Berlian & Kepala Casper

Berlian & Kepala Casper
Misi Kedua


__ADS_3

Dengan wajah bingung, gadis itu tetap mengekori langkah lebar Angin yang hampir saja membuatnya terjatuh karena terlalu cepat.


Sesampainya di lobby, tiba-tiba suara Awan menghentikan langkah mereka berdua.


"Berlian ...."


Keduanya serentak menoleh pada sumber suara.


"Awan ...," lirih Berlian dengan wajah sumringah seolah telah bertemu dengan malaikat penyelamat.


Awan yang baru saja keluar dari pintu kotak ajaib berjalan itu, sontak menghampiri sahabat kecilnya yang saat ini pergelangan tangannya masih saja digenggam erat oleh Angin.


"Hai ...," sapa Awan ketika tubuhnya telah berada tepat di hadapan Berlian.


Tentu saja, hal itu membuat Angin mengernyitkan dahinya dan bertanya, "Kamu kenal gadis ini?”


Dengan bersematkan senyuman di bibirnya, Awan menjawab, "He'um, dia adalah gadis yang aku temui di kafe depan kantor tempo hari." Awan menjelaskan dengan antusias. "Dan ... kamu juga mengenalnya, Ang?" Pandangan Awan jatuh pada tangan Angin yang masih menggenggam posesif pergelangan tangan Berlian.


"Enggak," respon Angin secepat kilat.


"Terus kenapa pake pegang-pegang tangan segala?" Pertanyaan Awan membuat Angin terperanjat.


"Eh ...." Angin tersadar, lalu segera melepaskan pergelangan tangan Berlian. Membuat keduanya terlihat agak salah tingkah di depan Awan. "Aku cuma minjam tangannya aja tadi, buat menghindar dari Rindu," lanjut Angin tak ingin membuat Awan salah sangka. "Ya, udah, aku ke atas dulu." Tanpa memandang ke arah Berlian lagi, Angin pun langsung mengayunkan kedua tungkainya menuju pintu kotak ajaib berjalan.


"Siapa dia?" tanya Berlian ketika tubuh Angin telah hilang ditelan kotak ajaib tersebut.


"Dia ... dia Angin Topan, Direktur Utama di kantor ini." Berlian hanya manggut-manggut mendengar jawaban Awan tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali dari pintu kotak ajaib yang masih tertutup rapat itu.


Sepertinya Berlian sedang terpesona dengan kharisma seorang Angin Topan.


^^^Terpesona, aku terpesona🎶^^^


^^^Memandang, memandang 🎶^^^


^^^wajahmu yang manis🎶^^^


^^^Terpesona, aku terpesona🎶^^^


^^^Menatap, menatap 🎶^^^


^^^wajahmu yang manis🎶^^^


Alunan musik bertajuk Terpesona yang sangat viral akhir-akhir ini, seolah mengalun indah di telinga Berlian. Tanpa ia sadari, hal itu telah menarik kedua sudut bibirnya membentuk lengkungan indah.


Pastinya, hal itu membuat Awan bertanya-tanya resah. Agaknya ia mulai memahami apa yang dirasakan oleh Berlian. "Hei ...." Awan melambaikan telapak tangannya di depan wajah gadis cupu itu, yang tampak tak berkedip sama sekali.


Berlian terlonjak. "Eh, maaf, maaf, kenapa, Wan?" Seperti orang yang baru saja terbangun dari tidurnya, Berlian terlihat agak gelagapan.


"Aku belum ngomong apa-apa, kok," jawab Awan dengan senyuman agak dipaksa. Ia merasa seakan Berlian punya ketertarikan khusus terhadap Angin. "Oh, ya, kamu bawa naskah novelmu yang udah direvisi 'kan?" Awan mengalihkan topik pembicaraan. Menepis jauh perasaan sesak yang bersemayam di dadanya.


Berlian hanya mengangguk pelan tanpa membuka katub bibirnya.


"Ikut aku ke ruangan aja, yuk." Awan mendahului Berlian agar gadis cupu itu mengekorinya.


Setelah sampai di ruangan Awan yang terletak di lantai sembilan, Berlian langsung dipersilahkan duduk di sebuah sofa yang terdapat di sudut ruangan tersebut. Sofa itu sengaja disediakan, untuk menerima tamu khusus. Contohnya, seperti Berlian saat ini.


"Berlian ...." Suara bass Awan sontak membuat Berlian mengangkat wajahnya yang sedari tadi hanya tertunduk, selama Awan membaca naskah novelnya.


"Naskah ini aku terima, cuman aku gak bisa mastiin kalo Angin bakalan sependapat denganku, tapi ...." Awan menjeda kalimatnya sekedar untuk menarik nafas. "Aku akan berusaha semampuku untuk membantumu," tandas Awan sambil menatap manik mata cokelat keemasan milik sahabatnya itu.


"Terima kasih, Wan. Tapi, biarkan saja Tuan Angin yang menilainya sendiri, apakah karyaku layak terbit atau tidaknya. Aku hanya ingin karyaku terbit karena memang kualitasnya yang mumpuni, tanpa dikotori oleh bentuk lobi dan sejenisnya dari orang terdekat." Berlian berkata dengan mata berkaca-kaca, menampakkan bahwa ia sangat serius dengan ucapannya.


Sungguh hati Awan merasa terenyuh mendengar penuturan bermakna optimisme dari sepasang bibir ranum itu.


"Bagus ...." Awan mengangkat kedua jempolnya ke atas sembari tersenyum bangga. "Inilah yang selalu membuat aku kagum dari seorang Berlian, ia tidak akan memanfaatkan situasi hanya untuk kepentingan pribadinya." Awan beranjak dari peraduannya, lalu mengambil dua botol minuman dingin untuknya dan Berlian.


...💎💎💎...


Satu jam telah berlalu. Kini Angin dan Awan sedang berada di ruangan yang sama, untuk melaksanakan rapat dengan pihak Pemasaran.


Untuk menambah wawasan dalam hal ini, mari kita simak struktur organisasi PT. Maha Karya di bawah ini!



Struktur organisasi ini sengaja ditampilkan, sekedar untuk memperjelas dimana posisi dua lelaki tampan tokoh protagonis pria di dalam novel ini.


Saat ini, semua orang sedang duduk mengitari meja berbentuk persegi panjang yang berlapis kaca bening di atasnya. Pertemuan kali ini juga dihadiri oleh Dirut, Wakil Dirut, Manajer Pemasaran dan sepuluh orang stafnya.


Di bagian depan, terdapat Layar lebar yang sudah terbentang lurus, berhadapan dengan kursi Direktur Utama.


"Permisi ...." Pelangi memasuki ruang rapat dengan menimang sebuah map berisi beberapa dokumen yang Angin perlukan. Lalu sekretaris pribadi Angin itu, duduk di sisi kiri sang atasan untuk mencatat hasil dari rapat nantinya.


"Selamat Siang, semuanya." Awan menyapa dengan senyuman ramah khas miliknya. "Seperti yang sudah kita rencanakan sebelumnya, dalam rapat kali ini, kita akan membahas tentang strategi baru dalam pemasaran novel-novel yang baru saja diterbitkan." Awan membuka pertemuan siang itu dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Bagaimana kabar kalian hari ini?" Tanya Awan kepada anggota rapat.


"Siap, luar biasa, semangat," jawab mereka serentak dengan suara lantang dan penuh semangat. Angin tampak menyabit senyuman tipis setelah melihat semangat kerja yang amat ketara di wajah semua karyawannya.


"Baiklah, tanpa berlama-lama lagi, saya persilahkan kepada Manajer Pemasaran untuk memulai presentasinya." Awan mempersilahkan seorang laki-laki yang usianya hampir setengah abad itu.


Sebut saja, Pak Kabudin. Manajer Pemasaran PT. Maha Karya, sejak didirikannya perusahaan penerbitan ini. Pak Kabudin adalah sosok Manajer yang berdedikasi tinggi, serta kinerjanya yang tidak pernah Angin ragukan sama sekali. Terobosan strategi jitunya selalu saja berhasil menaikkan kas perusahaan dari waktu ke waktu.


Namun entah mengapa sosok lelaki yang selalu terlihat sumringah itu, malah diberi nama Kabudin di sini. Padahal wajah beliau tak pernah tampak berkabut sama sekali.


"Selamat siang, Pak Angin, Pak Awan, Nona Pelangi, dan ... seluruh Staf Pemasaran PT. Maha Karya yang saya banggakan." Pak Kabud memandang satu persatu wajah orang-orang yang sedang ia sapa.


"Hari ini saya sudah menyiapkan beberapa strategi baru untuk memasarkan novel-novel baru terbitan kita. Strategi ini bertujuan agar para pelanggan bisa melakukan pembelian dengan mudah namun dengan harga yang tetap tidak murahan." Semua pandangan tertuju pada satu arah, yaitu Pak Kabudin.


"Caranya?" Angin mulai angkat bicara.


"Baik, Pak. Akan saya jelaskan." Pak Kabud mulai menampilkan materi yang telah ia siapkan pada layar putih yang telah tersedia.


"Saya beserta tim sudah menyiapkan satu aplikasi belanja online khusus PT. Maha Karya dengan nama MK Bookstore. Di dalam aplikasi ini terdapat beberapa fitur, mulai dari Beranda, Rak Buku, Keranjang, dan masih banyak lagi yang lainnya seperti yang saya tayangkan di layar." Angin mengekori arah tangan Pak Kabud dengan wajah serius.


"Menarik ...." Angin tampak manggut-manggut tanda mengapresiasi. Membuat Pak Kabud semakin percaya diri dengan presentasinya. "Lalu apa yang membedakan MK Bookstore dengan aplikasi belanja online yang lainnya?" Pertanyaan Angin membuat Pak Kabud melempar senyuman optimis seolah ia telah mempunyai jawabannya.


"Nah, di sinilah kita akan menerapkan sistem belanja kredit, Pak. Dengan memberikan tenggang waktu selama dua sampai empat minggu kepada pelanggan untuk menyelesaikan pembayarannya." Pak Kabud menghentikan kalimatnya untuk menghirup oksigen terlebih dahulu. "Pertimbangan kami adalah, saat ini media online lebih banyak digandrungi oleh para remaja maupun dewasa. Bahkan anak-anak sekarang juga sudah sangat akrab dengan yang namanya gadget."


"Dengan menerapkan sistem kredit berbayar, saya yakin pelanggan akan cenderung memilih berbelanja di toko kita, ketimbang di toko-toko buku online yang lainnya." Pak Kabud menambahkan.


"Lagipula, di saat sulit seperti sekarang ini, pelanggan bisa terhindar dari pailit atau terjepit dengan hutang yang melilit, dan tidak perlu berlari terbirit-birit, karena dikejar bandit penagih kredit," kelakar Pak Kabud yang sukses membuat ruangan yang tadinya hening, menjadi riuh karena gelak tawa.


"Maaf, Pak, yang barusan, hanya untuk selingan saja." Senyuman Pak Kabudin berhasil membuat Awan terkekeh kecil namun tetap menutupi sebagian wajahnya dengan telapak tangan.


"Dan ... itu semua bisa segera kita terapkan dengan persetujuan dari Bapak tentunya," tandasnya menyudahi pembicaraan.


Menanggapi hal itu, Angin tampak berbisik-bisik pada Awan, lalu kembali memandang ke depan.


"Baiklah, Pak Kabud. Mari kita coba usulan dari Tim Pemasaran." Mendengar keputusan akhir dari Angin, semua Staf Pemasaran tampak berdiri seraya bertepuk tangan dengan riang.


Nah, strategi penjualan seperti ini juga bisa diterapkan untuk semua jenis bisnis atau usaha, tapi ingat ... jangan disistem kredit yah!


...💎💎💎...


"Siang-siang begini kalian bisa nongol juga?" Berlian membulatkan kedua matanya sempurna, ketika tujuh Kepala Casper itu menampakkan wujudnya di siang bolong.


"Setan Aplikasi mah bebas, Neng ...," ujar Kepala Kunti.


"Lagian kenapa elu murung gitu, sih?" Kepala Vampire bertanya tanpa basa basi.


Berlian sontak tak bergeming, lalu angkat bicara, "Ini ... ternyata masih ada aja yang ngirim Komentar Spam ke bab baruku." Mengarahkan layar lappy-nya pada ketujuh hantu cebol itu.


"Astaga, ini kan akun penulis novel ini," ujar Kepala Terakhir. "Ngapain dia nyepam di novel tokohnya sendiri?"


"Biar adil, pasti." Kepala Keparat angkat bicara.


"Maksudnya adil? Bukannya itu kurang kerjaan namanya, hihihihihi ...." Kepala Kentang mengeluarkan ajian andalannya, nyinyir.


"Sebagai seorang penulis yang bijak, pastinya dia gak akan mau mengharumkan namanya sendiri, di atas pencemaran nama pena orang lain," jelas Kepala Keparat yang membuat Kepala Kentang manggut-manggut, tanda mengerti.


"Sini gue liat," sela Kepala Koneng seraya memajukan kepalanya agak ke depan.


"Kau rabun ya, Kak? Kenapa harus sedekat itu?" protes Kepala Syantik atas tingkah Kepala Koneng yang selalu saja membuatnya terusik.


"Gue cuma mau mastiin aja, Setan. Keriting amat sih lu?" Mendelik ke arah Kepala Syantik. "Kalo emang bener, biar gue aja yang duluan nyerang itu orang." Kepala Koneng merespon dengan bacotan khas miliknya.


"Jadi ini beneran akun penulis novel ini?" Berlian menatap satu persatu wajah Kepala Casper, yang hanya dikonfirmasi dengan anggukan tegas oleh mereka.


"Biar kami tindak sekarang juga, ini bener-bener gak bisa didiemin." Kepala Terakhir menimpali. "Serang, Gengs!" Memajukan kepalan sebelah tangannya ke depan, seperti gaya tokoh hero dalam film-film bertajuk Pahlawan Bertopeng.


"Serang ...." Semuanya terbang kembali ke habitatnya dan menjalankan misi kedua mereka.


^^^@NA_SaRi^^^


^^^Gue mampir nih,^^^


^^^Ayo bermusuhan🤣^^^


@Kepala Koneng


Itu kata-kata gue, Setan!👽


^^^@NA_SaRi^^^


^^^Yang Setan itu elu, bukan gue😎^^^


@Kepala Kunti

__ADS_1


Pake nyolot lagi lu yak!


Enyah gak lu sebelum gue tabok!👽


^^^@NA_SaRi^^^


^^^Tabok aja kalo bisa🤪^^^


@Kepala Kentang


Eh, belom kapok juga ternyata ni orang


Tobat woi, jangan nyepam mulu!👽


^^^@NA_SaRi^^^


^^^Gue gak nyepam kok,^^^


^^^Gue cuma numpang promo🤭^^^


@Kepala Keparat


Komentar yang berisi promosi


Tapi lu kirim berkali-kali


itu jatohnya jadi spam, NA_SaRi👽


^^^@NA_SaRi^^^


^^^Makasih penjelasannya, Kaka^^^


^^^Tapi serius loh,^^^


^^^gue gak niat nyepam^^^


^^^Kenapa gue jadi dikeroyok gini?🥺^^^


@Kepala Syantik


Cie ... cie ... yang playing victim


Kita gak ngeroyok kok,


tapi kita cuma bersatu untuk


meluruskan yang salah ajah👽


^^^@NA_SaRi^^^


^^^Iya, makasih ya, Kak^^^


^^^Cuman gue gak terima^^^


^^^kalo dibilang Kang Spam🤧^^^


@Kepala Terakhir


Makanya kalo gak mau


dibilang Kang Spam,


baca karya orang sungguh-sungguh


Terus komen sesuai isi cerita


Nah, baru penulisnya percaya


kalo elu beneran baca👽


^^^@NA_SaRi^^^


^^^Gue baca kok, Kak🙄^^^


@Kepala Vampire


Kalo elu beneran baca


Kaga mungkin elu gak punya modal buat komen, elaaah👽


^^^@NA_SaRi^^^


^^^Lah, itu tadi gue udah komen🤭^^^

__ADS_1


Ya, begitulah tingkah seorang tukang penyebar komentar sampah. Selalu saja mencari pembenaran diri, dan tidak terima dicap sebagai pihak yang salah.


__ADS_2