Berlian & Kepala Casper

Berlian & Kepala Casper
Usaha dan Do'a


__ADS_3

"Sayang!" Ibu Nila melesat mendekati tubuh putri semata wayangnya yang saat ini sedang terbaring di atas brankar berjalan dengan dorongan yang tampak tergesa-gesa dari para petugas medis.


"Sebaiknya semuanya menunggu di luar!" seru seorang perawat berjenis kelamin laki-laki sembari menutup salah satu pintu ruang IGD.


"Pah ... putri kita ... hiks ... hiks ...." Ibu Nila menumpukan kepalanya pada dada lebar sang suami, yang juga merasa tak kalah terpukulnya.


Tragedi ini ... dengan ganas mencabik-cabik semangat dan kekuatan mereka. Tak ada lagi euforia, apalagi pesta. Keinginan untuk menikahkan putri tercinta, kini telah pupus ditelan duka. Semuanya seakan terkubur di dasar laut yang paling dalam seiring dengan lenyapnya sosok Angkasa.


Awan dan Gempita juga tampak panik, menanti kabar selanjutnya mengenai sahabat mereka. Setelah mendengar berita kecelakaan yang menimpa Berlian, mereka berdua langsung menyusul ke rumah sakit. Awan sengaja memilih menemani keluarga Berlian, karena Angin yang memintanya.


Sementara di lokasi kejadian, Tuan Ribut, Angin, dan petugas BASARNAS setempat, sedang melakukan pencarian atas hilangnya putra bungsunya.


Mereka masih berharap bahwa tubuh Angkasa bisa ditemukan dalam keadaan nadi yang masih berdenyut. Membangunkan kembali keceriaan sang ibunda, walau dalam keadaan cacat sekalipun. Yang terpenting adalah mereka tidak menginginkan kembalinya Angkasa tanpa embusan angin kehidupan.


Namun, sepertinya Tuhan memiliki skenario yang berbeda. Saat ini, Tuhan sedang menempatkan mereka pada titik yang paling lemah bahkan terbawah. Sehingga dibutuhkan kesabaran dan keikhlasan yang begitu besar untuk kembali melanjutkan sisa waktu yang mereka punya dalam kehidupan ini.


Angin tampak mondar-mandir di bibir jurang. Memantau petugas yang sedang fokus pada gawainya. Begitu juga sang ayah. Sebenarnya pemuda tampan itu sangat ingin terjun langsung dalam pencarian, namun sang ayah melarangnya, karena ia tidak ingin menerima resiko kedua, jika harus kehilangan putra sulungnya juga.


Akhirnya Angin mengalah, dan di sinilah dia. Terus berdo'a dan meminta kepada Sang Penguasa jagat raya, semoga diberikan mukjizat walaupun hanya sebesar zuriat.


Bukankah Tuhan telah menyiapkan kado terindah di balik sentilan kasih yang ia kemas dalam bentuk ujian? Yakinlah ... maka Tuhan akan seperti yang kita pikirkan.


Namun, kita tidak tahu, kado seperti apa yang menanti di ujung setapak ujian ini. Bisa saja, apa yang kita harapkan itu, bukanlah yang terbaik menurut Tuhan. Sebaliknya, mungkin yang selama ini kita anggap sesuatu yang buruk, belum tentu buruk pula di mata-Nya.


Berbaik sangkalah!


Maka hati akan tenang!


Dengan kemampuan menuruni tebing yang mumpuni, semua petugas sudah tiba pada dasar jurang. Mereka semua dibuat terperangah. Ternyata ada sebuah sungai yang mengalir deras di bawah sana. Di tambah lagi begitu banyak bebatuan besar yang menyisir tepiannya.


Angin dan ayahnya kembali menggeleng frustrasi, setelah mengetahui hal tersebut. Artinya, semakin kecil pula kemungkinan untuk menemukan Angkasa.

__ADS_1


Ada tiga kemungkinan yang menguasai pikiran mereka; Pertama, Angkasa selamat dari maut, namun tubuhnya terseret arus. Kedua, Angkasa juga selamat, namun dimangsa oleh binatang buas. Lalu ketiga ... tubuh Angkasa terbawa arus dalam keadaan yang sudah tak ditempati lagi oleh ruh.


Tuan Ribut semakin kehilangan kontrol diri, ketika para petugas melaporkan kepada pimpinannya melalui HT bahwa mereka sudah menemukan kerangka mobil Angkasa, yang setengah bagiannya telah hangus terbakar api. Mereka juga menemukan jas berwarna biru tua yang tadinya dikenakan oleh si empunya. Namun anehnya, tak ditemukan tubuh siapa pun di sana.


Kedua lutut Angin pun serasa tak lagi memiliki kekuatan untuk menopang tubuh atletisnya. Perlahan ia melemas dan meringkuk di kubangan tanah kuning. Pandangannya tak lagi memiliki arah tujuan. Ia memeras rambutnya geram. Kenapa rasanya begitu sakit? Adik yang selama ini sangat ia sayangi, kini sudah bisa dinyatakan hilang tanpa jejak. Entah terbawa arus atau pun jadi santapan lezat binatang buas.


Tidak ada yang tahu!


Kecuali Penulis Novel ini!


Namun, di sela-sela huru hara kefrustrasiannya, memori terbesarnya menarik ia kembali pada sosok yang tadi berada dalam satu mobil dengan adiknya.


Berlian!


Ia harus berbicara pada gadis itu. Menanyakan kronologi kejadiannya se-detail mungkin. Bisa jadi Berlian masih dalam keadaan sadar ketika tragedi itu menimpa.


Tetapi, beberapa detik kemudian ia kembali menyadari bahwa gadis itu masih dalam perawatan tim medis. Pastinya ia juga akan mengalami trauma yang sangat mendalam. Bukan hanya karena batal bertunangan, namun ia juga sudah kehilangan calon tunangannya. Jadi, sangat tidak mungkin bagi Angin untuk mengorek informasi secepat kilat dari Berlian.


...FLASHBACK...


Angin kembali melajukan kendaraannya ketika lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau. Kendaraannya melesat seperti turbo. Menyalip sekian banyak mobil yang menghalang di hadapannya.


Ketika keempat roda mobilnya memijaki lokasi yang dimaksud oleh sang adik, ia langsung menghambur ke tepian jurang di saat melihat tubuh Berlian yang perlahan terhuyung dan tergeletak bebas di tanah. Bahkan Angin juga tak sempat menangkapnya.


"Lian ...!" serunya sambil meraih tubuh jenjang gadis itu ke dalam pangkuannya. Ia juga tampak menepuk kedua pipi Berlian bertubi-tubi. "Lian ... ayo bangun!" Lagi-lagi usahanya sia-sia. Berlian masih anteng dalam mode pingsannya.


"Dimana Angkasa?" Pandangan Angin mengekori lokasi itu, namun tidak ada tanda-tanda keberadaan si adik.


Pria itu kembali menjatuhkan pandangannya pada Berlian. Perlahan membopong tubuhnya, lalu meletakkannya di kursi samping kemudi. Setelah mencondongkan jok kursi dan memakaikan sabuk pengaman pada tubuh gadis itu, Angin kembali keluar untuk mencari Angkasa beserta mobilnya.


Namun, nihil, tak ada petunjuk. Hanya ada sebuah tiang listrik yang terlihat menggendong sebuah lampu jalan. Angin mendongak, melihat keanehan yang terjadi kemudian. Lampu jalan itu tampak berkedip-kedip layaknya lampu warna-warni dalam sebuah diskotek.

__ADS_1


Lalu tiba-tiba Angin menjatuhkan pandangannya pada dasar tiang, yang di sampingnya berdiri sesosok wanita dengan posisi membelakanginya. Wanita berambut sepunggung, dan berpakaian serba hitam. Anehnya, seluruh kain yang membalut tubuh wanita itu, tampak basah kuyup.


Angin kembali menajamkan tatapannya, terlalu jauh baginya untuk melihat dengan jelas. Terukir jarak sekitar sepuluh meter dari si tiang listrik. Sangat tidak mungkin untuk mendekat, karena ia tidak ingin meninggalkan Berlian sendirian.


Namun beberapa saat kemudian, Angin terkesiap ketika wanita yang berdiri di samping tiang listrik itu memutar rotasi lehernya tiga ratus enam puluh derajat sekaligus, seolah lehernya tak memiliki tulang.


Angin hampir saja terpelanting karena saking terkejutnya. Sudah bisa dipastikan, jika sosok yang ia lihat itu bukanlah manusia bernyawa. Sontak ia berlari dan melompat ke kursi kemudi, lalu sesegera mungkin menggerakkan mobilnya menjauh dari sana.


Bisa Angin saksikan dari kaca spion di hadapannya, sosok arwah penasaran yang telah menjadi Penunggu Jalan itu, memudar secara perlahan bak ditelan kabut malam.


Sejurus kemudian, dengan sebelah tangan yang tampak lihai mengemudi, ia menghubungi keluarganya dan memberitahukan tentang kejadian ini. Kemudian melaju menuju rumah sakit.


"Kamu harus bertahan, Lian!" pungkasnya ketika menatap wajah Berlian yang masih berhias cairan merah.


Sesampainya di rumah sakit, keluarga Berlian telah menunggu di sana. Tidak ketinggalan sosok Gempita dan juga Awan. Sedangkan Pelangi, ia diminta Angin untuk mengantarkan ibunya pulang dan menemaninya terlebih dahulu, karena ia dan sang ayah akan ikut gabungan petugas BASARNAS dan Polisi dalam pencarian Angkasa.


...FLASHBACK END...


Aku harus ke rumah sakit, aku tidak boleh meratapi semua ini! Bawel harus ditemukan. Batinnya menyemangati diri. Kemudian bangkit dan mengajak ayahnya pulang, agar bisa menemani sang ibunda. Sedangkan ia akan menemui keluarga Berlian.


...๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž๐Ÿ’Ž...


Pembaca: "Unsur komedinya kemana bu?"


Author: "Lagi aku selipin di pohon bambu."


Pembaca: "Jadi, cerita ini belom tamat?"


Author: "Eiits ... belum dong, kisah ini baru dimulai, Beibeh!"


Nih, kalian semua dapat salam Angkasa๐Ÿ‘‡

__ADS_1



__ADS_2