Berlian & Kepala Casper

Berlian & Kepala Casper
Ketika Maut Menyapa


__ADS_3

Angin tampak celingukan. Berulang kali ia melirik arlogi di pergelangan tangannya. "Kemana anak itu?" Angin bergumam sendiri.


Tampak Awan, Gempita, Pelangi, dan teman-teman Angkasa yang lainnya sudah berkumpul dan mengobrol dengan asyiknya. Sementara tamu-tamu yang lain juga terlihat sedang menikmati makanan dan minuman yang sudah tersedia. Semuanya larut dalam euforia bersama musik pop yang sedang mengalun memenuhi ruangan.


Beberapa saat kemudian, lengan kekar Angin disentuh oleh seorang wanita. "Mama," sapanya, setelah menyadari sosok yang berada di sampingnya.


Wajah Ibu Bulan tampak tidak bersemangat seakan sedang mengkhawatirkan sesuatu. Namun dia sendiri juga merasa bingung. Apa gerangan yang salah?


"Mama kenapa?" tanya Angin kemudian.


"Entahlah, tiba-tiba perasaan mama ... jadi tidak karuan, Ang. Apalagi adikmu belum tiba juga sampai sekarang. Padahal sebentar lagi acaranya akan segera dimulai," tuturnya dengan wajah was-was. Lolos sudah kegundahan hatinya yang terpendam sedari tadi.


Angin yang sejak tadi juga merasakan hal yang sama, lantas pamit kepada sang ibu untuk memastikan keberadaan si adik. "Aku hubungi Bawel dulu, mama yang tenang ya." Seketika Angin bergerak ke luar dari ballroom hotel itu.


Tut ... Tut ... Tut ....


"Kak, tolong kami...!" teriak Angkasa dari balik telepon.


"Kenapa? Apa yang terjadi pada kalian?" Angin yang tiba-tiba panik, langsung saja pada tujuannya.


"Kami terperangkap di tepi jurang, Kak. Di dekat liter S."


"Apa?"


Tanpa melanjutkan percakapannya, Angin pun langsung melompat ke arah mobilnya, lalu melesat menuju lokasi kejadian.


Di sepanjang perjalanan, perasaannya semakin tidak karuan. Mobil yang ia kendarai pun telah mencapai batas maksimalnya. Sudah tak ada lagi rasa takut di dalam dirinya. Pikirannya hanya satu ... sampai di tempat itu sesegera mungkin.


Ia pun tak henti-hentinya melantunkan kalimat permohonan di dalam hati, agar Tuhan mau berbelas kasihan dan memberinya kesempatan untuk menyelamatkan dua kesayangannya itu.


Mesin mobil pun terdengar menderu gagah. Begitu juga dengan pengemudinya. Namun, rambu-rambu lalu lintas menghalangi perjalanannya. Mau tidak mau Angin harus terjebak kemacetan yang sudah mengular.


"Sial ...! Seharusnya aku tidak melewati jalur ini."


Nasi sudah menjadi bubur. Semua yang sudah terlanjur, tidak akan bisa diulang kembali. Melangkah maju tidak bisa, apalagi mundur. Angin pun terjebak.

__ADS_1


Begitu juga dengan waktu, jika tidak kita manfaatkan sebaik mungkin, maka sejarah indah pun tak akan bisa terukir. Karena kesempatan yang sama, belum tentu bisa terulang kembali.


Maka dari itu, manfaatkanlah waktu kita sebaik mungkin, Saudara/Saudari ...!


...πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž...


Awan hitam pekat masih beterbangan di langit bumi. Embusan angin mulai mengalun dan membelai badan kendaraan roda empat yang masih setengah langkah menuju jurang.


Angkasa tersentak. Kesadarannya melesat kembali menguasai diri, setelah mendengar deringan ponselnya. Setelah berbicara dengan Angin, Angkasa sontak melepas sabuk pengamannya. Namun terlambat, nasib baik tak berpihak padanya. Mobil itu perlahan condong dan bergerak curam. Dengan wajah yang tak kalah paniknya dari Berlian, ia menginstruksi gadis itu agar berpindah ke jok belakang.


Berlian menggeleng tegas. Tak ada sedikitpun keberanian yang menguasai dirinya saat ini. Kondisi menegangkan sekaligus mencekam ini, turut merampas kepercayadiriannya. Menghempaskannya berkeping-keping bak pecahan kaca yang menghantam jiwa dan raga.


Siapa pun, kecuali super hero, pasti akan gemetar dan takut untuk bergerak. Karena jika salah langkah, maka maut sudah menunggu di bawah sana.


"Aku gak bisa, Angkasa ...," tuturnya sembari sesegukan. Menatap Angkasa dengan kepala menggeleng perlahan.


Pria itu terkesiap. Pasalnya tangisan Berlian kali ini terdengar lebih memilukan daripada suara tangisan setan Penunggu Jalan tadi.


"Kamu bisa, kamu pasti bisa," ungkap Angkasa dengan nada menggebu-gebu. Ia berusaha mentransfer sugesti positif ke dalam benak calon tunangannya itu. "Aku akan membantumu." Angkasa menolong Berlian melepaskan sabuk pengamannya, lalu mendorong tubuh gadis itu yang masih saja kesusahan untuk mencapai bagian belakang mobil.


Ketika Berlian menambah langkahnya, mobil itu perlahan bergerak semakin terjal. "Tidaaak!" pekiknya, semakin ketakutan. Ia menghentikan gerakannya seketika.


Berlian kembali merayap dengan sisa tenaga yang ia miliki, diekori oleh Angkasa di belakangnya. Posisi mobil semakin bergeser. Mencekik nyawa mereka berdua, bahkan tanpa kompromi.


Dengan sekali hentakan, pria berambut setengah gondrong itu berhasil memecahkan kaca mobil bagian belakang. Ia langsung mendorong tubuh Berlian terlebih dahulu. Berlian sempat menoleh sejenak, menatap wajah makhluk yang sudah dicapnya sebagai pria usil dan tidak waras itu.


"Ladies first!" tutur Angkasa di tengah-tengah napasnya yang memburu. Tampak lengkungan tipis sebagai tanda keharuan terbentuk di bibir Berlian. Ia mengangguk, lalu bergerak cepat dalam hitungan ketiga. Mobil itu kembali bergerak semakin menerjal.


KRIEEET


KRIEEET


KRIEEET


"Angkasa ...," pekik Berlian ketika dirinya telah berada di pantat mobil yang saat ini terbalik menjadi puncak tertinggi.

__ADS_1


Dalam sekali dorongan, Angkasa menyembulkan tubuhnya keluar. Namun naas, mobil itu tiba-tiba terjun bebas. Tubuh Berlian terpelanting ke tanah, sedangkan tubuh Angkasa mengekori badan mobil yang sudah terjun ke jurang.


"Tidaaak!" Berlian berteriak. Tubuhnya yang terjerembab ke tanah perlahan beringsut mendekati bibir jurang. "Angkasa ...." Ia kembali memekik. Air matanya tumpah ruah, menyesali keterlambatannya.


Terlambat menarik tangan Angkasa. Terlambat juga untuk melompat agar beban mobil jadi berkurang. Terlebih lagi ... terlambat peka akan pedihnya takdir novel ini.


Sekujur tubuh Berlian tampak bergetar. Posisinya tengkurep, meratapi hilangnya sosok Angkasa dari pandangan matanya. Sebelah tangannya masih berayun-ayun di atas jurang seakan ingin menarik balik tubuh calon tunangannya itu dari sana.


"Angkasa, maafkan aku ... maafkan aku, Angkasa ... huhuhu ...." Tangisan Berlian semakin tersedu. Mengiris kalbu siapa pun yang mendengarnya. Ia marah kepada dirinya sendiri. Ia juga marah kepada Penulis novel ini. "Kenapa kau kejam sekali, hah?" cercanya dengan wajah yang bersimbah air duka.


Penulisnya seakan tak menggubris tatapan yang melukiskan aroma kebencian dari kedua mata Berlian. Ia terus saja menulis. Memberikan kejutan tak terduga pada beberapa detik kemudian.


"Berlian lima puluh karat!" Terdengar suara Angkasa, membahana seantero jurang.


Berlian terlonjak. Cepat-cepat ia menghapus air matanya, kemudian bangkit dari posisi awal. "Angkasa!" Berlian sontak menundukkan pandangannya pada tebing jurang. Dalam kegelapan ia masih meraba-raba dari manakah suara itu berasal. Kepalanya tampak celingukan. Hatinya kembali berdebar-debar.


Walaupun lampu jalan masih menebarkan sinarnya, namun tetap saja tampak begitu gelap di bawah sana.


Benarkah itu suara Angkasa? Atau aku hanya berhalusinasi saja? Batin Berlian kemudian.


"Angkasa ...!" Sekali lagi Berlian menjerit. Memastikan bahwa ia tidak sedang berkhayal.


Beberapa saat kemudian


"Duaaar ...."


Tiba-tiba wajah Angkasa menyembul dari bibir tebing.


"Aaaa ...." Berlian terkejut hebat. Ia mundur beberapa langkah. Kemudian menyadari bahwa itu adalah suara pria yang tadinya telah ia anggap tiada. "Angkasa ...!" Lalu berjongkok dan mengulurkan tangannya pada pria itu.


Namun, usahanya kembali gagal. Jemari lentiknya hanya bisa menangkap bayang-bayang lengan Angkasa saja. Pertemuan antara tangannya dan tangan pria itu, seperti asap yang tiba-tiba melebur ketika dijamah. Bayang-bayang Angkasa tampak tersenyum padanya.


"Tidak mungkin," ucap Berlian sembari menggeleng-geleng tidak percaya. "Kamu gak mungkin mati, Angkasa. Hiks ... hiks ... aku bahkan belum sempat meminta maaf padamu."


"Angkasa ... ingatlah selalu nama itu, Berlian!" suara tersebut terdengar menggema di telinga gadis cupu itu. Ia kembali menangis sejadi-jadinya.

__ADS_1


Menunduk, membekap mulut, meraung tidak terima, bahkan memekik sesegukan. Tiba-tiba pandangannya memudar. Bayang-bayang yang tadinya mirip sosok Angkasa itu pun lenyap sudah. Dengan gerakan lamban tubuh Berlian pun terhuyung dan terjerembab kembali ke tanah.


Sejauh apa pun diri ini menghindar. Sekeras apa pun diri ini berusaha melarikan diri. Namun tetap saja, yang namanya maut ... itu sudah ditetapkan. Jika telah tiba masanya, ia pasti akan datang.


__ADS_2