
Waktu merajut asa. Mengukir putaran cepat tanpa jeda. Seiring berlalunya duka, semangat hidup pun kembali menyapa.
Tak ada lagi bayang-bayang Angkasa. Apalagi seringai usilnya. Tak ingin lama memendam luka. Tibalah saatnya Penulis menyela.
Apa kabar semuanya?
Masih sedih dengan kepergian Angkasa?
Kita akan kembali pada cerita yang sebenarnya!
Cerita yang sempat tertunda karena adanya corona. Eh, maksudnya konflik batin yang menguras air mata.
Are you ready?
Action!
...πππ...
"Sayang, headset gua dimana?" Kenma dengan volume setengah berteriak. Ia bertanya pada kekasih hatinya yang sedang asik menyaksikan drama favorit para remaja bahkan dewasa. Apalagi kalau bukan ... drama K*rea.
Seakan tidak mendengarkan, Seul Ye tetap saja senyum-senyum sendiri sembari menggigiti kuku lentiknya karena hampir saja ngeces karena keuwuan cuplikan yang terputar pada layar mini di hadapannya.
Mungkin ia sedang membayangkan jika yang berperan sebagai tokoh di dalam drama tersebut adalah dirinya dan Kenma. Sudah barang tentu akan semakin mendebarkan jiwa dan raga.
"Sayang!" Sekali lagi Kenma memekik. Padahal posisinya dan Seul Ye tidaklah berjauhan. Namun, entah kenapa dia harus berteriak?
"Kau pikir aku ini budek?" Seul Ye mendelik sinis.
"Bukan cuma budek, tapi conge'an!" sambar Kenma, dengan kekehan kecil.
Seul Ye kembali mendelik, kali ini lebih tajam dari sebelumnya. "Kau mau pilih sepatu atau sandal, hah?" Gadis itu bangkit dari rebahan, lalu duduk menghadap pemuda tampan bermata sipit itu.
Jangan ditanya seperti apa potongan rambutnya. Yang jelas tidak seperti Angkasa. Karena rambut Kenma berwarna agak kekuningan.
Tapi bukan benda kuning yang mengapung ya!
Aha!
Rambut Kenma memang tampak lebih kuning dibanding rambut manusia pada umumnya, yang hidup di negara dengan iklim tropis. Konon katanya, ia terlahir dengan kondisi yang terbilang unik. Terlahir dengan Bilirubin yang berlebih, sehingga menyebabkan rambutnya berwarna kuning kemerahan.
Tunggu!
Ada yang tahu apa itu Bilirubin?
Bilirubin adalah pigmen air empedu yang berwarna kuning kemerahan yang merupakan hasil dari pemecahan sel darah merah dari hati. Bayi yang terlahir dengan Bilirubin berlebih biasanya mempunyai kelainan pada organ hati.
Namun, tidak untuk Kenma. Di saat bayi lainnya mengalami kelainan pada organ tersebut, ia malah mengalami kelainan pada rambut.
Unik sekali bukan?
Tetapi, itulah kenyataannya. Tak ada yang bisa mengelak, apalagi menelak.
Kita harus mempercayainya. Karena jika tidak saling percaya, maka akan sulit untuk saling berbagi rasa.
Karena pada dasarnya, suatu hubungan bisa berdiri kokoh atas dasar kepercayaan.
Tapi ingat!
Bukannya percaya terhadap sesuatu yang berbau jenaka, tapi percayalah karena ini memang sandiwara.
__ADS_1
Jadi, jangan sampai Anda terluka! Mending dibawa hepi aja!
"Becanda, Sayang ...," tuturnya setelah menangkap sorot tajam bak pisau belati yang menghunus ke arahnya.
Gadis berkulit putih susu, berambut panjang di bawah bahunya itu, masih terus menatapnya tanpa rasa ragu. "Serius nanya, mau sandal atau sepatu?" Kembali bertanya dengan tatapan yang sama.
Kenma masih berpikir sejenak, kalau-kalau ia salah bicara, bisa hancur kedua telinganya oleh ocehan pedas dengan siraman bumbu dapur paling mematikan.
Wanita itu maha benar. Tak akan mungkin mau mengalah. Apalagi disalahkan.
"Se-sepatu, Sa-sayang," jawab Kenma dengan suara terbata.
Seul Ye sontak mengukir senyuman manis di kedua sudut bibirnya. "Ya, udah, aku pesenin dulu via online."
GUBRAAAK
Kenma ternganga. Belum bisa mencerna kalimat kekasihnya itu, dengan sebelah mata. Anggap saja kali ini gadis itu sedang bercanda. Atau mungkin sedang menggodanya?
Bukannya marah, gadis itu malah menraktirnya. Ini serius atau hanya pura-pura saja? Batin para Pembaca.
Lanjut!
Ketika Kenma kembali mengobrak-abrik laci untuk meneruskan pencariannya akan headset bluetooth yang kini raib entah kemana, tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari layar lebar yang biasa digelutinya.
TING
Kenma langsung beranjak dan mengurungkan niat awalnya. Ia menyentuh tombol hijau yang bertuliskan kata 'OPEN' pada layar.
Di saat menunggu loading, ia melirik sejenak ke arah Seul Ye yang masih asik menekan tombol demi tombol layar mini yang menampakkan deretan gambar sepatu pria. Nampaknya Kenma menang banyak kali ini.
Dari pintu dapur, tampak Fafa dan Potato, sedang menjinjing beberapa kotak mini berikut penutupnya. Sudah bisa ditebak, kalau mereka baru saja berburu jajanan. Kenma menggeleng pelan, lalu kembali fokus pada layar hijau di hadapannya.
"Ada apa?" tanya Fafa dan Potato serentak. Mereka berlari dan berhambur ke arah Kenma.
"Penulis Jelata mengeluarkan karya terbarunya." Kenma masih dalam mode terperangah.
"Bagaimana bisa? Bukannya Angkasa sudah tiada." Fafa yang hampir saja membuka kotak berisi makanan itu, kini mengurungkan niatnya karena terlampau kepo.
"Kalo lu gak percaya, liat sendiri nih!" Kenma menghidupkan mode pembesar.
"Mana Angkasaku? Mana Angkasaku?" Seul Ye melompat kegirangan ke arah Kenma. Diikuti tatapan mencurigakan dari kekasihnya itu.
Gadis cantik bertubuh jenjang bak seorang model itu tampak salah tingkah, karena ia mulai menyadari keterlanjurannya. "Mak-maksudku ... mana karyanya Penulis Jelata?" Menggigiti bibir bawahnya menetralisir kecanggungan.
Bisa mereka saksikan dengan mata telanjang, karya Penulis Jelata yang baru saja terkonfirmasi dalam pemindai cerdas milik bersama. Pemindai itu memang diaktifkan untuk memonitor semua karya dari semua tokoh di dalam novel ini.
"Ken, kita harus ngasi tau yang lain," tutur Potato mencoba melebur tatapan mencekam dari Kenma terhadap Seul Ye.
Pria itu mengerjap berkali-kali, lalu kemudian menghela napas kasar.
Nasiblah punya cewek barbar, batinnya miris.
...πππ...
Berlian hampir saja terlelap, ketika ponselnya berdering memekakkan telinga. Dia hampir tak bisa mengangkat kelopak mata karena saking lelahnya.
Karena terlalu sibuk dengan penggarapan bab terbarunya, ia hampir tak tidur semalaman. Namun, deringan ponsel itu seakan memaksanya untuk menjawab.
__ADS_1
"Iya, Berlian di sini," ujarnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Taulah, Er. 'Kan emang inyong mau ngomong sama kamu. Masa iya, inyong nelponnya ke Bang Awan?" sahut Gempita sembari terkekeh geli. Sepertinya ia memang sengaja ingin mengganggu waktu istirahat sahabatnya itu.
Berlian masih memejamkan kedua matanya lekat. Namun telinganya samar-samar masih bisa mendengar. "Aku ngantuk banget, Gem. Telepon nanti lagi, ya." Bernegosiasi agar Gempita memahami keadaannya.
Namun bukan Gempita namanya, jika tidak turut usil dalam setiap misinya. "Inyong ada kabar gembira loh, masa kamu gak mau denger, sih?" ungkap gadis Ngapak itu, seolah sedang mencebikkan bibirnya sok sedih.
Berlian menghela napas panjang, lalu merespon, "Iya, iya, apa, Gem?"
"Inyong naik level menulis di N.O.V.E.L.T.O.O.N, Er. Inyong seneng banget tau," pekik Gempita dengan antusiasnya. Sepertinya ia tengah berjingkrak ria.
Berlian sontak membuka kedua matanya sempurna. "Serius, Gem?" tanyanya lagi untuk meyakinkan diri bahwa ia sedang tidak salah pendengaran.
"Masa iya inyong narsis sendiri untuk hal beginian, sih?" Gempita kembali mencebik.
Berlian terkekeh, lalu kembali berkata, "Aha, bener juga, ya." Lalu kembali tersenyum geli. Mengingat sahabatnya itu yang memang suka terlampau narsis.
"Selamat ya, Gem. Semoga kenaikan pangkatmu berkah dan gak jadiin kamu pribadi yang sombong." Berlian bersitatap dengan layar ponselnya, ketika panggilan suara itu berubah menjadi panggilan video.
"Makasih ya, Er. Pokoknya inyong bakalan traktir kamu hari ini. Sebagai bentuk rasa syukur."
Setelah panggilan video diakhiri, Berlian kembali memejamkan kedua matanya. Tersenyum penuh kebahagiaan, seakan keceriaan yang dilayangkan oleh Gempita tadi, turut menyeretnya ke dalam energi positif tanpa adanya rasa iri maupun dengki.
Sebab iri dengki hanya akan membuat hati semakin terkontaminasi. Apalagi sampai punya dendam pribadi. Tidak baik untuk kesehatan diri. Lebih baik kita hepi. Biar bisa terus unjuk gigi.
Selamat menikmati hari libur ini!
Jangan lupa gosok gigi, biar bisa senyum lagi dan lagi!
Aha!
Lanjut lagi!
"Kemana si Casper ya? Tumben gak nongol hari ini?" Berlian bangkit dari tempat tidur, lalu duduk di kursi belajarnya. Ketika tombol 'ON' lappy bersinar, Berlian dibuat terkejut oleh tepukan di pundaknya. Ternyata sang ibu tiba-tiba saja berdiri di belakangnya, menempel pada sandaran kursi.
"Mamah ... suka banget deh bikin aku kaget."
"Hehe, tadinya mamah emang niatnya begitu, Sayang."
"Ketularan Gempita, pasti."
"Loh, kok jadi Gempita?"
"Abisnya cuma Gempita yang suka bikin jantungku ngidap serangan mendadak."
"Haha, anak itu."
"Mamah juga."
"Oke, mamah minta maaf. Oh, ya, di luar ada seseorang yang nyariin kamu."
"Siapa, Mah?"
"Mamah gak kenal, coba deh kamu temui!"
Berlian beranjak dari duduknya, lalu berjalan mengekori sang ibu menuju ruang tamu. Kedua matanya tampak menyipit ketika tidak bisa mengenali wajah seseorang yang sedang duduk di sofa.
Berlian lupa memakai kaca matanya!
__ADS_1
Siapa, ya? Batinnya bertanya-tanya.