Badboy My Boss

Badboy My Boss
Abang Lano


__ADS_3

"Ada yang mau aku bicarakan, baby..."ucap Revano disela-sela makan karena sedari didalam kamar mandi tadi ia terus memikirnya


"Bicara saja!"ucap Dinda yang malas untuk menatap mata Revano karena ia sudah tau pasti hal yang dibahas tak lain dan tak bukan adalah hal-hal mesum


"Tatap aku saat bicara."lalu Dinda pun menatap malas kearahnya


"Katakan kenapa?"tanya Dinda lagi sebenarnya dia penasaran apa yang akan dibicarakan oleh suaminya itu


"Cepat katakan!"ia sudah tak sabar lagi apa yang akan dibicarakan sedangkan Revano masih saja setia menatapnya dengan tatapan ingin memakannya


"Aku mau kamu memangilku dengan panggilan suamiku atau lainnya biar seperti orang lain yang diluaran sana." ucap Revano sebenarnya ia sangat iri sekali melihat kemesraan pasangan lain berbedaa sekali dengan mereka berdua yang selalu bertengkar setiap saat 


"Kenapa kau sangat ingin aku memanggil itu?" ucap Dinda sembari menguyah camilan yang ada dihadapan mereka berdua


"Karena aku ingin sayangku..." balas Revano dengan tersenyum tipis


"Hm, baiklah tapi ada satu syarat!" ia pun menatap tajam kearah Revano seolah olah tatapan ingin membunuh suaminya itu


"Apapun yang kamu inginkan..." jawab Revano yang kemudian kembali menghabiskan sarapan mereka berdua


"Aku mau ke panti ditempat yang pernah kita kunjungi dulu."


"Dengan senang hati gadis kecilku."


"Ckck awas jika aku mendengar kau memangilku dengan sebutan itu lagi, maka kau akan tau akibatnya!" ucapnya yang mendegus kasar ketika Revano menyebutnya sebagai gadis kecilnya


"Baiklah tuan putri..."


"Aku tidak mau memanggilmu suamiku atau apalah ituu, terlalu kekanak-kanakan seperti itu." ucapnya yang sebenarnya kurang senang jika memangil Revano dengan sebutan suamiku atau sayangku wkwk


"Lalu ingin memanggilku dengan sebutan apa?" tanya Revano yang binggung 


"Abang Lano, aku akan memanggilmu seperti saat kecil yayaya..." ucap Dinda yang mengeluarkan puply eyesnya didepan Revano


"Ta-pp..."


"TERSERAH KALO TIDAK MAU YASUDAH!" ucapnya yang memotong ucapan Revano lalu ia pun kembali masuk kedalam kamar, sebenarnya ia tak marah namun ini adalah salah satu cara agar Revano mengizinkannya memangil dengan sebutan abang wkwk


"Babyy, dengarkan aku duluu..." lalu Revano pun masuk untuk menemui Dinda yang tengah merajuk kepadanya


"Baiklah - baiklah, kamu boleh memanggilku dengan sebutan itu." jawab Revano yang mendesah


Sebenarnya Revano tak begitu ingin dipanggil abang, namun jika Dinda seperti ini mau tak mau ia harus mengikuti perkataan Dinda. Karena ia tak mau terjadi kesalahpahaman diantara mereka dikarenakan hal sepele seperti ini. 


"Benarkah?" tanya Dinda yang kembali tersenyumm manis sembari mendeoat kearah Revano

__ADS_1


"Iyaa babyy..." ucapnya setelah itu Revano memeluk Dinda dan begitu juga dengan Dinda yang membalas pelukan dari suaminya 


"Adin sayang deh sama abangg..." ucap Dinda yang ada dipelukan Revano 


"Abang juga sayang sama Adin..." lalu ia pun tersenyum manis dan kemudian mengecup puncak kepala sang istri


"Yaudah sekarang kita siap - siap ya, kan mau pulang kerumah..." setelah itu Dinda melepas pelukan dan kemudian ikut duduk disebelah Revano


"Kita pindah kerumah siapa bang?" tanya Dinda 


"Kerumah kita, baby..."


"Emang kita ada rumah bang?" tanya lagi Dinda yang membuat Revano mengehela nafas kasar, tak usahlah rumah jet pribadi pun sudah ia beli semenjak dulu masih lajang bahkan jika dihitung - hitung uang Revano tak kan habis 7 turunan pun


"Ada sayang, abang udah beli rumah sebelum kita menikah." jawabnya sembari kembali mengelus puncak kepala Dinda


"Tapi Din gamau pindah kerumah, kita tinggal di apartemen abang yang di Cty aja ya..." ucapnya sembari menatap Revano dengan tatapan sedih


"Kenapa memangnya?"


"Kalo kita tinggal dirumah kebesaran abangg!!!"


"Dinda kan gasuka kalo tinggal dirumah tapi cuma berdua doang..." ucapnya yang menampakan wajah kesal kepada suaminya itu


"Kan nanti ada baby baby kitaa..." ucap Revano dengan semangat sembari mengelus lagi kepala Dinda


"Abang akan usahakan secepatnya kita punya baby..." 


"Hilihh itu mah mau kamu bang."


"Kita tinggal di apart aja yayaya..." ucap Dinda yang kembali mengeluarkan puply eyes dihadapan Revano


"Ckck baiklah, yasudah ayo kita bersiap untuk pindah..."


"Yeayyyy, makasih abang." lalu dengan semangat Dinda pun berdiri dan mengemas pakaian mereka berdua karena mereka akan pindah ke apartemen Revano


"Sudah belum?" teriak Revano pasalnya Dinda sedari tadi masih didalam kamar mandi entah apa yang dilakukannya selama kurang lebih 1 jam didalam sana


"Wait bang, bentarann." balasnya dengan teriakan 


"Ckck kenapa perutku sakit sesudah makan makanan itu?" tanyanya sembari memikirkan apa yang ia makan tadi


"Ah sudahla, mungkin karena aku tak makan nasi makanya sakit perut gini..." ucapnya memang benar karena sudah 2 hari ia tak menyentuh nasi sama sekali entahla kenapa ia tak selera ketika dihadapannya adalah nasi


"Sudah?" tanya Revano yang melihat Dinda keluar dari kamar mandi dengan memegang perut yang sepertinya menahan kesakitan

__ADS_1


"Kamu kenapa, perutnya sakit?" 


"Iya mules bang, biasalah..." jawabnya dengan santai karena jika ia bilang penyebab sakit perutnya karena tak menyentuh nasi maka bisa - bisa ia dibawa kedokter oleh suaminya itu


"Yaudah ayo." setelah itu ia pun mengajak Dinda untuk segera pulang ke apartemen mereka


"Lah koper ga dibawa?" tamya Dinda yang heran kenapa Revano santai sekali keluar tanpa membawa 2 koper mereka


"Enggak nanti ada orang yang bawa, yasudah ayo!" kemudian Dinda pun hanya menggelengkan kepalanya lalu segera menyusul Revano yang sudah lebih dulu meninggalkannya


"Abanggg!!!" teriak Dinda seketika itu Revano berhenti lalu membalikkan badannya mengarah ke Dinda dan kemudian ia pun menuju kearah Dinda


"Abang kok gitu sih, Din ditinggalinnn!" ucap Dinda sembari mengerutu 


"Kamusihh jalannya lambat!" 


"Mau aku gendong atau jalan sendiri?" tanyanya sembari berjongkok untuk menyuruh Dinda naik dipunggungnya


Lama memikir membuat Revano kesal sekitika ia bangkit lalu menggendong Dinda dari depan, dan seketika itu Dinda pun memukul - mukul dada suaminya itu agar ia diturunkan. 


"Abangggg!"


"Turuninn!"


"turunin abangg!" ucap Dinda sembari memukul dada Revano namun Revano hanya diam dan berjalan melewati seluruh tamu dan karyawan yang melihat adegan mereka berdua


"Ihh Pak Revano so sweet juga ya." ucap karyawan hotel


"Iyaa gak disangka juga ya.Pak Revano yang cuek, dingin gitu bisa so sweet sama pasangannya." ucap mereka yang melihat Revano menggendong Dinda


Sementara itu mereka berdua masuk kedalam lift khusus, sedangkan Dinda masih didalam gendongan Revano.Karena laki - laki itu sedari tadi enggan untuk melepaskannya. 


"Turunin!" ucap Dinda yang memberontak sedangkan Revano hanya diam dan kembali berjalan agar mereka cepat sampai di parkiran mobil


Setelah sampai didepan mobil, Revano dengan hati - hati memasukan Dinda kedalam mobil, sedangkan Dinda masih dengan mode kesal terhadapnya. 


Lalu ia pun memasang sealbelt Dinda, nampak sekali terpacar kemarahan dari wajah Dinda.Namun ia tau jika Dinda sedang menahan marahnya itu. 


"Marah aja gapapa kok." ucapnya dengan tenang seolah tak terjadi apa - apa


"Terserah pokoknya aku ngambek sama abang!" gumamnya didalam hati sembari mengerutu 


"Awas aja kalo udah sampe apart, malamnya kamu tidur diluar!" gumamnya lalu ia kembali tersenyum licik seketika memikirkan ide agar Revano malam ini bisa tidur diluar 


"Hm, sepertinya ideku bagus juga haha." 

__ADS_1


"Tunggu pembalasannya!"


__ADS_2