Berlian & Kepala Casper

Berlian & Kepala Casper
Setan Ngibrit


__ADS_3

Semakin hari Berlian semakin memahami sistem kerja aplikasi paling horor yang sekarang ini ia gunakan sebagai media untuk memublikasikan karyanya.


Setelah Berlian pelajari, banyak dari para penyebar komentar spam yang dengan mudahnya melancarkan aksinya tanpa takut ditindak pidana. Mengotori karya orang lain, dengan memberikan komentar tanpa bobot. Bahkan tidak sedikit dari jenis penulis yang seperti itu, dengan mudahnya mendapatkan kenaikan pangkat/level.


Sebenarnya sistem seperti apa yang sedang berlaku di sini? Apa iya, Berlian harus menyulap dirinya menjadi Kang Spam jika ingin naik level?


Budaya apakah ini?


Bagaimana bisa memberikan sebuah apresiasi tanpa melihat terlebih dahulu seperti apa akhlak si penulis?


Ya, ini ada kaitannya dengan akhlak. Penulis yang mempunyai akhlak baik tidak akan mungkin mau menginjak-injak karya orang lain demi kepentingan pribadinya. Apalagi sampai melecehkan karyanya sendiri.


Katakan saja jika belum mempunyai waktu luang! Membaca karya orang di lain waktu, juga bukan sebuah masalah yang besar.


Toh, masih ada niatan baik untuk saling menghargai. Tapi bagai mana jikalau memang tidak ada waktu untuk membaca karya orang?


Ah, omong kosong!


Penulis ter-pemes di N.O.V.E.L.T.O.O.N sekalipun masih sempat membaca karya orang lain, apalagi cuma penulis seperti kamu.


Iya, Kamu ... yang hobinya masih mengemis dukungan dari orang lain. Tapi, masih aja ngakunya sok sibuk.


Kayak kamu yang waktu itu tu!


Iya, Kamu lagi ....


Kamu yang bilang sangat sibuk dengan real-life, nyatanya masih aja sempat nulis dan ngeliling buat nyepam, Sya la la la la!


Alasan Klasik!


Buaya dikadalin!


Semua penulis yang melibatkan dirinya dalam aksi penyampaian rasa lewat tulisan di dalam aplikasi ini, pastinya juga mempunyai kehidupan nyata yang sama sibuknya.


Namun, dengan memiliki kesadaran akan pentingnya saling menghargai, maka terbentuklah sikap nyata yang berbentuk sebuah dukungan.


Dukungan dalam arti kata, membaca karyanya dengan sepenuh hati. Bukan hanya dengan mengirim komentar palsu seperti di bawah ini.


Like, Kaka 👍


Cemungut ya, Thor😍


Aku datang 🤗


Hadir 😊


Aku selalu mendukungmu🥰


Jangan lupa minum air putih yang banyak☺️


Dan ... masih banyak lagi jenis kata-kata manis yang dikirim oleh Kang Spam, namun mengandung virus yang sangat mematikan.

__ADS_1


Ya, tanpa mereka sadari, komentar spam yang mereka sebar, perlahan akan membunuh semangat seorang penulis yang benar-benar berkarya dengan hati nurani. Sampai hampir mati bunuh diri, hingga tak ingin lagi kembali. Kembali ke dunia halu yang kejam ini.


Mungkin memang masih ada penulis yang tidak bermasalah dengan adanya komentar spam di lapak mereka. Tapi ingat ... tidak semua penulis yang mau mengandalkan komentar spam untuk menaikkan angka popularitas mereka.


Siapa sih yang tidak butuh like? Siapa sih yang tidak butuh vote? Siapa juga yang tidak senang jika ada pembaca yang memberi komentar pada tulisannya?


Semua penulis membutuhkan hal itu. Tapi jangan pura-pura amnesia ... berikanlah sebuah komentar yang benar-benar menunjukkan jika karya mereka sangatlah berharga.


Bukannya tidak tergiur dengan angka popularitas yang menjulang tinggi, namun mereka lebih memilih mempunyai sedikit pengunjung namun pengunjung yang benar-benar mau membaca sebuah karya. Pengunjung yang ikhlas mendukung dengan sebenar-benarnya mendukung.


Jika suatu saat nanti mereka mendapatkan kenaikan angka popularitas bahkan level menulis yang semakin tinggi, itu hanya akan mereka peroleh dengan jalan yang benar tanpa harus menjalankan aksi penipuan berkedok dukungan.


...💎💎💎...


Ketidakberdayaan akan sistem yang berlaku di dalam aplikasi N.O.V.E.L.T.O.O.N, membuat Berlian tak bisa berkutik.


Ingin melakukan aksi demo? Ah, tidak mungkin. Masih ada Mbak Coro.


Siapa itu Mbak Coro?


Oh, iya ... Corona.


Nah, tindakan itu sangat tidak mungkin untuk dilakukan. Lantas apa yang bisa dilakukan oleh Berlian sekarang?


Untuk saat ini, hanya Kepala Casper-lah satu-satunya harapan. Sambil berdo'a agar sistem yang berlaku di dalam aplikasi ini, bisa mendeteksi satu persatu Kang Spam yang tindakannya selalu meresahkan. Bahkan bisa benar-benar menyortir mana penulis yang berhak naik pangkat atau tidak berhak naik pangkat.


Udah kayak petugas kepolisian aja, pake istilah naik pangkat segala!


Cukup! Kembali ke Berlian!


Saat ini, gadis cupu itu sedang berada di tepi sebuah danau. Danau yang memiliki air dengan warna yang terbilang sangat unik, biru telur bebek.


Di tepian danau terdapat banyak sekali pepohonan rindang, yang di bawahnya disediakan sebuah kursi panjang, yang memudahkan para pengunjung untuk sekedar bersantai ria.


Ya, di sinilah Berlian. Duduk manis dengan sebuah lappy kesayangannya. Mengenakan kaos berlengan panjang berwarna merah, dengan kunciran satu pada rambutnya. Tak lupa juga sebuah kaca mata dengan lingkar mata besar berwarna hitam, bertengger indah pada hidung bangirnya.


Berlian baru saja selesai menyerahkan naskah bab baru dari novel pertamanya di aplikasi N.O.V.E.L.T.O.O.N.


Ketika gadis cupu itu hendak membaca sebuah novel buah karya dari penulis lainnya, tiba-tiba cuaca mendadak mendung. Langit yang mulanya cerah, lalu perlahan berubah menjadi hitam pekat.


Angin pun tampak bertiup kencang, sehingga membuat rambut panjangnya yang terkuncir, menari-nari mengikuti arah angin tersebut.


"Ada apa ini?" Berlian bertanya pada dirinya sendiri sembari celingukan.


Pada saat yang bersamaan, muncullah asap putih yang biasa keluar dari lappy-nya. Berlian mengucek-ngucek kedua matanya dari balik gagang kaca mata. Ia merasa sangat familiar dengan gumpalan asap itu.


Setelah beberapa detik kemudian.


TARAAA ....


Berlian mengerjapkan matanya setengah percaya. "Kepala Casper ...," sapa Berlian dengan wajah melongo.

__ADS_1


"Gak usah kaget gitu napa, pan kita udah biasa ketemu, Yang ...." Kepala Kunti menanggapi.


"Ho'oh," sambung yang lainnya secara bersamaan.


"Elu ngapain di mari sendirian, Berlian?" Tanya Kepala Kentang.


"Iyak, kalo diculik bandit tukang kredit, gimana? Ngahahahaha ...," celetuk Kepala Koneng seenak perutnya.


"Ini lagi satu, yang ditanya siapah, yang jawab juga siapah," protes Kepala Syantik sambil mengibaskan rambutnya yang bermahkotakan dua potong roti sobek dengan topping mozarella.


"Dasar keriting lu," sergah Kepala Koneng kepada Kepala Syantik.


"Sudah, sudah." Berlian menengahi. "Sebenarnya apa yang membuat kalian nongol di sore hari begini? Pake acara mendungin langit sama ngencengin angin lagi," tanya Berlian sekaligus mencebikkan bibirnya.


"Hihihihihi, biasa ... tes ilmu, Berlian." Kelakar Kepala Vampire.


"Eh, xxx, ngapain elu jadi nyomot tawanya, gue?" Protes Kepala Kentang dengan ekspresi wajah tidak terima.


"Sesekali, Mpok, elaaah." Kepala Vampire tampak terkekeh kecil sehingga membuat jubahnya terlihat sedikit bergetar.


"Balikin gak tawa gue! Balikin woi!" Sergah Kepala Kentang seraya melototi Kepala Vampire.


"Kalian ini apa-apaan, sih? Tawa aja direbutin. Mending kita kembali ke tujuan awal." Kepala Keparat melerai kedua kembaran beda pabriknya itu.


"Emang kita mau ngapain, Sayang?" Kepala Terakhir bertanya seolah tak mengetahui maksud kemunculan mereka saat ini.


Belum sempat Kepala Keparat menjawab pertanyaan Kepala Terakhir, tiba-tiba saja gerombolan geng motor datang mendekati Berlian.


"Hai, Cantik, sendirian aja nih? Mau abang temanin?" Celetuk salah satu dari mereka yang masih duduk anteng pada jok motornya.


Jika Berlian tidak salah hitung, ada sekitar tujuh buah motor dengan bobot dua orang pada setiap kendaraan.


Berlian menelan salivanya dengan susah payah. Dengan tergesa-gesa ia segera membereskan barang-barang bawaannya, lalu beranjak dari peraduan.


Ketika Berlian hampir melarikan diri, sejurus pergelangan tangannya ditarik oleh seseorang.


"Mau lari kemana kamu, hah?" Lelaki bertubuh kekar namun tampang tak sesuai takaran bersungut ke arah Berlian dengan seringai menjijikkan.


Berlian sontak menoleh dan mengayun-ayunkan tangannya agar bisa terlepas dari jeratan lelaki itu.


Dengan wajah penuh ketakutan Berlian melirik ke arah ke tujuh Kepala Casper, lalu berkata, "Kalian, tolong lakukan sesuatu!"


Para lelaki geng motor itu saling bertukar pandang. Merasakan ada kejanggalan yang terjadi pada gadis yang ada di hadapan mereka itu. Lalu tidak lama setelah itu, mereka tertawa terbahak-bahak. Mereka pikir Berlian adalah seorang gadis cantik yang tidak waras, karena terlihat berbicara sendiri.


Berlian tidak menghiraukannya. Ia tetap saja berontak sembari terus menatap lurus ke arah Kepala Casper. Namun, tetap saja tidak ada tindakan yang dilakukan oleh para hantu cebol itu.


"Hei ... kenapa kalian diam saja? Bantu aku dong ...!" seru Berlian dengan wajah kesal karena ketujuh teman eksentriknya itu masih saja bergeming.


"Maaf, Berlian. Untuk urusan yang satu ini, kami angkat ketek deh." Salah satu Kepala Casper menjawab mewakili yang lainnya.


"Ho'oh, di luar batas kemampuan kami. Cabut yuk, Gengs." Dengan sekali aba-aba para setan aplikasi itu langsung terbang terbirit-birit meninggalkan Berlian.

__ADS_1


__ADS_2