
Hembusan angin yang menghantam wajahnya, sontak membuat Berlian mengerjap.
Ia baru menyadari bahwa dirinya masih berada di dalam toilet. Namun anehnya, hanya ada dirinya seorang diri. Lalu ... kemana perginya makhluk astral itu? Batin Berlian getir. Lagi-lagi mereka meninggalkan dirinya, bahkan kali ini tanpa pamit.
Mungkin karena terlalu lama masuk ke dalam dimensi lain, sehingga membuat Berlian tidak menyadari keadaan di sekitarnya. Jadi, Kepala Casper ingin memberikan waktu agar gadis itu bisa lebih tenang melihat tayangan masa depan.
Masa depan? Dari manakah datangnya?
Ya, Kepala Terakhir sempat mengarahkan telapak tangannya ke atas kepala Berlian, ketika terakhir kali bersamanya. Ternyata makhluk ghaib yang satu itu melakukan pemindahan energi yang membuat Berlian bisa melihat apa yang ingin ia tunjukkan.
Benar sekali. Pertemuan Berlian dengan personel Penulis Singa.co itu ternyata hanyalah gambaran masa depan saja. Sehingga membuat Berlian semakin bertanya-tanya. Apakah mereka hanya menyembunyikan identitas aslinya selama ini?
Apakah mereka sengaja menyamar sebagai Kang Spam, namun sebenarnya merekalah para penentang Komentar Spam itu sendiri? Batin Berlian lagi sembari menatap pantulan dirinya dari cermin.
Gadis itu kembali mengerjap. Ia meletakkan kacamata beningnya di atas meja wastafel, lalu mengguyur wajahnya dengan air, untuk memulihkan kesadaran diri seutuhnya. Ia terus berusaha untuk kembali ke dunia nyata. Sebab, memorinya masih saja menggiringnya pada momen pertemuan dengan kumpulan Penulis Kampret itu.
Masih menjadi teka-teki umum. Belum bisa diungkap semudah menyibak tirai kamar. Takdir seperti apa yang akan menghinggapi Berlian di masa yang akan datang? Tidak akan ada yang tahu. Kecuali ... Penulis novel ini.
Berlian mengeringkan wajahnya dengan tissue. Kembali menatap pantulan wajahnya dari cermin. Pantas saja Gempita tidak bisa melihatku tadi. Berlian kembali membatin. Lagian pakaian dan earphone yang ia gunakan tadi berbeda. Ah, apa sebenarnya maksud dari semua ini? Lagi-lagi Berlian bergumam sendiri.
Perlahan ia mengusap wajahnya dengan kasar dan menggeleng-geleng frustrasi. Lalu kembali memakai kacamatanya, kemudian melenggang dari sana.
...πππ...
"Gak mau, Mah. Pokoknya aku gak mau dijodohin sama Angkasa, hiks ... hiks ...," erang Berlian ketika Ayahnya mulai ngotot dengan keinginannya.
Kali ini Pak Iwa sudah tak bisa lagi membiarkan Berlian bertingkah semaunya. Ia ingin membuktikan kepada putrinya bahwa apa pun yang dilakukan oleh setiap orang tua, hanyalah untuk masa depan yang cerah bagi putra mau pun putrinya.
"Iya, iya, Sayang. Kamu tenang dulu, ya." Ibu Nila coba menenangkan putrinya. Mengelus lembut punggung Berlian sembari memeluk erat tubuhnya yang sedikit berguncang. Sesekali ia melirik ke arah sang suami dengan tatapan memohon agar menghentikan semua rencana kolot itu.
Namun bukan Pak Iwa namanya, jika mau mengalah hanya karena linangan air mata. Beliau tetap kekeuh untuk menikahkan Berlian dengan Angkasa. "Pokoknya Papah tidak mau tau, kamu harus menikah dengannya!" bentak Pak Iwa sembari membeliak ke arah Berlian.
Berlian semakin terisak. Ia mulai tertunduk frustrasi dengan keadaan ini. Apakah nasibnya akan seperti Siti Nurbaya?
Ah, tidak mungkin!
Angkasa tidak setua Datuk Maringgih yang bisa membuat Berlian bergidik ngeri. Hanya saja sikap Angkasa yang selalu menyebalkan, selalu sukses membuat ia muak dan kesal.
Sayangnya, Berlian tidak mengetahui bahwa yang selama ini selalu bersikap tidak baik padanya itu adalah sosok yang benar-benar menginginkannya. Hanya saja, ia terlalu pengecut untuk mengatakannya secara langsung.
__ADS_1
Kedua tungkai gadis cupu itu melangkah gontai menuju zona ternyamannya. Menghempaskan semua kegundahannya di sana.
Dimana lagi kalau bukan ... kamar!
Gadis cupu berparas cantik itu sudah tak tahu lagi, bagaimana caranya mengatakan pokok permasalahan di antara dia dan Angkasa kepada sang ayah.
Ah, tapi rasanya usaha itu hanya akan sia-sia saja. Berlian kenal betul seperti apa karakter Penguasa Rumah Mewah yang ia tempati saat ini. Sudah bisa dipastikan bahwa Pak Iwa hanya akan menganggap dirinya beralasan semata.
"Ya, Allah ... bagaimana caranya aku bisa terlepas dari kediktatoran Papah?" Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, ketika tubuh rampingnya merebah sempurna di atas tempat tidur. "Angkasa jahat, Ya, Allah ... huhuhu," lirihnya di sela-sela isakan pilu.
Poor Berlian!
"Berlian ...," sapa Kepala Syantik. Kali ini makhluk eksentrik tersebut terlihat tunggal dan melayang tanpa beban.
"Jangan sedih ya, aku bisa kok meringankan masalah kamu," lanjutnya menenangkan. Agaknya ia sengaja menguping percakapan antara gadis cupu itu dengan kedua orang tuanya tadi.
Mendengar hal itu, tentu saja Berlian langsung terlonjak, lalu mendudukkan tubuhnya. "Gimana caranya?" Berlian bertanya dengan antusias seraya menyeka air pilunya.
Kepala Syantik tampak tersenyum malu-malu. Apalagi kedua pipinya sudah terlihat bersemu merah. "Yak, kamu bisa ... bagi Angkasa ke aku kok, dan aku siap buat gantiin posisi kamu."
GUBRAAAK
Yang benar saja, Kepala Casper yang satu ini! Batin Berlian tidak habis pikir. Namun ia hanya bergeming tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Berlian hanya terkekeh kecil menanggapi kefrontalan makhluk genit di hadapannya. Agaknya ia mulai melupakan masalah perjodohan tadi. Kemunculan Kepala Syantik sukses menjadi pelipur laranya.
"Ambil aja kalo kamu mau, aku gak keberatan sama sekali, kok."
Benar saja, Berlian malah akan sangat bersyukur jika bisa terlepas dari perjodohannya dengan makhluk yang bernama Angkasa itu.
Dengan menyimpul senyuman tipis, Berlian bangkit lalu berjalan menuju meja belajarnya. Kemudian, ia duduk di kursi menghadap layar lappy yang sudah menyala. "Kenapa kamu cuma muncul sendirian?" tanya Berlian kepada Kepala Syantik, di sela-sela kesibukannya.
"Mereka lagi gentayangan di N.O.V.E.L.T.O.O.N," jawabnya sembari melayang mendekati Berlian.
"Terus ... kenapa kamu gak ikutan?" tanya Berlian lagi, namun kali ini, ia memutar lehernya seperempat rotasi menghadap Kepala Syantik. Ia mulai merasa bahwa pasti ada sesuatu yang sangat penting sehingga makhluk astral itu berada di kamarnya saat ini.
Kepala Syantik memasang wajah penuh iba. "Aku gak sengaja liat kamu dibentak ayahmu tadi ... jadi aku rasa, kamu pasti butuh teman curhat."
Berlian terlonjak. Ia menghentikan gawainya, lalu kedua netra cokelat keemasan miliknya spontan beradu dengan kedua netra besar milik Kepala Syantik.
__ADS_1
Ternyata setan juga punya hati, batin Berlian. Coba aja semua setan modelnya kayak begini, pasti aman udah kehidupan ini.
Kemudian beberapa detik setelah itu, Berlian segera kembali menatap layar lappy-nya. Ia sengaja menyembunyikan wajah harunya dari Kepala Syantik, karena ia tidak ingin makhluk cebol tapi manis itu menyadari bahwa ia sangat tersentuh dengan ucapannya.
Kepala Syantik yang memang sudah mengetahui hal tersebut, lantas berkata, "Luapkan aja isi hatimu Berlian. Aku siap kok jadi pendengar yang baik, yeees." Mengangguk-anggukkan kepalanya ke arah Berlian.
Berlian hanya tersenyum getir, tak mampu membuka katup bibirnya sedikitpun.
Hingga akhirnya sebuah penampakan sebuah cover novel yang tertera di layar lappy-nya, membuat Berlian tersentak hebat. "Oh, tidaaak ...," lirihnya dengan mata melotot sempurna. Sementara kedua tangan membungkam mulutnya sendiri dengan ketat.
"Kamu kenapa, Berlian?" tanya Kepala Syantik dengan ekspresi wajah penuh kekhawatiran.
"Itu ... coba kamu lihat!" Berlian menunjuk salah satu cover dari sebuah novel yang tayang pada laman beranda dari aplikasi paling horor itu. "Judul novelnya itu loh," ujar Berlian tidak percaya.
Kepala Syantik tampak memicing, lalu berkata, "Hem ... hal kayak gitu mah udah biasa kali terjadi di N.O.V.E.L.T.O.O.N, Berlian." Masih terus memandangi layar putih di hadapan Berlian. "Bahkan anehnya, pihak perusahaan malah mendukung aksi plagiat seperti itu, dengan memberikan cover khusus menggunakan label N.O.V.E.L.T.O.O.N," jelas hantu cebol itu.
Penjelasan Kepala Syantik sukses membuat Berlian tercengang. Kedua matanya membulat sempurna dan bibirnya membentuk lingkaran kecil. Berlian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan. "Padahal dari judulnya aja udah jelas banget kalo itu aksi plagiarisme atas salah satu judul sinetron, yang pernah tenar pada masanya, 'kan?" ungkapnya lagi.
"Iyup, betul banget. Tapi ... ya, begitulah kenyataan yang berlaku di sana. Plagiarisme bukan lagi hal yang tabu. Kamu lihat sendiri bukan? Ada label N.O.V.E.L.T.O.O.N pada cover novel itu!" tukas Kepala Syantik dengan geram.
Berlian hanya bisa manggut-manggut setuju, tak bisa menidakkan pendapat sahabat ghaibnya itu.
"Heran deh sama manusia yang suka nyontoh perilaku setan kayak begitu," sesal Kepala Syantik.
"Maksud kamu?" Berlian menautkan kedua alisnya, menagih penjelasan tambahan.
"Ya, iyalah, bukannya yang suka menjiplak itu kerjaannya setan, ya? Bukan kerjaan manusia."
Berlian menelan salivanya dengan susah payah mendengar penuturan hantu cantik yang satu ini.
...πππ...
Seperti yang sudah diketahui banyak orang, Plagiarisme adalah aksi penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, frase, dan sebagainya milik orang lain, lalu menjadikannya seolah sebagai pendapat atau karya sendiri.
Plagiarisme dapat dianggap sebagai tindak pidana karena telah mencuri hak cipta orang lain. Namun, hal ini masih saja dianggap hal sepele bagi segelintir orang.
Padahal sudah jelas ada undang-undang yang mengatur tentang Pelanggaran Hak Cipta (PLAGIARISME). Dalam Pasal 2 UUHC (Undang-Undang Hak Cipta), menurut Pasal 72 ayat (1) UUHC; Pelaku Plagiarisme dapat dijerat dengan ancaman pidana dengan hukuman penjara paling singkat satu bulan atau membayar denda paling sedikit satu juta rupiah. Dan paling lama pidana penjara selama tujuh tahun atau dengan membayar denda lima miliyar rupiah.
Namun berbeda kasusnya jika penggunaan pendapat atau frase itu telah mendapat izin dari Pencipta atau mencantumkan sumber aslinya. Maka hal ini tidak bisa dikatakan aksi Plagiarisme.
__ADS_1
Nah, begitulah kiranya penjelasan singkat tentang konsekuensi atas perilaku tidak terpuji yang biasa dikenal dengan istilah plagiat itu. Semoga bermanfaat dan terhindar dari aksi tidak terpuji yang satu ini.
Sumber: hukumonline.com