
Seperti biasa, Angin disibukkan dengan pekerjaan kantornya. Hari ini ia ingin semuanya terselesaikan dalam waktu yang sudah direncanakan, karena ia tidak ingin melewatkan momen indah nanti malam.
Setelah memimpin pertemuan dengan staf penerbitan, ia dan Awan segera menuju Galery. Ada peluncuran buku barunya di sana. Tentu saja, dia'lah bintang utamanya.
Sesampainya di Galery, sudah banyak awak media yang mengerumuni ruangan lebar yang terletak di lantai satu itu. Angin dan Awan mengambil posisinya masing-masing, pada kursi yang telah di sediakan. Banyak juga tamu undangan dan para pemburu jendela dunia, menyaksikan ceremonial tersebut karena tidak ingin ketinggalan berita.
Setelah memberikan sambutan dan mengupas sedikit tentang garis besar dari karyanya, Angin lantas dikagetkan dengan kedatangan Rindu yang tiba-tiba membuat kehebohan seantero ruangan. Semuanya tampak senyap, seolah terhipnotis dengan hadirnya gadis yang selalu sukses menjadi pusat perhatian itu.
Angin melirik ke arah Awan, dan memberinya isyarat agar bertindak. Pria bermata sipit itu tentu saja memahami maksud dari keinginan sang atasan. Ia tak bergeming, lalu membawa Rindu keluar dari sana.
Setelah dirasa cukup aman, Awan lantas melepaskan cekalannya terhadap Rindu.
"Apaan, sih? Emangnya aku maling apa, pake diseret-seret segala?" cebik gadis yang bernama lengkap Cahaya Rindu itu.
Awan yang menyadari bahwa adanya ikatan kekerabatan antara Rindu dan atasannya, tidak bisa berbuat banyak. "Maaf, Nona. Seperti yang diinginkan oleh Angin, Nona tidak boleh menghadiri acara ini," tutur Awan dengan hati-hati. Khawatir jika Rindu akan tersinggung.
"Kenapa?" desak Rindu dengan nada setengah berteriak. "Aku ini juga Penulis tau, kalian kira aku ke sini mau ngemis apa?" bentaknya lagi dengan emosi yang mulai tersulut.
Tak sadar diri!
Awan hanya bisa membatu. Meladeni Rindu sama saja dengan meladeni emak-emak komplek yang lambe-nya terbilang turah. Jadi, sangat susah sekali untuk menyela, apalagi membantah. Sama saja dengan mencari masalah. Lebih baik diam sajalah.
Beberapa detik kemudian, Awan terbebas dari mode jengahnya, ketika Angin tampak mendekat dan mengambil alih perannya. "Kamu tunggu aku di mobil aja, Wan!" Tanpa penolakan sama sekali, tentu saja Awan dengan senang hati melenggang dari sana.
"Sebenarnya apa maumu, Rindu?" Bukankah kamu sudah menjadi Penulis terkenal di N.O.V.E.L.T.O.O.N? Apalagi yang kurang coba?" Seakan sudah bisa menebak tujuan dari datangnya adik sepupunya itu, Angin langsung saja kepada intinya. Seperti biasa, ia paling tidak suka budaya basa-basi.
Horang tampan mah bebas!
Rindu perlahan memasang tampang sok memilukannya. Lalu menunduk sejadi-jadinya. "Tapi 'kan, karyaku belum ada yang terbit, Mas." Meremasi jari-jemarinya yang memiliki kuku dengan sejuta warna. Sepertinya gadis ini juga salah satu fans fanatik artis K*rea. Angin masih mendengarkan, dengan kedua tangan terselip gagah pada kedua saku celananya. Namun, tentu saja dengan pandangan yang sengaja di buang ke sembarang arah.
"Tolong dong, sekali aja, Mas. Aku akan sangat berterima kasih sama kamu. Jika perlu aku bisa menukarnya dengan tubuhku," tutur Rindu, yang membuat Angin naik pitam. Pasalnya, gadis itu mengatakannya dengan penuh kesadaran. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia sedang mabuk daratan. Apalagi mabuk lautan, atau mungkin mabuk kepayang?
Ah, sudahlah, lupakan!
__ADS_1
Mending kita lanjutkan!
"Kamu ini bicara apa, sih?" Angin mendelik tidak suka ke arah kerabatnya itu. Ia tak habis pikir jika Rindu bisa berbuat senekat itu hanya demi ketenaran.
Ketenaran yang bahkan hanya singgah untuk sesaat. Dengan sekejap, hal itu akan tertelan habis berboncengan dengan waktu yang kian bergulir.
Teruntuk kamu yang suka melecehkan karya sendiri demi angka popularitas, siap-siap saja terhempas kembali layaknya barang bekas!
Karena sesuatu yang didapatkan dengan cara instan, maka tak akan pernah bertahan hingga akhir zaman.
Jauh syekallee!
"Iiiih, Mas Angin tuh mikirnya kemana, sih?" Rindu menautkan kedua alisnya, curiga. Sementara Angin pun, sama curiganya.
"Lah, tadi kamu bilang begitu." Pria itu mencibir.
"Maksud aku tuh, aku bisa jadi Penulis kontrak di perusahaannya Mas Angin, gitu ...." Rindu bersungut masam ketika ia menangkap pikiran kotor dari kakak sepupunya itu.
"Benarkah begitu, Mas? Berarti aku ada harapan nih? Asik ... asik ... asik ...." Rindu terlihat begitu semangat. Karena saking senangnya, ia hampir saja memeluk tubuh Angin. Beruntung, pria itu cepat menghindar. Kemudian bergerak menjauh secara perlahan.
Tidak semudah itu, Esmeraldah. Angin masih sempat membatin di sela-sela langkah lebarnya.
...πππ...
Penulis Singa.co sedang memperbaiki sistem pemidainya. Mereka curiga kalau-kalau ada yang salah dengan mesin tersebut.
"Kamu yakin ini bakalan berhasil, Sayang?" Senja melayangkan pertanyaannya pada sang kekasih yang masih sibuk dengan gawainya. Sepuluh jarinya tampak menari di atas layar dua kali dua meter itu.
"Gue gak percaya kalo orang mati bisa idup lagi. Pake acara mengirilisin novel anyar lagi," ujar Jibril tanpa mengalihkan pandangannya. Alat itu masih dalam proses penyetelan ulang, alat yang mereka gunakan untuk memonitor seluruh karya tim.
Kenma yang sedari tadi turut andil dalam proses perbaikan, lantas bersuara, "Gua gak ikut-ikutan kalo masalah hantu."
"Emang kenapa?" Jibril tampak menaikkan sebelah alisnya ke arah Kenma. Seandainya jawaban Kenma hanyalah berisi konten sampah belaka, ia sudah siap siaga dengan bogeman terbaiknya.
__ADS_1
"Gua gak mao berurusan ama Angkasa," jawab Kenma masih dalam mode bermain teka-teki.
Kali ini Senja yang berbunyi, "Masa' ia elu cemburu ama hantu?" Lelaki berambut sepunggung ini, kalau berbicara ... suka nyakat.
"Ah, elu ... jan nyakat gua lu. Tuh, pacar lu kemarin nangis-nangis ama Authornya, karena gak terima kalo Angkasa dimampusin," terang Kenma dengan mulut pedasnya yang memasuki level lima belas.
Bon Cabe keles pake level segala!
Senja sontak menatap curiga ke arah Jibril. Diikuti bekapan mulut dengan tangannya sendiri, wanita itu merasa sedang dikerjai.
Dengan telepati yang kuat, seakan faham dengan tatapan Senja, Jibril pun membela diri, "Mana ada, Sayang. Kalo elu percaya Kenma, berarti elu termasuk golongan yang tersesat."
"Ah, elah, napa sekarang gua yang jadi setan?" Kenma tidak terima.
"Lah, bukannya yang suka menggoda dan mempengaruhi manusia itu emang setan?
Mendengar pertanyaan itu Kenma membatu. Mungkin setelah ini ia akan pundung atau mungkin melayu.
Ah, tapi tidak mungkin. Karena ia menyatakan bahwa dirinya sudah bertaubat dan tidak akan kembali ke dalam mode Kang Ghosting.
Semoga aja bukan taubat sambal ya, Gengs!
...πππ...
Berlian perlahan mendekat. Bisa tertangkap oleh lensa bulatnya bahwa sosok yang ingin menemuinya itu adalah seorang wanita.
"Selamat pagi menjelang siang, Nona." Gadis yang berusia tidak jauh dari Berlian itu, berucap sambil berdiri dengan sopannya.
"Iya, selamat pagi." Berlian membalas, lalu meminta tamunya untuk duduk kembali.
"Nona pasti bertanya-tanya tentang siapa saya sebenarnya?" tuturnya lagi seakan bisa membaca air muka Berlian yang masih tampak kebingungan.
"Perkenalkan nama saya ... Pelangi. Saya ditugaskan untuk menemani Nona berbelanja hari ini."
__ADS_1