Baby Sitter Anakku Adalah Jodohku

Baby Sitter Anakku Adalah Jodohku
Bab48


__ADS_3

Pagi harinya saat akan sarapan, Avica dan Abizar dikagetkan dengan kedatangan Bu Sarah dan pak Adi yang secara tiba-tiba. Entah apa yang membuat kedua orang tua itu datang pagi-pagi dikediaman sang putra. Avica yang akan mengambilkan makanan untuk sang suami pun harus menundanya.


"Selamat pagi semuanya." Ucap Bu Sarah.


"Pagi, ma, pa." Jawab Avica.


"Papa sama mama tumben pagi-pagi udah kesini?" Tanya Abizar heran.


"Kamu itu ya Bi, kamu kenapa nggak ngasih tahu mama kalau istri kamu ini sedang hamil." Ucap bu Sarah tak terima.


"Bukannya Abi nggak mau ngasih tahu mama. Tapi Abi sengaja mau cari waktu yang tepat untuk ngasih tahu mama. Bisa dibilang mau kasih tahu mama kejutan, tapi mama sudah tahu duluan ya udah deh nggak jadi kejutan." Kata Abizar. "Pasti papa yang bilang ke mama." Ucao Abizar sambil menatap sang papa.


"Papa keceplosan, Bi. Papa juga di ancam mama mu." Bela Pak Adi.


"Palingan juga diancam disuruh tidur diluar." Tebak Abizar.


"Kok kamu tahu?" Tanya Pak Adi.


"Kan sudah biasa kalau mama ngambek sama papa ujung-ujungnya papa disuruh tidur diluar." Jawab Abizar santai.


"Apa kamu bilang? Dasar anak kurang ajar." Ucap Bu Sarah tak terima.


"Tidak, ma. Ampun." Ujar Abizar.


"Avica, bagaimana kehamilan kamu?" Tanya Bu Sarah pada sang menantu.


"Setiap pagi rasanya perut mual dan selalu muntah-muntah ma. Apa lagi kalau habis makan, pasti makanannya akan keluar semua." Ucap Avica.


"Itu wajar sayang, pada trimester pertama kebanyan ibu hamil memang seperti itu. Nanti kalau sudah memasuki trimester kedua dan ketiga sudah tidak lagi. Jika kamu mengunginkan sesuatu katakan pada suamimu jangan dipendam. Sebab itu tandanya kamu lagi ngidam." Ujar Bu Sarah pada mantunya.


"Iya, ma." Jawab Avica.


"Dan untuk kamu Abu, Jika istri mu menginginkan sesuatu usahakan kamu harus bisa menurutinya. Sebab jika tidak istrimu akan merasa sedih. Dan emosi ibu hamil itu tidak terkontrol jadi kamu harus sabar menghadapi istrimu." Ujar Bu Sarah pada sang putra.


"Iya mama." Jawab Abizar.


"Oh, ya. Alula sayang sini, Oma kangen sama cucu oma yang satu ini." Ucap Bu Sarah menyuruh sang cucu untuk menghampiri nya.


Alula pun beranjak dari duduknya lalu menghampiri sang Oma. "Alula juga kangen sama oma." Jawab anak itu. Bu Sarah pun menciumi kedua pipi sang cucu.

__ADS_1


"Sama opa nggak kangen nih?" Tanya pak Adi pura-pura merajuk.


"Alula juga kangen kok sama Opa." Ujar Alula lalu bergantian menghampiri sang opa untuk dicium kedua pipinya.


"Alula mau punya adik ya?" Tanya pak Adi pada sang cucu.


"Iya, Opa. Alula akan punya adik bayi. Jadi nanti Alula ada teman untuk bermain deh." Ujar Alula.


"Alula seneng kalau punya adik?" Tanya bu Sarah.


"Senang sekali oma." Ucap Alula.


"Anak pintar. Oh ya, ibu sama ayah kamu sudah kamu kasih tau belum, nak?" Tanya Bu Sarah pada menantu nya.


"Belum, ma. Nanti saja setelah ini." Ujar Avica.


"Oh, gitu. Ya sudah terserah kamu saja." Balas bu Sarah.


"Mumpung mama sama papa di sini yuk sekalian kita sarapan bersama." Ajak Avica pada kedua mertuanya.


"Iya, Sayang. Kebetulan papa sama mama juga belum sarapan." Ujar Bu Sarah.


"Biarin aja. Lagian kan mama juga sudah jarang kesini, Avica sama Alula juga jarang main kerumah kita." Kata Bu Sarah.


"Nanti kalau kondisi Avica sudah enakan akan Avica usahakan untuk main kerumah mama sama papa. Ngajak Alula juga." Ujar Avica yang tak enak pada mertuanya sebab dirinya memang benar-benar jarang kerumah sang mertua.


"Jangan sayang. Lebih baik biar mama sama papa aja yang kesini. Mama tidak ingin kamu kelelahan, kamu harus banyak-banyak istirahat dan jangan terlalu banyak beraktivitas." Ucap bu Sarah sambil menasehati menantunya.


"Benar apa kata mama kamu, nak. Kamu harus menjaga diri kamu dan calon cucu kita. Oke!" Ujar pak Adi ikut menimpali.


"Iya, Ma, Pa. Avica akan menjaga calon cucu kalian." Balas Avica.


Avica sangat bahagia, karena keluarga suaminya sangat menyayangi dirinya. Dan sangat peduli terhadapnya dan calon bayinya yang ada didalam kandungannya. Dirinya tidak menyangka akan mendapatkan suami dan keluarga yang sayang dan menerima dirinya yang terlahir dari keluarga tak berada. Sebab keluarga mereka tak membedakan kasta antara orang kaya dan orang miskin. Mereka menganggap semuanya sama saja dimata Tuhan.


"Ya udah yuk, kita mulai sarapannya. Nanti Papa sama Abi kesiangan ke kantornya." Ujar Bu Sarah.


"Hari ini Abi nggak ke kantor dulu, ma." Ucap Abizar sambil menunggu piringnya diisi makanan untuk dirinya sarapan.


"Kenapa? " Tanya bu Sarah mengerutkan kening.

__ADS_1


"Abi mau jaga Istri , Ma. Mau menemani Ica dirumah dulu." Ujar Abizar.


"Biar mama aja yang jaga istri kamu. Mumpung mama disini. Kamu ke kantor aja." Ucap bu Sarah.


"Tapi, Ma--" Ucapan Abi terpotong.


"Tidak ada tapi-tapi. Setelah sarapan kamu siap-siap ke kantor biar mama yang jaga Avica. Kamu tidak usah khawatir." Perintah Bu Sarah pada Abizar.


"Iya mas, bener kata mama. Mending kamu pergi ke kantor aja. Biar mama yang tamani aku." timpal Avica.


"iya deh, setelah ini aku ke kantor." Ucap Abizar pasrah.


Akhirnya mereka pun melakukan sarapan bersama. Setelah sekian lama hari ini mereka bisa melakukan sarapan bersama.


"Alula makan yang banyak ya sayang. Biar cepet gede biar bisa gendong adek bayinya nanti kalau sudah lahir." Ujar bu Sarah pada sang cucu.


"Oke, Oma. Alula akan makan yang banyak biar cepet gede." Jawab Avica dengan semangat.


"Kamu juga, Ca. Makan yang banyak, makan buahnya juga biar janin kamu nutrisinya tercukupi. Kalau seumpama makan-makanan berat membuat kamu mual dan muntah, lebih baik kamu makan buah-buahan sama susu saja ya. Biar badan kamu nggak lemes." Ucap Bu Sarah menasehati sang mantu.


"Iya, Ma. Tapi Avica usahakan makan nasi meskipun sedikit. Soalnya kalau banyak bakal keluar lagi." Jawab Avica.


"Nggak apa-apa. Yang penting perutnya terisi, biar nggak lemes." kata Bu Sarah.


"Kamu nggak ngrasain ngidam atau pengen sesuatu gitu?" Tanya Bu Sarah yang sangat antusias dengan kehamilan menantunya.


"Pernah ma, tadi malam aja Minta martabak telur, ditengah malam pula. Pas udah dapat martabak nya ternyata udah tidur. Ya udah aku ikut tidur aja." Abizar menimpali.


"Mas Abi nggak iklas ya?" Tanya Avica dengan cemberut.


"Bukan begitu sayang. Mas iklas kok. Apa sih yang nggak buat istriku ini." Gombal Abizar.


"Halah, anak sama bapak sama saja. Kalau istri sudah ngambek langsung gombal-gombal." Ujar bu Sarah.


"Ma, Biarin Abi berjuang. Mama diam aja." Ucap Pak Adi.


"Iya deh."


Avica pun masih merajuk pada suaminya. Kehamilannya sungguh membuatnya berubah-ubah. Mungkin sang anak yang ada di kandungannya itu ingin memberi pelajaran pada papanya.

__ADS_1


__ADS_2