
Malam harinya di kediaman pak Adi, Kini pasangan paruh baya itu sedang melakukan makan malam. Pak Adi dan bu Sarah sudah terbiasa makan hanya berdua saja. Sebab yang tinggal di rumah itu hanya pak Adi dan bu Sarah beserta para pegawainya. Sedangkan anaknya hanya Abizar saja dan sudah memiliki rumah sendiri. Apalagi Abizar kini telah berkeluarga, jadi membuatnya jarang berkunjung. Bukan karena sengaja hanya ingin memiliki satu anak, tetapi karena terpaksa. Sebab dulu setelah memiliki Abizar, Bu Sarah mengalami kondisi yang tak mungkin untuk menambah momongan lagi sehingga membuat bu Sarah harus mengangkat rahimnya demi kebaikannya. Dan Pak Adi pun tak mempermasalahkannya, justru pak Adi tetap menerima bu Sarah dengan kekurangan nya. Menurut pak Adi memiliki satu anak tak masalah, yang terpenting penyakit sang istri bisa disembuhkan.
Selesai makan malam, Pasangan paruh baya itu memilih menghabiskan waktunya diruang keluarga sambil bersantai sebelum tidur.
"Mama sudah dengar kabar belum?" Tanya Pak Adi pada bu Sarah saat makan malam telah usai.
"Kabar apa, Pa?" Tanya Bu Sarah balik.
"Emang Abi belum ngasih tahu mama?" Tanya Pak Adi lagi.
"Belum. Kabar apa sih pa?" Tanya bu Sarah penasaran.
"Menantu kita Avica--" Pak Adi tak melanjutkan kata-katanya. Beliau hampir saja keceplosan, padahal sang putra sudah bilang jika akan memberi kejutan pada sang mama tentang kehamilan Avica.
"Menantu kita kenapa, Pa?" Tanya Bu Sarah.
"Tidak kenapa-kenapa kok." Elak pak Adi.
"Papa jangan bohong ya sama mama. Ayo bilang sama mama menantu kita kenapa?" Desak Bu Sarah.
"Kan papa sudah bilang kalau menantu kita tidak kenapa-kenapa." Ujar Pak Adi.
"Oke kalau papa tidak mau bilang. Malam ini papa tidur di luar." Ucap Bu Sarah lalu beranjak pergi meninggalkan pak Adi dengan kesal.
Pak Adi pun mengejar Bu Sarah yang sedang merajuk kepadanya. "Ma, jangan dong. Masa papa tidur diluar sih." Ucap Pak Adi.
"Biarkan saja. Salah papa sendiri." Ujar Bu Sarah.
"Emang salah papa apa sih ma?" Tanya Pak Adi.
Bu Sarah pun berhenti lalu berbalik arah menatap sang suami. "Papa masih tanya?"
"Ya emang salah papa apa ma?" Tanya pak Adi lagi.
"Salah papa, karena papa tidak mau ngasih tahu mama tentang Avica, menantu kita." Ujar bu Sarah sambil bersedekap dada.
"Dari pada tidur diluar aku kasih tau mama aja deh. Masa bodoh lah dengan Abizar kalau marah." Batin pak Adi.
__ADS_1
"Oke akan papa kasih tahu." Pak Adi menjeda sebentar ucapan nya.
"Menantu kita itu sekarang lagi hamil." Ucap Pak Adi..
"Ohh, gitu." Ujar bu Sarah.
"Apa, pa? Menantu kita Avica hamil?" Ucap bu Sarah yang baru sadar dengan ucapan sang suami.
"Iya mama. Udah papa kasih tahu kan jadi papa tidur dikamar sama mama."
"Kenapa papa baru bilang sekarang sih? Papa tetep harus tidur diluar karena papa baru ngasih tahu mama. Abizar juga kenapa nggak kasih tahu mama sih. Dasar tu anak ya, bapak sama anak sama saja." Ujar bu Sarah panjang lebar.
"Nggak bisa gitu dong ma. Papa juga baru tahu tadi dari asisten Abi." Protes pak Adi.
"Kalau gitu kita kesana sekarang pa." Ajak bu Sarah.
"Besok saja ma. Nanti kalau kita kesana yang ada malah ganggu istirahat Avica." Cegah pak Adi.
Bu Sarah pun memikirkan apa yang diucapkan suaminya barusan. "Oke deh. Tapi janji besok kita harus kesana pa." Ucap bu Sarah.
"Iya, ma. Lebih baik sekarang kita istirahat dulu." Ajak Pak Adi.
Sedangkan kini dikediaman Abizar, tepat pukul 1 malam Avica bangun dari tidurnya. Calon ibu muda itu merasa sangat lapar setelah tadi semua makanan yang ia makan keluar lagi. Avica ingin membangunkan suaminya yang sudah tertidur nyentak tapi takut mengganggu istirahat sang suami. Tapi perutnya sudah sangat lapar dan ingin segera diisi. Entah kenapa Avica ingin memakan martabak telur. Dan dengan terpaksa Avica pun membangunkan suaminya.
"Mas.." Panggil Avica sambil menepuk-nepuk pelan lengan Abizar. Abizar belum meresponya, hingga Avica pun harus mengulanginya lagi. "Mas Abi.."
Abizar pun mulai mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. "Mas Abi bangun!" Ucap Avica.
"Ada apa sayang?" Tanya Abizar saat dirinya telah sepenuhnya bangun dari tidurnya.
"Aku lapar." Ucap Avica.
"Kamu lapar, Mau makan apa biar aku masakin?" Tanya Abizar.
"Aku pengennya makan martabak telur mas." Ujar Avica.
Abizar pun melihat jam yang ada di ponselnya terlebih dahulu. "Ini udah jam 1 sayang. Pasti sudah tidak ada pedagang martabak nya. Yang lain aja ya." Ucap Abizar.
__ADS_1
"Tapi aku pengennya itu mas." Kata Avica cemberut.
"Besok kita beli ya. Sekarang makan yang lain dulu. Gimana?" Usul Abizar.
"Tidak mau. Ya udah kalau mas Abi nggak mau beliin." Avica pun merajuk, lalu membaringkan tubuhnya kembali dan menutup semua tubuhnya dengan selimut.
"Sayang, jangan gitu dong. Iya iya aku cariin martabaknya ya.." Ujar Abizar membujuk sang istri.
Avica oun membuka selimut yang menutupi kepalanya dan menampakkan wajahnya. "Beneran? Mas Abi nggak bohong?" Tanya Avica meyakinkan.
"Iya sayang. Mas nggak bohong kok. Kamu tunggu dirumah dulu biar aku keluar cari martabak nya ya." Kata Abizar.
"Oke. Tapi buruan ya, aku udah laper banget soalnya." Pinta Avica.
"Aku usahain ya." Jawab Abizar.
Abizar pun mengambil jaket terlebih dahulu. Lalu setelah itu dirinya melangkah keluar dari kamar dan menuruni anak tangga satu persatu menuju lantai satu. Kemudian Abizar menuju garasi untuk menumpangi salah satu mobilnya.
Abizar melajukan mobilnya untuk membelah jalanan dimalam hari. Demi sang istri dirinya rela keluar tengah malam untuk memenuhi keinginan istrinya. Abizar terus saja melajukan mobilnya untuk mencari penjual martabak , sebab istrinya itu sedang menginginkan martabak telur. Bisa dibilang jika istrinya itu sedang ngidam, maklum ibu hamil biasanya akan mengalami fase seperti itu.
"Ini dimana mau cari pedagang martabak nya. Pasti sudah pada tutup semua. Tapi kalau aku nggak dapet martabak nya pasti Avica akan ngambek." Ujar Abizar pada diri sendiri.
Entah kebetulan atau keberuntungan bagi Abizar, dirinya melihat gerobak martabak dan ternyata masih buka. Abizar pun dengan segera menepikan mobilnya. Lalu turun untuk menghampiri pedagang martabak tersebut.
"Pak, martabak nya masih?" Tanya Abizar pada pedagang martabak tersebut.
"Masih. Tapi tinggal martabak telur." Ujar Sang pedagang.
"Kebetulan sekali pak, saya juga sedang mencari martabak telur untuk istri saya. Kalau begitu tolong buatkan ya pak." Ucap Abizar .
"Baik. Ditunggu dulu ya." Jawab Pedagang martabak.
"Iyaa.."
Abizar mengucap syukur, akhirnya dirinya bisa mendapatkan keinginan sang istri. Setelah martabak jadi Abizar pun membayarnya lalu kembali pulang, sebab Abizar takut istri nya terlalu lama menunggu. Sesampainya dirumah, dengan perasaan senang telah mendapatkan keinginan sang istri Abizar pun harus menerima kenyataan jika ternyata sang istri sudah tertidur kembali. Abizar pun mencoba untuk membangunkan nya.
"Sayang, bangun. Ini aku bawa martabak keinginan kamu." Ucap Abizar disamping telinga sang istri.
__ADS_1
"Aku ngantuk, mas. Martabak nya buat mas Abi aja." Jawab Avica dengan enteng nya.
Abizar pun pasrah, dan mencoba untuk tetap sabar. Sebab istri nya saat ini sedang mengandung anaknya, jadi Abizar mencoba untuk memakluminya. Abizar tidak memakan martabak tersebut, dirinya menyimpannya didalam kulkas. Sebab matanya sudah merasa sangat mengantuk, sehingga dirinya memilih untuk langsung tidur disamping sang istri , melanjutkan tidurnya yang tertunda tadi.