica.


Pagi pun berganti siang, kini Avica sudah berada di sekolahan Alula. Tapi Sely belum datang, mungkin masih dalam perjalanan. Tak lama bel sekolah pun bunyi pertanda jika jam pelajaran telah selesai dan kini waktunya pulang.


"Mama.." Panggil Alula pada ibu sambungnya itu.


Avica yang sibuk dengan ponselnya karena ingin menghubungi Sely pun mengurungkan niatnya karena panggilan dari sang putri sambung.


"Iya sayang. Udah pulang?" Tanya Avica pada Alula.


"Udah ma." Jawab Alula.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu, yuk masuk mobil." Ajak Avica pada Alula. Karena Sely pun tak kunjung datang juga.


"Avicaaa.." Teriak seseorang memanggil Avica.


Avica pun mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam mobil. Lalu dirinya menoleh kearah sumber suara seseorang yang memanggilnya tadi.


"Mbak Sely.." Ucap Avica. Ternyata Sely lah yang memanggil Avica. Sepertinya wanita itu baru sampai disekolahan sang putri.


"Aku pikir mbak Sely nggak jadi kesini." Ucap Avica.


"Tadi jalanan macet, jadi telat deh." Ujar Sely.


"Oh gitu. Pantesan lama." Kata Avica.


"Kita makan siang Cafe Jelita ya. Aku pengen ngobrol sama kamu." Ajak Sely pada Avica.


"Ya udah kalau gitu, yukk." Avica pun menurutinya.


"Kalian semobil sama aku aja." Pinta Sely.


"Tapi..." Omongan Avica terpotong.


"Biar sopir kamu mengikuti dari belakang. Aku tahu Abizar tidak akan membiarkan mu keluar dengan anak-anak tanpa sopir. Pasti dia sangat mengkhawatirkan kalian." Ucap Sely yang tentang kebingungan yang ada diwajah Avica.


"Baiklah. Aku tunggu." Jawab Sely.


Avica pun menghampiri mobilnya lalu memanggil Alula. Kemudian berpesan pada sopir pribadinya untuk mengikuti mobil Sely dari belakang.


"Pak, nanti jalannya di belakang mobilnya mbak Sely ya." Pinta Avica pada sopirnya.


"Baik nyonya." Jawab pak Budi.


"Baiklah. Lula, Al yuk pindah naik mobil mama Sely." Ajak Avica pada Alula dan Al.


"Baik ma." Jawab Alula.


Avica pun menggendong Al untuk keluar dari dalam mobil.


"Kita mau kemana ma?" Tanya Alula penasaran pada Avica.


"Kita mau makan siang bersama sayang." Jawab Avica.


"Ohh.."


Mereka pun menghampiri Sely yang masih menunggunya ditempat semula. Avica masih menggendong Al untuk dirinya bawa masuk kedalam mobil Sely.

__ADS_1


"Ayo mbak." Ajak Avica.


"Yukk."


Mereka pun memasuki mobil Sely. Sely mengemudikan mobilnya sendiri. Dan disampingnya ada Avica. Sedangkan dibangku belakang ada Alula dan Al.


"Kita mau makan dimana ma?" Tanya Alula pada kedua mamanya.


"Di cafe Jelita. Lula mau?" Ucap Sely.


"Mau ma. Kebetulan Lula juga udah laper banget." Ujar Alula.


"Kok tumben. Kan bawa bekal kak?" Tanya Avica pada anak sambungnya itu.


"Tadi bekalnya aku bagi sama teman ma. Kasian katanya lapar karena nggak sempet sarapan di rumah sebelum berangkat. Karena nggak ada makanan juga." Ucap Alula.


"Memang tidak ada yang memasak?" Tanya Sely.


"Nggak ada ma. Pembantunya kemarin baru berhenti bekerja karena nggak betah. Terus mama nya tidak pernah masak dan sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan papanya ada diluar kota urusan bisnis." Ucap Alula menceritakan tentang tamannya itu.


"Kasihan sekali dia. Lain besok-besok mama akan bawakan bekal lebih. Nanti berikan temanmu itu ya." Ujar Avica pada Alula.


"Oke, ma."


Sely diam saja ketika putrinya menceritakan kehidupan temannya itu. Sely berfikir jika dirinya dulu juga pernah menelantarkan putrinya itu. Tapi nasib teman Alula itu sedikit berbeda. Sebab meskipun dulu dia meninggalkan putrinya itu masih ada Abizar yang masih peduli dengan putrinya. Sedangkan teman Alula itu, meskipun memiliki keluarga yang lengkap tapi tak mendapatkan perhatian sama sekali dari orang tuanya.


Saat tak sengaja melihat Sely, Avica melihat ada raut berbeda dari wanita itu. Seperti raut wajah sedih.


"Mbak kenapa?" Tanya Avica.


"Tidak apa-apa kok. Aku hanya kasian dengan teman Lula. Dan aku pun juga pernah menelantarkan putriku itu. Untungnya ada kamu yang rela merawat nya meski bukan anak kandungmu." Jawab Sely.


"Sudah mbak tidak perlu memikirkan yang sudah berlalu. Sekarang mbak sudah bisa mengganti kesalahan mbak yang dulu. Setiap orang pasti ada prosesnya mbak." Ucap Avica.


"Kau benar. Aku beruntung masih dikasih kesempatan untuk menebus kesalahanku pada anak ku. Aku tidak akan menyia-nyiakan hal itu. Aku akan berusaha menjadi orang tua yang baik bisa merawat dan membesarkan anak-anak ku dengan baik." Ujar Sely.


"Aku yakin mbak Sely pasti bisa jadi ibu yang baik." Kata Avica.


"Terima kasih ya Ca. Sudah membuatku berubah." Ucap Sely pada Avica.


"Tidak perlu berterima kasih mbak. Mbak menjadi lebih baik itu karena niat mbak Sely sendiri. Dan dari jalan Tuhan yang sudah memberikan ujian pada bak Sely sehingga mbak Sely bisa merubah diri mbak menjadi diri yang lebih baik." Kata Avica.


"Tapi kamu juga yang sudah menyadarkan ku. Kebaikanmu membuatku sadar jika aku sudah jahat dan egois."


"Sudah mbak. Sekarang yang harus dipikirkan kehidupan kita kedepannya."

__ADS_1


__ADS_2