Berlian & Kepala Casper

Berlian & Kepala Casper
Kebetulan atau Kebenaran?


__ADS_3

Jadi, selama ini Magisna diam-diam saja? Batin para sahabatnya.


Aku tidak terima! Batin Seul Ye.


Pokoknya aku gak rela! Batin Kepala Syantik.


Pacar gue! Batin Jibril Ibrahim.


Tidak, Angkasa! Lagi-lagi para Pembaca diseret ke dalam perannya.


Seolah ini adalah alur cerita yang paling menyesakkan bagi para penggemar Angkasa. Bukannya Penulis tega. Namun, begitulah kenyataannya. Memang hanya Magisna yang peduli dengan keberadaan Angkasa.


Bagaimana ceritanya?


...FLASHBACK...


Setelah mendengar kabar bahwa karya baru Penulis Jelata telah diriliskan di aplikasi paling horor ini, Magisna didampingi oleh kembarannya Kepala Kunti, langsung tancap penelusuran.


Mereka bekerja sama dengan kompaknya. Kepala Kunti menyelam langsung ke dalam aplikasi, sedangkan Magisna masih terus menelusurinya dengan memasukkan beberapa kata kunci. Tentu saja, pencarian ini ia lakukan di depan layar setipis kertas yang ukurannya sekitar empat belas inci, yang menempel ketat pada dinding ruangan pribadinya.


Magisna hampir saja frustrasi. Ia menggaruk-garuk kepalanya setelah kata kunci terakhir ia ketik. Sepertinya ia tak ingin lagi berharap banyak. Keinginan untuk menemukan karya penulis idolanya itu kini hampir musnah.


Ketika gadis itu ingin berbalik arah, meninggalkan layar tersebut, tampak sosok Kepala Kunti menyembul dari monitor, dan tersenyum penuh makna. Magisna mengernyit, belum bisa menerka.


"Ketemu, Kun!" kata Kepala Kunti, seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.


Spontan Magisna mendelik tidak suka ke arah si Kunti. Tatapan membunuhnya pun tersemat bersamaan.


"Kan, Kun, Kan, Kun! Ngapain elu jadi ketularan si Novi?" sambar Magisna dengan nada menggeram.


"Aha, canda, Yang ... gue pan setan. Yang namanya setan itu, udah barang tentu suka meniru." Kepala Kunti berkata seakan tanpa beban.


Ya, kali, setan masih mikirin dosa!


Kayak kamu tuh ... gak pernah mikirin dosa!


Iya, kamu ... yang suka nipu para penulis pemula.


Sebar komentar spam untuk promosiin karya. Eh, satu jam kemudian diapus buat ngebersihin trending-nya. Seolah-olah si do'i gak ada cela.


Aha!


Ya, kali, gak ada cela!


Yang ada malah celaka!


lanjut!


Magisna tersenyum merekah ketika layar di hadapannya menampilkan beranda depan karya Penulis Jelata.


Gadis berwajah bulat itu lantas menarik kursi dan duduk senyaman-nyamannya. Pastinya didampingi oleh si Kepala Kunti yang mungkin sudah mulai terpesona.

__ADS_1


Kedua bola mata Magisna tak sedikitpun berkedip. Membaca sinopsis dan bagian pembuka novel itu saja, sudah membuat perasaannya meronta-ronta. Seolah ikut tenggelam dan merasakan kengenesan dari si tokoh utama.


"Elu, nangis, Kun?" Kali ini Magisna yang bertanya.


Kepala Kunti menarik liquid yang terjun bebas di kedua rongga hidungnya. "Enggak kok, gue cuma ingusan," elaknya seolah tak ingin kentara.


"Apa bedanya, Kamvret!" sergah Magisna.


"Elu kali Penulis Kamvret!" seloroh Kepala Kunti tidak mau kalah.


Magisna menarik napasnya kasar. Tak habis pikir dengan percakapan di antara dirinya dan Kepala Kunti, yang bahkan tak bisa diterima oleh nalar.


Gadis itu seolah merasa sedang dipermainkan, bahkan ditertawakan. Berbicara pada diri sendiri seperti orang yang sedang lupa ingatan. Ditambah lagi dengan adanya ide membelah diri dalam berperan, yang hampir saja membingungkan.


Ketika keduanya dalam situasi menegang, tiba-tiba Magisna dikejutkan oleh dua buah kepala yang tampak menyembul dari daun pintu.


"Hayooo, ketauan, Lu!" hardik Kepala Keparat dan Kepala Terakhir pada Magisna secara serentak.


...FLASHBACK END...


Masih banyak yang belum Angkasa sampaikan. Namun, sepertinya butuh waktu lama untuk menceritakan masa persembunyiannya yang sangat memilukan.


Bibirnya ingin berkata, namun hatinya seakan menyela. Tidak bisa! Ia sungguh tidak bisa!


Seakan menangkap sorot menyedihkan dari wajah prianya, Magisna meraih tangan Angkasa ke dalam genggamannya seolah mengatakan bahwa 'aku di sini akan selalu mendukungmu'.


Angkasa menyungging senyuman tipis di bibirnya, merasa beruntung telah bertemu dengan Magisna.


"Aku rasa, cuma itu yang bisa aku sampaikan. Terima kasih atas perhatian kalian."


Pria berambut setengah gondrong itu tersenyum sekilas, lalu menggandeng tangan Magisna dan menuruni podium. Tentu saja, diiringi dengan tepukan tangan dari semua orang yang sedari tadi berkerumun.


Seolah mengerti dengan tatapan sinis dari beberapa tokoh novel ini terhadap gadisnya, Angkasa langsung berpamitan kepada Angin dan Berlian, serta kepada keluarga besarnya.


Bukan karena tidak ingin menghadapi kenyataan, tetapi berurusan dengan para Penulis Singa.co sama saja dengan menambah beban boncengan.


Aha!


Canda ya, Kawan!


Momen pertunangan Angin dan Berlian kini sudah mencapai penghujung acara. Setelah berpamitan, mereka semua kembali pada habitatnya.


Tak terkecuali ... Kepala Casper.


...πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž...


Berlian sedang berada di salah satu kantor Penerbit, yang katanya bersedia menampung karya-karya unik dan berbeda dari para Penulis Pemula.


PT. Bebas Berkarya!


Ya, perusahaan Penerbit dan Percetakan yang dipimpin oleh seorang direktur wanita, yang bernama ... Zoya.

__ADS_1


Karena ini kali pertamanya Berlian menginjakkan kaki ke gedung itu, akhirnya ia hanya menitipkan naskah tersebut pada resepsionis yang sedang bertugas.


"Permisi, Mas. Saya mau mengajukan sebuah naskah novel karangan saya sendiri, untuk ditinjau ... apakah layak cetak atau tidaknya." Berlian menyerahkan satu buah map berwarna ungu terong kepada resepsionis berjenis kelamin laki-laki itu.


Tampak pada papan namanya terangkai beberapa huruf kapital dengan makna yang cukup menyeramkan, 'ANAK SETAN'.


Berlian bergidik, seakan menemukan sebuah lelucon sekaligus aura magis yang mendalam.


Pemuda yang berusia kira-kira delapan belas tahunan itu sepertinya sedang menjalani program magang. Terlihat dari kemeja putih polos dan celana kain hitam yang ia kenakan.


Pemuda itu tersenyum maut, kemudian menerima berkas dari tangan Berlian. "Naskahnya saya terima dan di-keep dulu ya, Kak," kata pemuda itu, kemudian meminta Berlian untuk menunggu.


Beberapa saat setelah itu


"Apakah novel ini sad-ending, Kak? " Si Anak Setan mulai bertanya.


Setan juga bisa bicara? Batin Berlian.


"Kak ...." Sapaan Anak Setan sukses membuyarkan lamunan Berlian.


"Eh, i-iya. Sad-ending, Mas."


Entahlah, saat ini Berlian sedang merasa gelagapan atau memang ketakutan? Wajah si Anak Setan yang tampak imut-imut pun malah terlihat amit-amit di mata Berlian.


"Panggil, Dede aja, Kak!" pintanya, seolah tidak menerima penolakan.


Berlian hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Setelah Anak Setan meminta nomor ponsel dan alamatnya, gadis cupu itu pun melenggang keluar dengan wajah setengah ketakutan.


"Erli ...!" Suara itu berhasil membuat Berlian memutar rotasi lehernya ketika ia telah tiba di parkiran.


"Gempi ... ngapain kamu di sini?" Berlian terheran-heran. Lalu, berjalan mendekat dan berpelukan.


Gempita senyum-senyum manja seolah sedang mendapatkan sebuah kejutan.


"Novel inyong lolos seleksi, Er. Gak lama lagi bakalan diterbitin." Dengan pekikan yang membahana, Gempita melompat-lompat kegirangan.


Berlian yang tidak kalah bahagianya, turut tertawa dengan wajah sumringahnya. "Serius? Wah, selamat ya, Gem." Dirangkulnya tubuh gempal Gempita yang semakin hari semakin semok saja.


"Iya, makasih ya, Er."


Lalu, kedua sahabat itu spontan melepaskan rangkulannya pada tubuh masing-masing, di saat mendengar celetukan tidak mengenakkan dari seseorang yang berdiri di samping mobil tepat di sebelah mobil Berlian yang sedang terparkir.


"Ah, lebay. Palingan juga editornya salah baca," ketusnya, kemudian masuk ke dalam kendaraannya sendiri.


Gempita yang tidak terima dengan hal itu, lantas meradang, " Iri? Bilang, Bos!" sergahnya dengan nada sinis. Berlian yang mendengar hal itu, reflek membekap mulutnya menahan tawa.


Memang seperti itulah Gempita. Jangan pernah dikira lidahnya tidak berbisa. Jika sekali saja disenggol, pasti kekasih wanita itu pun tak segan-segan akan ia gondol.


Namun, sejurus kemudian, Berlian seperti mengingat sesuatu. Memorinya mulai menarik ia kembali pada kejadian serupa yang menimpanya, di saat momen pertunangannya dua bulan yang lalu.


Bukankah yang tadi itu ... kerabatnya Aang, ya? Batinnya.

__ADS_1


__ADS_2