
Gempita tampak terburu-buru dengan sebuah map berwarna merah di dalam timangannya. Saking terburu-burunya sampai-sampai tubuhnya menabrak orang lain yang baru saja melintas di sana.
"Maaf," tutur Gempita pada orang tersebut yang tidak lain adalah Awan.
"Bang Awan, maaf yak, inyong buru-buru tadi." Gadis Ngapak itu, kembali meminta maaf atas ketidaksengajaannya, ketika menyadari sosok yang telah ia tabrak itu adalah pria idamannya.
Awan yang sudah pasti memaklumi, hanya tersenyum menanggapi wajah Gempita yang mulai tampak gelagapan. "Gak papa, Gem. Kamu mau kemana? Kok kayak dikejar setan gitu."
Gempita tersipu malu untuk mengungkapkannya. "Anu ... ini, Bang. Itu ...." Kalimatnya mulai terdengar seperti benang kusut.
Awan memicingkan sebelah matanya, nampak curiga dengan gelagat Gempita. "Kamu abis nyopet?"
Kedua bola mata Gempita sontak terbelalak, mendengar cercaan dari bibir manis pria idamannya itu.
"Astaghfirullah ... inyong masih ingat dosa, Bang. Mana mungkin inyong nyopet. Lagian, masa cantik-cantik kayak inyong gini berprofesi jadi tukang copet, sih." Gempita mencebikkan bibirnya berbalut tampang sedih.
Awan sontak tergelak melihat respon serius yang dilontarkan oleh Gempita. "Haha, serius amat kamu, Gem. Aku 'kan cuma becanda. Sudah, sudah, jangan sedih lagi." Awan mengacak-acak pucuk kepala gadis itu dengan gemas.
Tentu saja, tingkah pria itu membuat wajah Gempita merona semu bak buah tamang. Wah, dia ngelus-ngelus kepala inyong.
Hatinya bersorak-sorai karena akhirnya mendapatkan adegan manis di sepanjang perjalanannya menjadi tokoh pendukung novel ini, walaupun dengan cara narsis dan ngehalu.
"Ya udah, Gem. Aku tinggal dulu ya."
"Eh, Bang Awan mau kemana?"
"Aku ada janji sama seseorang."
Wajah Gempita tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya.
"Seseorang?" tanyanya pada dirinya sendiri. Karena Awan sudah melangkah pergi dari sisinya.
Apa sebaiknya inyong buntuti aja, ya? Pikiran nakalnya mulai muncul ke permukaan. Tapi, gimana dengan acara inyong? Ah, gak papalah, sebentar juga yak.
Akhirnya, Gempita membuntuti Awan hingga kakinya terhenti pada sebuah restoran khas Thailand yang terletak tidak jauh dari posisi dimana ia menabrak Awan tadi.
__ADS_1
Gadis itu tampak celingukan, hingga akhirnya pandangannya tertuju pada Awan yang terlihat sedang mencium sekilas bibir seorang wanita.
Hancur sudah harapan Gempita. Kedua kakinya seketika melemas dan membuat tubuhnya terkulai ke tanah, tepat di samping restoran itu.
"Jadi, Bang Awan udah punya kekasih? Hiks ... hiks ...." Kedua pipi chubby gadis itu kini telah tergenangi air pilu.
"Baru juga mau bahagia karena adegan tadi. Eh, malah disuruh liat yang beginian, huhuhu," protesnya kepada Penulis.
Penulis hanya diam saja, seolah-olah tidak sengaja menuliskan adegan romantis yang telah berhasil melukai hati gadis itu.
"Udah lama, Sayang?" tanya Awan kepada gadis yang ternyata sudah tiba terlebih dahulu darinya.
"Enggak, kok. Baru aja nyampe," tutur seorang gadis bernama Putri Diyassari itu, dengan wajah sumringah.
Putri adalah kekasih Awan yang selama ini telah disembunyikan oleh Penulis, demi mendapatkan alur yang terasa lebih menggigit ketika diperkenalkan pada Pembaca.
Putri adalah gadis keturunan Indonesia-Thailand juga, sama seperti Awan. Berhubung gadis itu mahir dalam bidang design grafis, jadi selama ini Putri adalah perancang sampul buku-buku yang telah diterbitkan oleh PT. Maha Karya.
"Gimana liburannya?" tanya Awan di sela-sela ritual pengisian energi mereka siang itu.
Pria itu tersenyum tipis. Lalu menyambut paper bag itu dari tangan Putri. "Boleh aku buka sekarang?"
Putri mengangguk tanda mengiyakan. Setelah merogoh perut paper bag itu, Awan menarik tangannya keluar dan ternyata ... tampak sebuah kotak beludru berwarna biru, berhasil ia genggam. Awan melirik ke arah Putri seolah menagih penjelasan. Pasalnya, kotak beludru itu persis seperti kotak-kotak yang biasa dijadikan tempat cincin pertunangan atau pernikahan pada umumnya.
"Aku bingung mau beliin kamu apa. Setelah ngelakuin semedi satu malam, akhirnya aku putusin untuk beliin kamu barang itu," ucap Putri setelah Awan membuka kotaknya.
"Apa gak terlalu cepat, Sayang?" Awan mengernyitkan dahinya.
"Enggaklah, kita udah lama pacaran, Beb. Jadi, aku rasa udah waktunya kita ke pelaminan," jelas Putri enteng sambil mengunyah makanannya.
Berbeda dengan pasangan pada umumnya, Putri memilih konsep 'Ritual lamaran itu tidak harus dilakukan oleh pria' terlebih dahulu. Bahkan pada zaman yang serba modern seperti ini, ia tak lagi harus mengedepankan gengsi hanya karena terjerat budaya yang berlaku. Apalagi Putri bukanlah penduduk pribumi, jadi menurutnya hal itu wajar-wajar saja untuk dilakukan.
"Gimana? Kamu mau gak nikah sama aku?" tanyanya lagi pada Awan yang sedari tadi hanya terpaku memandangi dua buah cincin berlian tersebut.
Pria itu tampak menghela napas panjang, sebelum akhirnya memberi jawaban, "Baiklah."
__ADS_1
Putri mengernyitkan keningnya seolah tidak suka. "Kamu terpaksa ya?" Lagi-lagi ia merasa ragu. Atau mungkin Awan sudah memiliki kekasih lain, selama ia dalam masa liburan?
Awan sontak menggenggam tangan wanitanya itu, untuk menetralisir kepundungan. "Enggaklah, Sayang. Masa aku terpaksa menikahi kekasih sendiri? Terdengar kayak judul novel online dong?!" kelakar Awan kemudian.
Putri sontak terkekeh mendengar celetukan dari kekasihnya tersebut. "Kamu itu ya, bisa aja." Mentowel ujung hidung Awan gemas.
"Ya, udah, kalo gitu besok kita ke Penghulu!" ucap Putri seakan tak mau tahu.
"Apa?" Awan tersentak bak sedang tertimpa sebuah palu.
...πππ...
Gempita tampak berjalan tertatih-tatih ke arah meja yang telah ditempati oleh sahabatnya, Berlian. Orang-orang tampak bersorak ketika ia memasuki ballroom hotel itu. Namun, hal tersebut tak memiliki pengaruh besar bagi Gempita.
"Kamu kenapa, Gem?" tanya Berlian yang merasa keheranan.
Gempita tak menjawab sama sekali dengan wajah tertekuk sempurna bak kursi sofa. Ia hanya merobohkan tubuhnya di atas kursi kosong tepat di samping Berlian.
Kepala Casper yang sedari tadi menemani Berlian pun, turut sedih melihat ekspresi wajah gadis yang selalu ceria itu.
Apalagi yang bisa diharapkannya sekarang?
Dunianya seakan runtuh begitu saja. Momen peluncuran novel pertamanya hari ini pun tak lagi menjadi obat atas luka batin yang baru saja ia rasakan.
Berlian dan ketujuh Kepala Casper pun hanya bisa saling bertukar pandang. Tak ingin memaksa Gempita untuk bercerita, sampai dia sendiri yang akan mengungkapkannya.
Kenapa inyong dikasi nikmat dan ujian dalam waktu yang bersamaan? Rintih Gempita di dalam hatinya.
Bagaimanapun ia belum bisa mengekspresikan kesedihannya saat ini. Ia harus berusaha kuat sampai acara peluncuran novelnya selesai. Setelah itu ia berencana akan menangis sejadi-jadinya.
Begitulah Tuhan menguji ketangguhan seorang hamba. Kadang diuji dengan masalah yang tiada hentinya. Kadang juga dibubuhi ujian di saat mereka sedang berpesta.
Tidak akan ada yang tahu!
Rencana indah apa yang sedang Tuhan rangkai di balik layar!
__ADS_1