Berlian & Kepala Casper

Berlian & Kepala Casper
Modus Baru


__ADS_3

Angin masih bergeming mendengar penjelasan Berlian. Ada rasa haru yang menyirami kalbunya karena gadis itu mengutarakan kalimat 'Aku cuma pingin melindungi kamu dari perbuatan keji'. Begitulah penggalan kalimat Berlian yang masih terngiang di benak Angin.


Sebegitu sayangkah Berlian padaku? Angin membatin bahagia. Senyuman lebar mengembang di wajahnya. Padahal ia tidak pernah selepas ini sebelumnya.


Cieee Angin mulai bucin!


"Baiklah, kalo kamu sudah memutuskan. Aku bisa apa? Lagian, apapun yang kamu lakukan, aku pasti akan selalu mendukung."


Angin menutup sambungan teleponnya, ketika Awan memasuki ruangan. Pria berwajah oriental namun bermata tak begitu sipit itu, menggenggam sebuah tablet berukuran sepuluh inci di tangannya.


"Sudah terjual semua?" tanya Angin sambil bertopang siku. Dagu runcing dan wajah tampannya begitu menawan. Dengan balutan setelan jas berwarna lila, menyulap penampilannya semakin tampak berwibawa sekaligus paripurna.


Awan yang baru saja mendudukkan tubuhnya pada kursi yang berada di hadapan Angin pun, lantas menyodorkan tablet itu kepada atasannya. "Jackpot, Ang. Semua buku terjual habis. Ditambah lagi karya terbarumu itu masuk dalam list best seller nasional," tutur Awan dengan wajah antusiasnya.


Angin yang baru mendapatkan kabar tersebut, hanya menyunggingkan senyuman tipis.


"Kok kamu biasa aja, sih, Ang?" Awan mengernyit keheranan.


"Aku belum bisa dikatakan berhasil jika Lian belum menggapai mimpinya, Wan." Angin tersenyum masam dan membuang pandangannya ke langit-langit ruangan. "Saat ini kebahagiaanku hanya satu, melihat Berlian menjadi Penulis Profesional dan Terkenal."


Awan membungkam mulutnya dengan sebelah telapak tangan dengan maksud menahan tawa.


"Ada yang lucu?" Angin menaikkan sebelah alisnya ketika menangkap suara tawa Awan yang terdengar sedikit tertahan.


Tentu saja setelah itu Awan langsung tergelak tanpa merasa segan sama sekali. "Sejak kapan kamu punya rasa peduli? Sepertinya kamu lagi demam tinggi." Awan beranjak dari kursi dan menempelkan punggung tangannya pada kening Angin.


Angin bergeming. Hanya kedua bola matanya saja yang bergerak mengekori tingkah absurd Awan. "Suhunya normal-normal aja," cakap Wakil Direktur Utama itu.


Angin melengos dan tersenyum mengejek ke arah Awan. "Jelaslah aku normal, karena sepertinya kamu yang lagi demam. Atau mungkin sariawan."


Angin bangkit dari kursinya, meraih kontak mobil dan ponsel, lalu melenggang ke arah pintu.


"Hei, mau kemana Pak Direktur?" Awan dengan mode melongonya lantas bertanya.


"Yang jelas gak ke rumahnya Gempita," tutur Angin, kemudian berlalu.


Awan mengernyitkan dahinya. Masih belum mengerti dengan ucapan sahabat sekaligus atasannya itu.

__ADS_1


Kapan pekanya elu, Bang!


...πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž...


Setelah pulang dari kantor Zoya tadi, Berlian langsung kembali berkutat dengan karyanya, yang ia publikasikan di aplikasi N.O.V.E.L.T.O.O.N.


Sesaat setelah mengakhiri percakapannya dengan Angin, gadis cupu itu melihat segerombolan hantu cebol menyembul dari layar lappy seperti biasanya. Dari raut wajah mereka agaknya ada kabar baik yang sedang mereka bawa.


"Kalian kemana aja?" Berlian dengan mode sumringahnya langsung bertanya. Pasalnya, setelah momen pertunangan itu Kepala Casper tidak pernah menunjukkan batang hidung mereka, yang memang tidak begitu kentara.


"Kita ngelanjutin cuti, Berlian." Sahutan Kepala Vampire membuat gadis itu mengernyitkan dahinya.


"Bukannya kemarin udah cuti?!" protes Berlian yang masih ingat pada percakapan terakhir mereka.


"Kali ini cuti bersama lah, iyuh!" Kepala Syantik dengan bibir seksinya mengambil alih.


Berlian terkekeh mendengar dialog yang satu ini. "Memangnya kalian pegawai negeri, pake cuti bersama segala, aha."


"Kita cuti juga biar makin sakti, Berlian." Kepala Terakhir menyahuti di sela-sela tawa gadis cupu itu.


"Emangnya ada apa, Yang?" Kepala Kunti bertanya dengan wajah kepo.


"Aku kangen banget sama kalian. Udah lama kita gak ngumpul gini," ungkap Berlian berbalut air muka sendu.


Semua Kepala Casper tampak terenyuh, bahkan beberapa dari mereka telah digenangi air haru pada pelupuk matanya. Tentu saja, Kepala Syantik dan Kepala Kentang. Sementara yang lainnya hanya tertunduk merasakan atmosfer biru bahkan abu-abu.


"Yodah, yodah, gosah pada sedih." Kepala Koneng angkat suara ketika semuanya hampir tenggelam dalam kesedihan.


"Apaan sih, Sat? Ngerusak scene aja, Lu." Kepala Keparat dengan wajah dinginnya menatap Kepala Koneng dalam geram.


Pasalnya Kepala Koneng memang sering muncul mendadak di antara mereka dan tiba-tiba mengubah topik pembicaraan.


"Biar asik lah, ngehehehe...," tutur si Koneng dengan wajah cengengesan.


"Oya, Berlian, kita punya kabar baik nih." Kepala Kentang memasuki perannya.


"Sssst, jangan dulu, Mpok." Kepala Vampire menyela.

__ADS_1


"Eh, iya, yak, hihihihihi." Si Kentang lantas membekap mulutnya dengan telapak tangan.


"Kita mau ngasi peringatan aja nih, Berlian." Kepala Terakhir kembali angkat bicara.


"Apa?" Berlian masih setia menjadi pendengar yang baik bagi hantu-hantu cebol itu.


"Hati-hati dengan modus baru para penulis penipu!" imbau Kepala Terakhir.


"Maksudnya?" Berlian menautkan kedua alisnya tidak mengerti.


"Baru-baru ini banyak Penulis Penipu yang tiba-tiba nge-like pada bab terbaru, agar si sasaran mau balik ngintip karya mereka. Padahal datangnya aja menclok ke bab terakhir, seolah-olah bab-bab sebelumnya itu tiada artinya." Kepala Terakhir lanjut menjelaskan.


Berlian bergeming. Masih menyerap dengan baik apa yang disampaikan oleh makhluk astral berambut sepinggang itu.


"Oh, iya, aku baru ingat." Berlian lantas mengingat sesuatu. Ia langsung menghadap lappy-nya kembali dan menunjukkan sesuatu pada ketujuh sahabatnya itu.


"Kayak gini kan maksudnya?" Berlian menagih konfirmasi. "Akun ini baru aja ngasi like pada bab terbarunya aku, tapi aku belum kepoin novelnya dia. Karena aku paling gak respek sama Penulis yang tiba-tiba menclok di bab terakhir. Masih mending kalo ngasi boomlike. Nah, ini gak sama sekali." Berlian mengungkapkan fenomena yang baru saja ia temukan. Ia merasa hal itu selaras dengan informasi yang disampaikan oleh sahabat tak kasat matanya itu.


"Nah, makanya jangan kau mudah percaya, Sayang." Kepala Syantik menimpali. "Biasanya yang kayak gitu tuh kelakuannya, Kang Ghosting," lanjutnya sembari melirik ke arah Kepala Koneng.


"Apa lu liat-liat?!" sembur Kepala Koneng.


"Helleh ... kura-kura dalam perahu sih kau!" cibir Kepala Syantik.


"Gua udah tobat, Setan!" Lagi-lagi Kepala Koneng membela diri.


Yang lainnya hanya tergelak menanggapi pertengkaran kedua makhluk yang kemistrinya sangat kuat itu.


Kalau jauh saling rindu.


Kalau dekat saling memburu.


Memburu salah satu dengan bully-an Pak Penghulu.


Apa? Penghulu?


Baiklah, setelah ini kita bawa mereka ke Penghulu!

__ADS_1


__ADS_2