
Setelah tubuh gempal Fafa tenggelam ditelan tirai besi yang tiba-tiba terjun dari langit-langit ruangan, Kenma, Novi, dan Magisna hanya bisa menepuk keningnya masing-masing.
Bukan lagi hal asing bagi mereka, jika harus menyaksikan aksi mukbang yang dilakukan oleh Fafa, yang bahkan dilakukan berkali-kali tanpa merasa kenyang. Ditambah lagi tripot kecil yang berisi kamera, selalu setia merekam pergerakan bibirnya turun naik, ke kiri, dan ke kanan, serta lezatnya menu makanan yang sedang ia lahap.
Maklum saja ... Food Vlogger!
"Yodah, gue ke kamar dulu." Novi beranjak dari peraduan, disusul oleh Magisna yang juga akan mengistirahatkan diri.
"Selamat memindai akun terkutuk ya, Tan," ucap Magisna sebelum berlalu. Kenma hanya melengos dan mencebikkan bibirnya sebagai tanggapan. Ia sangat tahu bahwa Magisna bermaksud mengejeknya.
Begitulah keseharian mereka berdua, terkesan seperti tokoh kartun kucing dan tikus yang selalu bertikai, namun saling sayang.
Ketika ingin memasuki ruang pribadi masing-masing, langkah Novi terhenti sesaat karena melihat pemandangan aneh. Tampak di meja makan, sendok dan garpu yang melayang sendiri seolah sedang melakoni adegan suap-menyuap.
Novi memberi kode kepada Magisna yang juga masih berdiri di depan pintu kamarnya. "Pssst ...." Diiringi gerakan bibirnya yang mengarah pada meja makan transparan, yang terletak tak jauh dari posisi mereka saat ini.
Magisna mematung. Bukan karena merasa takut, tetapi agar tidak menciptakan keributan. Wanita itu langsung mengekori Novi berjalan mengendap-endap ke arah meja makan, seperti halnya dua agen profesional yang sedang menjalankan misi rahasia.
...Satu...
...Dua...
...Tiga...
...Empat...
DUAAAR
Suara ledakan pistol buatan dari mulut seseorang berhasil mengagetkan dua agen profesional yang gagal misi itu, beserta target incarannya. Sendok dan garpu itu pun tiba-tiba tergeletak di atas piring yang berisi satu porsi rujak cingur, khas Surabaya.
"Potato ...." Novi bergumam sambil memegangi dadanya yang berirama dag dig dug serrr.
"Apaan sih lu, Mpok? Bikin kaget aje," sergah Magisna sembari mentowel pipi bundar si Kentang.
Potato hanya terkekeh dengan wajah polos tanpa merasa terbebani oleh dosa kecil. "Abisnya kalian bedua udah kek maling di rumah sendiri," cercanya membela diri. "Emang pada ngapain, sih?" Jurus kepo Penulis yang satu ini, memasuki level awalnya.
"Ini, tadi kita lihat sendok dan garpu ter- ...." Sembari menoleh kembali ke arah meja makan, kalimat Novi pun terpotong, karena tidak ada lagi pemandangan aneh yang sempat ia saksikan tadi.
__ADS_1
Kenapa semuanya terlihat normal? Batinnya sendiri. Ia melirik ke arah Magisna, namun wanita itu hanya mengedikkan kedua pundaknya.
"Elu tadi liat 'kan, Kun?" tanya Novi dengan mode sebalnya.
"Liat paan sih, Nov?" Magisna berkelakar.
"Ya elaaah, yang tadi itu." Novi tampak semakin sebal.
Magisna menghela napas sejenak. "Gini ya, Nov. Sebetulnya ... tadi itu gue gak liat apa-apa," tuturnya dengan wajah serius. Sementara Potato semakin kebingungan sembari memandang ke arah kedua sahabatnya itu secara bergantian.
"Terus ... ngapain elu mingkem aja dari tadi? Pake ngekorin gue segala," cebik Novi yang merasa dipermainkan.
Magisna sudah terkekeh dahulu sebelum merespon kalimat Novi. "Hehehe, biar pembaca ikutan greget, Nov." Wanita itu langsung membungkam mulutnya karena sedang menahan tawa.
Novi tampak meradang ketika melihat Potato yang juga tak kalah tergelitiknya, setelah mendengar ocehan gaje si Ratu Magis itu.
"Gue serius lah, elu pikir gue ngadi-ngadi?" Novi masih memperjuangkan kebenaran yang ingin dia sampaikan.
Magisna dan Potato saling lirik, lalu fokus kembali ke arah Novi. "Tunggu ...!" Sepasang bibir Potato mengeluarkan kicauan setelah beberapa detik bergeming. "Gue punya ide," ucapnya dengan satu telunjuk mengarah ke atas. "Gimana kalo kita check CCTV?" tuturnya mengeluarkan ide briliant yang hampir tak terpikirkan oleh dua wanita berbusana muslimah tersebut.
"Ngapain repot-repot, sih?" celetuk Jibril yang sedang duduk anteng di atas salah satu kursi, meja makan. Karena hampir tergelak mendengar percakapan antara ketiga sahabatnya itu, akhirnya ia keluar dari mode tak kasat matanya. Lalu dengan sekali jentikan jari tengah dan jempolnya, tampaklah sosok Senja Terakhir yang ternyata sedang duduk santai di sebelahnya.
Karena memang, hanya Jibril yang bisa melakukan jurus yang satu ini!
"Jadi, yang tadi lagi beradegan mesra di balik layar tak kasat mata itu ... kalian?" Novi menautkan kedua alisnya. Sedangkan Jibril dan Senja kembali menikmati rujak cingur tersebut sembari mengangguk tipis. "Gue kira si Casper," gumam Novi kemudian.
"Mereka udah balik, kok. Abis gue keramasin atu-atu," tutur Jibril dengan tangan yang masih fokus mengarahkan suapan selanjutnya ke mulut Senja.
Tumben mesra!
"Kita samperin, yuk." Kini Potato dan Magisna berkata dengan nada girangnya.
"Jangan ...!" Senja mengangkat sebelah telapak tangannya ke depan. Membuat Magisna dan Potato refleks menghentikan pergerakannya yang sudah menuju langkah ketiga. "Mereka lagi pada molor, tadi abis kesurupan." Seketika suasana menjadi hening.
Berhubung ada yang janggal dengan kalimat terakhir dari Senja, akhirnya Novi, Magisna, dan Potato memekik bersamaan.
Sejak kapan setan bisa kesurupan?
__ADS_1
...πππ...
Berlian baru saja mendaftarkan karyanya dalam salah satu kompetisi menulis yang diadakan oleh pihak N.O.V.E.L.T.O.O.N. Kali ini ia ikut serta dalam kategori novel dengan 'tokoh utama wanita'.
"Kamu yakin mau ikut lomba itu, Er?" tanya Gempita yang baru saja tiba di sana. Pasalnya, Berlian telah menceritakan perihal event tersebut kepadanya melalui line telepon. Gadis itu langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Sementara Berlian masih dengan mode seriusnya di depan layar lappy.
"Yakinlah, Gem. Emangnya kenapa, sih?" Berlian melirik sekilas ke arah Gempita.
Gadis yang terkenal dengan peran centilnya itu spontan mendudukkan tubuhnya dengan sebuah bantal di atas pangkuan. "Inyong udah berkali-kali ikut, Er. Tapi, tetep aja yang menang ... karya yang itu-itu aja," jelasnya kemudian.
Berlian merasa tertarik dengan percakapan tersebut. Hingga akhirnya, ia menghadapkan tubuhnya ke arah Gempita, sempurna. Dengan menopangkan sebelah kakinya di atas kursi. Sedangkan sebelahnya lagi, dibiarkan berjuntai ke bawah. "Maksud kamu apaan, sih, Gem?" tanyanya setelah membenarkan posisi kaca matanya.
"Gini, Er." Tumben-tumbennya si Gempita berbicara serius. "Sejauh inyong ikut kompetisi menulis di sini, jarang banget novel-novel baru dengan angka popularitas yang terbilang rendah, bisa masuk dalam kategori pemenang." Gempita menjelaskan.
"Kok bisa gitu? Emangnya mereka gak liat dari aspek penulisan atau idenya?" Berlian menyanggah.
"Kalo kamu nanyain itu sama inyong, terus inyong nanya siapa, yak?" kelakar si gadis Ngapak. Membuat Berlian beranjak dari posisinya, lalu duduk di samping Gempita.
"Aku serius nanya, Gem." Tatapan gadis cupu itu tampak serius, tanpa adanya tanda-tanda sedang ingin bercanda.
Gempita yang memahami hal itu, lantas kembali ke mode awal. "Kayak yang inyong bilang di telepon tadi. Sistem yang berlaku di N.O.V.E.L.T.O.O.N ini, hanya dilatih untuk memindai karya dari segi angka, Er. Maksudnya; views. Dengan kata lain, tidak penting soal cara penulisan atau pun isi cerita. Yang penting banyak yang suka dan baca, udah bisa jadi juara."
Berlian terdiam sejenak, mencoba memahami penjelasan lanjutan dari sahabatnya itu. "Apa gak ada sistem penjurian?" tanyanya lagi semakin penasaran.
"Ya, ada lah, Er. Tapi, tetep aja ... setelah hasil dari sistem pe-rangking-an. Makanya, novel-novel baru yang jumlah pembacanya cuma seupil kayak punya kita ini, bisa dibilang udah ketendang duluan sebelum sempat dinilai sama dewan juri," sarkas Gempita dengan napas memburu. Agaknya dia kembali tersulut emosi jika sedang membahas tema yang satu ini.
Berlian bergeming. Ia semakin memahami perkataan Gempita. Dengan kata lain, tidak akan ada celah bagi dirinya untuk maju sebagai pemenang. Namun, bukan Berlian namanya, jika harus kalah sebelum berperang.
Apa pun hasilnya nanti, ia akan tetap optimis. Menciptakan karya berbobot dan berkualitas tinggi adalah tujuannya. Dan semua itu tidak akan runtuh hanya karna permainan takdir dari sistem.
Tidak akan pernah!
...-...
...πππ...
...BEST OF LUCK UNTUK PESERTA LOMBA...
__ADS_1
...SEMOGA KEBERUNTUNGAN BERPIHAK PADA KALIAN...