
Setelah kepulangan Zoya, Angin kembali fokus dengan bacaannya. Ia bahkan melupakan bahwa sedang memiliki janji untuk menjenguk Awan.
Sudah dua hari ini, pria yang menjabat sebagai Wakil Direktur di perusahaannya itu mengalami demam parah, sehingga tidak bisa masuk kantor.
Tiba-tiba saja, alarm pada penunjuk waktu yang melingkar gagah di pergelangan tangan Angin pun, berdering. Pria berhidung mancung itu terlonjak, seketika mengingat tujuan awalnya menyetel pengingat tersebut.
Ia segera menutup laptopnya yang berlogo buah apel itu, lalu bergegas keluar setelah mengamit kontak mobilnya. Tak lupa pula meraup ponselnya yang tergeletak di atas meja.
Setelah mengabari Pelangi akan kepergiannya, Angin lantas bergegas menuju mobilnya di parkiran. Ketika hendak membuka pintu mobil, terdengar suara seorang wanita memanggil namanya.
Angin menutup kembali pintu mobil yang hampir terbuka itu, lalu memutar rotasi lehernya seratus delapan puluh derajat.
"Mas Angin, mau kemana?" tanya wanita itu kepadanya. Ia semakin mendekat dengan langkah tergopoh.
"Ke rumah Awan," jawab Angin kemudian. "Kamu sedang apa di sini?" Menautkan kedua alisnya curiga.
Wanita itu melepas kaca matanya, lalu mengaitkannya di depan dada, tepat pada belahan tengah gaun yang ia kenakan.
"Kebetulan aja lewat, aku boleh sekalian ikut?"
Pertanyaan itu, sungguh membuat Angin gamang. Pasalnya ia tidak terbiasa berada di dalam satu mobil bersama seorang wanita, selain ... Pelangi, sekretaris pribadinya.
"Sepertinya tidak bisa, aku sedang buru-buru." Angin kembali membuka pintu mobil, lalu duduk di balik kemudi.
Tanpa permisi pun ia langsung menggerakkan kendaraannya, merayapi jalanan menuju kediaman Awan.
Wanita itu pun hanya bisa menunduk dan melepas kepergian Angin tanpa bisa melarangnya.
Lima belas menit kemudian
"Dokter bilang aku cuma demam biasa, kok. Gak ada yang perlu dikhawatirkan. Seharusnya kamu gak perlu repot-repot datang ke mari," tutur Awan ketika Angin menanyakan perihal kondisi kesehatannya. Pria tampan berdarah campuran Indonesia-Taiwan itu, masih terbaring lemas di atas tempat tidurnya.
Tok ... Tok ... Tok ....
Tiba-tiba seorang ART mengetuk daun pintu yang memang sudah tersibak. "Permisi, Tuan Muda. Saya mau mengantarkan minuman untuk Tuan Angin," ucapnya sembari sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.
Setelah mendapat Anggukan dari Awan, ART itu langsung menambah langkah dan meletakkan segelas jus jambu biji di atas meja bersanding dengan beberapa potong cookies yang tersusun apik di atas piring kecil, di sampingnya.
"Terima kasih, Mbak," tutur Angin sembari tersenyum tipis, lalu menyeruput minuman yang mengandung kaya akan Vitamin C itu.
Setelah bayangan ART tadi lenyap ditelan daun pintu, Angin pun memulai obrolan kembali. "Kenapa kamu tidak bilang kalau naskah novel yang kamu serahkan waktu itu adalah karya Berlian?"
Awan tersentak. Ia tak menyangka Angin kembali mengingat hal itu. Apalagi sampai mengingat nama dari Penulis novel yang ia baca. Sepengetahuan Awan, Angin tidak pernah memperhatikan hal krusial itu selama ini. Ia hanya peduli dengan sebuah karya, bukan penciptanya.
"Kamu kenal Berlian?" Awan menautkan kedua alisnya penasaran.
Angin berdeham dan membuang pandangannya ke sembarang arah. Tatapannya terlihat sendu, tak seperti biasanya. "Dia adalah Lian yang sering aku ceritakan padamu."
DEG! DEG! DEG!
Jantung Awan tiba-tiba bertabu tak beraturan. Bukan karena cemburu, tetapi karena terkejut.
__ADS_1
"Bukankah Berlian sudah bertunangan dengan adikmu?" tanya Awan memastikan.
Angin menghunuskan tatapan tajam ke arah Awan. "Kata siapa?" sergahnya dengan nada tanya.
"Angkasa sendiri yang mengatakannya."
JLEB
Angin meraup wajahnya kasar. Tidak tahu lagi harus berbuat apa. Akankah cinta pertamanya akan jatuh ke tangan sang adik?
Tidak ada yang tahu!
...πππ...
Seusai tiga puluh lebih setengah menit berkendara, mobil Novi terparkir sempurna di pelataran sebuah rumah minimalis, tepatnya tipe tiga puluh enam.
Bingung?
Anggap saja luas rumah itu tiga puluh enam meter kuadrat, jika dilihat dari luar dan dengan mata normal.
Namun, jangan salah! Ada yang berbeda dengan luas ruangan yang terdapat di dalamnya. Jika kalian berada di dalamnya, maka rumah mini ini terasa seperti sebuah istana yang luas.
Novi dan Magisna secara serentak melepas sabuk pengaman masing-masing, lalu menyembulkan tubuh mungil mereka dari kendaraan roda empat berwarna merah cabe itu.
Novi melemparkan sebuah kartu yang merupakan kunci untuk membuka pintu rumah tersebut. Dengan lihai, tangan Magisna menangkap benda pipih seperti kartu ATM itu, bak gerak sempurna dari seorang atlet tolak peluru profesional.
Wanita yang mengenakan busana kasual khas hijab street itu, langsung menempelkan kartu tersebut pada laser pemindai yang terdapat tepat di samping daun pintu. Setelah itu ia bergeser ke kiri untuk memberikan ruang kepada Novi untuk menunjukkan sidik jarinya di depan layar. Kemudian pemindaian iris mata dan detak jantungnya juga dilakukan sebagai kode pelengkap.
Rempong sekali bukan?
Bagaimana bisa begitu?
Jawabannya yaitu ... karena ini adalah murni khayalan, Pemirsah!
Tolong jangan tertawa!
Karena inilah cara yang paling ampuh untuk menjamin keamanan seluruh aset yang berada di dalam bangunan itu. Aset luar biasa yang diciptakan oleh tangan-tangan dan pemikiran-pemikiran yang tak kalah luar biasanya.
Novel online!
Ketika pintu bergeser ke kanan dengan sempurna, kedua wanita muslimah itu langsung masuk bergantian, diiringi sapaan dan celetukan gaje dari Penulis paling tampan di dalam grup Penulis Singa.co.
"Kora ...," sapa Kenma dengan pandangan yang masih fokus dengan layar di hadapannya. Layar berukuran dua kali dua meter terpampang nyata di hadapan Magisna dan Novi, dengan menampakkan wajah oriental Kenma yang berdiri tepat di balik layar.
Apa kalian bisa membayangkannya?
Bayangkan saja sebuah lempengan kaca menjadi pemisah di antara mereka. Namun, kali ini lebih tipis dari sebuah kaca, bisa dibilang setipis selembar kertas.
"Elu lagi ngapain, Tan?" tanya Magisna dengan mata terpicing.
"Gua lagi mindai akun samaran." Kenma menjawab langsung, namun kedua tangannya masih sibuk menekan dan menggeser layar yang tampak bergerak ke sana ke mari.
__ADS_1
"Akun samaran?" Kali ini Novi angkat suara. Ia meletakkan ponselnya di atas meja, lalu mengamit dan menjejalkan satu buah stroberi ke dalam mulutnya, yang memang tersedia di sana, menemani Kenma melakukan misinya sedari tadi.
Kenma melirik sekilas ke arah Novi dan Magisna secara bergantian. "Ketinggalan kereta lu bedua, makanya jan kelayapan mulu'," sarkas Kenma seenak dengkulnya.
Bukannya baper, Novi dan Magisna malah saling bertukar pandang, lalu tersenyum geli. "Kita kelayapan demi kebaikan bersama, kok, Tan." Magisna menanggapi dengan bahasa khasnya. "Buat masa depan karya kita," tambahnya sembari melirik ke arah Novi.
Kemudian Novi tampak memencet tombol merah yang terdapat di atas meja, dengan icon gambar kursi yang tertera di atasnya. Ia menekan tombol itu sebanyak dua kali. Alhasil, keluarlah dua buah kursi putar dari balik marmer yang terdapat di lantai. Lalu, Novi dan Magisna memanjakan tubuh mereka di atas sana.
"Emangnya akun siapa yang elu pindai?" Magisna dengan mode pura-pura goblok-nya berkicau.
"Kalo gua ngeuh dari awal, buat apa juga gua cari tau, Konah!" pekik Kenma dengan suara baritonnya.
Bener juga kata si Se-Tan satu ini, Magisna membatin sendiri sembari membekap mulutnya dengan punggung tangan. Senyuman tak berdosanya pun menggerogoti wajah bulatnya.
Novi terkekeh kecil. "Elu salah pertanyaan, Kun," timpalnya menengahi. Magisna mendelik tidak suka.
Pasalnya panggilan 'Kun' itu acap kali Novi ucapkan untuk melabeli karakter juriknya yang dibuat mirip seperti makhluk ghaib yang bernama kuntilanak.
Namun, Novi seakan sudah terbiasa mengucapkannya sehingga ia sulit untuk mengubahnya. "Emangnya elu nemu akun itu dimana, Kenma?" Novi mengajukan pertanyaan pengganti.
"Di novelnya si Berlian," jawab Kenma singkat.
"Emangnya berpengaruh buruk, ya?" Kali ini Magisna yang lanjut bertanya.
Kenma menghentikan aktifitasnya, lalu bertopang tangan. "Akun samaran ini bener-bener jadi racun buat para pembaca di N.O.V.E.L.T.O.O.N."
"Hah?"
Novi dan Magisna terperangkap dalam mode melongo. Pasalnya sejak tadi bahasa Kenma tak ayal seperti benang kusut, sulit untuk dicerna oleh pemikiran awam. Penuh teka-teki dan sok misterius.
Untuk lebih jelasnya, mari kita simak penjelasan Kozume Kenma di bawah ini!
Akun samaran adalah akun bayangan yang sengaja dibuat oleh seorang Penulis di aplikasi paling horor ini. Akun ini biasanya diciptakan dengan tujuan untuk menambah jumlah follower, like, dan juga vote bagi si pembuat akun. Dan hal itu sah-sah saja dilakukan karena tidak merugikan orang lain.
Namun, berbeda dengan akun bayangan yang sengaja dibuat sebagai kambing hitam. Contohnya seperti; menghujat karya orang lain, mengritik tulisan orang lain tanpa saran yang membangun, bahkan menjelek-jelekkan karya orang lain demi mengharumkan dan mengagung-agungkan karyanya sendiri. Ujung-ujungnya ternyata hanya melakukan modus promosi.
Nah, hal seperti ini yang malah membuat akun bayangan menjadi ternodai bahkan terkutuk. Hal seperti ini sebenarnya sering terjadi, Saudara/Saudari. Hanya saja kebanyakan dari kita tidak menyadarinya.
"Jadi, udah paham belom?" Kenma menaik-turunkan alisnya, mencoba menebak ekspresi wajah dari kedua sahabatnya itu.
Novi dan Magisna tampak ternganga, tidak habis pikir. Hampir saja mulut mungil mereka serentak mengucapkan umpatan kasar, namun mereka masih malu dengan penutup aurat yang mereka kenakan. Keduanya sontak mengelus dada dan banyak mengucapkan kalimat istighfar.
"Ken, Kepala Casper belom balik?"
Suara itu sukses menarik pandangan ketiga manusia yang menghadap layar lebar itu, tertuju pada satu arah.
Fafa!
"Ngapain lu nanyain mereka? Kangen ya lu?" Kenma dalam senyum mengejeknya.
"Kangen Casper atau Anak Setan?" Novi dan Magisna bergumam serentak, seraya tersenyum tak kalah mengejeknya.
__ADS_1
Fafa memutar kedua bola matanya malas, lalu mendesah pelan. "Kalean ini ... yodah, gue mao lanjut mamam lagi."
GUBRAAAK