Berlian & Kepala Casper

Berlian & Kepala Casper
Tanpa Bayangan


__ADS_3

Berlian masih tampak tidak terima dengan fenomena yang sudah ia temukan. Terbukti dari raut wajah yang masih saja tidak enak untuk dipandang.


Hal itu, membuat Gempita sontak menegurnya, "Er ...." Berlian mengerjap dan menatap Gempita. "Sudahlah, gak usah dipikirin lagi. Lagian jumlah followers juga gak ada pengaruhnya untuk karya kita," jelas Gempita sekaligus menenangkan.


Berlian menegakkan tubuhnya, dan merespon, "Bukan masalah itu yang aku sesalkan, Gem." Berlian mengocok-ngocok minumannya dengan sedotan.


"Terus?" Gempita bertanya dengan kedua alisnya yang saling bertautan.


"Minimnya rasa saling menghargai itu loh yang aku sayangkan. Ini menyangkut harga diri, Gem. Bukan masalah angka. Kejujuran terkikis, sedangkan tipu daya semakin meraja lela." Berlian menghela napas kasar. Rencananya untuk menyedot minuman pun batal sudah. Ia sungguh sangat menyayangkan karakter insan yang seperti itu.


"Iya, inyong faham, Er." Gempita lantas menyentuh lembut punggung tangan Berlian, tanda menguatkan. "Inyong juga pernah kok, jadi korban PHP," aku Gempita.


Berlian sontak terperangah. "Serius, Gem? Aku kira kamu gak pernah di-PHP-in," ujar Berlian sembari terkekeh kecil.


"Iya, buat apa inyong boong," konfirmasinya secepat kilat. "Kita do'ain aja semoga mereka yang punya kebiasaan seperti itu, bisa cepat sadar dan bertobat," tutur gadis Ngapak itu dengan tulus dan ikhlas.


Berlian menganggukkan kepalanya setuju seraya mengaminkan do'a sahabatnya itu.


Memang benar. Sudah sepatutnya kita mendo'akan suatu kebaikan bagi orang lain yang sudah melakukan keburukan kepada kita. Entah karena khilaf ataupun dengan unsur kesengajaan, mereka bisa melakukan sesuatu yang tidak sepantasnya. Jadi, sebagai pihak yang sadar akan hal itu, tidak baik juga jika kita mendo'akan keburukan untuk orang lain. Karena sesuatu yang bersifat buruk, biasanya akan kembali kepada diri kita sendiri.


Ketika sedang asik mengobrol, tiba-tiba muncul gumpalan asap putih yang diekori oleh perubahan wujud makhluk yang sudah tidak asing lagi. Namun kali ini, penampilan mereka terlihat berbeda.


Hari ini, ketujuh hantu cebol itu mengenakan setelan ala koboi, lengkap dengan kacamata hitamnya. Balutan kemeja kotak-kotak dan slayer yang melingkar di leher masing-masing, membuat penampilan mereka sangat fantastis.


Berlian yang sudah terbiasa dengan penampakan ketujuh makhluk eksentrik itu, sontak tergelak karena melihat penampilan baru mereka yang menurutnya semakin menggemaskan.


"Jubah kalian kemana?" tanya Berlian di sela-sela tawanya. Kedua sudut mata gadis cupu itu tampak basah karena saking gelinya.


Karena mendengar sahabatnya berbicara sendiri, Gempita lantas mentowel lengan Berlian dan celingukan mencari lawan bicara gadis itu. "Er, kamu bicara sama siapa?" tanyanya sembari memegangi tengkuknya yang mulai meremang. Padahal ini masih pagi menjelang siang, namun karena Gempita tergolong dalam tipe orang yang penakut, sehingga tak memandang waktu, ia tetap merasa ngeri.


Berlian yang menyadari hal itu, lantas membungkam mulutnya. Ia baru ingat jika tidak ada yang bisa melihat sahabat cebolnya itu selain dirinya sendiri.


"Gak papa, Gem. Aku cuma teringat sesuatu, hehehe," kilah Berlian yang sudah mengerti akan ketakutan Gempita. "Aku ke toilet sebentar, ya," pamit Berlian sembari memberi kode kepada tujuh Kepala Casper itu untuk mengekorinya.


...πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž...


"Jadi?" Angkasa mengangkat suara ketika sang kakak duduk tepat di sampingnya.


"Gimana tadi malam?" tanya Angin. Ia ingin memastikan kebenaran gosip perjodohan itu.

__ADS_1


"Jadi, kakak menyuruhku ke sini ... hanya ingin menanyakan hal itu?" Angkasa bersungut kesal. Pasalnya, ia sampai membatalkan momen touring bersama teman-teman geng motornya.


"Kebiasaan! Ditanya bukannya jawab, malah balik nanya." Angin menoyor pelan kepala sang adik.


"Lagian juga, kakak 'kan bisa menanyakan hal ini via telepon tadi. Ngapain juga aku harus ke sini?" Angkasa menyandarkan tubuhnya pada sofa di ruangan pribadi kakaknya itu.


"Iya, kakak tetap akan dijodohkan dengan putrinya Om Iwa," goda Angkasa. Tentu saja, Angin terlonjak kaget.


"Apa? Om Iwa?" Angin mengoreksi kalimat adiknya.


"Iya, sahabatnya Papa itu namanya Om Iwa." Angkasa melipat kedua tangannya di depan dada dengan gaya santainya.


Bukankah anak Om Iwa itu ... Berlian? Batin Angin. Lalu tiba-tiba, pria tampan itu tampak termenung.


Berlian dan Angin sering bermain bersama ketika mereka masih kecil. Namun, setelah kepindahan keluarganya ke luar kota, membuat mereka terpisah dan tidak pernah bertemu lagi hingga sekarang.


Sementara Angkasa sudah dimasukkan ke boarding school sejak ia masih duduk di sekolah dasar. Jadi, wajar jika adiknya itu tidak mengenal keluarga Pak Iwa.


Sejenak menyibak memorinya tentang Berlian, membuat Angin senyum-senyum sendiri. Tanpa ia sadari, sang adik sudah menegakkan tubuh dan menyergahnya. "Hayo ...! Mikirin apa?" Angkasa menaik-naikkan kedua alisnya sembari tersenyum mengejek.


"Bocah kecil, mau tau aja!" sergah Angin kembali. "Jadi benar, mereka masih ingin menjodohkanku dengan putri sahabatnya?"


"Gak, Kak," jawab Angkasa sembari menggigit buah apel yang baru saja ia ambil dari atas meja.


Angkasa sontak menoleh ke arah sang kakak dengan tatapan curiga. "Bukannya udah digantiin aku?" Memicingkan kedua matanya. "Dan bukannya kakak gak mau dijodohkan?" tanya Angkasa dengan tatapan yang menginterogasi.


Angin mulai tersadar dan mencondongkan tubuhnya ke sandaran sofa. "Gak papa," jawabnya dengan nada dingin. "Terus ... kamu bersedia?" Angin lantas bertanya kepada sang adik.


"Pasti dong, apalagi aku udah lama kenal sama Berlian."


DEG


Jantung Angin bagai berhenti berdetak ketika mendengar nama itu.


"Dia teman sekelasku waktu kuliah," lanjut Angkasa sambil tersenyum ke arah lain.


Saat ini, Angin sudah bisa membuktikan bahwa Angkasa tertarik pada Berlian. Ia beranjak dari peraduan, hendak menuju pintu keluar.


"Loh, Kak, mau kemana?" Suara Angkasa menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh.

__ADS_1


"Ke toilet," jawab Angin singkat, lalu melenggang pergi.


...πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž...


"Kenapa kalian keluar di depan Gempita? Aku jadi keceplosan 'kan tadi." Berlian sudah berada di dalam toilet wanita. "Katanya mudik, kok udah balik lagi? Belum juga genap dua puluh empat jam," kelakar Berlian sambil terkekeh kecil. Ia membawa ketujuh sahabatnya itu berbicara di ruang wastafel yang terdapat banyak cerminnya.


Namun sebelum Kepala Casper menjawab pertanyaan darinya, Berlian sempat melirik dirinya dari pantulan cermin. Namun anehnya, ia tidak bisa melihat pantulan dari ketujuh hantu cebol itu.


Berlian tampak melongo, dan melempar pandangan kepada ketujuh makhluk ghaib itu. Walaupun sudah terbiasa dengan keberadaan mereka, namun tetap saja hal ini membuatnya bergidik ngeri.


"Heran pasti, ngehehehe," celetuk Kepala Koneng.


"Bingung ya, Yang?" Kepala Kunti angkat bicara. Mahkota Makaroon-nya tampak sudah bertambah koleksi dengan warna yang berbeda-beda. Kali ini, sesuai keinginannya. Topinya telah ia lepaskan ketika memasuki bilik termenung itu.


Berlian masih bergeming. Lalu, ia menatap satu persatu wajah Kepala Casper itu seraya menunjuk ke arah kaca.


"Iya, hanya makhluk hidup yang mempunyai bayangan, Berlian. Dan hanya makhluk hidup juga yang bisa dipantulkan dari cermin." Kepala Keparat memberikan penjelasan, seolah mengerti dengan bahasa isyarat dari gadis yang sejauh ini mereka lindungi itu.


"Yak, kita gak bisa eksis di depan cermin, makanya aku gak pernah repot-repot bawa alat make-up." Kepala Syantik menimpali sembari melepas topi koboinya. "Gerah sekali, iyuh," lanjutnya sembari mengeluhkan kostum baru mereka.


Pandangan para kembarannya lantas memicing ke arah Kepala Syantik. Kepala Casper yang terkenal dengan kecentilannya itu, lantas berkelakar, "Gurau aja, Kak, elaaah." Dengan wajah cengengesan Kepala Syantik lantas bungkam.


Berlian hanya menggeleng pelan sembari terkekeh kecil. "Lalu, ada hal penting apa sehingga kalian keluar?" tanya gadis cupu itu dengan alis bertautan.


"Ada beberapa komentar spam yang masuk ke notifikasi, 'kan?" Kepala Vampire merespon terlebih dahulu.


"Iya, ada. Tapi pas aku buka, komentarnya gak muncul di kolom." Berlian menerangkan.


"Bagus, berarti sistem semakin selektif," ucap Kepala Keparat. "Dengan kata lain, N.O.V.E.L.T.O.O.N udah ngerespon beberapa laporan dari pengguna.


"Semoga aja semua komentar sampah, gak lagi bisa muncul selama-lamanya, ya." Berlian berucap dengan penuh harap.


"Tapi, ada juga yang masih muncul, Berlian." Kepala Kentang menyanggah.


"Benarkah? Aku belum melihatnya lagi," ujar Berlian sembari membenarkan gagang kacamatanya yang sedikit melorot. "Jadi, cuma soal itu aja?" Berlian kembali bertanya.


"Ada satu lagi." Kepala Terakhir memasuki perannya. Sedari tadi, ia hanya menyimak dengan baik.


Kepala terakhir lantas menyampaikan hal penting yang memang perlu mereka sampaikan pada Berlian. Tentu saja demi kebaikan Berlian ke depannya.

__ADS_1


Setelah selesai dengan misi Kepala Casper, Berlian keluar dari toilet dan tidak sengaja menubruk sosok paripurna yang baru saja keluar dari toilet pria.


Dengan mata melotot sekaligus terpana, Berlian dan pria itu serentak berkata, "Ka-kamu ...."


__ADS_2