
Tanpa segan air langit mengguyur deras permukaan bumi. Tak hanya angin yang bertiup kencang, guntur dan petir pun turut andil pula dalam episode ini.
Cuaca yang amat sangat mencekam itu, menambah cekikan atmosfer kikuk antar dua insan yang saat ini sedang berada di dalam mobil semakin menjadi-jadi.
Berlian dan ... Angkasa!
Malam ini adalah malam pertunangan mereka. Setelah melewati perdebatan sengit di antara ia dan ayahnya dua minggu yang lalu, pasca hilangnya ponsel Berlian waktu itu, Berlian tak lagi bisa berkelit. Ia pasrah. Mungkin ini sudah jalan takdir. Takdir dari Penulis novel ini.
Acara pertunangan mewah sudah menanti mereka di sebuah hotel bintang tujuh.
Obat kali ah, pake bintang tujuh segala!
Kedua keluarga besar juga sudah berkumpul di sana. Sementara Berlian sengaja dijemput oleh Angkasa, karena ada sesuatu yang ingin ia bicarakan sebelum terjalinnya ikatan awal menuju pernikahan mereka.
"Ehem ...." Angkasa berdeham, mencoba memecah keheningan yang sedari tadi menyelimuti mereka.
"Ada yang ingin aku bicarakan," ujarnya, memulai percakapan.
Tumben sopan, batin Berlian keheranan. Pandangannya masih lurus menatap tetesan air hujan yang menimpa kaca mobil yang berada tepat di hadapannya, tanpa menggubris perkataan pria yang berada di sampingnya.
"Berlian ...." Volume suara Angkasa tiba-tiba melejit lebih keras, ketika gadis yang duduk di sampingnya itu hanya bergeming saja.
Seketika Berlian menghela napasnya berat, tanpa mengalihkan pandangannya. "Aku mendengarkan, Angkasa. Gak usah teriak gitu," ucapnya kemudian dengan santun.
Angkasa menyungging senyuman tipis. Pasalnya ia menyangka bahwa Berlian sedang melamun karena tidak menginginkan pertunangan ini.
"Setelah malam ini, mungkin status kita akan berubah." Angkasa berkata dalam mode gugupnya.
Aneh sekali!
Bukankah selama ini dengan entengnya ia mem-bully Berlian? Tanpa belas kasihan. Tanpa rasa segan. Bahkan tanpa rasa sungkan.
"A-aku mau mi-minta maaf atas semua per-lakuanku sama ka-mu selama ini." Lolos. Walaupun dengan suara terbata, akhirnya luruh sudah rasa gengsi pria tampan berambut ikal sebahu itu.
SERRR
Desiran darah mengalir dengan deras di dalam sana. Berlian tak menyangka bahwa makhluk seusil Angkasa bisa mengatakan hal mulia seperti itu.
Apa anak ini kehabisan stock obat? Berlian bergumam di dalam hatinya. Ia masih belum mempunyai cukup keberanian untuk memandang wajah pria yang paling menyebalkan itu.
"Aku berjanji akan bersikap baik sama kamu," lanjut Angkasa dengan pandangan yang masih fokus pada jalanan yang hampir tak terlihat karena guyuran air hujan yang amat deras.
Tidak salah lagi, dia memang sudah kehabisan obat. Berlian masih saja berkicau di dalam hatinya.
"Tolong ... beri aku kesempatan untuk ...." Belum selesai kalimat itu Angkasa ucapkan, tiba-tiba pandangannya menangkap sebuah siluet seperti seorang wanita yang sedang bergerak menyeberangi jalan. Jarak di antara wanita itu dan mobilnya cukup dekat, tidak lebih dari tiga meter.
__ADS_1
Entah bagaimana ceritanya, ada manusia yang melintasi jalan tanpa melihat ke kanan dan ke kiri terlebih dahulu. Karena terlalu panik alias gegabah, akhirnya Angkasa memutuskan untuk banting setir. Dan ... berhasil. Wanita itu selamat dari terjangan kendaraan roda empat yang sedang dikendarainya.
Berlian terlonjak. Sembari memegangi dadanya karena terkejut. Ia juga sempat berteriak dengan menyebut nama ... 'Aang'.
Menyadari hal itu, Angkasa refleks menoleh ke arahnya dengan sejuta tanya. Apakah yang Berlian maksud itu, 'Aang' kakaknya? Ataukah ada laki-laki lain yang sudah sukses merebut hati gadis ini?
Dengan wajah yang masih menatap lekat ke arah Berlian, tanpa Angkasa sadari bayangan wanita yang menyeberangi jalan tadi, kembali melintasi jalan di hadapannya.
Berlian memekik, "Angkasa, awas!" Seketika pandangan Angkasa berpaling dari Berlian dan mengarah ke depan. Lalu, sekali lagi, tangannya refleks menarik kemudi untuk menghindari wanita itu. Namun naas, mobil yang ia kendarai malah melesat ke pinggir jalan yang di tepinya terdapat jurang yang terjal.
Berlian kembali berteriak. Seluruh tubuhnya terhempas dan keningnya pun membentur dashboard mobil. Begitu pula dengan Angkasa. Mereka berdua serentak memekik kesakitan, dengan pakaian yang sudah berlumurkan cairan merah yang entah datangnya dari mana.
Tentu saja, dari kening dan hidung mereka masing-masing!
Dalam tangis Berlian berusaha melepas sabuk pengamannya. Angkasa pun masih bisa bernapas lega karena mobil yang ia kendarai tidak terjun bebas ke dalam jurang.
"Kamu gak papa, 'kan?"
Konyol sekali ...! Pertanyaan jenis apa itu?
"Bukannya kamu bisa lihat sendiri?" cebik Berlian dalam mode meringisnya. "Makanya kalo nyetir jangan banyak bicara," cerca Berlian tanpa ragu.
Angkasa menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Bukannya menggubris perkataan Berlian, namun memori terbesarnya menyeret ia pada wanita yang menyeberang jalan tak kenal situasi tadi.
"Eh, apa kamu gak ngerasa aneh?" tanya Angkasa sembari menatap Berlian.
Angkasa memicingkan sebelah matanya tidak habis pikir. Ternyata selain cupu, gadis ini juga lola, gumamnya di dalam hati.
"Gimana bisa wanita tadi menyeberang jalan berkali-kali dengan jarak yang berbeda?" Pertanyaan Angkasa sukses membuat Berlian keluar dari mode sibuknya.
Ia sontak membulatkan mulutnya sempurna, ketika menyadari keanehan itu. "Jangan-jangan wanita itu ... se-setan?" Berlian balik bertanya dengan mode terbata. Tidak elok rasanya jika ia bertanya dalam nada yang biasa-biasa saja.
Belum sempat Angkasa menanggapi pertanyaan gadis itu, bumper mobil bagian belakang seakan digebrak oleh seseorang.
BRAAAK
Pandangan keduanya melesat ke arah yang sama. Samar-samar tampak seorang wanita dengan pakaian yang sudah basah kuyup, berdiri tepat di belakang mobil itu dan menatap lurus ke arah dua insan yang sedang bergidik ngeri dibuatnya.
"Angkasa ... i-itu dia ...." Berlian memekik tertahan. Kedua bola matanya sudah berkaca-kaca karena saking takutnya.
"Ssst ... biar aku yang keluar."
"Eh, jangan!"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku sendirian!"
Tanpa Berlian sadari kedua tangannya sudah bergelayut pada lengan kekar Angkasa, yang tertutupi jas berwarna biru tua.
Angkasa tertegun. Hatinya menghangat ketika mendengar kalimat terakhir dari Berlian. Sepertinya ia telah salah kaprah, karena kenyataan tak seindah kehaluannya.
Begitu pula dengan kehidupan ini. Boleh saja mempunyai sebuah mimpi, namun jangan terlalu tinggi. Karena jika terlalu tinggi, kita bisa lupa jalan untuk kembali. Apalagi sampai lupa diri. Bisa-bisa jatuh ke dalam perigi.
Aha!
Lanjut!
"Lalu menurutmu kita harus bagaimana? Setidaknya kita harus berkomunikasi dengan makhluk itu," tutur Angkasa dengan nada pelan, agar perkataannya tidak terdengar oleh wanita yang sedang berdiri anteng di belakang mobilnya.
Yang namanya setan, ya pasti dengerlah, Angkasa!
Berlian terdiam sejenak, lalu bertanya, "Emangnya kamu bisa bahasa setan?"
JLEB
Angkasa mendelik, tidak habis pikir dengan celetukan gadis cupu itu. "Aku ini masih manusia, Berlian. Belum pindah spesies," katanya membela diri.
"Yang bilangin kamu setan itu, siapa? Aku 'kan cuma nanya. Kamu itu biasa ngomong sama setan gak?" Berlian melipat kedua lengan di depan dadanya. Berada dalam kondisi seperti ini semakin membuatnya jengah.
Duh, kenapa jadi begini? Seandainya ada Kepala Casper. Berlian bergumam di dalam hati.
Angkasa bergeming. Setelah dipikir-pikir ada benarnya juga perkataan Berlian tadi. Ia bahkan tidak tahu bahasa apa yang biasa digunakan oleh para makhluk ghaib.
Suasana tiba-tiba hening!
Tak berapa lama setelah itu, tubuh wanita yang berdiri di belakang mobil tadi, tiba-tiba lenyap ditelan kabut asap yang berbondong-bondong mengitari mobil Angkasa. Hujan pun tak lagi betah di sana. Angin, petir, dan guntur juga sudah tak sudi lagi menemani.
Mungkinkah mereka juga takut pada setan?
Angkasa terkesiap, ketika menyadari sosok wanita itu muncul kembali tepat di samping kaca kemudi. Sementara Berlian sudah berteriak sekencang-kencangnya hingga memekakkan telinga siapa pun yang mendengarnya.
Dengan wajah penuh luka dan berlumuran darah, sosok wanita itu tampak menangis tersedu-sedu seolah meminta pertolongan. Angkasa membekap mulut Berlian. Bisa mereka dengarkan suara tangisan pilu wanita itu, yang membuat bulu kuduk mereka meremang berjama'ah.
Berlian kembali bergidik ngeri, lalu menepis tangan Angkasa dari bibirnya. "Angkasa, cepetan injak pedal gasnya!" Dengan nada setengah menangis dan napas yang memburu, Berlian menggoyang-goyangkan tubuh Angkasa, agar pria itu lekas membawanya pergi dari sana. Setidaknya pria itu sudah bisa menarik mundur mobilnya.
Namun, seolah terkena jurus hipnotis, Angkasa sedikitpun tak mengindahkan permintaan Berlian.
"Angkasa ...." Sekali lagi Berlian berusaha menyadarkannya, namun pandangan pria itu masih saja fokus ke arah sosok wanita yang masih menangis pilu itu.
Seakan mendapatkan tamparan dari malaikat maut, tanpa Angkasa sadari ia malah menjalankan mobilnya ke depan. Dengan sekali tarikan, setengah dari badan mobil itu telah berada di atas jurang, sedangkan setengah bagiannya lagi masih terinjak sempurna di atas tanah.
__ADS_1
"Angkasa ...," pekik Berlian ketika mobil itu terasa bergoyang-goyang seperti permainan jungkat-jungkit. Sejurus kemudian Angkasa pun mulai menyadari keterlanjurannya.
"Apa yang terjadi?"