Berlian & Kepala Casper

Berlian & Kepala Casper
Pertempuran Sengit Versi Android


__ADS_3

Jika kalian berada di posisi Berlian, akankah kalian mau kembali ke kamar yang sudah disarangi oleh berbagai makhluk astral?


Jawabannya pasti 'tidak mau', bukan?


Namun ternyata, Berlian tidak setakut itu. Keesokan harinya, setelah ART membereskan kamarnya, ia kembali menghuni ruangan tersebut. Zona nyaman tetaplah menjadi zona nyaman. Tak akan pernah bisa tergantikan oleh tempat yang lebih mewah sekalipun.


Berlian menarik lappy-nya, lalu menyalakan benda pipih berukuran dua belas inci itu. Ia tersenyum bahagia, merasa bersyukur karena barang itu selamat dari kehancuran.


Satu malam saja berpisah dari barang kesayangannya, membuat Berlian merasakan kerinduan yang teramat dalam. Pasalnya, ia belum sempat update novel online-nya sejak kemarin pagi. Maka dari itu, hari ini ia harus melakukannya, yaitu menulis seperti biasanya.


Tidak butuh waktu lama, layar putih itu menampilkan beranda N.O.V.E.L.T.O.O.N sekaligus munculnya pasukan makhluk gaje yang sejak kemarin tidak Berlian ketahui kabarnya.


Akhirnya mereka nongol juga, batin Berlian.


"Kalian baik-baik aja, 'kan?" tanya Berlian ketika ketujuh makhluk eksentrik nan menggemaskan itu bersusun sejajar seperti antrian warung tegal.


"Kita masih waras kok, Berlian." Tanggapan salah satu dari mereka sontak mengundang tatapan sinis dari yang lainnya.


Siapakah dia?


Ya, Kepala Casper dengan rambut jagung sebahu miliknya, Kepala Koneng.


"Emangnya elu pikir selama ini kita sinting gitu, Tan?" seloroh Kepala Kunti yang tidak terima dengan perkataan Kepala Koneng. Mahkota makaroon yang masih bertengger menggiurkan di puncak kepalanya, tampak agak bergoyang mengikuti pergerakan tubuhnya.


"Kita? Elu aja kali," respon Kepala Casper yang lainnya secara serentak.


"Oke, fix, hari ini kalean boleh ngehujat gua sepuasnya, hujat aja, hujat!" Kepala Koneng memasrahkan diri.


"Hihihihi, gaklah, pan elu udah lepas jabatan sebagai Kang Ghosting, selamat datang kembali dalam dunia halu, Raja Bihun." Kepala Vampire angkat bicara sembari mengunyah permen karet dengan formasi balon berwarna merah muda yang masih menempel lekat di sekeliling mulutnya.


"Ah, elu salah alamat keles, kita 'kan sekarang masih dalam bentuk jurik, napa elu bawa-bawa Kang Ghosting?" koreksi Kepala Kentang yang merasa bahwa Kepala Vampire tampaknya kehilangan fokus diri bahkan melupakan peran yang sedang mereka lakoni saat ini.


"Eh, iya, ya. Gue lupa, abisnya elu sering ngajak gue ghibahin cogan, sih. Jadinya memori gue penuh, 'kan?" Membungkam mulutnya dengan sebelah tangan karena merasa telah salah bicara.


"Kayaknya kau butuh asupan komik cabul deh, Kak," saran dari Kepala Syantik, yang tiba-tiba mendekati rekan satu server-nya itu. Mahkota roti sobeknya tampak bertambah lebih banyak dari sebelumnya. Mungkin karena terlalu mengharapkan Sosok Misterius yang mengantarkan ponsel Berlian tadi malam, sebagai jodohnya.


Berlian menghela napas lumayan panjang. Mendengar percakapan yang tak berujung dari para sahabat halunya itu, sebenarnya lumayan menggelitik urat tawanya. Tetapi, ada satu hal yang sebenarnya ingin ia ketahui dari semua makhluk cebol itu.


"Teman-temanku sekalian!" seru Berlian saat mereka mulai menciptakan kegaduhan yang tak terelakkan. Lalu mereka tiba-tiba langsung berpindah pada mode mematung, karena mendengar suara si penguasa ruangan. Semuanya sontak menoleh pada satu titik temu, Berlian.


"Aku mau nanyain sesuatu nih," ungkap Berlian menatap mata mereka satu persatu. Ada rasa bersalah di dalam hatinya, karena telah menginterupsi ritual bully-mem-bully antar setan tersebut.


"Tanyakan aja, Berlian. Siapa tau kami punya jawabannya," sahut Kepala Keparat yang sejak tadi baru angkat suara.


Berlian masih menyabit senyum tidak enak hati. Lalu melanjutkan niatnya. "Bagaimana ceritanya kalian bisa mengusir setan nyasar yang keluar dari lemari pakaianku?" tanya Berlian dengan polosnya.


Kepala Terakhir yang mendengar pertanyaan itu, lantas menyungging senyuman tipis. "Itu bukanlah perkara sulit, Berlian," tuturnya dengan suara bariton.

__ADS_1


"Beccuuul, kita 'kan emang super hebat bat, Berlian. Gak akan tertandingi pokoknya." Kepala Syantik menimpali dengan gaya bicara manjanya.


"Iya, apalagi cuma nenek-nenek kek beliau itu, mau dikasi seribu juga pasti kesikat abees ama kita, Ngahahahaha," ujar Kepala Koneng menambahkan.


"Iya, aku percaya, hehe." Berlian terkekeh kecil. "Tapi aku pengen denger dong cerita detail-nya." Berlian sudah bertopang dagu, dan siap menjadi pendengar yang baik.


Kepala Keparat berdeham, sebagai tanda bahwa ia yang akan memulai cerita.


...FLASHBACK...


Namun, yang menjadi kejutan, dan tanpa disangka-sangka, ketujuh makhluk eksentrik alias hantu aplikasi itu sudah beterbangan mendekati Berlian dan melepaskan cekalan jaring yang mirip seperti jaring spiderman itu dari punggung Berlian.


Gadis cupu itu tersentak, berbalik arah, dan menyadari kehadiran malaikat penolongnya.


"Sebaiknya elu bawa Gempita keluar!" seru Kepala Kunti kepadanya.


Tanpa bersuara lagi, Berlian hanya bisa manggut-manggut tanda patuh. Ia membopong tubuh gempal sahabatnya itu, lalu melenggang keluar kamar.


"Hehehehehe," tawa serak Nenek Sihir itu kembali membuat ketujuh Kepala Casper memandang fokus ke arahnya.


"Berani-beraninya kalian mengganggu misiku!" serunya dengan mata melotot. Cahaya merah yang membingkai kedua bola matanya semakin menyala karena transferan amarah yang kian memuncak.


"Heh, nenek tuek, ngapain elu di mari? Bukannya latar tempat elu itu di televisi? Salah alamat dong, Nek." Kepala Terakhir bertanya dengan nada enteng.


"Iya, ini tuh dunia halu. Emangnya nenek mau dijodohin ama om-om girang? Ngehehehe," celetuk Kepala Koneng dengan tawa serak yang sengaja dibuat mirip, untuk mengejek Nenek Sihir itu.


"Ya, kali, kalo orang tuanya baek hati, Yang. Kalo modelan kek ntu nini-nini, gue mah ogah. Dikentutin juga gak ape-ape dia mah." Kepala Kunti merespon dengan logat betawi khasnya.


Kepala Keparat tersenyum tipis mendengar celetukan dari sahabatnya itu. Karena dari kesekian personel Kepala Casper, hanya Kepala Kunti yang bisa membuatnya geleng-geleng kepala. Bukannya kalah telak, tetapi dia hanya mengalah. Karena memang Kepala Kunti selalu frontal dan tidak suka basa-basi.


Lagi pula kalau sudah basi, maka tidak akan bisa lagi untuk dikonsumsi.


Kayak kamu! Iya, kamu ... yang tiba-tiba komen minta di-feedback, padahal sendiri aja tiba-tiba nongol di bab akhir.


Ah, jurus basi itu mah. Yakin deh kaga bakalan di-notice.


Baca dulu dong karya orang dari awal, baru promosi!


Lanjut!


"Benarkah yang kau katakan itu, Gerandong?" tanya Nenek Sihir itu kepada Kepala Terakhir.


"Apa dia bilang? Gua Gerandong?" koreksi Kepala Terakhir karena merasa tidak terima.


"Iyak, pan rambut elu panjang, sama kek cucunya nenek itu." Kepala Vampire menjawab sambil terkekeh.


"Yang sopan kalo ngomong sama ayah!" tegas Kepala Terakhir yang mulai memberi kode kepada calon menantunya itu.

__ADS_1


"Guys, kapan perangnya, iiih?" Kepala Kentang mulai merengek meratapi perbacodan di antara mereka yang seakan tiada henti.


"Tanya dulu ama neneknya, kira-kira berani gak dia lawan kita tujuh?"


Mendengar kalimat terakhir yang entah keluar dari mulut siapakah itu, si Nenek Sihir tiba-tiba mengerang tidak terima karena Kepala Casper telah mengentengkan kemampuannya.


Tanpa AIUEO, ia langsung menghunuskan kilat merah yang berasal dari kedua bola matanya, lurus pada arah ketujuh hantu cebol itu. Beruntung indera penglihatan mereka sangat tajam, jadi ketujuh makhluk astral nan baik hati itu lekas mengelak dan terbang lebih tinggi lagi. Namun naas, kilat merah itu berhasil menghujam tempat tidur Berlian sehingga membuat bantal, guling, dan selimut yang terbaring anteng di atasnya, berhamburan kemana-mana.


"Waduh, boleh-boleh juga tuh nenek-nenek."


Tidak berhenti di situ. Merasa tidak berhasil dengan serangan perdananya, Nenek Sihir itu menjulurkan lidahnya, sehingga memanjang bak lidah karet yang mengibas ke arah langit-langit kamar, dimana ketujuh makhluk eksentrik itu berada. Tetapi, serangan itu kembali gagal. Malah menyebabkan lampu hias yang terdapat di langit-langit kamar tersebut, jatuh berhamburan di lantai.


"Kita gak bisa cuma ngelak-ngelak doang, woooi! Lakukan sesuatu!"


Dengan sekali aba-aba, mereka langsung mengeluarkan senjata andalannya masing-masing.


Penasaran gak sama senjata yang mereka keluarkan?


Penasaran dong!


Ah, maksa!


Tapi, jangan kecewa ya, janji!


Oke, lanjut!


Mereka tampak mengeluarkan handphone android-nya masing-masing. Lalu mulai membuka salah satu aplikasi belanja online dengan warna jingga sebagai ciri khasnya.


"Gue mao dandanin nih nenek-nenek. Biar makin cetar."


"Iya, lumayan 'kan belanja banyak juga bisa nambahin poin dan voucher gratis ongkir."


Penampilan si Nenek Sihir pun berubah dengan beberapa kali ketukan. Bahkan si empunya badan pun merasa kebingungan akan hal aneh yang terjadi pada dirinya. Akibat terpesona atau apalah namanya, si Nenek Sihir hanya bisa ternganga seolah mati kutu. Nah, itulah akibatnya karena telah salah masuk kandang.


"Omegot, tuh nenek keliatan lucu banget. Kasi bulu mata anti kantuk juga, yak."


"Boleh tuh, ide bagus."


"Nih, gue tambahin tas branded, biar dia bisa pamer pas ikut arisan emak-emak komplek, Ngahahaha."


Setelah memastikan penampilan Nenek Sihir itu cetar membahana, mereka langsung mengirim kembali sang nenek ke tempat asalnya dengan memesan jasa ojek online.


...FLASHBACK END...


Berlian tak henti-hentinya tertawa mendengar kisah yang hampir membuatnya ngompol di dalam celana tersebut. Begitu pula dengan ketujuh Kepala Casper itu. Mereka juga tertular virus latah karena melihat Berlian terpingkal-pingkal.


Yang lagi baca tertawa gak ya?

__ADS_1


__ADS_2