
Tepat pukul 1 dini hari, Avica merasa perutnya mulas. Saat ini usia kandungan Avica sudah memasuki sembilan bulan. Kata dokter hanya menunggu kurang lebih 3 minggu untuk melahirkan. Tapi mungkin bayinya itu ingin keluar dan melihat dunia lebih cepat.
"Ssttt, aww.." Desis Avica.
Avica pun terbangun dari tidurnya. Dirinya memilih untuk bersandar sambil mengelus perutnya yang sedang kontraksi. Disaat rasa mulas di perutnya sudah mereda Avica berniat ingin membaringkan tubuhnya lagi. Karena Avica fikir itu hanya kontraksi palsu seperti yang biasa ia rasakan.
Tapi ternyata dugaannya salah, baru saja dirinya memejamkan matanya kontraksi itu mulai datang lagi.
"Aww.. Sayang apa kamu ingin segera bertemu dengan mama dengan papa ya." Ujar Avica mengajak bicara sang buah hati yag masih berada didalam perutnya.
Avica beranjak dari ranjangnya. Dia memilih untuk berjalan kecil mondar-mandir didalam kamarnya agar mmpercepat pembukaan. Avica tidak ingin membanggakan sang suami, sebab dirinya merasa masih kuat untuk menahan rasa sakitnya. Hingga rasa sakit yang Avica rasakan pun semakin sering.
"Mas..sstt." Panggil Avica membangunkan sang suami. Sedangkan Abizar tak menunjukkan pergerakannya. Hingga Avica mencoba untuk membangunkannya lagi.
"Mas Abi.." Panggil Avica sambil mengguncang tubuh Abizar.
Abizar mulai mengerjapkan matanya saat merasa tubuhnya terguncang. "Ada apa sayang? Kenapa udah bangun?" Tanya Abizar pada sang istri.
"Perutku sakit mas. Sepertinya ini bukan kontraksi palsu lagi." Ujar Avica.
"Apa kamu mau melahirkan sayang?" Tanya Abizar yang mulai panik.
Avica mengangguk, " Sepertinya begitu mas." Ucap Avica sambil meringis.
"Baiklah kalau begitu kita ke rumah sakit. Mas siapkan mobilnya dulu. Kamu tunggu disini ya." Ujar Abizar pada istrinya.
"Iya mas. Aku tunggu." Jawab Avica.
Abizar turun dari ranjangnya. Lalu keluar kamar menuruni tangga untuk menuju garasi dan menyiapkan mobilnya. Setelah itu Abizar kembali kedalam rumah dan menghampiri bi Imah ke kamar khusus pembantu.
Tokk..tokk..tokkk..
"Bi Imah... Bi.." Panggil Abizar.
Bi Imah yang mendengan ketukan pintu kamarnya pun langsung membuka matanya dan beranjak untuk membuka pintu kamarnya.
Ceklekk..
Bi Imah merasa kaget, karena tak biasanya majikannya itu membangunkannya seperti ini.
"Tuan Abi.. Ada apa tuan?" Tanya Bi Imah.
"Bi, saya titip rumah. Istri saya sepertinya mau melahirkan jadi saya mau membawanya ke rumah sakit. Tolong kasih tahu mbak Yuni sekalian titip Alula." Ujar Abizar.
__ADS_1
"Baik tuan, nanti akan saya sampai pada Yuni juga. Semoga nyonya persalinannya berjalan dengan lancar ya tuan. Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik." Ucap bi Imah.
"Terima kasih bi untuk doanya. Saya mau menghampiri istri saya dulu dikamar. Baru setelah itu saya akan langsung berangkat ke rumah sakit." Kata Abizar.
"Mari saya bantu untuk membawa barang-barangnya tuan. Saya akan membangunkan Yuni dulu." Ucap bi Imah.
"Tidak perlu membangunkan mbak Yuni, bi. Barangnya tidak banyak cukup bibi saja yang membawakan barang-barangnya." Ujar Abizar.
"Baiklah tuan." Jawab bi Imah.
Abizar melangkah kembali menuju kamarnya untuk menghampiri sang istri. Sedangkan bi Imah pun mengikutinya dari belakang untuk membantu majikannya membawa barang yang akan dibawa ke rumah sakit.
"Sayang.." Panggil Abizar saat memasuki kamar. Avica pun menoleh. "Yuk kita berangkat, mobilnya sudah siap. Nanti barang-barang yang dibawa biar bi Imah yang mengangkat dan menaruhnya dimobil." Ujar Abizar lagi saat menghampiri istrinya.
Avica hanya mengangguk, sebab dirinya sedang menahan rasa sakit yang sering timbul dan hilang akibat kontraksi. Abizar mengulurkan tangannya untuk membantu sang istri berdiri. Setelah itu Abizar menggendong tubuh Avica untuk ia bawa sampai mobilnya. Bi Imah kembali mengikutinya dari belakang sambil membawa barang yang akan dibawa ke rumah sakit.
Sesampainya dimobil Abizar menurunkan Avica dikursi samping kemudi. Setelah itu menutup pintunya kembali lalu mengambil alih tas yang dibawa oleh bi Imah.
"Bi, saya titip Alula ya." Pesan Avica pada bi Imah.
"Iya nyonya. Nyonya tenang saja, tidak perlu memikirkan non Alula. Saya dan Yuni pasti akan menjaganya. Nyonya fokus pada persalinan nyonya saja, semoga lancar persalinan nya." Ujar bi Imah.
"Baik, bi. Sebelumnya terima kasih." Ucap Avica.
"Belum bi. Nanti saja kalau saya sudah sampai rumah sakit saya akan mengabarinya." Jawab Abizar.
"Baiklah kalau begitu tuan." Ucap bi Imah.
"Iya bi. Kalau begitu kami berangkat dulu." Pamit Abizar.
"Iya tuan. Hati-hati dijalan. Kabari kami jika nyonya Avica sudah melahirkan." Kata bi Imah.
"Baik, bi."
Abizar pun mengutari mobilnya menuju kursi kemudinya. Setelah masuk kedalam mobil, Abizar mulai menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya secara perlahan.
"Sstt.. Mas sedikit lebih cepat." Pinta Avica saat rasa sakit itu datang lagi.
"Iya sayang, sabar ya. Mas tidak mungkin ngebut karena ini demi keselamatan kita dan calon anak kita." Ujar Abizar memberi pengertian pada sang istri.
"Tapi ini sangat sakit mas." Ucap Avica menahan sakit.
"Tarik nafas dulu sayang lalu keluarkan secara perlahan. Ulangi sampai kamu marasa rilex." Ucap Abizar menenangkan sang istri.
__ADS_1
Avica mengikuti saran yang diberikan suaminya. Dia terus mengulangi saat rasa sakit itu timbul lagi. Abizar merasa sedikit tenang sebab dirinya pernah berada diposisi saat ini saat mantan istrinya dulu akan melahirkan putrinya Alula. Tapi menurutnya Avica bisa mengontrol emosinya saat kontraksi datang jadi Abizar tidak begitu takut. Sebab jika dirinya khawatir berlebihan yang ada dirinya tidak bisa memberi semangat pada sang istri.
Tak lama mobil yang Abizar kendarai pun tiba disalah satu rumah sakit terbesar dikota tersebut. Dengan tergesa Abizar menuruni mobil dan menghampiri Avica lalu menggendongnya untuk memasuki rumah sakit tersebut.
"Suster, tolong istri saya." Teriak Abizar memanggil Perawat.
Kedua perawat wanita membawa brankar lalu menghampiri Abizar yang sedang menggendong istrinya. Lalu Abizar membaringkan sang istri diatas brankar saat yang dibawa oleh kedua perawat wanita teesebut.
"Tolong istri saya sus, sepertinya istri saya akan melahirkan." Ujar Abizar.
"Baik tuan." Jawab salah satu perawat tersebut.
Avica pun dibawa ke ruang bersalin untuk melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.
"Tuan tidak boleh ikut masuk. Kami akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu pada istri anda. Silahkan anda mengurus persyaratannya terlebih dahulu." Ucap salah satu perawat tadi.
"Tapi sus.."
"Mohon pengertiannya tuan, kami akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu." Pintu pun ditutup dan Abizar pun hanya bisa pasrah.
Abizar beranjak dari tempat itu untuk mengikuti perintah perawat tadi untuk mengurus persyaratannya terlebih dahulu. Setelah persyaratannya terpenuhi semuanya Abizar pun kembali ketempat dimana istrinya sedang ditangani.
"Aku lupa belum menghubungi mama." Gumam Abizar. Lalu merogoh ponselnya yang berada disaku celananya.
Abizar mulai mencari kontak sang mama lalu menekan nomornya dan mencoba menghubunginya. Sebab saat ini baru jam 3 pagi, Abizar yakin orang tuanya itu pasti masih terlelap.
Tuttt..tuttt..tuttt...
Telepon pun terhubung. (Halo Bi. Ada apa malam-malam telepon?) Tanya bu Sarah pada sang putra.
(Ma, ini sudah pagi.) Ujar Abizar.
(Apaaa?) Teriak bu Sarah dari seberang sana.
(Ma, tidak perlu berteriak. Aku ingin mengabari jika Avica akan melahirkan.)
(Oh, mama kira ada apa.) bu Sarah belum sadar dengan apa yang dikatakan putranya tadi.
(Apaaa? Kenapa kamu baru bilang Bi.) protes Bu Sarah saat dirinya baru menyadari jika menantunya akan melahirkan.
(Kan Abi sudah mengatakannya, mama aja yang tidak fokus.) Ucap Abizar.
(Baiklah kalau begitu, mama sama papa akan segera kesana.) Ujar Bu Sarah.
__ADS_1
(Kalau begitu Abi tutup dulu teleponnya.)