Berlian & Kepala Casper

Berlian & Kepala Casper
Dilaporin Setan?


__ADS_3

Pak Iwa dan istrinya masih mematung di teras rumah. Mengantar kepergian sosok yang masih tanda tanya bagi mereka.


"Kok mamah ngerasa gak asing sama pria tadi ya, Pah." Ibu Nila mengungkapkan perasaannya yang sedari tadi ia tampung sendiri.


"Papah juga ngerasa begitu, Mah. Tapi siapa, ya? Seperti pernah bertemu, cuman papah lupa dimana." Pak Iwa mencoba kembali mengorek ingatannya akan Pria Baik Hati itu. Namun, masih saja tidak ketemu.


Lalu tiba-tiba Ibu Nila kembali mengingat keberadaan putrinya yang belum menemukan titik terang. "Pah, apa sebaiknya kita lapor polisi aja? Kita butuh bantuan mereka untuk menemukan Berlian, Pah," tuturnya yang mulai panik level dua.


"Tenang, Mah. Kita gak boleh gegabah. Lagi pula ini belum sampai dua puluh empat jam. Jadi, gak bisa dianggap hilang atau kasus penculikan," jelas Pak Iwa kepada istrinya.


"Oh, Papa tau harus menghubungi siapa." Pak Iwa langsung menelpon seseorang untuk membantunya menemukan Berlian.


Kekhawatiran tidak bisa lagi disembunyikan. Semburat kesedihan sekaligus kegelisahan terus berkobar di wajah ayu wanita yang telah melahirkan Berlian itu. Sepasang bibirnya tampak tak henti mengucapkan rangkaian permohonan. Sementara di dalam hatinya, sedetik pun tak luput dari menyebut nama sang buah hati.


Memang benar, kasih ibu itu seluas lautan yang tak bertepi. Melebihi kasih sayang siapa pun di dunia ini. Tak terkecuali sosok Ayah sekalipun. Seorang ibu adalah sosok yang paling terluka di saat kita berada di dalam masalah. Sosok yang paling bersedih ketika anaknya tersiksa. Sosok yang paling peka dan mengerti akan perasaan anaknya.


Bagi yang masih memiliki sosok terkasih yang satu ini. Sayangilah mereka. Patuhi dan berbaktilah kepadanya selagi kita bisa. Karena kita tidak pernah bisa menjamin, kapan waktunya akan berhenti, dan kapan waktu kita akan berjalan lebih lama lagi bersamanya.


Satu jam kemudian


Senyuman Ibu Nila telah kembali tersemat pada sepasang bibir ranumnya. Putri semata wayang yang dia sangka menghilang bahkan diculik orang, kini telah tiba di kediaman.


Begitu juga dengan Pak Iwa. Walaupun hubungan di antara ia dan putrinya terkesan selalu saja mengalami permasalahan, namun hilangnya Berlian yang hanya memakan waktu tidak lebih dari dua jam itu, sudah cukup membuktikan bahwa ia juga sangat menyayangi putrinya. Hatinya gelisah, pikirannya kalut, dan dunianya seakan hilang bersamaan dengan buah cintanya itu. Namun, tetap saja, ia tidak mau menampakkan semuanya di hadapan sang putri. Ia tidak ingin Berlian berbesar kepala.


"Seharusnya kalau mau pergi kemana-mana itu, harus izin dulu sama orang tua," titahnya kepada Berlian ketika mereka masih sama-sama duduk di ruang tamu. Ada Gempita juga di sana.

__ADS_1


"Biar orang tua tidak khawatir dan panik," lanjutnya mengungkapkan separuh perasaannya. Berlian hanya menunduk sembari mengucapkan kata 'maaf' sebagai tanda bahwa ia sangat menyesal karena telah membuat kedua orang tuanya khawatir.


Ya, tadi Pak Iwa sempat menanyakan perihal Berlian kepada Gempita. Karena Pak Iwa sangat tahu bahwa selain Awan, hanya Gempitalah sahabat tempel putri cupunya itu. Tidak ada orang lain lagi. Beruntung lelaki yang usianya hampir menginjak kepala lima itu, menyimpan kontak gadis Ngapak tersebut. Jika tidak, mungkin beliau juga akan kebingungan sendiri.


"Ya, udah, Om, Tante, saya pamit undur diri ya, khawatirnya Mama sama Papa juga nyariin," pamit Gempita setelah menjelaskan kronologi kaburnya mereka dari rumah megah itu sebelumnya.


Awalnya Pak Iwa dan Ibu Nila, hampir tidak mempercayai cerita tidak logis yang mereka sampaikan. Namun, berhubung yang bercerita itu Gempita dan dikuatkan lagi oleh Berlian, jadi mereka mau tidak mau harus percaya. Sebenarnya Pak Iwa termasuk tipe yang tidak terlalu percaya dengan kisah-kisah yang berbau magis. Karena dia beranggapan, hal itu hanya mitos dan dongeng semata untuk menakuti anak-anak pada zaman dahulu.


Tetapi, kali ini berbeda, yang bercerita adalah seseorang yang berpendidikan tinggi. Tidak mungkin mereka mengarang cerita, begitulah kiranya isi kepala Pak Iwa.


Setelah kepulangan sahabatnya, Berlian memutuskan untuk beristirahat. Namun, ia agak ragu untuk melangkah menuju kamarnya. Masih terekam jelas pada memori terbesarnya seperti apa sosok Nenek Sihir yang menyeringai ke arahnya tadi.


"Mah, a-aku boleh gak ti-tidur di kamarnya mamah?" tanyanya dengan nada terbata. Ia agak sungkan mengutarakan permohonan tersebut. Namun keberaniannya juga menciut jika harus tidur di ruangan yang menjadi sarang setan itu.


Ibu Nila yang memahami ketakutan sang putri, lantas mengizinkan Berlian untuk tidur satu kamar dengannya. Sementara Pak Iwa memutuskan untuk tidur di sofa yang terdapat di dalam kamar mereka.


"Sial ...!" umpat Angkasa ketika ia mendapatkan notifikasi baru yang berhasil membuat suhu tubuhnya mendadak mendidih.


"Kenapa, Wel?" tanya Angin yang berada di sampingnya. Ia terpaksa menghentikan gawainya karena mendengar umpatan si adik.


Mereka berdua masih berada di ruang menulis bersama beberapa orang lainnya yang juga menghabiskan waktu malam mereka di sana. Angin sengaja mengajak adiknya agar lebih produktif malam ini. Dengan menghasilkan banyak bab baru, maka akan menunjang performa karyanya di aplikasi paling horor ini. Mau tidak mau ... ya harus begitu.


"Sepertinya ada manusia berkepala s.e.t.a.n yang ngelaporin karyaku pada pihak N.O.V.E.L.T.O.O.N, deh, Kak," jelas Angkasa dengan pandangan yang masih tak teralihkan dari layar laptop di hadapannya.


Tatapannya sangat lekat, penuh kegeraman. Pasalnya ia tidak menyangka bahwa karyanya yang dengan susah payah ia garap untuk menyampaikan fakta dan fenomena yang tidak berfaedah, yang memang seharusnya tidak dilakukan oleh spesies manusia itu, ternyata masih saja ada yang iri bahkan sensi.

__ADS_1


"Kamu yakin, Wel?" Angin mengernyitkan keningnya dalam.


"Yakinlah, Kak. Coba deh kakak lihat notifikasi ini!" Angkasa mengarahkan layar laptopnya ke arah sang kakak.



Angin hanya bisa menghela napas kasar. Pandangannya ikutan nanar melihat layar putih itu. "Kamu yakin gak ada ngajuin penghapusan karyamu sendiri?" tanyanya lagi meyakinkan sang adik.


"Ya ampun, Kak, buat apa juga aku ngajuin penghapusan karya sendiri, kayak kurang kerjaan aja," cebik Angkasa yang mungkin sudah merasa kesal. Bisa jadi, ia merasa bahwa Angin tidak mempercayai perkataannya.


"Masuk di akal," tutur Angin sambil bertopang dagu. "Ya, udah, gak papa, Wel. Jadiin semangat aja, ambil positifnya!" serunya kepada sang adik yang masih saja memasang wajah masam. Ia masih tidak habis pikir bahwa masih saja ada orang yang kontra dengan kebenaran.


"Pasti, Kak." Angkasa menegakkan tubuhnya. Membentuk posisi duduk siap seperti seorang siswa yang telah mendapatkan kembali semangat juangnya, setelah mengalami sentilan nilai buruk. "Kalo kayak gini, aku malah semakin semangat untuk menyampaikan kebenaran," tuturnya dengan mantap jiwa. "Selagi N.O.V.E.L.T.O.O.N tidak merestui, posisiku masih aman-aman aja, Kak." Menaik-turunkan kedua alisnya ke arah sang kakak dengan percaya dirinya.


"Nah, itu baru adiknya Angin Topan." Angin menggeser kursi putarnya mendekati Angkasa. "Ke depannya kamu harus lebih teguh dan tekun lagi, Wel!" Tepukan penyemangat mendarat telak di pundak Angkasa. "Karena pasti akan banyak ujian dan badai yang akan menghampiri kamu. Apalagi tidak banyak orang yang suka jika kita mengajak kepada kebenaran. Karena kalau surga itu mudah di dapatkan, gak mungkin Tuhan menciptakan neraka sebagai pendampingnya," lanjutnya panjang lebar seperti sedang memberikan tausiah. "Teruslah berjuang, Wel." Ada lengkungan tipis bak bulan sabit yang tampak pada sepasang bibir milik Angin.


Pasalnya hal seperti ini sudah pernah ia rasakan sebelumnya. Jadi, wajar saja, jika ia lebih berpengalaman dalam mengatasi kerikil-kerikil bahkan batu-batu besar yang di hadapi seorang penulis dalam mencapai puncak tertingginya.


Angkasa hanya mengangguk sembari tersenyum. Ia merasa beruntung bisa memiliki kakak seperti Angin. Selain baik, Angin juga sangat bisa melindungi dan mengayomi saudaranya. "Kakak akan selalu mendukung kamu," tutur Angin lagi yang membuat Angkasa tersenyum lebar. Merasa mendapat dukungan penuh dari sang kakak, Angkasa kembali bergulat dengan laptopnya untuk menghasilkan karya-karya dengan penuh cinta.


B.O.D.O.A.M.A.T dengan yang tidak suka.


B.O.D.O.A.M.A.T dengan yang dengki.


B.O.D.O.A.M.A.T dengan teror di belakang layar.

__ADS_1


Karena semua yang dibuat dan disampaikan dengan ketulusan dan kebenaran, maka Tuhan yang akan turun tangan.


__ADS_2