
"Lepas ...!"
"Lepaskan aku ...!" pekik Berlian sambil merintih setengah menangis. Ia terus berontak untuk melepaskan cekalan lelaki bertubuh kekar tapi berwajah hambar itu. Namun, lelaki itu semakin tergelak ke arah teman-temannya. Merasa sangat terhibur dengan aksinya sendiri.
"Berlian ... Berlian ...," ucap salah satu pria yang baru saja turun dari motornya. Sejurus lelaki yang bertubuh kekar tadi mundur dari posisinya, dan melepaskan cekalannya dari Berlian.
Pria bertubuh tinggi, berwajah tampan, dengan rambut sebahu yang terlihat sedikit bergelombang, berjalan mendekat ke arah Berlian.
Angkasa Purna, teman sekelas Berlian saat masih kuliah dulu. Angkasa memang selalu saja usil dan suka mem-bully Berlian. Bahkan lelaki itu pernah mengunci Berlian di dalam salah satu kamar kecil yang terdapat di kampus mereka. Untung saja, Gempita cepat menyadari hal itu, lalu datang untuk menolong Berlian. Kebiasaan buruk Angkasa, masih saja ia lakukan hingga sekarang, jika bertemu dengan gadis cupu itu.
Beberapa saat yang lalu, Angkasa dan teman-teman geng motornya tidak sengaja melintasi jalan di sekitaran danau, lalu kedua netranya menangkap sasaran empuk yang biasa ia jahili.
Berlian melempar tatapan tidak berdayanya ke arah Angkasa. Kedua bola matanya tampak membulat sempurna karena hampir tidak percaya dengan sosok yang sedang berjalan ke arahnya.
"Angkasa ...," ucap Berlian sangat lirih, namun masih bisa terdengar di telinga pria berambut setengah gondrong itu.
Angkasa terlihat menyeringai sinis, ketika tubuh tegapnya berdiri tepat di hadapan Berlian sambil berkacak pinggang.
"Ternyata kamu masih mengingat namaku dengan baik, Cupu!" Pandangan mereka bertemu. Lekat, sedikit lebih lama.
Sampai akhirnya, Berlian terlebih dahulu menjatuhkan pandangannya. Namun, dengan sigap, Angkasa mencengkeram kasar dagu runcing gadis cupu itu.
"Sudah lama tidak bersua, Berlian lima puluh karat."
Berlian menggoyang-goyangkan wajahnya, berusaha untuk terbebas dari tangan kokoh yang merenggut kebebasannya saat ini. Sementara kedua tangannya, masih setia memeluk lappy-nya.
Pandangan Angkasa tiba-tiba jatuh pada benda pipih yang sedang ditimang oleh Berlian. "Heh, ternyata kamu masih belum menemukan teman hidup ya, sehingga benda persegi panjang ini selalu aja kamu bawa ke mana-mana?" ejek lelaki berhidung mancung itu seenak jidatnya.
"Jangan, Angkasa!" Pria berambut ikal itu berusaha merebut benda pipih berukuran dua belas inci milik Berlian.
Karena tidak terima barang kesayangannya akan diambil paksa, akhirnya terjadilah aksi tarik-menarik antara Berlian dan Angkasa atas lappy yang menjadi sarang hantu cebol, pembasmi komentar spam.
Selama ini Berlian memang selalu berusaha melawan atas tingkah usil Angkasa terhadapnya. Namun, proporsi tubuh Angkasa yang melebihi kapasitasnya, membuat ia selalu kowalahan.
Angkasa tampak tertawa girang, karena berhasil merebut benda pipih kesayangan si Gadis Cupu.
Di saat Berlian berusaha ingin merebutnya kembali, Angkasa mengangkat tangannya, hingga membuat posisi si lappy berada tepat di pucuk kepalanya.
"Ambil aja, kalo bisa!" seru lelaki tampan, namun minim akhlak itu sambil tertawa mengejek.
"Angkasa, kembalikan!" Berlian masih saja berjinjit sia-sia. Karena tubuhnya yang jauh lebih pendek, membuat Angkasa merasa semakin puas dengan aksi tak bergunanya itu.
Teman-teman gengnya pun tampak tergelak bising karena merasa sangat terhibur dengan tontonan gratis yang diperankan oleh ketua gengnya.
Lalu, beberapa saat kemudian, ketika pertahanan Berlian sudah mulai runtuh, terlihat sebuah mobil kodok berhenti di dekat jejeran motor geng kampret tersebut.
Berlian mengerjap. Ia sangat mengenali kendaraan roda empat yang berbentuk persis dengan sosok binatang berkulit licin berwarna hijau itu.
"Hei, Kutu Kupret ...!" seru seorang gadis yang baru saja menyembulkan tubuhnya dari balik pintu mobil.
Kacamata hitam bermanik emas bulat-bulat, bertengger indah di hidungnya yang mancung ke dalam.
Angkasa hanya tersenyum kecut ke arah gadis berkacamata hitam itu.
"Wah, pacar si Gadis Cupu datang ...," ejek Angkasa dengan wajah menjengkelkannya.
"Jaga tu mulut!" seru gadis itu sembari mendorong telak pundak Angkasa.
"Balikin gak tu laptop!" sergahnya sekali lagi dengan suara bernada oktaf.
"Wih ... ternyata lu masih segalak ini." Angkasa pura-pura terkejut. "Tapi sayang, gua gak takut," tegasnya sembari menyeringai.
__ADS_1
"Inyong juga gak takut sama Kutu Kupret kayak kamu. Iyuh, menjijikkan."
Masih ingat dengan logat bahasa itu?
Ya, benar sekali. Gadis yang datang menunggangi mobil kodok itu adalah Gempita. Sedari dulu, jika bukan Awan, Gempita memang selalu menjadi yang terdepan jika ada orang yang mengusili Berlian.
Karena Awan kuliah di universitas yang berdeda, jadi untuk kasus Angkasa, ia tidak pernah menghadapinya.
"Sini, balikin gak laptopnya!" Gempita merebut benda pipih berbentuk persegi panjang itu dari tangan Angkasa dengan mudahnya, karena sejak kedatangan Gempita, Angkasa sudah menurunkan tangannya.
"Woi, woi, kalem dikit. Dasar lu!" cetus Angkasa dengan kedua tangan yang sudah kosong.
Tanpa menggubris pria tampan tapi menjengkelkan itu, Gempita menarik pergelangan tangan Berlian, kemudian berlalu dari sana.
Angkasa yang merasa kalah telak dengan gadis Ngapak itu, lantas hanya bisa bersungut kesal sembari mengumpat.
...πππ...
"Maafin inyong ya, Er. Inyong kelamaan tadi beli minumnya." Gempita merasa menyesal karena telah meninggalkan Berlian sendirian.
Dengan wajah beningnya, Berlian tersenyum hangat tanpa merasa kesal atau sejenisnya. "Gak papa, Gem. Lagian 'kan sekarang kamu udah bantuin aku. Makasih ya," tutur Berlian dengan tulus.
"Gak ada maaf dan makasih dalam persahabatan, Er." Gempita berkata, namun masih tetap fokus dengan kemudinya.
Berlian mengernyitkan dahinya, lalu bersuara, "Lah, tadi kamu minta maaf sama aku. Gimana tuh?"
Gempita tampak cengengesan dan menjawab, "Ehe, inyong lupa, Er. Keceplosan yak."
"Aha, kepriben yak?" Berlian menirukan gaya bahasa Gempita yang kemedok-medokan. Membuat keduanya jadi tertawa renyah karena ulah gadis cupu itu.
Sesampainya di depan gerbang rumah, Berlian turun dari mobil dan Gempita pun langsung pamit karena harus menjemput adiknya di tempat kursus.
Ketika melewati pintu masuk, Berlian melihat kedua orang tuanya sedang duduk manis di sofa ruang tamu. Gadis cupu itu melirik sekilas ke arah sang ayah, kemudian perlahan berjalan mendekati keduanya untuk bersalaman.
"Dia masih ada urusan, Mah. Jadi, gak bisa main dulu." Berlian hendak pamit untuk masuk ke dalam kamar.
Namun, sejurus, Pak Iwa menghentikannya. "Papah, mau bicara," tuturnya dengan nada dingin seperti biasa.
Berlian menghela nafas dan menghentikan langkahnya, lalu kembali ke arah sofa tanpa mendudukkan tubuhnya.
"Mau bicara apa, Pah?" tanya Berlian yang tidak ingin berlama-lama.
"Sayang, duduk dulu dong, sini deket Mamah." Ibu Nila menepuk-nepuk sofa yang berada di sampingnya.
Dengan patuh, Berlian menuruti perkataan ibunya. "Sebenarnya ada hal apa, Mah? Kenapa kalian terlihat sangat serius?" Berlian mulai mencium gelagat tidak mengenakkan.
"Tadi, sahabat Papah nelpon. Mereka baru pulang dari luar negeri dan katanya akan berkunjung ke sini nanti malam." Ibu Nila menjelaskan dengan suara lembut khas miliknya.
"Terus apa hubungannya dengan aku?" Berlian mengernyit keheranan.
"Ya, tentu saja ada." Pak Iwa angkat bicara, tanpa mengalihkan pandangannya dari surat kabar yang tengah ia baca.
"Maksud, Papah?" Berlian semakin bingung.
"Kami akan mengenalkan kamu pada putra tunggal mereka," tutur Pak Iwa dengan santainya.
"Apa? Papah ingin menjodohkanku dengan anak sahabat Papah itu?" Kedua mata Berlian membulat sempurna, tanpa disadari suaranya meninggi ketika berucap.
"Kecilkan suaramu itu kalo sedang berbicara dengan orang tua, Berlian!" Pak Iwa melirik sinis ke arah putri semata wayangnya itu. Entah kenapa, bawaannya selalu saja ketus jika berbicara dengan Berlian.
"Ma-maaf, Pah." Berlian tertunduk, merasa bersalah.
Memang benar, seperti apapun bentuk dan tingkah laku orang tua, sudah sepantasnya seorang anak harus tetap menghormati mereka. Bahkan dalam kondisi apapun.
__ADS_1
"Tidak ada konsep perjodohan di sini, Sayang." Ibu Nila menengahi. Berlian menatap wajah teduh ibunya yang selalu saja menjadi penyejuk di kala situasi mulai memanas.
"Benarkah begitu, Mah?" Berlian tersenyum tipis. Entah mengapa hatinya merasa tidak terima jika harus dinikahkan dengan jalur perjodohan.
Benar saja!
Ntar judul novel ini berubah jadi 'Terpaksa Menikah' lagi!
Aha, kembali ke scene!
"Jadi, Mamah minta, malam ini kamu jangan kemana-mana ya, Sayang." Ibu Nila mengelus lembut pundak Berlian.
Tanpa bicara lagi, Berlian hanya mengangguk patuh tanpa protes sedikit pun.
"Ya sudah, kamu ke kamar gih! Pasti kamu capek banget karena baru pulang." Berlian pamit undur diri ke kamar setelah ibu dan ayahnya mengizinkan.
Di dalam kamar
"Huuh, awas aja kalo aku beneran dijodohin, pokoknya aku gak akan mau." Berlian mengetak-ngetakkan kedua kakinya yang menjuntai di tepian ranjang.
Lalu, sesaat kemudian, kedua netra cokelat keemasan miliknya menangkap kehadiran makhluk-makhluk kampret, yang dengan tanpa belas kasihan telah meninggalkannya di tepian danau, dengan kepelikan yang tengah di hadapinya.
"Hihihihihi ...." Kepala Kentang beraksi tanda permisi.
"Gak usah nakut-nakutin!" ketus Berlian. "Kalian bukan temanku lagi." Berlian mengubah posisi tidurnya membelakangi penampakan yang sudah tidak asing lagi.
"Jangan marah dong, Berlian." Kepala Syantik memasang wajah imutnya. Namun, tetap saja Berlian tidak mengindahkannya.
"Iya, kita 'kan sahabat." Kepala Vampire menimpali.
"Kalo sahabat, gak mungkin kalian meninggalkanku di saat aku butuh uluran tangan," sarkas Berlian dengan linangan air mata yang mengalir dari sudut matanya.
"Berlian ...." Kepala Kunti angkat suara. "Kami cuma makhluk online, Yang. Jadi kekuatan kami gak bakalan berfungsi dengan baik di dunia nyata," tuturnya memberikan penjelasan pada si Gadis Cupu.
"Jadi, Kepala Casper itu hanya bisa eksis di dunia halu, ngehehehe." Kepala Koneng memperjelas.
"Gak usah ketawa, Tong Sep." Kepala Keparat menegur Kepala Koneng. "Elu gak nyadar apa kalo dia lagi nangis," lanjutnya menyadarkan Kepala Koneng yang suka berpura-pura tidak tahu padahal tahu.
'Tong' adalah penggalan dari kata 'Entong', sedangkan 'Sep' adalah penggalan dari kata 'Ka-Sep'. Panggilan 'Entong' disadur dari kebiasaan Bu Author, yang sering menggelari Kepala Koneng dengan sebutan tersebut.
Setelah mendapatkan teguran dari seniornya, Kepala Koneng langsung bungkam dengan perasaan bersalah.
"Berlian ...," sapa Kepala Terakhir.
"Hei, Berlian ...." Sekali lagi ia menyapa gadis cupu yang masih saja bergeming itu.
"Berlian, kami butuh bantuanmu. Tolong berbaliklah." Kepala Terakhir berusaha memohon.
Dengan perasaan yang campur aduk, Berlian memutuskan untuk menghadap ke arah ke tujuh makhluk cebol yang mengambang di tengah-tengah ruangan itu.
"Iya, katakan saja!" jawab Berlian dengan suara serak khas orang yang baru saja selesai menangis. Terlihat telapak tangan putihnya, menyeka sisa rembesan air mata yang tadinya terjun tanpa permisi.
"Emm ...." Kepala Terakhir agak ragu mengutarakannya. Ia khawatir Berlian akan semakin kesal setelah ini.
"Ayo, bilang!" seru teman-temannya yang lain secara serentak.
Akhirnya dengan nada tidak enak, Kepala Terakhir pun mengatakannya. "Anu Berlian ...."
"Iya ...?" Berlian tampak sudah tidak sabar menantikan penuturan Kepala Terakhir yang tampak sangat berat seberat bongkahan batu besar.
"Itu ... tolong nyalakan laptopmu dong, kami mau mudik."
GUBRAAAK
__ADS_1