Baby Sitter Anakku Adalah Jodohku

Baby Sitter Anakku Adalah Jodohku
Bab65


__ADS_3

"Kamu mau pesan apa, Ca?" Tanya Sely saat mereka telah duduk di dalam Cafe Jelita.


"Aku jus alpukat aja mbak. Terus Salad buah untuk Al." Jawab Avica.


"Kalau Alula mau makan apa?" Tanya Sely pada putrinya itu.


"Aku mau spaghetti sama es krim, ma." Jawab Alula.


"Baiklah. Mbak kami pesan jus aplukat satu, salad buah satu, spaghetti satu, ea krim satu, croffle 1 sama cappucino nya satu." Ucap Sely pada pelayan cafe yang siap mencatat pesanan mereka.


"Baik. Kalau begitu ditunggu dulu ya." Ujar sang pelayan lalu pergi meninggalkan mereka. " Mari. Saya tinggal dulu."


Setelah kepergian pelayan cafe tadi mereka pun berbincang-bincang sambil menunggu pesanan mereka jadi.


"Ada apa mbak kok tumben ngajak ketemu diluar?" Tanya Avica pada Sely.


"Aku hanya kangen sama Alula kok." Jawab Sely.


"Kenapa nggak main ke rumah aja mbak? Kenapa harus ketemu di luar?" Tanya Avica lagi.


"Hari ini aku sedikit sibuk. Sebenarnya ada pemotretan. Mumpung ada waktu aku ajak makan kalian disini karena lokasinya tidak jauh dari sini." Jelas Sely.


"Ohh, mbak Sely masih jadi model?" Tanya Avica.


"Iya. Sebenarnya aku disuruh berhenti sama mas Devan. Bukannya aku tidak mau tapi aku bilang kepadanya nanti jika aku sudah hamil akan berhenti. Dan akan lebih fokus untuk mengurus keluarga. Kalau sekarang aku berhenti dari pekerjaanku itu aku akan merasa bosan jika setiap hari di rumah. " Kata Sely.


"Sekarang gimana, sudah ada tanda-tanda nya belum mbak?" Tanya Avica penasaran.


"Belum. Mungkin aku belum dipercaya lagi sama Tuhan untuk memiliki anak lagi." Jawab Sely lesu.


"Sabar dulu mbak. Mungkin ini kesempatan mbak untuk menikmati waktu berdua dengan suami mbak Sely sebelum dihadirkannya buah hati kalian. Jangan langsung pesimis mbak. Selagi ada usaha pasti ada hasilnya. Meskipun tidak tahu itu kapan." Ucap Avica memberi semangat pada Sely.


"Kamu benar, Ca. Aku akan terus berusaha dan berdoa. Dan aku akan menggunakan waktuku sekarang untuk menikmati waktu berdua dengan mas Devan." Balas Sely.


"Mbak, kalau boleh kasih saran lebih baik mbak Sely kurangi waktu kerjanya. Biar mbak Sely tidak terlalu capek. Dan lebih banyak beristirahat." Saran Avica.


"Terama kasih Ca untuk sarannya. Kamu sudah peduli dengan ku meskipun baru saling mengenal." Ujar Sely.


"Sama-sama mbak." Jawab Avica.


Tak lama pesanan mereka pun sampai dan telag dihidangkan di atas meja.

__ADS_1


"Terima kasih, mbak." Ucap Avica pada pelayan yang telah menyajikan pesanan mereka.


"Sama-sama. Mari." Pelayan tersebut pun pamit dari hadapan mereka.


"Ayo Lula di makam. Katanya tadi sudah lapar." Ujar Avica pada Alula.


"Iya ma." Jawab Alula.


"Nanti kalau mau nambah bilang sama mama ya." Ucap Sely pada putrinya itu.


"Oke ma."


"Al makan sendiri ya. Al kan anak pintar." Ujar Avica pada putranya.


"Iyah mama." Jawab anak itu dengan anggukan.


"Kenapa kamu nggak pesan makanan, Ca?" Tanya Sely pada Avica.


"Nggak mbak. Belum pengen makan aja." Jawab Avica.


"Ohh, aku kira kamu diet." Ujar Sely dengan tawa.


Avica memang memiliki tubuh yang ideal meskipun sudah pernah melahirkan. Bahkan dirinya tidak pernah memilih-milih makanan. Semua makanan yang menurutnya enak dan yang dirinya suka pasti akan dirinya makan. Hal itu juga membuat Abizar heran, karena istrinya itu banyak makan tapi tidak membuat tubuhnya gendut.


Selesai berbincang dan menikmati hidangan yang di pesannya, Sely pun terpaksa harus pamit terlebih dahulu. Karena sudah waktunya untuk memulai pemotretan lagi dan dirinya telah ditunggu.


"Ca, aku harus pergi dulu." Ucap Sely pada Avica.


"Kenapa buru-buru mbak?" Tanya Avica.


"Aku sudah di tunggu. Sebentar lagi pemotretan akan dimulai." Jawab Sely.


"Oh, baiklah. Hati-hati mbak." Ucap Avica.


"Iya. Alula mama pergi dulu ya. Maaf mama nggak bisa nemani Alula lebih lama karena mama harus kerja." Ujar Sely pada sang putri.


"Iya mama. Mama hati-hati ya kerjanya." Pesan Alula pada ibu kandung nya tersebut.


"Iya sayang. Lain kali kita ketemu lagi ya." Ujar Sely. Lalu Alula pun mengangguk.


"Oh ya, makanannya aku yang bayar, Ca." Ucap Sely lagi.

__ADS_1


"Terima kasih mbak." Kata Avica.


"Sama-sama. Aku pergi dulu." Balas Sely.


Sely pun beranjak dari kursinya. Lalu melangkah keluar dari cafe tersebut menuju mobilnya. Lalu mengemudikannya menuju tempat dimana dirinya akan melakukan pemotretan.


Setelah kepergian Sely, Avica dan anak-anaknya tak langsung ikut pergi. Mereka masih tetap ditempat dirinya duduk semula karena Alula dan Al belum menyelesaikan makan nya.


"Makan nya dihabisin dulu ya. Setelah itu baru kita pulang." Ujar Avica pada anak-anaknya.


"Baik ma." Jawab Alula.


"Iyah ma." Jawab Al.


Tak lama Alula dan Al pun menyelesaikan makan nya. Dan Avica pun langsung mengajaknya pulang. Karena hari semakin siang dan waktunya anak-anaknya untuk tidur siang. Benar saja, baru beberapa menit mobil mereka melaju Al sudah mulai memejamkan kedua matanya karena sudah ngantuk berat. Dan Alula sudah mulai menguap. Mungkin karena efek kekenyangan juga. Sebab tadi setelah menghabiskan es krim dan spaghetti nya Alula masih sanggup menghabiskan salad buah milik adiknya.


Sesampainya di rumah, kedua anaknya itu sudah terlelap dalam tidurnya. Avica tek tega jika harus membangunkan putrinya.


"Pak, tolong bantu saya gendong Alula bawa ke kamarnya ya. Saya akan gendong putra saya." Pinta Avica.


"Baik nyonya." Jawab pak Budi.


Avica berjalan lebih dulu saat memasuki rumah. Dan pak Budi mengikutinya dari belakang sambil menggendong nona mudanya.


"Mbak Yuni.." Panggil Avica saat telah berada didalam rumah.


Mbak Yuni pun berlari tergopoh-gopoh saat menghampiri majikannya itu.


"Iya nyonya.." Jawab mbak Yuni.


"Tolong pak Budi antar ke kamar Alula untuk membantu membukakan pintu kamar Alula." Perintah Avica.


"Baik nyonya." Jawab mbak Yuni.


Lalu Avica melanjutkan langkahnya menuju kamar sang putra yang juga ada disebelah kamarnya. Sebab kamar Avica dan Abizar berada ditengah-tengah kamar Alula dan Al.


"Mari pak saya antar." Ucap mbak Yuni pada pak Budi. Pak Budi hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya.


Sedangkan Avica setelah menidurkan Al langsung turun menuju dapur. Sekarang dirinya baru merasakan perutnya lapar. Avica akan mencari makanan di dapur. Karena dirinya masih ingat jika makanan yang dirinya masak tadi pagi masih ada sisa.


Avica mulai membuka tudung saji di meja makan yang ada di dapur. Ternyata makannya sudah tidak ada. Mungkin sudah dimakan oleh pegawainya. Lalu Avica pun coba membuka kulkasnya untuk mencari sesuatu yang bisa langsung dimakan. Saat membuka kulkas Avica melihat ada puding, tanpa menunggu lama Avica pun mengambilnya lalu membawanya ke ruang keluarga. Dan dirinya akan memakannya disitu sambil bersantai menonton televisi.

__ADS_1


__ADS_2