
Setelah selesai dengan misi Kepala Casper, Berlian langsung keluar dari toilet dan dalam waktu yang bersamaan, tubuhnya tidak sengaja menubruk sosok paripurna yang baru saja keluar dari toilet pria.
Mungkin karena terlalu memikirkan apa yang disampaikan oleh Kepala Terakhir, Berlian sampai kehilangan fokus diri.
Dengan mata melotot sekaligus terpana, Berlian dan pria itu serentak berkata, "Ka-kamu ...."
"Elu ...."
Memori terbesar Berlian sontak melompat ke momen dimana ketujuh Kepala Casper menggempurkan serangan pertama pada beberapa Kang Spam terpopuler di aplikasi paling horor ini.
Wajah pria di hadapannya mengingatkan Berlian pada salah satu Author yang pernah meluncurkan komentar sampah pada bab Prolog di dalam novelnya.
Berlian mencoba mengingat-ingat kembali dengan cermat. Namun sesaat kemudian ia bergumam sendiri, "Aku tidak salah lagi, dia emang Kang Spam." Berlian bergumam di dalam hatinya.
Berhubung wajah pria itu sangat persis dengan avatar yang ia pasang pada profilnya, jadi sudah cukup membuktikan bahwa Berlian memang tidak salah orang.
Pria bertubuh tinggi lebih dari seratus tujuh puluh centimeter itu, memiliki warna kulit yang tergolong putih seputih susu. Kedua matanya agak sipit dan yang paling menarik perhatian adalah ... rambut kuningnya yang tidak begitu panjang, namun cukup melewati telinganya. Bahkan sudah menyentuh bahu tegapnya.
Setelah menyugar rambutnya ke belakang, pria itu langsung menyapa Berlian. Sudah jelas di kedua manik matanya, terpancar aura kekampretan yang begitu kental.
"Hai," sapanya pada Berlian dengan wajah tanpa ekspresi. Membuat gadis itu agak ragu untuk menanggapinya.
"Ha-hai." Berlian membalas sapaan pria yang sudah tidak asing lagi di dunia halunya itu.
"Elu ... Berlian, 'kan?" tanya pria itu, sok kenal.
Berlian lantas memicing, dan tidak menjawab sama sekali. Sepemes itukah aku? Batinnya getir.
Gadis cupu itu tidak mudah mendekatkan diri pada orang asing. Walaupun ia pernah melihat pria itu di laman dunia halu, namun tetap saja itu tidak cukup untuk disebut 'perkenalan'.
Ketika Berlian akan beranjak dari sana, pria berambut kuning sebahu itu, tiba-tiba menarik lengannya sehingga membuat langkah kecil Berlian terhenti seketika. Berlian menoleh masam, namun pria itu menunjukkan wajah cengengesan.
"Mau kemana, lu?" tanyanya, yang masih saja tidak mendapatkan jawaban dari Berlian. "Ikut gue!" Pria itu lalu menyeret tubuh Berlian semaunya.
Tentu saja, hal itu membuat Berlian berontak, namun tetap mengekori langkah pria itu walaupun agak terseok-seok.
Ketika sampai pada tujuannya, pria itu memekikkan sesuatu yang asing sekali di telinga Berlian.
"Koraaa ...," ucapnya menyapa beberapa orang yang duduk mengitari meja bundar di kafe yang terdapat di taman baca itu.
Berlian sontak mengedarkan pandangannya menuju meja, dimana Gempita masih asik dengan laptopnya. Gadis Ngapak itu tampak meliuk-liukkan tubuhnya meresapi musik yang terpasang pada earphone yang menempel lekat di telinganya.
Berlian ingin meneriakinya, namun ia rasa sia-sia saja. Gempita tidak akan bisa menangkap gelombang suaranya.
Sementara di meja bundar itu, terdapat sekitar tujuh orang yang wajahnya juga tidak asing lagi di mata Berlian.
Siapa lagi kalau bukan ... kumpulan para Kang Ghosting yang sudah menebar komentar sampah atas nama promosi di novelnya. Namun, tidak pernah betul-betul membaca karyanya dengan sepenuh hati.
Kayak kamu, iya kamu!
*Yang awalnya memberi banyak perhatian, namun tiba-tiba menghilang tanpa kabar.
Eaaaaak*!
Terus bilangnya gini, 'Udah aku like semua episode ya, Kaka. Bacanya nyusul'.
Preeet!
Buktinya gak pernah benar-benar kembali untuk baca tuh.
Kan anjim banget rasanya!
Aha ...!
Baiklah, kembali ke cerita!
...πππ...
"Kore."
__ADS_1
"Kori."
"Koru."
"Koro."
Plesetan sapaan serupa tapi tak bermakna, serentak diucapkan oleh teman-teman satu geng dari pria berambut kuning itu.
Kora adalah sebuah jenis sapaan yang disadur dari bahasa Jepang. Kata ini sebaiknya digunakan untuk menyapa teman sejawat saja, karena artinya mengandung unsur umpatan khas seperti; bangsat, kampret, dan sebagainya.
"Elu lama beut, Ken," tutur salah satu teman laki-lakinya yang berambut gondrong. Terdapat dua tindikan pada kedua sisi bibirnya, yang membuat Berlian bergidik ngeri.
"Wah, menang banyak nih," celetuk seorang teman wanitanya yang tampak memakai penutup kepala dengan kaca mata bening yang bertengger di hidungnya yang tidak begitu mancung.
"Iya, tadi gue ketemu gadis ini, kalean ingat dia kaga?" tanyanya balik kepada teman-temannya.
Mereka semua tampak menyipitkan mata, seolah sedang menelisik setiap inci dari tubuh Berlian. Namun, dari sekian tatapan, ada satu yang terlihat sangat mengintimidasi. Entah mengapa, Berlian merasa sedang diliat, diraba, dan diterawang seperti halnya selembar uang.
"Elu kenapa, Yang?" tanya seorang gadis dengan balutan gamis yang terlihat agak kendor di tubuhnya. Penutup kepalanya pun terlihat rapi membalut mahkotanya.
Mendengar hal itu, membuat Berlian mengingat panggilan khas yang sudah sering ia dengar dari salah satu Kepala Casper.
Bukankah Kepala Kunti sering mengucapkan panggilan yang sama? Batinnya seorang diri.
"Gak papa, Yang," balas wanita berambut sepunggung itu, dengan memakai aksesoris metal yang amat kental sekental kopi hitamnya.
"Kaka pasti menemukan kejanggalan, iya, 'kan?" celetuk seorang gadis yang perawakannya paling mungil dari yang lainnya. Namun wajahnya tetap terlihat manis di pandang mata. Ia juga mengenakan penutup kepala yang membalut aurat bagian atasnya, sebagai simbol yang menunjukkan bahwa ia bangga sebagai seorang muslimah.
Lalu, pandangan Berlian lantas jatuh pada sosok gadis yang memakai kerudung berwarna kuning emas itu.
Bukankah itu Bu Author? Ah, apa aku salah orang? Gak mungkin, aku pasti salah! Lagi-lagi Berlian bergulat dengan pikirannya sendiri.
Wanita yang memakai setelan khas penyanyi metal itu, hanya mengerjapkan matanya, seolah memberi kode kepada sang adik untuk tidak membahasnya panjang lebar. Dengan sekali kerlingan, gadis itu lantas bungkam seperti tikus yang jatuh ke dalam kubangan padi.
Apa mereka benar-benar kumpulan Kang Spam yang waktu itu? Berlian membatin lagi.
Setelah Berlian duduk anteng, pria bermata sipit itu tetap berdiri di belakang sandaran kursi, lalu mengenalkan teman-temannya satu persatu kepada Berlian.
"Selamat datang di dunia Penulis Singa, Berlian." Pria itu memulai misinya.
"Singa?" Koreksi Berlian dengan suara lirih namun masih terdengar oleh mereka.
"Iyup, Singa.co, Neng, elaaah." Seorang gadis dengan perawakan bak seorang model, menyela sinis sembari memutar kedua bola matanya dengan malas. Agaknya Berlian mengendus aroma kecemburuan di sana.
Apa mungkin gadis itu kekasih dari pria berambut kuning ini? Batin Berlian tak enak hati. Ia tidak ingin ada kesalahpahaman di sini. Apalagi, sampai merusak hubungan asmara orang lain.
"Santai, Beb. Dia bukan rival lu keles." Gadis berwajah Jawa campuran Betawi, mengelus pundak gadis tadi dengan senyuman hangat, menenangkan.
"Ah, dia mah begitu. Dateng-dateng suka bawa gebetan baru." Gadis berperawakan seperti model tadi masih saja bersungut kesal. Bahkan ia tidak mau menatap Berlian.
"Lu tenang aja, hati gue cuma terikat ama lu, walopun selir gue banyak, ngahahahaha." Pria bermata sipit itu merespon.
Sekali lagi, jenis tawa yang seperti itu mengingatkan Berlian pada Kepala Koneng.
Apakah mereka ini kembaran Kepala Casper? Lagi, Berlian membatin dengan wajah bingung.
Jadi mereka ini Kang Spam atau Pasukan Pembasmi Komentar Spam? Lanjutnya kembali bertanya pada dirinya sendiri.
Melihat Berlian yang masih saja bergeming dengan seribu kebingungan, pria berambut gondrong yang duduk di samping wanita berpenampilan metal itu, akhirnya kembali bersuara.
"Kenalin Berlian! Gua Senja Terakhir." Tersenyum tipis ke arah Berlian, yang diiringi oleh lirikan penuh makna dari wanita yang duduk di sampingnya. Menyadari hal itu, Senja ingin sekali berjingkrak ria, karena mencium aroma kecemburuan di wajah wanitanya. Dan itu adalah signal baik untuknya, jika ia memang berhasil membuat wanita berwajah dingin itu cemburu.
"Dan gua udah punya pacar," lanjutnya sembari tersenyum usil ke arah wanita itu. "Dan pacar gua adalah ...." Kalimat Senja tergantung karena terpotong oleh sentuhan jari telunjuk wanita itu, yang mendarat romantis di depan bibirnya. Hal itu membuat tatapan keduanya bertemu. Lekat, seperti tak ingin diakhiri.
"Ehem, ehem, gue juga mau kenalan dong," celetuk gadis berkacamata dengan balutan kerudung di kepalanya itu. Tentu saja, hal ini membuyarkan pandangan dua sejoli yang berada di sampingnya.
Semuanya terkekeh melihat tingkah kedua sejoli yang tampak gerogi itu.
"Gue Affxxvi, Penulis yang mesumnya udah keciuman dari nama pena." Celetukan gadis itu membuat semua mata tersorot padanya. "Apa ada yang salah ama kata-kata gue?" tanyanya pada mereka sembari menjejalkan satu sendok seblak jeletot ke dalam mulut imutnya.
__ADS_1
"Kaga ada, caya gue, elu emang mesum tingkat dewi," respon gadis yang memakai gamis itu sembari mentowel pipi gembul gadis yang memiliki nama seperti laki-laki itu. Affxxvi hanya tersenyum malu, kemudian melanjutkan ritual pengisian energinya.
"Oke, sekarang giliran gue yak." Gadis bergamis itu tampak membenarkan kerudungnya yang tidak bergeser sama sekali menurut Berlian. Namun, hal itu tetap ia lakukan dengan telaten.
Biar ngapa coba?
"Gue Magisna, biasa dipanggil Agis ato Gisna. Jadi, terserah lu aja mau pilih yang mana, yang penting ... jangan panggil gue Konah." Gadis itu melirik sinis ke arah temannya yang keturunan campuran Jawa-Betawi tadi. "Karena nama gue bukan Konah!" tegasnya di akhir kalimat.
"Yaelah, masih diungkit aja." Gadis Jawa-Betawi itu tampak terkekeh kecil di balik telapak tangan yang sudah menempel sempurna di depan bibirnya. Agaknya dia sudah mengerti kemana arah pembicaraan temannya itu. Tanpa menggubris perkataan Magisna, gadis itu langsung mengambil peran selanjutnya.
"Kenalin, gue RahmaDika. Tapi, panggil aja Mr. Potato!" serunya kepada Berlian.
Gadis cupu itu tampak kebingungan. Lain nama lain panggilan, batinnya lagi sembari tersenyum kaku.
"Giliran elu, Yang." Magisna berkata pada sahabatnya yang berpenampilan metal tadi, yang tentu saja kembali menarik perhatian Berlian. Ia mengedar pandangannya pada wanita metal itu.Lalu pandangan mereka beradu.
Sepertinya ada energi negatif yang wanita itu tangkap dari sosok seorang Berlian. Ia terus menilik manik mata cokelat keemasan milik Berlian, lalu akhirnya angkat bicara.
"Gue Jibril Ibrahim, tapi biasa dipanggil Gabe," tuturnya dengan nada dingin. Membuat Berlian menelan salivanya dengan berat. Momen ini mengingatkan ia pada awal pertemuannya dengan Kepala Keparat.
Sungguh menegangkan!
"Elu tu sebenarnya gak sendirian, Berlian" ujar Jibril dengan mata memicing.
Apa maksud wanita ini? Batin si Cupu.
"Karena elu diikutin makhluk-makhluk tak kasat mata, kemana pun elu pergi!" jelasnya dengan nada suara agak meninggi, sehingga teman-temannya yang lain dibuat bergidik ngeri karena ocehannya yang mulai terdengar menyeramkan.
"Kak Gabe ... ngomong apaan, sih?" Gadis yang berperawakan seperti model itu angkat bicara dengan wajah takutnya yang sangat kentara.
"Gue serius, Yang." Keadaan kembali mencair ketika Jibril menirukan gaya bicara Magisna. "Elu semua gak bisa ngerasain, tapi gue ...." Jibril tercekat, netranya menangkap gumpalan asap putih yang mendekat ke arah Berlian.
"Gue liat juga, Ka," celetuk gadis bertubuh mungil dengan kerudung kuning emas tadi. "Mereka di belakang si Entong," lanjutnya sembari menunjuk pada pria berambut kuning sebahu.
Semuanya tampak bergidik ngeri, tak terkecuali Berlian. Ia sudah membayangkan banyaknya makhluk ghaib seperti pocong, kuntilanak, gendrewo, kolong wewe, tuyul, dan banyak lagi yang lainnya, yang mungkin salah satunya adalah yang dimaksudkan oleh Jibril.
Keringat dingin sebesar biji kacang hijau, tampak bergulir di pelipisnya. Padahal, ruangan ini dilengkapi dengan alat pendingin, namun hal itu tak membuat Berlian merasa nyaman.
"A-apa yang sedang kalian bicarakan?" Setelah sekian lama berdiam diri, akhirnya Berlian angkat suara.
"Kak Gabe, Kak Nov, aku belum kenalan nih. Kenapa jadi bahas yang serem, sih?" tanya gadis yang Berlian yakini adalah kekasih dari pria bermata sipit yang masih setia berdiri di belakang sandaran kursinya.
"Di episode baru aja, Yang. Itupun kalo gak kesiangan," kelakar Jibril yang membuat suasana kembali renyah. Berlian juga tampak ikut tersenyum walaupun tipis.
"Lanjut aja, Beb. Kaka cuma becanda itu." Gadis berkerudung kuning emas tadi mempersilahkan. Memberi ruang pada dua sejoli yang belum sempat memperkenalkan dirinya pada Berlian.
Hal itu membuat Berlian semakin meyakini bahwa gadis yang berbalut kerudung emas itu adalah Penulis dari novel ini.
Gadis manis yang tampak seperti seorang model tadi, mengibaskan rambut panjangnya persis seperti aksi para model iklan shampo di stasiun televisi. Kemudian ia melempar pandangan pada Berlian dengan tatapan tidak suka.
"Aku Seul Ye, pacar orang itu." Menunjuk pada pria yang berdiri di belakang Berlian.
Nah, benar 'kan dugaanku tadi, gumam Berlian di dalam hati.
"Udah, gitu ajah. Aku pundung nih, iyuh." Gadis itu mengakui kecemburuannya, lalu berpaling dari Berlian. Nada bicaranya yang terkesan manja itu, mengingatkan Berlian pada sosok Kepala Syantik, yang membuatnya kembali tersenyum geli.
"Ampun dah lu, cemburu lu bener-bener kaga bisa dikondisiin," celetuk pria yang berada di belakang kursi Berlian. "Berlian ini juga Penulis di N.O.V.E.L.T.O.O.N, Sayangku ... bukan selir gue!" jelasnya lagi kepada kekasihnya.
Seul Ye mendelik ke arah pria itu, lalu berkata, "Ah, kau itu Kang Ghosting. Jangankan aku, N.O.V.E.L.T.O.O.N aja kau ghostingin, gimana mau jadi penulis pemes kalo kayak gitu?"
GUBRAAAK
Pria berambut sebahu itu memegang rambut bagian belakangnya, tanda tak enak hati. "Gue kan cuma hiatus, Sayang. Bukannya lari dari kenyataan," lanjutnya sembari berlutut di samping Seul Ye. Gadis itu masih saja membelakanginya karena masih merasa dongkol.
Karena tidak juga mendapatkan respon dari kekasihnya, pria itu lantas menatap ke arah Berlian yang tampak prihatin menatapnya. "Gue udah biasa diginiin ama dia," tuturnya seolah menjawab pertanyaan yang memenuhi wajah gadis cupu itu. "Kenalin, gue Kozume Kenma," ucapnya sambil beranjak, "Jangan lama-lama kalo mandangin gue, ntar lu jatuh cinta."
GUBRAAAK
Seul Ye memutar rotasi tubuhnya, lalu menatap Kenma dengan tatapan nanar.
__ADS_1