
Tidak bisa dipungkiri, komentar berlabel sampah seperti yang telah banyak disebar oleh beberapa penulis yang salah kaprah tentang makna promosi, masih saja meraja lela di aplikasi N.O.V.E.L.T.O.O.N.
Mungkin sebagian besar penulis, sangat menantikan dan menganggap romantis komentar tersebut. Namun jangan salah, masih banyak juga kelompok penulis yang tidak mengindahkan bahkan risih terhadap komentar PHP seperti itu.
Selain itu, beberapa penulis juga menganggap bahwa komentar spam adalah komentar yang sangat meresahkan.
Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan komentar spam?
Baiklah, mari kita simak penjelasan di bawah ini!
Komentar spam adalah komentar yang tidak diinginkan oleh penulis (pembuat konten) atau yang biasa dikenal dengan istilah 'Komentar Sampah'.
Mengapa bisa dibilang 'Komentar Sampah'? Karena Kang Spam biasanya memberikan komentar yang tidak sesuai dengan konten atau isi cerita. Bahkan komentar yang ia tulis sangat melengceng dari topik yang sedang dibahas.
Komentar spam ini bentuknya juga bermacam-macam. Misalnya; komentarnya terlalu singkat (like, hadir, semangat), meminta kunjungan balik (jangan lupa feedback ya), komentar sambil promosi (dapat salam nih dari novelku yang berjudul 'Minta Ditabok') dan masih banyak lagi jenis komentar meresahkan yang bisa dijumpai di aplikasi paling horor ini.
Nah, penjelasan ini sengaja ditulis untuk meluruskan kesalahfahaman tentang makna komentar spam. Karena kebanyakan penulis mengartikan bahwa komentar yang berisi promosi itu bukanlah termasuk dalam jenis komentar sampah. Padahal, promosi yang terus menerus dilakukan dan dalam frekuensi yang berulang-ulang, itu juga termasuk komentar spam.
Bahkan, hal itu membuat si penerima menjadi muak bahkan muntah pelangi seperti ekspresi sebuah sticker yang tertera pada kolom komentar di dalam aplikasi ini.
Nah, sebenarnya apa sih tujuan seorang penulis mengirim komentar spam pada karya orang lain? Agar mendapatkan banyak pengunjung? Atau untuk menaikkan angka popularitas?
Benar sekali. Memang hanya dua tujuan itu, yang sedang mereka kejar. Tidak masalah orang lain tidak membaca karya mereka. Tidak masalah orang lain menipu mereka. Tidak masalah orang lain hanya mengintip karya mereka, lalu balik kanan tanpa memberikan kesan dan pesan. Toh, mereka juga tidak menghargai karyanya sendiri.
Buat apa menghabiskan banyak waktu untuk menulis, namun setelah itu karyanya hanya untuk diinjak-injak sendiri?
Apalah makna sebuah popularitas tanpa adanya kualitas?
Pembodohan diri!
Sebenarnya apa sih yang mereka harapkan?
Jadi penulis terkenal? Tetapi dengan menempuh jalan sampah?
Atau bahkan melakukan pembenaran diri dengan dalih untuk bertahan hidup?
Apa sebegitu pentingkah sebuah angka? Jika sesungguhnya tidak ada yang membaca karya mereka.
Ah, sudahlah. Tidak semua orang menjadi penulis karena ingin berbagi ilmu. Tidak semua orang menjadi penulis untuk berbagi pengalaman. Tidak semua orang menjadi penulis untuk memberikan pendidikan. Tidak semua orang menjadi penulis untuk mengatakan kepada dunia bahwa 'aku ada'. Bahkan, tidak semua orang menjadi penulis untuk meluruskan budaya yang salah.
Karena kebanyakan orang menjadi penulis hanya untuk tenar bahkan viral semata. Sebagai ajang suka-suka, dan berlomba untuk menjadi yang terdepan. Hingga rela melakukan apapun demi tercapainya tujuan itu, walaupun harus menginjak-nginjak karya orang lain dengan kata -kata manis namun penuh tipu daya.
...πππ...
Berlian masih menatap haru layar lappy-nya. Membaca ulang komentar pembelaan yang ditujukan pada dirinya. Tak pernah disangka-sangka. Ada yang mendukungnya habis-habisan dalam hal ini.
Sebegitu berharganya kah dirinya bagi ketujuh Kepala Casper? Berapakah upah yang diterima oleh hantu cebol itu selama menekuni misi ini? Sebenarnya siapa yang telah mengirimkan makhluk-makhluk itu untuknya? Berlian bertanya-tanya di dalam hati.
Namun sejurus kemudian, ia mulai melupakan pertanyaannya, yang memang seharusnya tidak ia pikirkan sama sekali. Sudah sepatutnya ia banyak bersyukur akan hal ini.
Tuhan memang Maha Adil. Di saat ayahnya tak berpihak pada dirinya, Tuhan malah mengirimkan dewa penolong. Walaupun dalam wujud yang sangat menyeramkan, namun Berlian sudah mulai terbiasa bahkan bersahabat.
__ADS_1
Lama Berlian berada dalam mode termenung. Ia kembali memikirkan apa yang salah dengan tulisannya? Kenapa tidak ada yang mau membaca karyanya dengan sepenuh hati?
Seketika itu juga, butiran bening sebening kristal menggelinding menuruni tebing wajahnya. Apakah ia bersedih? Pasti. Apakah ia kecewa? Pasti. Apakah ia merasa paling buruk? Pastinya.
Kalau selalu seperti ini, bagaimana caranya untuk menggapai mimpinya? Apakah ia harus mengekori jejak Kang Spam yang popularitasnya hingga jutaan itu? Bahkan yang pangkatnya sudah berlabel emas sekalipun, namun tetap saja suka menebar komentar spam.
Jadi sebenarnya apa nilai pangkat mereka?
Berlian tertegun. Lalu mulai menyadari.
"Tidak! Aku tidak akan pernah menjadi seperti mereka." Gadis itu menegaskan kepada dirinya sendiri. "Ada Kepala Casper yang akan selalu mengiringi langkahku." Senyumannya tampak menyabit. "Jadi, aku tidak sendirian." Mengepal sebelah tangannya ke atas, tanda menyemangati diri. "Aku akan terus menulis, dan memperbaiki kualitas tulisanku."
...πππ...
Di kantor Penerbit
Pelangi sedang berkutat dengan pekerjaannya. Meng-input beberapa data penting ke dalam komputer. Di saat sedang serius dan bersitatap dengan layar putih itu, tiba-tiba sebuah suara gebrakan meja membuatnya terperanjat hebat.
GEBRAAAK
"Eh, eh, kancong bedayong ...," ujar Pelangi dengan bahasa khas sembari meletakkan sebelah tangan di depan dadanya. Selain tomboi dan kaku, ternyata gadis satu ini juga memiliki kebiasaan latah yang merujuk kepada kata-kata yang bermakna umpatan.
Secara bersamaan gadis itu menoleh ke arah sumber suara. "Mbak Rindu," tutur Pelangi agak lirih.
"Aku ingin bertemu Mas Angin," ketus Cahaya Rindu, adik sepupunya Angin Topan seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
Masih ingat kan?
Mendengar penuturan Rindu, Pelangi sontak beranjak dari duduknya. "Maaf, Mbak, Pak Angin sedang tidak bisa ditemui saat ini," tegas Pelangi, menjalankan perintah dari Angin.
"Kamu jangan sok gitu ya, kamu lupa siapa aku?" Rindu tersulut emosi.
"Maaf, Mbak, saya gak lupa kok sama Mbak Rindu. Kalo saya lupa, pasti saya gak akan mengenali wajah Mbak," kelakar Pelangi, namun tak membuat Rindu menjadi terhibur.
"Ah, kamu itu selalu aja bikin emosi." Tanpa menggubris perkataan Pelangi, Rindu lantas menuju pintu ruangan Direktur Utama yang terletak sekitar tiga meter dari meja Pelangi.
Namun dengan sigap, Pelangi menyusul gadis itu dan menghalangi pintu dengan merentangkan kedua tangannya.
"Pelangi ... berani-beraninya kamu!" Rindu berteriak dengan berbalut amarah di seluruh wajahnya.
"Maaf, Mbak Rindu. Saya hanya menjalankan tugas," tutur Pelangi setegas mungkin. Ia tetap menahan tubuh Rindu yang masih saja berusaha menerobos pertahanannya.
Lama kedua gadis itu bergelut di depan pintu, hingga menciptakan sebuah keributan yang terdengar hingga ke telinga si Pemilik Ruangan.
SREEET
"Ada apa ini ribut-ribut?" Suara bariton bernada dingin itu sukses membuat Pelangi dan Rindu menghentikan aksi tarik-menarik dan dorong-mendorong yang mereka lakukan.
Pelangi sontak menghadap Angin, merapikan jas abu-abu monyetnya yang tampak sedikit berantakan, lalu membungkukkan badannya, tanda memberi hormat. "Maafkan saya, Pak. Jika tindakan saya membuat Bapak terganggu. Saya hanya menjalankan perintah saja."
__ADS_1
Mendengar hal itu Rindu tampak mendengus kesal. "Masa' iya, dia ngelarang aku untuk bertemu saudaraku sendiri," tutur Rindu seraya memasang wajah meminta pembelaan. Sedangkan jari telunjuknya menodong telak ke arah Pelangi. Pelangi hanya tertunduk, tak berani mengangkat wajahnya.
Membuat Angin menghela nafas berat, lalu menggeleng tak habis pikir dengan tingkah adik sepupunya itu.
"Ya, sudah, terima kasih, Pelangi." Angin mengapresiasi kegigihan sekretarisnya itu. "Dan kamu, Rindu ...." Menatap ke arah Rindu, lalu berkata, "Ikut aku sekarang!" Angin menyeret Rindu dan melenggang dari sana.
Ketika keduanya tiba di halaman parkir, Angin menghempaskan cekalannya dari lengan Rindu. "Udah berapa kali aku bilang, jangan pernah buat keributan di kantorku!" Angin menatap Rindu dengan wajah frustasi. Pasalnya, Rindu selalu saja menciptakan kegaduhan jika datang ke kantornya.
"Sekretaris kamu tuh, sok banget. Aku kan cuma mau ketemu kamu, Mas." Rindu malah menyalahkan Pelangi, seakan gadis itulah yang menjadi sumber keributan.
"Pelangi hanya menjalankan perintahku, mengerti?" Angin mendelik ke arah Rindu seraya berkacak pinggang. "Ada urusan apa kamu ke sini?" Angin menatap malas ke arah Rindu.
"Serius? Mas ngajak aku bicara di parkiran begini?" Rindu memasang wajah tidak percaya.
"Katakan saja, sebelum aku berubah pikiran!" Angin membuang pandangannya ke sembarang arah.
Rindu mendengus kesal seraya berkata, "Dasar gak punya perasaan."
"Apa kamu bilang?" Memandang Rindu dengan tatapan tajam.
"Eng-enggak kok, aku gak bilang apa-apa." Berusaha mengelak dengan memasang wajah cengengesan.
"Cepat katakan! Sebentar lagi aku ada meeting dengan pihak Pemasaran." Melirik penunjuk waktu yang melingkar posesif di pergelangan tangannya.
Dengan terpaksa, Rindu mengeluarkan satu naskah novel dari dalam tasnya dan menyodorkannya pada Angin. "Kenapa Mas menolak menerbitkan novelku ini?"
Angin melirik sekilas ke arah naskah itu, lalu menghela nafas kasar. "Bukankah aku sudah mengatakan alasannya kemarin?"
"Iya, tapi apa gak bisa Mas Angin pertimbangin lagi? Kita kan saudara, Mas." Rindu bergelayut manja di lengan kekar Direktur Utama PT. Maha Karya itu.
"Rindu, jaga sikapmu! Jika orang-orangku melihat ini, apa yang akan mereka pikirkan?" Angin menarik lengannya dari tangan Rindu.
"Ah, biarin." Rindu bersungut seolah tidak peduli.
Angin mulai memikirkan sebuah solusi, bagaimana caranya terlepas dari adik sepupunya yang selalu bersikap berlebihan itu. Sejurus kemudian, pandangannya menangkap satu sosok gadis yang bisa dijadikannya alasan untuk menghindar.
"Hei, kamu ...."
Gadis itu menghentikan langkahnya ketika suara Angin terdengar menggelegar.
"Saya?" Gadis itu menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kamu." Angin sedikit menjauhkan tubuhnya dari Rindu, lalu berlari ke arah gadis itu seraya berkata, "Aku ada urusan penting, kamu pulang aja dulu!" Titahnya kepada Rindu.
Rindu tampak memberengut dan mengetak-ngetakkan kakinya ke tanah sembari berteriak, "Mas ... Mas Angin ...."
Namun tetap saja, Angin tidak ambil pusing.
"Ayo, masuk," tutur Angin kepada gadis yang ia panggil tadi, lalu menyeret tubuh jenjang gadis itu tanpa menoleh lagi ke belakang. Gadis itu tampak bingung, namun tetap mengekori langkah Angin.
Setelah sampai di lobby, suara Awan menghentikan langkah mereka berdua.
__ADS_1
"Berlian ...."